Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31.A Karburator, kuah soto, dan Napas Korporat
Matahari baru saja merangkak naik di atas langit perbatasan Yogyakarta ketika Gavin Dewantara sukses memacu motor Astrea Grand tahun 1995 miliknya melewati tugu batas kota. Di belakangnya, sebuah pemandangan surealis yang bisa membuat gubernur setempat mengucek mata berkali-kali sedang terjadi. Sebuah mobil limosin Mercedes-Maybach S-Class berwarna hitam legam—yang harganya setara dengan anggaran belanja satu kecamatan untuk lima tahun ke depan—terpaksa berjalan merayap dengan kecepatan sangat tidak terhormat: tiga puluh lima kilometer per jam.
Di dalam kabin limosin yang kedap suara, wangi parfum amberwood mahal bercampur dengan sesuatu yang sangat tidak sinkron. Di atas jok kulit Nappa yang dijahit dengan benang sutra emas, tergeletak sebuah tas ransel kanvas hijau bolong milik Gavin. Ransel itu mengeluarkan aroma kombinasi yang sangat pekat: bau keringat kos-kosan, sisa minyak rambut murahan, dan bau bumbu mi instan mentah yang bocor di lapisan dalam tas.
Pak Handoko duduk di kursi penumpang depan dengan posisi tubuh yang sangat kaku, seolah-olah punggungnya telah disubkontrakkan ke pabrik semen. Setelan jas formal penjahit Prancis yang dikenakannya mulai terasa seperti baju selam di tengah cuaca tropis yang mulai memanas. Setiap lima detik sekali, ia menyeka dahi dengan saputangan sutra bertuliskan inisial namanya, lalu menatap cermin spion luar dengan pandangan merana.
Tepat di depan moncong limosin yang mengilat, sang pangeran mahkota tunggal dari kekaisaran bisnis Dewantara Group sedang asyik bergoyang-goyang ugal-ugalan di atas jok motor bebeknya yang kulitnya sudah sobek hingga busa kuningnya menyembul keluar. Helm cetok merah pudar tanpa kaca yang dipakai Gavin berguncang-guncang heboh. Gavin sedang bernyanyi dengan volume maksimal, bersaing ketat dengan suara berisik rantai motornya yang kering karena tidak pernah diberi oli sejak zaman reformasi.
"Ojo dibanding-bandingkeee... saing-saingkeee... yo mesti kalaaahhh!" lolong Gavin, suaranya fals membelah angin pagi. Sesekali ia mengangkat tangan kirinya, berlagak seperti pembalap legendaris Valentino Rossi yang sedang melakukan selebrasi juara dunia, padahal fakta di lapangan menunjukkan ia baru saja bersusah payah mendahului seorang kakek-kakek yang sedang menuntun sepeda ontel bermuatan rumput gajah.
Bagi Gavin, perjalanan Pantura ini adalah bentuk pemberontakan terakhir sebelum kebebasannya diamputasi oleh meja direksi. Namun, mesin Astrea Grand miliknya tampaknya memiliki agenda sosiologis yang berbeda. Ketika rombongan ugal-ugalan ini mulai memasuki wilayah Magelang, tepatnya di sebuah tanjakan panjang berliku di daerah Secang, motor itu mulai menunjukkan gejala-gejala krisis eksistensial.
BLETAK! POP! PREEEET…
Suara mesin yang tadinya cempreng konsisten mendadak berubah mirip suara kakek-kakek penderita asma akut yang dipaksa ikut lomba lari maraton sambil mengunyah biji salak. Motor itu tersedak hebat. Asap knalpotnya mendadak meledak-ledak mengeluarkan bunyi letupan kecil seperti petasan korek yang basah.
"Eh, eh, jangan pingsan dulu, Ndut! Jakarta masih jauh, dompet gue belum tebel!" seru Gavin sambil memutar-mutar tuas gasnya dengan panik. Namun, jarum speedometer yang memang sudah mati sejak tahun 2012 itu tetap menunjuk angka nol dengan pasrah.
Mesin motor itu mati total tepat di tengah-tengah tanjakan yang dikelilingi tebing curang. Kehilangan daya dorong secara mendadak, motor bebek itu mulai meluncur mundur dengan cepat. Gavin dengan sigap menurunkan kedua kaki jins robeknya ke aspal, menjadikannya rem darurat darurat. Sepatunya berdecit keras, mengeluarkan aroma karet terbakar sebelum ia berhasil mengendalikan keseimbangan dan menuntun besi tua itu ke bahu jalan yang sempit.
Melihat motor Tuan Mudanya berhenti secara tidak wajar dan memuntahkan asap hitam, iring-iringan limosin di belakangnya langsung melakukan manuver berhenti darurat ala film aksi Hollywood. Rem hidrolik canggih Maybach itu berdecit halus tanpa suara, namun momentumnya membuat tubuh Pak Handoko hampir membentur dasbor berlapis kayu walnut.
Sebelum mobil benar-benar berhenti sempurna, pintu kanan dan kiri limosin langsung terbuka dengan sentakan kasar. Dua orang pria berbadan raksasa dengan berat masing-masing sepertinya hampir satu kuintal, berpakaian safari hitam lengkap dengan kacamata hitam taktis, langsung melompat keluar. Panggil saja mereka Bambang dan Joko. Keduanya adalah mantan personel satuan pengamanan elit yang biasa menjinakkan bom, namun hari ini tugas suci mereka adalah menjaga seorang remaja ugal-ugalan yang hobi mogok di pinggir jalan.
Bambang langsung mengambil posisi tiarap taktis di belakang kap mobil, tangan kanannya reflek memegang bagian dalam jas safarinya di mana sebuah pistol Glock berada. "Tuan Muda Gavin! Tetap merunduk! Apakah ada indikasi tembakan dari penembak jitu kompetitor bisnis? Atau serangan granat nanas dari kartel saingan?" teriak Bambang dengan suara bariton yang menggelegar, membuat seekor burung gagak di pohon mangga di atas mereka langsung terbang ketakutan.
Joko tidak kalah histeris. Ia berlari zigzag mendekati Gavin sambil membawa tas taktis antipeluru yang dibuka lebar-lebar untuk dijadikan perisai darurat. "Tuan Muda! Masuk ke dalam barikade saya! Area ini belum steril dari potensi ancaman asimetris!"
Pak Handoko keluar dari mobil dengan gaya yang sedikit lebih elegan namun dengan tingkat kepanikan spiritual yang jauh lebih tinggi. Jas mahalnya berkibar ditiup angin pegunungan yang sialnya saat itu sedang membawa aroma pekat dari truk kotoran ayam yang baru saja lewat. "Tuan Muda Gavin! Demi keselamatan harga saham Dewantara Group di bursa efek London, saya mohon dengan sangat takzim, tinggalkan bangkai besi karatan itu! Kereta mewah Anda memiliki lapisan baja setebal lima sentimeter yang mampu menahan ledakan ranjau darat! Anda tidak pantas berdiri di tepi selokan seperti ini!"
Gavin, yang saat itu sedang sibuk melepas helm cetoknya hingga rambutnya acak-acakan mirip sarang burung dipicu angin jalanan, menatap ketiga pengawalnya dengan tatapan penuh rasa prihatin yang mendalam. Ia menghela napas panjang, lalu membersihkan telinganya menggunakan jari kelingking.
"Bambang, Joko, Pak Han... tolong ya, tingkatkan sedikit literasi otomotif kalian," kata Gavin dengan nada sangat santai, seolah-olah ia tidak sedang dikelilingi oleh ancaman keamanan nasional. "Ini bukan sabotase intelijen asing. Ini namanya karburator kemasukan angin duduk akibat tangki bensin kemasukan air hujan kemarin sore di kosan. Santai aja, gak usah kayak orang mau perang sipil. Daripada kalian pasang muka kayak algojo begitu, mending bantuin gue dorong ini motor. Tuh, di depan ada warung soto ayam. Perut gue sudah konser musik cadas dari tadi."
Bambang dan Joko saling berpandangan di balik kacamata hitam mereka. Dua pria yang memiliki sertifikat keahlian menembak runduk tingkat internasional dan taktik antiteror itu kini harus menatap besi behel belakang Astrea Grand yang sudah berkarat dan bergoyang longgar.
"Bagaimana, Komandan Handoko? Apakah ini termasuk dalam protokol evakuasi darurat?" bisik Bambang melalui interkom telinganya, padahal jaraknya dengan Pak Handoko hanya dua meter.
Pak Handoko memijat pangkal hidungnya yang mulai pening. "Lakukan saja... demi Tuhan, pastikan tangan kalian tidak terkena tetanus dari besi karatan itu."
Dengan enggan dan wajah yang tetap dipasang ekspresi super serius seolah-olah sedang memindahkan hulu ledak nuklir aktif, Bambang dan Joko memegang bagian belakang motor bebek tersebut. Mereka mendorongnya dengan langkah tegap, dada membusung, dan pandangan mata yang terus menyapu area sekitar secara taktis ke kanan dan ke kiri. Sementara itu, Gavin berjalan melenggang di samping mereka sambil memegangi stang motor dengan satu tangan, mulutnya sibuk bersiul menyanyikan lagu tema kartun Minggu pagi. Pemandangan aneh itu sukses membuat sebuah truk bermuatan semen yang lewat melambatkan kecepatannya karena sopirnya sibuk merekam kejadian tersebut menggunakan ponsel jadulnya.
Mereka akhirnya tiba di halaman sebuah warung soto sederhana berdinding papan kayu dengan atap seng yang agak berkarat. Spanduk di depan warung itu bertuliskan: "SOTO AYAM KAMPUNG BU SRI - RASANYA MANTAP, HARGANYA MERAKYAT".
Pemilik warung, Bu Sri, seorang wanita paruh baya bertubuh subur dengan daster motif batik yang sudah agak pudar, sedang sibuk memotong kol ketika rombongan Gavin datang. Begitu melihat penampakan di depan warungnya, pisau di tangan Bu Sri langsung terlepas dan jatuh menghantam lantai semen dengan bunyi KLANG.
Bagaimana tidak panik? Sebuah mobil limosin hitam yang panjangnya hampir setara dengan panjang warungnya terparkir melintang di halaman tanah. Dua orang pria bertubuh seperti petinju kelas berat dengan setelan jas safari hitam berdiri berjaga di depan pintu warung dengan posisi kaki kangkang taktis, sementara seorang pemuda kucel berkaos oblong hitam pudar melangkah masuk dengan senyum tanpa dosa.
"M-Mau... mau ada penggerebekan ya, Mas?" tanya Bu Sri dengan suara bergetar hebat, tangannya reflek meraih sebuah ulekan batu, bersiap mempertahankan diri jika warungnya dituduh menjadi tempat persembunyian buronan kakap. "K-Kami bayar pajak tertib kok, Mas! Air bersih juga legal!"
Gavin tertawa renyah, sebuah tawa yang biasa ia gunakan untuk melunakkan hati Bu Broto saat menunggak uang kosan. "Enggak, Ibu Sri yang cantik. Jangan panik gitu dong, muka saya kan muka anak baik-baik pembela bangsa. Kami cuma mau makan. Saya pesen soto ayam satu mangkuk penuh, nasinya dipisah tapi setengah porsi aja ya Bu soalnya saya lagi program diet karbohidrat jalanan. Terus es teh manisnya yang manis banget, se-manis senyuman Kirana. Oh iya, satu lagi Bu... kalau ada, saya pinjam obeng plus ukuran sedang dong, sama tang jepit kalau punya."
Bu Sri mengangguk-angguk cepat seperti burung pelatuk, buru-buru berlari ke dapur belakang dengan langkah tergesa-gesa, merasa lega karena warungnya tidak akan diledakkan oleh agen rahasia.
Gavin memilih duduk di bangku panjang kayu yang terletak di sudut warung. Baru saja bokongnya menyentuh permukaan kayu, Pak Handoko sudah melangkah maju dengan kecepatan penuh. Pria paruh baya itu dengan cekatan mengeluarkan sebuah botol semprotan kecil berisi cairan disinfektan premium aroma lavender dari balik saku jasnya, lalu menyemprot kursi kayu tersebut sebanyak tujuh kali. Setelah itu, ia mengeluarkan selembar saputangan sutra baru dan mengelap kursi tersebut dengan gerakan memutar yang sangat presisi.
"Silakan duduk kembali dengan higienis, Tuan Muda," kata Pak Handoko dengan nada suara yang terdengar seperti kepala pelayan di istana Buckingham.
Gavin menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan pria di depannya. "Pak Han, ini warung soto pinggir jalan, bukan laboratorium silika di Swiss. Bakteri di sini sudah berteman baik sama imun tubuh gue sejak semester satu. Sini, daripada lu repot-repot nyemprot kursi, mending lu bantuin gue di luar. Kita operasi sesar ini karburator."
Gavin kembali berjalan ke halaman tanah warung, diikuti oleh Pak Handoko yang terpaksa melangkah dengan sangat hati-hati agar sepatu pantofel Prancis-nya yang mengilat seharga puluhan juta tidak terperosok ke dalam tanah becek bekas air cucian piring warung.
Gavin berjongkok di samping Astrea Grand-nya. Tanpa ragu, ia membuka paksa bodi plastik motor bagian samping yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan—diikat menggunakan empat buah kabel ties warna-warni karena dudukan baut aslinya sudah patah sejak zaman awal kuliah.
"Pak Han, posisi!" perintah Gavin seperti seorang dokter bedah utama di ruang operasi rumah sakit pusat. "Pegangin ini obeng. Dan tolong, itu payung hitam di mobil dibuka, terus payungin gue. Cuacanya emang agak mendung, tapi angin pegunungan ini mengandung partikel debu mikro yang bisa mengganggu konsentrasi penyetelan jarum skep karbu."
Pak Handoko terbelalak. Ia menatap obeng karatan dengan gagang plastik merah yang baru saja diantarkan oleh Bu Sri dengan ekspresi ngeri, seolah-olah benda itu adalah sebuah granat yang siap meledak. Namun, karena doktrin kesetiaan kepada keluarga Dewantara sudah mendarah daging di dalam sumsum tulangnya, Pak Handoko dengan patuh berjongkok di samping Gavin. Ia membuka payung hitam besar berkekuatan antipeluru milik protokol kepresidenan, lalu memegangnya dengan dua tangan, memayungi Gavin yang sedang sibuk mengotak-atik mesin motor tua.
Pemandangan ini benar-benar merusak pemandangan moral di jalan raya Magelang. Seorang pemuda kucel berkaos oblong robek sedang membongkar motor bebek butut, dipayungi oleh seorang pria paruh baya berjas mewah Prancis berwajah klimis yang tampak sangat tersiksa oleh bau bensin mentah.
"Tuan Muda Gavin," bisik Pak Handoko dengan suara yang mulai serak akibat menahan napas. "Saya memiliki akses langsung untuk menelepon direktur utama Astra Honda Motor sekarang juga. Saya bisa memerintahkan mereka untuk mengirimkan sebuah helikopter kargo yang membawa sepuluh unit motor Honda Gold Wing terbaru keluaran tahun ini ke titik koordinat kita dalam waktu empat puluh menit. Mengapa kita harus menghabiskan waktu berharga ini dengan memutar sekrup karatan menggunakan alat pinjaman?"
Gavin tidak menoleh. Tangannya yang kini sudah hitam penuh dengan lumuran oli bekas dan kerak bensin terus memutar sekrup pengatur udara pada karburator Astrea-nya.
"Pak Han, lu itu kaya harta tapi miskin seni kehidupan," sahut Gavin sambil terkekeh pelan. "Honda Gold Wing itu gak ada jiwanya. Terlalu sempurna. Gak ada tantangannya. Mengendarai Astrea Grand yang karbunya sering banjir itu melatih kita untuk peka terhadap tanda-tanda alam. Lu harus dengerin getaran mesinnya, lu harus tahu kapan dia minta napas, kapan dia minta diselah. Ini namanya filosofi manajemen krisis jalanan. Kalau lu cuma tahu naik mobil mewah yang AC-nya dingin, begitu ada krisis korporasi dikit, lu pasti langsung kena serangan panik."
Pak Handoko terdiam. Kalimat Gavin barusan terdengar sangat ugal-ugalan, namun entah mengapa memiliki bobot filosofis yang cukup menohok logikanya sebagai seorang eksekutif senior.
"Nah, ini dia masalahnya!" seru Gavin tiba-tiba sambil menarik sebuah selang plastik hitam kecil yang terhubung dari tangki bensin menuju karburator. "Selang bensinnya kesumbat kerak karat tangki. Pantas aja bensinnya gak mau turun ke ruang bakar. Bensinnya mogok kerja kayak buruh pabrik tekstil."
Gavin melepaskan ujung selang tersebut, lalu menoleh ke arah Pak Handoko dengan senyuman miring khasnya—sebuah senyuman yang biasanya menjadi pertanda buruk bagi siapa saja yang berada di dekatnya.
"Pak Han, demi kelancaran suksesi takhta Dewantara Group, gue butuh bantuan vital dari lu," kata Gavin dengan nada sangat serius yang dibuat-buat.
"Apa itu, Tuan Muda? Apakah saya harus menghubungi kepolisian wilayah untuk mengamankan jalur?" tanya Pak Handoko bersiap mengeluarkan ponsel satelitnya.
"Bukan. Ini lebih krusial dari itu," kata Gavin sambil menyodorkan ujung selang plastik hitam yang berlumuran oli tebal ke depan wajah Pak Handoko. "Tolong lu tiup ini selang bensin dari ujung sini kuat-kuat. Kayaknya ada penyumbatan udara di dalam tangki juga. Tiup pake tenaga dalam lu yang biasa dipake buat nolak proposal kredit macet."
Pak Handoko membeku. Pria yang biasanya berbicara di depan podium forum ekonomi internasional dan bernegosiasi dengan para pangeran dari Timur Tengah itu menatap selang hitam kotor yang baunya sangat menyengat campuran bensin basi dan minyak tanah tersebut. Wajahnya mendadak berubah pucat keunguan.
"M-Menyembur... maksud saya, meniup menggunakan mulut saya sendiri, Tuan Muda?" tanya Pak Handoko dengan suara gemetar, memastikan bahwa ia tidak sedang berada di dalam acara komedi kamera tersembunyi.
"Iya, Pak Han. Masa pake hidung? Cepetan, keburu soto gue dingin di dalam. Ingat, masa depan triliunan aset Dewantara Group sekarang ada di ujung napas lu!" desak Gavin dengan wajah tanpa dosa.
Pak Handoko menelan ludah. Ia memandang ke langit, berdoa dalam hati memohon ampunan kepada leluhurnya, lalu menutup matanya rapat-rapat. Dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh penderitaan eksistensial, Pak Handoko mendekatkan bibirnya ke ujung selang kotor tersebut. Bambang dan Joko yang melihat kejadian itu dari kejauhan langsung menegakkan posisi tubuh mereka, ikut menahan napas sebagai bentuk solidaritas korporat tingkat tinggi.
Pak Handoko menarik napas dalam-dalam, lalu meniup selang tersebut dengan sekuat tenaga hingga pipinya menggembung besar seperti ikan buntal.
BROSSS!
Efek hukum fisika tekanan udara bekerja dengan sangat instan dan brutal. Sisa cairan bensin campur karat besi berwarna cokelat pekat menyembur keluar dari ujung selang satunya dengan tekanan tinggi. Dan karena Gavin sengaja memiringkan posisi selangnya sedikit, semburan cairan kimia berbau tajam itu melesat dengan indahnya, melewati bahu Gavin, dan menghantam tepat di atas permukaan sepatu pantofel Prancis milik Pak Handoko yang tadinya mengilat sempurna seperti cermin.
CRIIIIT…
Cairan cokelat itu kini merembes di atas kulit sepatu mahal tersebut, meninggalkan noda lingkaran besar yang merusak keindahan karya seni penjahit Eropa.
"Aduh!" teriak Pak Handoko reflek melepaskan selang tersebut sambil terbatuk-batuk hebat, wajahnya memerah karena sempat menghirup uap bensin mentah.
Bambang dan Joko yang melihat ada cairan menyembur langsung bergerak dengan insting proteksi maksimal. Mereka melompat maju, memosisikan diri di depan Pak Handoko dengan tangan memegang bagian dalam jas, siap melakukan penembakan taktis jika cairan itu terbukti merupakan serangan zat asam berbahaya dari organisasi teroris.
"Komandan Handoko! Apakah Anda terkena serangan senjata biologis?!" teriak Joko dengan mata melotot waspada.
Gavin malah tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya yang kelaparan, terduduk di atas tanah halaman warung. "Hahaha! Astaga, Pak Han! Semburan napas lu bener-bener punya wibawa hukum yang luar biasa! Lihat tuh, penyumbatan tangkinya langsung menyerah kalah! Makasih ya Pak Han, bensinnya sekarang sudah mengalir lancar dengan restu penuh dari manajemen inti!"
Pak Handoko tidak tahu harus menangis atau mengundurkan diri dari pekerjaannya saat itu juga. Ia menatap sepatunya yang kini berbau seperti bengkel angkutan umum dengan tatapan kosong. Namun, sebagai seorang profesional sejati, ia menarik napas panjang, merapikan kerah jasnya yang agak miring, lalu berkata dengan suara kaku yang dipaksakan tetap tenang: "Kembali... kembali kasih, Tuan Muda. Sudah menjadi kewajiban saya untuk memastikan seluruh sistem pembuangan bahan bakar Anda berjalan sesuai dengan target kuartal pertama."
"Sip! Sekarang mari kita rayakan keberhasilan ini dengan makan soto!" kata Gavin sambil menepuk-nepuk pundak Pak Handoko yang berlumuran debu, meninggalkan noda cap tangan hitam dari oli di atas kain jas mahal tersebut.
Mereka kembali masuk ke dalam warung soto. Mangkuk soto pesanan Gavin sudah menyajikan aroma kaldu ayam kampung yang sangat menggoda iman. Tanpa mencuci tangan terlebih dahulu—tindakan yang kembali membuat Pak Handoko mengalami kedutan saraf di mata kirinya—Gavin langsung duduk dan mengambil botol sambal.
Dengan gerakan yang sangat brutal, Gavin memasukkan lima sendok makan penuh sambal cabai rawit merah hingga kuah sotonya berubah warna dari kuning bening menjadi merah menyala mirip lahar Gunung Merapi. Tidak puas sampai di situ, ia memeras tiga buah jeruk nipis sekaligus hingga kulitnya penyok, lalu mengambil lima buah kerupuk kulit dari dalam wadah plastik dan meremukkannya dengan satu hantaman tangan kanan hingga remahannya meluap keluar mangkuk.
Gavin mulai makan dengan tingkat kecepatan yang sangat tidak sopan, mengeluarkan suara seruputan kuah yang sangat nyaring. SLURRRRP! NYAM! NYAM!
Sementara itu, di meja sebelah, Pak Handoko duduk dengan merana. Ia sibuk menggosok-gosok ujung sepatunya menggunakan tisu basah antiseptik dengan wajah penuh konsentrasi, sementara Bambang dan Joko tetap berdiri tegak di kanan-kirinya, mengawasi setiap lalat yang mencoba terbang melintasi mangkuk soto Tuan Muda mereka seolah-olah lalat-lalat itu adalah pesawat drone intai milik musuh.
"Mbak... Mbak Siti... eh, Bu Sri maksud saya," panggil Pak Handoko dengan nada formal yang membuat Bu Sri yang sedang mencuci piring langsung berdiri tegang. "Bisa tolong ambilkan saya air mineral kemasan yang botolnya masih disegel pabrik? Dan tolong pastikan suhunya tidak kurang dari enam belas derajat Celsius."
Bu Sri buru-buru membawakan sebotol air mineral dingin. Pak Handoko menerimanya menggunakan tisu, membukanya dengan sangat hati-hati, lalu meminumnya sedikit demi sedikit untuk menetralisir sisa bau bensin yang masih tertinggal di tenggorokannya.
Gavin yang sudah menghabiskan setengah mangkuk sotonya dalam waktu kurang dari tiga menit menoleh ke arah Pak Handoko sambil mengunyah tulang muda ayam. "Pak Han, daripada lu bengong kayak orang abis kalah tender proyek tol, mending lu pesen soto juga deh. Ini soto Bu Sri bener-bener top banget. Kuahnya jujur, ayamnya beneran ayam kampung yang bahagia semasa hidupnya, gak kayak ayam broiler kota yang penuh tekanan mental. Cobain deh, biar otak lu agak rileks dikit."
Pak Handoko melirik mangkuk soto di depan Gavin dengan pandangan skeptis. Pikiran logisnya yang terbiasa dengan standar sanitasi hotel bintang lima menolak keras makanan yang disajikan di atas meja kayu yang permukaannya agak berminyak itu. Namun, aroma kaldu yang gurih alami dan kepulan asap hangat dari kuali besar Bu Sri entah mengapa mulai menggoda dinding lambungnya yang sejak pagi hanya diisi oleh secangkir kopi espresso tanpa gula.
"Joko," bisik Pak Handoko akhirnya, menyerah pada insting hewani perutnya. "Pesan satu porsi... tapi pastikan sendoknya direndam di dalam air mendidih selama lima menit terlebih dahulu sebelum disajikan kepada saya."
"Siap, Komandan!" jawab Joko tegas, langsung melangkah ke dapur Bu Sri untuk mengawasi proses sterilisasi sendok secara langsung, membuat Bu Sri semakin gemetaran karena merasa seperti sedang diinspeksi oleh dinas kesehatan militer internasional.
Babak pertama dari tragedi perjalanan pulang sang pangeran mahkota telah terlewati di sebuah warung soto Magelang. Karburator telah pulih, sepatu mewah telah ternoda, dan napas korporat Pak Handoko telah resmi menyatu dengan debu jalur antar-provinsi. Namun, Gavin tahu betul, tantangan sesungguhnya baru akan dimulai ketika roda Astrea Grand-nya menyentuh aspal panas jalur utama Pantura yang terkenal kejam dan tanpa ampun.