NovelToon NovelToon
Sang Penghancur Rantai Takdir

Sang Penghancur Rantai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:113
Nilai: 5
Nama Author: * z *

Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.

Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.

Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.

Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28_Pemberontakan (bagian 4)

Sora tersenyum sambil menunjuk ke arahku, "Kau sepertinya serius ingin bertarung denganku, tapi apa kau sanggup menghentikanku?"

Stella menatap Sora dengan alis mengerut, "Akan kuhentikan apapun yang terjadi!"

Aku mendongak ke atas, "Dasar manusia binatang yang hina! Kau tidak akan bisa menghentikanku, orang yang telah diselamatkan berkat berkah dari Dewi Luciel yang suci!"

Stella menggertakkan bibirnya dan air matanya menetes, "Gereja sialan... tidak hanya menyiksanya, kau bahkan mencuci otak orang yang aku sayangi."

Aku menatapnya, "Apa maksudmu!"

Stella langsung menerjang Sora dengan cepat dan menebas lengan kiri Kai sampai hampir putus.

Apa benar ini adalah Sora?

Sora mengepalkan tangan kanannya dan menerjang Stella. Saat pukulannya mengarah, Stella bereaksi cepat. Dia menghindar ke samping sampai pukulan itu menghantam dinding dengan keras.

Puing kayu dan debu berterbangan menutupi ruangan.

Stella berguling di lantai dengan napas terengah-engah dan keringat bercucuran, "Huh... huh..."

Dia menatap Sora, "Kau bukan Sora yang kukenal!"

Sora mencabut tangannya dari tembok dan meregenerasi tubuhnya, "Dasar makhluk hina yang tidak punya berkah bakat dari Dewi, makhluk malang. Maka dari itu aku akan memberi sihir suci untuk mengadili kalian!"

Bayangannya berjalan di antara debu.

Stella meregangkan tangan kanannya ke belakang dan melempar belatinya ke arah Sora, "Maaf saja, tapi kami juga punya dewa sendiri!"

Belati itu menusuk dadanya, tapi Sora tetap berjalan. Darah bercucuran di lantai.

Sora menatapnya jengkel, "Sudah cukup main-mainnya, kau benar-benar membuatku jengkel."

Dia berlari sangat cepat. Tetesan hujan pun terasa sangat lambat. Tangannya berusaha mencengkram leher Stella.

Tiba-tiba Roth menghancurkan tembok toko itu dan menerjang masuk sambil mengayunkan kapaknya besar ke arah Sora.

Sora menoleh dan berusaha menangkis, tapi terlambat. Kapak itu mengenainya dan melemparnya ke udara. Tubuhnya menghantam dinding sampai hancur dan terpental keluar.

Roth menoleh ke arah Stella, "Kau baik-baik saja?"

Stella terjatuh karena kaget lalu tersenyum tipis, "Dasar kalian ini, hampir saja terlambat." Dia menaruh tas di lantai dan memotong rambut panjangnya, "Rambut ini benar-benar menggangguku sebulan ini."

Dio dan Syia muncul dari belakang dengan zirah dan senjata masing-masing.

Syia menghampiri Stella dan membantunya berdiri, "Wah, rambut pendek cocok sekali denganmu!"

Dio menatap Sora yang tubuhnya terpotong sebagian, "Apa dia benar-benar Sora yang kita kenal? Dia berbeda dari yang kita lihat waktu itu."

Darah mengucur dan genangan hujan ikut memerah.

Tiba-tiba tubuh Sora menggeliat. Luka-lukanya menutup kembali. Tulang-tulangnya menyambung.

Dia berdiri dan menatap mereka sambil menarik wajahnya dengan keras, "Kenapa? Kenapa aku bisa kalah dari makhluk hina seperti kalian?"

Syia mengambil busurnya dan memanah kaki Sora, "Berisik, bodoh!"

Sora berlutut karena panah itu lalu mencabutnya, "Baiklah, kalau itu mau kalian!"

Dia mengepalkan tangannya erat, "Kalian benar-benar membuatku-"

Dio maju dan menebas ke arah Sora, tapi Sora menghindar dan memukul Dio sampai terpental.

Stella melompat dari belakang untuk menebas leher Sora, tapi Sora menangkap tangannya. Dia membantingnya ke jalan sampai retak. Darah muncrat dari mulut Stella.

Sora tidak berhenti. Begitu Stella jatuh dia langsung berbalik.

Dia menendang wajah Roth dengan keras. Roth terpental. Hidung dan mulutnya berdarah. Pandangannya berkunang-kunang.

Dio mencoba bangun dan mengayunkan pedangnya lagi. Sora menangkap pedang itu dengan tangan kosong. Darahnya menetes. Lalu dia menghantamkan sikunya ke rusuk Dio. Dio terbatuk keras. Darah keluar dari mulutnya. Dia memegangi rusuknya dan jatuh berlutut.

Syia panik dan menembakkan tiga panah beruntun. Sora menepis dua. Satu menancap di bahunya. Sora malah tersenyum. Dia menarik panah itu lalu melemparkannya balik.

Panah itu menggores paha Syia. Syia menjerit pelan dan jatuh terduduk sambil memegang kakinya yang berdarah.

Stella memaksakan diri berdiri dengan napas berat, "Sora..."

Sora menatap mereka satu per satu yang sudah tumbang dengan luka masing-masing, "Lihat? Ini adalah bukti perbedaan berkah. Kalian terlalu lemah untuk menjadi lawanku."

Roth tergeletak dengan wajah bengkak. Dio memegangi rusuknya yang patah. Syia kakinya berdarah. Stella sendiri darah masih mengalir dari sudut bibirnya.

Stella menggertakkan gigi lalu berbisik pelan, "Sekarang."

Sora bingung, "Hah? Bagaimana bisa?"

Tiba-tiba sebuah panah menembus perut Sora dari belakang. Darahnya bercucuran dan organnya terlihat.

Semua orang yang tadi tergeletak muncul sambil mengepalkan tangan dan memukul wajah Sora bersamaan.

Syia keluar dari balik kabut yang membuatnya tidak terlihat dan tersenyum, "Kau bodoh ya, bahkan Sora yang asli bisa membedakannya dengan mudah. Illusion Ordo!"

Illusion Ordo adalah sihir ilusi area. Sihir itu bisa membuat ilusi seseorang atau objek terasa nyata. Itu adalah saran dari Syia sejak awal untuk mengecoh Sora.

Ternyata luka-luka tadi memang nyata, tapi mereka sengaja memancing Sora agar lengah. Semua serangan gabungan itu membuat Sora terpental keras ke tembok.

Dia mencoba berdiri dengan tangan gemetar tapi terus jatuh, "Kenapa? Kenapa fisikku jadi lemah begini?"

Stella melangkah ke arah Sora dengan mata menyala, "Alasannya sederhana, kau tidak sekuat orang itu!" Dia memegang kepala Sora dan menyeretnya ke tembok sambil berlari puluhan meter.

Sora tergeletak dan menatap Stella, "Kenapa? Padahal anak ini bisa membantai pasukan ksatria dengan mudah."

Roth, Syia, dan Dio mengambil tali dan mengikat tubuh Sora ke tiang lampu jalan dengan napas masih ngos-ngosan karena luka.

Semuanya berkumpul mengelilingi Sora dan Sora tersenyum tipis, "Percuma... setelah keributan ini, para ksatria akan datang mengepung kalian, kalian tamat!"

Mereka tersenyum dan Stella menunjuk ke arah rumah Baron, "Sepertinya aku tahu alasan kau kalah, kau terlalu menyombongkan dirimu."

 

Para ksatria sedang berkumpul di tengah rumah Baron, bersamaan dengan pastor Wieston yang berdiri di atas panggung kayu.

Pastor Wieston mengangkat tangannya tinggi dan berteriak lantang, "Dengar! Wahai para ksatria suci, sekarang kota dan ajaran suci kita sedang diganggu oleh para pemberontak! Mereka orang-orang yang tidak beriman mencoba untuk menghancurkan sesuatu yang telah kita jaga selama ini dengan nyawa kita! Bahkan, bahkan mereka juga tega meracuni Tuan Joseph! Sekaranglah saatnya kita untuk membalasnya!"

Seluruh ksatria berteriak bersamaan dan mengangkat pedang mereka tinggi ke atas, "Hidup Tuan Wieston! Hidup! Hidup!"

Pastor melambaikan tangannya kepada mereka dengan senyum tipis di wajahnya, tapi tiba-tiba muncul sekelompok prajurit membawa beberapa tong berisi wine dengan kereta kuda, "Tuan Wieston, kami berhasil menemukan wine yang telah dicuri di salah satu rumah di daerah kumuh!"

Pastor tersenyum puas, "Kerja bagus! Kalian semua, sekarang bisakah kalian periksa tong-tong itu, aku khawatir mereka menukarnya dengan minuman lain yang beracun!"

Para prajurit itu memberi hormat kepada pastor, "Baik! Segera kami periksa!" Salah satu dari mereka naik ke kereta itu dan membuka penutup tong itu dengan mencungkilnya menggunakan pedang.

Tapi seketika setelah bilah pedang itu tertancap, sebuah batu sihir yang ada di dalamnya tergesek dengan bilah pedang itu dan mulai mengeluarkan cahaya yang menyilaukan.

Pastor langsung membelalakkan matanya dan keringat dingin mulai muncul di wajahnya.

"Mungkinkah..."

Cahaya itu semakin terang dan bergetar keras.

 

Tiba-tiba terjadi ledakan besar dari arah rumah Baron, disusul barak ksatria, gereja, dan hampir seluruh kota.

Seluruh kota menjadi lautan api dan Sora ternganga, "Kalian kejam! Kalian membunuh warga kota yang beriman!"

Stella tersenyum lebar, "Jangan remehkan pemimpin kami, warga masih hidup karena mereka sudah melakukan evakuasi sesaat setelah hujan ini turun."

Sora melotot, "Bagaimana bisa?"

Tier muncul dari kegelapan, "Aku yang memberi tahu mereka semua."

Sora memberontak, "Kau mengkhianatiku! Dasar penista!"

Tier mengambil kalung salib dari kantung bajunya, "Aku tidak mengkhianatimu, aku hanya memanfaatkanmu, dan asal kau tahu, warga yang pertama kali ditolong oleh anak itu adalah keluargaku."

Dia berjalan ke arahnya dan Sora semakin memberontak sampai gemetar seluruh badannya, "BERHENTI! JIKA KAU MENGGUNAKAN BENDA ITU, AKU BISA MATI!"

Tiba-tiba muncul rantai dari tubuh Sora dan setengah wajahnya tersenyum lebar, "Maaf terlambat, semuanya!"

Semua orang langsung tersentak melihat hal itu. Rantai-rantai itu mulai melilit tubuhku dengan erat. Sora terus meronta-ronta dengan kencang, "MUSTAHIL! BAGAIMANA BISA KAU SADAR KEMBALI!?"

Aku langsung memejamkan mataku dan mengerutkan dahiku untuk menahan rasa sakit, "Pikirkan sendiri, Uskup Helips."

Tier langsung menempelkan kalung salib itu ke dahiku. Tiba-tiba saja batu merah yang ada di tengah kalung itu langsung bersinar dengan terang.

Mulutku menganga, mataku menjadi putih, dan urat-urat yang ada di sekitar mataku juga perlahan menghilang.

Saat cahaya itu mulai memudar, rantai-rantai yang keluar dari tubuhku mulai memotong ikatan taliku dan menghilang. Aku terjatuh karena kehilangan kesadaran.

Tapi tiba-tiba saja Stella langsung menangkap tubuhku dan memeluknya dengan erat sambil air matanya menetes bersamaan dengan air hujan yang turun, "Tenang saja! Aku akan selalu membantumu." Dia tersenyum lebar.

Semua orang langsung tersenyum, tapi ledakan yang ada di kota mulai bertambah. Roth langsung menarik diriku dan menggendong diriku di punggungnya, "Kita harus segera pergi dari kota ini! Cepat!"

Stella langsung mengelap air matanya dan mengangguk, "Baiklah, tapi sebelum itu..." Dia berlari ke dalam toko yang belum terlalu rusak karena ledakan dan mengangkat puing-puing itu dibantu dengan Syia dan Dio.

Setelah mengangkat puing itu dia menemukan tas yang dia tinggalkan, "Ketemu!" Dia langsung mengenakannya dan berlari bersama semua orang.

Mata Syia berbinar-binar sambil tersenyum lebar, "Keren... benar-benar mendebarkan, aku benar-benar sangat kagum dengan rencana yang dibuat oleh Sora." Tapi dia berlari sambil terpincang-pincang. Tangannya terus menekan paha yang berdarah. Setiap langkah terasa perih.

Dio langsung menoleh ke arah Syia sambil mengerutkan dahinya, "SEKARANG BUKAN SAATNYA UNTUK KAGUM!!" Dia berlari sambil memegangi rusuknya yang patah. Napasnya terengah-engah sambil sesekali batuk.

Stella tertawa mendengar pertengkaran mereka berdua, "Hahaha! Aku tidak menyangka orang yang awalnya bahkan tidak mengerti cara mengeluarkan emosinya, bisa berbuat sejauh ini karena rasa peduli." Darah masih ada di sudut bibirnya. Punggungnya nyeri setiap dia berlari.

Roth yang menggendong Sora di punggungnya dengan wajah masih bengkak dan hidungnya masih berdarah berjalan dengan berat, "Berat... tapi harus terus jalan..."

Hujan mulai berhenti, matahari mulai bersinar, asap dan api mulai muncul dari kota. Mereka berlima berlari ke arah gerbang utama dengan luka yang ada di tubuh mereka. Saling memapah. Langkah mereka pincang dan terseok-seok.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!