NovelToon NovelToon
The File Of B

The File Of B

Status: tamat
Genre:Teen / Misteri / Pembunuhan / Detektif / Eksplorasi-detektif / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:445.6k
Nilai: 5
Nama Author: Robin.Y

VOLUME 1 : KUTUKAN DEVIAN (SUDAH TERBIT!)

Billie, gadis 17 tahun cucu dari seorang detektif terkenal, nekat menyamar menjadi murid laki-laki di sekolah asrama khusus pria. Dia mengemban misi untuk memecahkan kasus bunuh diri beruntun yang menggemparkan disana.

Desas-desus yang ada mengatakan bahwa semua kejadian ini adalah kutukan Devian, seorang murid yang pertama kali memulai percobaan bunuh diri. Dengan ditemani Ken, Detektif yang sedikit mesum, di sekolah barunya ini Billie menemukan banyak hal mencurigakan dan juga mendebarkan. Dari mulai teman sekamarnya yang bernama Ice; senior misterius yang dikenal sebagai Pangeran Es karena sikap dinginnya, Joshua; senior playboy yang blak-blakan mengaku gay dan jatuh cinta pada Billie di pandangan pertama, dan terakhir Godfrey; senior sok berkuasa yang disegani semua murid.

Satu hal yang harus Billie pecahkan, apakah semua korban memang benar-benar bunuh diri atau justru ini adalah sebuah kasus pembunuhan berantai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Robin.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

File 22 : Masalah Baru Datang

"JANGAN MENYERAH! Kalian berdua tidak akan mati selama masih ada aku disini!"

Seru Ken yang tiba-tiba saja muncul dan mencengkeram erat pergelangan tangan Joshua. Giginya gemertak saat dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik dua pemuda yang bergelantungan di atap menara. Hanya dalam hitungan detik mereka bertiga akhirnya berhasil selamat dan kembali menepi ke atap gedung.

"WHOAA! BU GURU KIMMY HEBAT!!! KEREEEN!!!" Teriak beberapa orang siswa mengelu-elukan Ken dari bawah. Sekali lagi sorak sorai dari penonton terdengar yang kini diikuti tepuk tangan dan siulan riuh rendah. Walaupun bukan nama aslinya yang di sebut, lubang hidung Ken jadi kembang kempis dan dia tak kuasa untuk tersenyum bangga.

"Hah... hah... Kalian semua tidak apa-apa?" Tanya Billie yang baru saja sampai di atap menara. Dia menatap cemas dengan nafas tersengal, tentu saja karena kecapaian sehabis menaiki anak tangga.

Ken memberi isyarat pada Billie untuk jangan berisik. Jarinya menunjuk ke arah dua orang pemuda yang tengah berpelukan.

"Kak Josh! Lepaskan! Apa yang kau lakukan? Ini sangat memalukan!" Protes Jerome yang anehnya malah tampak risih.

"Aku tidak akan melepaskanmu lagi, Jerome! Setelah mendapatkan hatiku, apa sekarang kau ingin meninggalkanku seperti yang lainnya, huh? Bukankah kau bilang kau suka padaku?" Balas Joshua sambil memeluknya semakin erat.

"I-iya tapi tidak seperti ini, kan? Lepaskan aku! Argh! Biarkan aku bernafas! Apa kau ingin membunuhku?!"

Jerome mendadak salah tingkah dengan perubahan sikap Joshua padanya yang terlalu ekstra. Baru sebentar berbaikan mereka berdua sudah bertengkar lagi layaknya sepasang kekasih yang sudah lama. Tanpa nempedulikan dua pasang mata yang masih berdiri menonton, mereka seperti yang sudah hidup dalam dunianya sendiri.

"Ck... waah romantis sekali." Komentar Billie yang malah berdecak kagum.

"Ehm..." Ken berdehem.

"Hei Billie, apa kau tidak cemburu pacar barumu diambil orang?" Sindirnya.

"Kenapa harus cemburu! Sejak awal aku hanya menganggap Kak Josh sebagai teman. Aku justru senang akhirnya mereka saling menemukan cintanya masing-masing."

Billie mengedikkan bahunya sambil tersenyum lebar. Dia tahu benar kencannya dengan Joshua waktu itu tidak lebih dari sebuah misi. Dan dari kencannya yang singkat itu Billie bisa menilai bahwa Joshua walaupun playboy sebenarnya dia adalah pemuda yang baik. Dia memang sedikit agresif tapi menurut Billie pemuda ini bisa dibilang lebih gentleman dibandingkan Godfrey ataupun Ice. Billie akui ada sedikit rasa kehilangan akan kenangan indah mereka yang singkat. Tapi bagaimanapun melihat kedua orang itu berakhir bahagia membuat hatinya merasa lega, seolah beban di hati dan pundaknya sudah menghilang. Lagipula menurutnya tidak ada yang lebih membahagiakan daripada melihat orang lain berbahagia. Meskipun di belahan dunia lain masih menganggap hubungan cinta mereka adalah tabu.

Namun berbeda dengan yang dirasakan Billie, di tengah kehebohan sorak sorai dalam kerumunan itu ada seseorang yang hanya berdiri diam dan menatap sinis. Ice yang sejak tadi hanya diam menonton adegan mendebarkan itu tampak tidak terkesima sedikitpun. Dia hanya berbalik sebelum kemudian punggungnya menghilang dibalik keramaian.

...----------------...

Sebuah mobil hitam melaju dengan kencang menjauhi gerbang sekolah. Satu jam setelah berbincang sebentar dengan Jerome dan Joshua akhirnya Billie baru bisa benar-benar pulang ke rumah. Billie masih belum lupa reaksi kaget dan lucu dua pemuda saat mengetahui penyamaran Billie dan juga Ken. Jujur Billie merasa sangat senang misi penyamarannya berhasil dan sudah selesai. Itu berarti mulai detik ini dia sudah bisa menjadi dirinya sendiri dan kembali memakai baju seragam perempuan. Walaupun jika dipikir lagi Billie sekarang merasa lebih nyaman memakai celana dibandingkan rok.

Namun ada satu hal yang masih menganggu pikiran Billie, setelah berbincang atau lebih tepatnya menginterogasi Jerome, ternyata berdasarkan pengakuannya tidak ditemukan adanya unsur pembullyan yang menyebabkan pemuda itu berniat bunuh diri seperti korban yang lain. Semua yang dilakukannya murni hanya karena ledakan emosi sesaat. Jerome sendiri tidak mengerti dengan apa yang mendorongnya untuk berbuat nekat seolah ada setan yang membisikinya.

"Hey, Billie dari tadi kau melamun saja! Apa yang sedang kau pikirkan? Huh?" Pertanyaan Ken tiba-tiba membuyarkan lamunannya.

"Kak Ken, apa mungkin kutukan Devian itu nyata?" Ucap Billie lirih. Dia sendiri meragukan ucapannya karena takut terdengar bodoh.

"Nyata? Heh, kau ini kan detektif harusnya berpikir logis! Kau masih saja percaya mistis... pemuda itu kan belum meninggal dan hanya koma, jadi kenapa disebut kutukan? Aku pikir itu hanya gosip isapan jempol saja. " Celoteh Ken dengan nada remeh.

"Iya siih... memang benar, tapi kenapa meskipun Godfrey sudah tertangkap, hal serupa masih saja terjadi... Apa mungkin depresi itu menular? Aku hanya khawatir jika setelah Jerome masih akan ada lagi murid atau staf lain yang memutuskan melakukan hal yang sama!"

"Dengar ya Billie! Depresi setahuku adalah penyakit mental yang berkaitan dengan gangguan emosional dan tidak ada hubungannya dengan dunia supranatural. Kenapa kau masih bertanya? Apa kau ingin kembali ke sekolah itu, huh ? Kau ini aneh, Billie! Sepertinya kau betah tinggal di sana! Jangan-jangan... apa karena banyak murid tampannya, huh?"

"YAAH! KAK KEN! AKU INI BERTANYA SERIUS KAKAK MASIH SAJA BERCANDA!" Bentak Billie sambil mencubit pinggang pria di sampingnya kesal.

...----------------...

Beberapa jam kemudian di rumah sakit.

Bau khas desinfektan menyeruak dari ruangan dengan interior serba putih. Bunga aster dalam vas yang biasa menghiasi kamar ini tampak sudah layu karena tidak diganti airnya. Tidak ada lagi bunyi alat monitor jantung, di dalam kamar yang kosong melompong ini yang ada hanya kesunyian.

"Suster, katakan kemana pasien di ruangan ini dipindahkan?" Dalam keadaan panik dan penasaran, Ice menghadang seorang suster yang kebetulan berpapasan dengannya.

"Pindah? Maksudmu pasien Devian? Bukannya dia sudah pulang dengan keluarganya?" Suster itu menjawab ramah dan terlihat begitu santai.

"PULANG? PULANG DENGAN SIAPA? Keluarganya dia yang tersisa hanya aku!" Bentak Ice yang tiba-tiba emosi.

"Maaf, tapi pasien Devian memang sudah pulang, tunggu dulu biar saya lihat catatan siapa yang terakhir membesuknya!"

Ekspresi wajah Suster yang semula ramah berubah tegang karena merasa disudutkan. Dengan langkah tergesa dia menghampiri bagian resepsionis dan berbincang dengan rekannya sebentar. Ice yang mengikuti dari belakang menunggu tak sabar namun tak lama Suster itu sudah kembali dengan arsip di tangannya.

"Disini tercatat pasien Devian sudah pulang kemarin malam dijemput Ayahnya, Tuan Hunter..." Jawab Suster sambil menyodorkan selembar berkas ke tangan Ice. Setiap tulisan yang tertera disana membuat Ice tercengang saat membacanya, dia tidak tahu apakah harus lega dan bahagia atau kecewa mengerahui kabar ini. Tangannya semakin gemetar saat membaca catatan kehadiran Ayahnya itu di tempat ini. Hampir seminggu sekali Hunter membesuk Devian, sedangkan Ice yang anak kandungnya sendiri sudah hampir dua tahun lamanya tidak pernah dia temui. Ice bahkan hampir lupa dengan wajah Ayahnya sendiri, atau tepatnya berusaha keras untuk melupakannya.

"Lalu apakah ini berarti Devian sudah siuman?" Tanya Ice lagi, senyuman kecil tersungging di bibirnya saat memikirkan kemungkinan akan kabar baik itu.

"Siuman? Maksudmu apa Tuan? Pasien Devian kan selama ini hanya datang untuk rawat jalan."

"Rawat jalan? Apa maksudnya? Jadi kamar apa yabg aku datangi setiap membesuknya?"

"I.. itu kamar yang rumah sakit sewakan untuk syuting film..."

"Syuting?! Kenapa kau tidak memberitahuku sejak dulu?"

"Ma-maaf Tuan, saya hanya pegawai baru..."

Penjelasan sang suster seketika membuat senyuman Ice menghilang dan wajahnya berubah pucat pasi. Tanpa berterimakasih dia malah segera berbalik pergi membuat suster yang melihatnya mengkerutkan kening heran.

...----------------...

"Rawat? Jadi selama ini Devian tidak pernah koma? Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada anak itu? Ada apa ini? Apa dia hanya berpura-pura? Kenapa kau membohongiku Devian? Dan Ayah juga... kenapa pria tua sialan itu tidak memberitahuku?! Apa mereka bersekongkol? Apa maksudnya dengan syuting film?"

Begitu banyak pertanyaan dalam benak Ice membuat kepalanya berdenyut kesakitan dan jantungnya berdebar begitu kencang. Ice tahu jika Ayahnya seorang produser dan sutradara film yang selalu ingin film yang dibuatnya tampak nyata. Begitu pula Devian adik tirinya itu memiliki bakat akting yang luar biasa, tapi Ice tidak menyangka jika pemuda itu menggunakan bakatnya untuk membodohinya. Di saat Ice berusaha membantu membalaskan dendam atas perlakuan Godfrey pada Devian ternyata bocah itu malah membodohinya. Ice merasa apa yang sudah dilakukannya selama ini jadi sia-sia. Dengan mata merah penuh amarah, Ice berlari sekuat tenaga meninggalkan rumah sakit menuju motor sportnya yang terparkir.

Sepanjang jalan Ice tak bisa berhenti berpikir dan mengutuk kebodohan dirinya. Bagaimana bisa dirinya yang seorang anggota komplotan hacker Eyes dibodohi oleh adik tirinya sendiri. Ice bisa meretas website sekolah, email pribadi figur penting bahkan website polisi, tapi kenapa dia tidak kepikiran untuk meretas website rumah sakit? Kenapa dia bisa percaya begitu saja dengan berita tentang Devian? Jika Devian ada dibalik semua kasus di sekolah ini lalu apa tujuannya melakukan semua ini? Ice sungguh tak mengerti.

Spedometer di dashboard motornya menunjukkan dia sedang mengendarai dalam kecepatan maksimal. Suara sirine mobil polisi meraung dari belakangnya berusaha mengejar tapi saat ini Ice tidak peduli. Memanfatkan kemacetan yang tengah terjadi, Ice malah tancap gas dan mempercepat laju sepeda motornya mencari celah untuk menerobos kabur dari kejaran.

Meskipun enggan yang ada dalam pikiran Ice sekarang adalah untuk kembali pulang ke tempat itu dan menemui Ayahnya. Dimana lagi selain rumah tempat dia dibesarkan. Tempat yang menyimpan Kenangan indah sekaligus kenangan buruk yang ingin dia lupakan. Ice menggigit bibirnya keras, berharap sangat hal buruk yang sedang dipikirkannya tidak terjadi.

TBC

1
Akari Yukiya
berarti Billie cewe nih?
Akari Yukiya
gimana itu di cek nya 😭
Dwi Nuryani
Luar biasa
blueface
ceritanya keren, plotnya seperti yang rumit dan berat tapi pembawaannya ringan, cocok untuk bacaan remaja. setiap bab selalu bikin penasaran, plot twistnya juga tidak mudah ditebak.
Clara Safitri
sara kali pembunuhnya?
Clara Safitri
uhh. penasaran kali siapa sebenarnya pembunuhannya..huuu sara?godfre???ntahlah
Clara Safitri
jangan2 si sara. sara mau balas dendam..mungkin mayat gadis 13 tahun itu adiknya..lanjut thor
Clara Safitri
ice kali yang membunuh atau angelena. ahhh lanjut thor seru
Clara Safitri
lanjut thor
Derza Sister
Bagaimana dengan kelanjutan Thor...
karyamu bagus sekali, sangat epic...
ku tunggu lanjutannya yahh
robin.y: makasih sudah mampir disini
total 1 replies
Nor Aida irliyanti
ceritanya bagus,penulisannya rapi,bagi yg suka cerita detektif, aku rekomen banget cerita ini
Nor Aida irliyanti: ada karya kamu yg lain kah??
total 2 replies
Nor Aida irliyanti
ceritanya baaaaguuuuus banget....kenapa aku baru Nemu cerita ini
robin.y: makasih udah mampir disini
total 1 replies
Diii
ternyata kakeknya yang berperan di eyes
Diii
yaaaaakkkkm kenapa ikut terjun
Diii
keren...selamat ya Thor....tetep semangat berkarya💪💪💪
Diii
hidup ice jadi penuh selidik dan hampa jadinya
Diii
eh mas es kenalan dong
Diii
keren abis deh....jempol top markotop
Diii
dia yang nyatain cinta...aku yg deg deg an
Diii
ternyata devian otak semuanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!