Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.
Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.
Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Benang Merah di Atas Meja
Pukul delapan malam, badai informasi yang diperintahkan Cassian akhirnya mendarat di meja kerja marmer hitamnya. Ruang kerja eksekutif di puncak menara Noir Enterprises itu sunyi, hanya diterangi cahaya temaram lampu meja dan pendar lampu kota Toronto dari balik dinding kaca setinggi langit-langit.
Kevin masuk dengan langkah teratur, membawa sebuah map kulit berwarna cokelat tua. Ekspresi wajah asisten pribadinya itu terlihat jauh lebih serius daripada biasanya.
"Semua laporan sudah lengkap, Tuan Noir," ujar Kevin sembari meletakkan map tersebut dengan presisi di hadapan Cassian.
Cassian tidak membuang waktu. Ia membuka map tersebut dan langsung membaca baris demi baris dokumen resmi dari Universitas Toronto. Tebakannya benar. Nilai akademis Aisya berada di jajaran teratas fakultasnya. Alasan dikeluarkannya gadis itu murni karena urusan finansial: kegagalan membayar sisa biaya kuliah semester kedua setelah melewati batas toleransi tiga puluh hari.
"Tunjangan beasiswa lokalnya dibatalkan secara sepihak satu bulan lalu," Kevin menjelaskan tanpa diminta, suaranya terdengar berat. "Dan setelah saya selidiki lebih dalam mengenai alasan bangkrutnya kafe Tuan Hamdan, polanya menjadi sangat jelas."
Cassian membalik halaman dokumen, matanya tertuju pada sebuah nama perusahaan properti yang tercantum sebagai pembeli baru lahan komersial di Scarborough. Vance & Co. Holdings.
Sepasang mata Cassian menyipit tajam. Aura dingin yang mematikan seketika menguar di dalam ruangan luas itu. "Julian Vance."
"Benar, Tuan," Kevin mengangguk. "Setelah dipecat secara tidak hormat dari perusahaan Anda tiga bulan lalu, Julian menggunakan koneksi ayahnya di perusahaan keluarga untuk memotong semua jalur nafkah keluarga Tuan Hamdan. Mereka menaikkan harga sewa tanah kafe secara tidak masuk akal, memaksa paman Nona Aisya keluar dari sana, dan secara tidak langsung memicu serangan asma akut yang membuat pria tua itu harus dirawat di rumah sakit dengan biaya besar. Julian sengaja melakukan ini untuk menghancurkan stabilitas finansial mereka agar Nona Aisya terdepak dari negara ini."
Cassian menyandarkan tubuh tegapnya ke kursi kebesaran, mengetukkan jemarinya yang kokoh di atas meja dengan ritme yang lambat namun mengintimidasi. Senyum miring yang penuh penghinaan terukir di wajah tegasnya.
Julian Vance rupanya tidak benar-benar belajar dari kesalahannya semalam. Pria pecundang itu berpikir bisa menggunakan cara kotor di belakang punggung Cassian untuk menyingkirkan gadis yang telah ia lindungi.
"Dia pikir dia sedang bermain catur dengan siapa?" gumam Cassian rendah, suaranya bagai bisikan angin es yang mengerikan.
"Apa rencana Anda selanjutnya, Tuan Noir? Apakah kita akan mengintervensi pihak universitas untuk memulihkan status mahasiswa Nona Aisya secara anonim?" tanya Kevin siaga.
Cassian terdiam sejenak. Ia teringat bagaimana tatapan mata Aisya di trotoar siang tadi—tatapan yang sarat akan harga diri yang terluka, menolak untuk menjadi beban atau menerima belas kasihan cuma-cuma. Jika ia mendadak membayar seluruh biaya kuliah gadis itu begitu saja, Aisya pasti akan langsung tahu dan merasa harga dirinya diinjak-merendahkan egonya yang tinggi.
Cassian tidak menyukai sesuatu yang instan jika itu menyangkut gadis keras kepala seperti Aisya. Ia ingin gadis itu kembali ke universitas dengan kakinya sendiri, namun dengan benang merah yang ia kendalikan dari balik layar.
"Tidak perlu anonim," sahut Cassian mutlak, menutup map dokumen di hadapannya dengan satu sentuhan tegas. "Kevin, buat janji temu dengan jajaran dewan direksi Vance & Co. Holdings besok pagi. Aku sendiri yang akan menghadiri rapat umum mereka."
Pria itu kemudian berdiri, berjalan menuju dinding kaca yang menghadap ke arah jalanan Toronto yang sibuk. "Dan untuk Aisya... cari tahu di mana dia mencari pekerjaan paruh waktu baru malam ini. Gadis bodoh itu tidak akan tinggal diam setelah dikeluarkan dari kampusnya."
Malam semakin larut, namun Aisya belum juga pulang ke apartemennya. Ia tidak siap melihat gurat kekecewaan dan kesedihan di wajah Paman Hamdan dan Bibi Salma yang saat ini sedang berjuang untuk pulih.
Langkah kakinya membawa Aisya menuju ke salah satu bangunan yang menjadi rumah kedua baginya selama merantau di Toronto: Toronto Islamic Centre.
Begitu melangkah masuk ke dalam area aula salat yang tenang dan berkarpet tebal, kehangatan instan langsung menyelimuti tubuhnya. Suasana di dalam sini begitu kontras dengan hiruk-pikuk Downtown yang dingin dan asing. Aisya langsung mengambil air wudu, lalu mendirikan salat sunah beberapa rakaat di balik tirai pembatas saf wanita.
Di atas sajadah, seluruh pertahanan diri Aisya runtuh total. Di tempat inilah ia tidak perlu berpura-pura kuat seperti di hadapan Cassian tadi siang. Ia menangis tersedu-sedu, menumpahkan segala sesak di dadanya, memohon petunjuk atas kelanjutan masa depannya dan kesembuhan pamannya.
Setelah hatinya sedikit lebih tenang, Aisya melangkah ke area kantor sekretariat komunitas di bagian depan masjid. Ia berniat menemui Sister Maryam, salah satu pengurus komunitas mualaf dan sosial di sana, untuk menanyakan apakah ada lowongan kerja paruh waktu di dapur sosial atau administrasi masjid yang bisa ia ambil.
"Aisya? Masya Allah, wajahmu pucat sekali. Kamu tidak apa-apa?" tanya Sister Maryam dengan nada khawatir begitu melihat Aisya masuk.
Aisya mencoba tersenyum di balik niqabnya. "Saya tidak apa-apa, Sister. Hanya... sedikit kelelahan. Sister, jika saya boleh tahu, apakah ada pekerjaan paruh waktu yang bisa saya lakukan di sekitar komunitas ini dalam waktu dekat? Menjadi pengajar mengaji anak-anak atau membantu di bagian administrasi juga tidak apa-apa."
Sister Maryam menatap Aisya dengan pandangan iba, seolah sudah mengetahui beban berat yang sedang dipikul gadis itu. "Kebetulan sekali kamu datang, Aisya. Kami memang sedang mencari admin untuk mengelola program bantuan pangan musim semi. Tapi... ada satu hal lagi."
Sister Maryam mengambil sebuah amplop putih dari atas mejanya. "Sore tadi, perwakilan dari lembaga hukum dan dana abadi perumahan kota datang ke sini. Mereka bilang ada program beasiswa kemitraan baru dari donatur korporat yang dialokasikan khusus untuk mahasiswa asing muslim yang berprestasi di Universitas Toronto. Nama kamu berada di daftar teratas yang direkomendasikan oleh sistem."
Aisya tertegun, matanya membelalak. "Beasiswa? Tapi... status saya di kampus sudah..."
"Mereka tahu, Aisya. Dan pihak donatur itu bersedia menyelesaikan seluruh tunggakan semesteranmu besok pagi, asalkan kamu bersedia menandatangani kontrak pengabdian paruh waktu di lembaga sosial ini sebagai timbal baliknya," jelas Sister Maryam hangat. "Dengan begitu, kamu tidak melanggar aturan batas jam kerja imigrasi, karena ini dihitung sebagai magang komunitas."
Aisya membekap mulutnya di balik kain niqab. Air mata haru menetes di pipinya. Ia merasa ini adalah jawaban langsung dari doa-doanya yang baru saja ia panjatkan di atas sajadah.
Namun, Aisya tidak tahu satu hal.
Di luar gedung Islamic Centre, di seberang jalan yang temaram, mobil Rolls-Royce Ghost hitam milik Cassian terparkir dalam diam. Dari balik kaca mobil yang gelap, Cassian menyaksikan bagaimana Aisya berjalan masuk ke dalam masjid dengan bahu lesu, dan bagaimana gadis itu kini tampak keluar dengan langkah yang jauh lebih ringan.
Di kursi depan, Kevin menutup ponselnya dan menoleh ke belakang. "Tuan Noir, pihak pengurus Islamic Centre sudah menyerahkan dokumen kemitraan beasiswa itu kepada Nona Aisya. Sesuai perintah Anda, nama perusahaan kita sepenuhnya disamarkan di balik yayasan kemanusiaan kota, sehingga Nona Aisya tidak akan pernah tahu bahwa Andalah yang membayar seluruh biaya kuliahnya."
Cassian tetap bersandar tenang, wajahnya tidak mengekspresikan apa pun, namun ketegangan di rahangnya perlahan melunak.
"Bagus," sahut Cassian pendek, suaranya terdengar berat dan dalam. "Urusan dia dengan kampusnya sudah selesai. Sekarang, biarkan dia fokus di sana."
Pria itu mengalihkan pandangannya ke depan. "Lukas, jalankan mobilnya. Besok pagi, kita punya urusan yang harus diselesaikan dengan keluarga Vance."