"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.
Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"
"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"
"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."
Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.
Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
Mobil sport hitam arang matte milik Maximilian melambat saat memasuki pelataran gedung apartemen mewah berlantai tiga puluh di kawasan distrik finansial Los Angeles.
Pintu gerbang otomatis terbuka setelah mendeteksi kartu akses premium keluarga Valerio. Max memutar kemudi dengan cekatan, membawa kendaraan membelah area parkir bawah tanah yang sunyi dan bernuansa eksklusif, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan akses lift pribadi.
Keheningan di dalam kabin mobil terasa begitu pekat saat mesin dimatikan. Yara masih menatap lurus ke depan, jemarinya meremas tali tas kecilnya dengan sisa-sisa ketegangan yang belum sepenuhnya menguap.
"Kita sudah sampai. Turunlah," suara bariton Max memecah keheningan, terdengar begitu tenang di tengah malam yang kian larut.
Yara tidak membantah. Dia membuka pintu mobil, melangkah keluar dengan anggun meskipun sepasang kakinya masih terasa sedikit lemas.
Sementara itu, Max berjalan ke bagian bagasi, mengangkat koper besar milik Yara dengan satu gerakan mudah, lalu memberi isyarat agar wanita itu mengikutinya masuk ke dalam lift pribadi yang langsung terhubung ke unit pentas miliknya di lantai teratas.
Begitu pintu lift berdenting terbuka di lantai tiga puluh, sebuah ruangan luas dengan konsep modern industri langsung menyambut mereka.
Lantai marmer hitam yang berkilau, dinding kaca besar yang menampilkan lanskap gemerlap lampu kota Los Angeles dari ketinggian, serta furnitur minimalis berlapis kulit premium menegaskan bahwa tempat ini bukanlah apartemen biasa.
Max meletakkan koper besar Yara di dekat koridor masuk, lalu berjalan menuju dapur bersih untuk mengambil dua botol air mineral dari dalam lemari es.
"Kau bisa menempati kamar utama di sebelah kanan. Tempat itu sudah dibersihkan secara berkala oleh pelayan keluarga," ucap Max sembari menyodorkan satu botol air mineral dingin kepada Yara yang masih berdiri mematung di tengah ruangan.
Yara menerima botol itu, menatap sekeliling apartemen dengan pandangan yang sulit diartikan. Di satu sisi, dia merasa lega karena berhasil keluar dari sangkar prostitusi terselubung milik keluarganya.
Namun di sisi lain, berada di dalam ruangan tertutup bersama seorang pria setinggi seratus delapan puluh lima sentimeter dengan penampakan 'liar' seperti Maximilian Valerio tetap saja memicu alarm waspada di dalam kepalanya.
Yara mengembuskan napas pendek, lalu memutar tutup botol air mineralnya. Karena pergerakan tangannya yang terburu-buru dan sisa getaran emosi yang belum stabil, beberapa tetes air dingin justru terpercik keluar, membasahi bagian depan gaun malam biru dongker yang dia kenakan.
Bahan gaun yang tipis dan pas di tubuh itu seketika menempel ketat pada kulitnya, mengekspos lekuk tubuh bagian atas Yara dengan sangat jelas di bawah pendar lampu apartemen yang terang.
Max, yang saat itu sedang bersandar di meja bar sembari menyesap air minumnya, secara refleks mengalihkan pandangan matanya ke arah Yara. Sudut matanya menangkap basahnya pakaian wanita itu, namun perhatian sang genius Harvard mendadak terunci pada sesuatu yang lain di balik bahu kiri Yara.
Sebuah tali pengait bra berwarna hitam tampak bergeser tak beraturan, menyembul keluar dari balik potongan gaunnya yang sedikit melonggar akibat aktivitas ekstrem di jembatan tadi.
Sepasang mata tajam Max menyipit, menatap intens ke arah dada dan bahu Yara selama beberapa detik dengan kening yang berkerut halus, mencoba memastikan apakah pakaian dalam wanita itu benar-benar rusak atau hanya sekadar melorot.
Yara yang menyadari arah pandangan mata Max langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Wajah cantiknya seketika merona merah padam, dipenuhi oleh rasa tersinggung dan amarah yang mendadak meletup kembali ke permukaan. Benteng pertahanan defensifnya langsung bangkit secara instan.
"Kau benar-benar tidak bisa mengubah tabiat busukmu, kan, Maximilian Valerio?!" desis Yara tajam, melangkah maju satu tapak dengan tatapan mata yang menghujam sedingin es.
"Di tempat sepi seperti ini, matamu langsung berbuat kurang ajar. Aku tidak salah dalam menilai bahwa kau memang hanyalah seorang bocah birahi yang tidak tahu sopan santun!"
Max tertegun sejenak, lalu meletakkan botol air mineralnya di atas meja bar dengan ketukan yang agak keras. Dia mendengus tidak percaya atas tuduhan sepihak yang baru saja melayang ke arahnya. "Jaga mulutmu, Yara. Jangan mulai menuduhku dengan fantasi gilamu lagi. Aku tidak sedang berniat mesum padamu."
"Lalu apa namanya jika bukan mesum, hah?!" potong Yara dengan nada suara yang meninggi, dadanya naik turun menahan emosi. "Kau menatap dadaku seperti seorang pria kelaparan yang sedang menilai barang dagangan di etalase! Jangan berpura-pura suci setelah apa yang kau lakukan pada foto-fotoku semalam!"
Max menegakkan tubuhnya, melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka mengikis, memancarkan aura intimidasi khas seorang Valerio yang dominan. "Dengar, Nona Asisten Profesor yang terhormat. Aku menatapmu karena ada yang salah dengan pakaianmu. Seperti nya tali bra mu terlepas di bagian belakang, dan jika kau berjalan selangkah lagi, benda itu akan merosot sepenuhnya ke bawah. Aku hanya ingin memberitahumu sebelum kau menuduhku melihat sesuatu yang lebih dari itu. Jadi, singkirkan pikiran kotormu tentangku!"
Mendengar penjelasan blak-blakan dari mulut Max, kata-kata Yara seketika tertahan di tenggorokan. Dia secara refleks meraba bagian belakang bahu kirinya dengan tangan yang gemetar, dan benar saja, pengait kain sialan itu telah lepas dari tempatnya, membuat siluet pakaian dalamnya menjadi tidak beraturan.
Wajah Yara yang semula merah karena marah kini berubah menjadi merah karena rasa malu yang luar biasa gila. Namun, sebagai seorang wanita dengan ego setinggi langit, dia menolak untuk meminta maaf atau terlihat salah di depan Max.
Yara membalikkan badannya dengan cepat, memperbaiki posisi pakaiannya dengan membelakangi Max, lalu berbalik kembali dengan dagu yang kembali terangkat tinggi, mencoba merebut kendali perdebatan. "Tetap saja, sebagai seorang pria berpendidikan, bukankah seharusnya kau memalingkan wajahmu? Bukan malah menatapnya dengan intens seolah kau sedang menikmati pemandangan cuma-cuma!"
Max tidak bisa lagi menahan rasa gelinya. Alih-alih marah karena terus-menerus dituduh, seringai provokatif yang sarat akan ejekan justru terukir di sudut bibir tampannya. Dia melipat kedua tangan di depan dada, menatap Yara dengan pandangan meremehkan yang menjengkelkan.
"Menikmati pemandangan cuma-cuma?" Max terkekeh hambar, sebuah tawa merendahkan yang menggema di dalam ruangan apartemen yang sunyi.
"Hei, Yara... asal kau tahu saja, di Boston, aku bahkan bisa meniduri banyak gadis muda yang jauh lebih segar dan menarik jika aku mau. Untuk apa aku membuang-buang energi dan berbuat mesum hanya untuk menidurimu? Juga, jelas-jelas lebih tua dariku?"
Pertanyaan Max yang membawa-bawa topik usia langsung menyengat harga diri Yara sebagai seorang wanita dewasa. Dia tahu betul bahwa Maximilian Valerio adalah mahasiswa baru yang baru menginjak usia dua puluh tahun, sementara dirinya saat ini sudah berusia dua puluh empat tahun dan memegang gelar akademis yang sah.
Yara melangkah maju, menunjuk dada tegap Max dengan telunjuknya yang lentik, menatap pemuda itu dengan tatapan memerintah yang kaku. "Kau harus lebih hormat padaku, Valerio! Aku ini empat tahun lebih tua darimu, dan di kampus, aku adalah asisten profesormu. Berhentilah bersikap tidak sopan dan menggunakan bahasa yang kurang ajar di hadapanku!"
Max tidak mundur satu senti pun meskipun telunjuk Yara hampir menyentuh permukaan jaket kulitnya. Dia justru menundukkan kepalanya sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Yara hingga jarak di antara hidung mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja. Kilat jenaka sekaligus nakal muncul di sepasang manik mata gelap milik Max.
"Oh ya? Kau empat tahun lebih tua?" bisik Max dengan nada suara yang sengaja diperberat, membiarkan embusan napas hangatnya menerpa permukaan kulit wajah Yara yang mulus.
"Tapi setahuku... biasanya wanita yang usianya lebih tua itu... ehem... jauh lebih jago dalam segala hal. Termasuk dalam hal mendesah di bawah kendali seorang bocah birahi seperti yang kau tuduhkan padaku."
DEG.
Kalimat ambigu yang sarat akan konotasi dewasa itu meluncur begitu saja dari bibir Max, menghancurkan sisa-sisa wibawa akademis yang coba dibangun oleh Yara dalam sekejap.
Yara terbelalak sempurna, mulutnya sedikit terbuka karena rasa syok atas kelancangan tingkat tinggi yang dimiliki oleh pemuda di hadapannya ini.
Dia ingin sekali melayangkan tamparan, namun sebelum tangannya bergerak, Max sudah lebih dulu mundur dua langkah sembari tertawa renyah—sebuah tawa lepas yang tulus tanpa ada beban permusuhan lagi di dalamnya.
Melihat Max yang tertawa begitu lepas, rasa kesal di dada Yara mendadak menguap, digantikan oleh rasa geli yang aneh yang menggelitik hatinya.
Ketegangan gila yang sempat mengikat mereka sejak di jembatan tadi seolah mencair begitu saja lewat pertengkaran konyol ini. Yara memalingkan wajahnya ke samping, menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyuman yang keras kepala ingin muncul, sebelum akhirnya seulas tawa kecil ikut lolos dari bibirnya.
Malam itu, di dalam apartemen mewah yang terisolasi dari kebusukan dunia luar, dua orang yang mengikrarkan diri sebagai musuh bebuyutan itu justru berakhir tertawa bersama di atas lantai marmer, menertawakan segala ego, salah paham, dan distorsi takdir yang mengikat mereka dalam satu malam yang gila.
"Masuklah ke kamarmu, Nona Profesor Tua," ucap Max setelah tawanya mereda, memberikan julukan baru yang menjengkelkan sembari berbalik menuju sofa panjang di ruang tengah. "Perbaiki pakaian dalammu yang rusak itu, dan pastikan kau mengunci pintunya jika kau masih menganggapku sebagai ancaman."
Yara mendengus sinis, namun tidak ada lagi amarah dalam tatapannya. Dia menyambar pegangan koper besarnya, lalu melangkah menuju kamar utama dengan anggun.
Sebelum menutup pintu, dia menoleh sejenak ke arah Max yang sudah merebahkan tubuhnya di sofa. "Terima kasih untuk tempat perlindungannya, Bocah Harvard," ucap Yara lirih, sebelum akhirnya menutup pintu kamar dengan ketukan pelan, meninggalkan Maximilian yang tersenyum tipis menatap langit-langit apartemen dalam keheningan malam yang kini terasa jauh lebih hangat.