NovelToon NovelToon
MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.

​Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: TEROR CAIRAN BENING DI LOBI UTAMA

TEROR CAIRAN BENING DI LOBI UTAMA

​Layar ponsel di tangan Amira masih menampilkan rekaman video berdurasi lima belas detik yang dikirimkan oleh Mbak Surti, mantan pengasuh setianya dulu. Di dalam video yang direkam secara sembunyi-sembunyi dari balik pilar lobi apartemen itu, tampak sosok Ibu Ratna yang sudah kehilangan seluruh keangkuhannya.

​Rambut wanita tua itu acak-acakan, perhiasan emas tebal yang biasa menghiasi pergelangan tangannya telah lenyap—mungkin sudah digadaikan untuk membayar biaya hotel murah kemarin malam. Ia duduk bersimpuh di atas lantai marmer lobi apartemen mewah milik Amira, kedua tangannya mencengkeram erat sebuah botol plastik putih berisi cairan pembersih lantai berkadar asam tinggi.

​Beberapa petugas keamanan apartemen tampak berjaga dalam jarak dua meter, tidak berani mendekat karena Ibu Ratna terus mengacungkan botol itu ke arah lehernya sendiri setiap kali ada yang mencoba menenanginya.

​"Nduk Amira... sebaiknya kamu jangan turun dulu," ujar Pak Sanusi yang ikut melihat video tersebut dari balik meja kerja. Pria tua itu melepas kacamatanya, gurat kecemasan tercetak jelas di dahinya. "Mertuamu itu sudah kehilangan akal sehatnya. Orang yang sudah tidak punya harga diri lagi bisa melakukan nekat apa saja untuk menarik simpatimu atau... membuatmu keguguran karena syok."

​Om Harlan yang duduk di sebelah Pak Sanusi ikut mengangguk setuju. "Betul, Amira. Biar tim hukum dan pihak kepolisian saja yang membereskannya di bawah. Kamu sedang hamil muda, fisikmu tidak boleh tertekan."

​Amira berdiri dari kursi goyangnya. Blazer hijau zamrud yang dipakainya tampak sedikit bergelombang tertiup angin dari pendingin ruangan. Ia berjalan mendekati jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian lantai tiga puluh lima. Di bawah sana, di pelataran parkir lobi, tampak samar-samar kerumunan orang yang mulai berkumpul.

​Rasa mual kembali menusuk ulu hatinya, namun Amira meremas jemarinya sendiri untuk menguatkan diri.

​"Tidak, Pak Sanusi. Om Harlan," suara Amira terdengar sangat tenang, namun ada getaran dingin yang tegas di dalamnya. "Kalau aku bersembunyi di atas sini, Ratna akan menggunakan drama bunuh diri ini untuk membuat media memojokkan aku sebagai menantu durhaka yang menelantarkan mertuanya saat hamil. Dia ingin membalikkan keadaan hukum kita menggunakan opini publik."

​Amira berbalik, menatap kedua pria tua yang selama ini melindunginya. "Aku harus turun. Aku yang akan memecahkan kegilaannya dengan tanganku sendiri."

​Suasana di lobi utama apartemen kelas atas itu mendadak riuh rendah oleh bisikan para penghuni dan staf. Ibu Ratna terus menangis meraung-raung, suaranya melengking memecah kemewahan ruangan berlantai granit tersebut.

​"AMIRA! KELUAR KAMU! KELUAR PEREMPUAN JALANG!" pekik Ibu Ratna, air matanya menghapus sisa-sisa bedak tebal di wajah keriputnya. "Kamu sudah puas melihat anakku Aris mendekam di sel besi?! Kamu sudah puas merampok semua harta anakku?! Sini kamu, bawa keluar cucuku! Atau aku akan mati meminum racun ini di depan rumahmu!"

​Ting.

​Pintu lift eksekutif di ujung lobi terbuka lebar. Seluruh pasang mata di dalam ruangan itu seketika menoleh ke arah sumber suara.

​Amira melangkah keluar dari dalam lift. Ia berjalan dengan anggun, kepalanya tegak, bahunya tegap dibalut blazer hijau zamrud yang mewah. Di belakangnya, Pak Sanusi dan dua orang pengawal berbadan tegap menjaga jarak satu meter dengan siaga. Penampilan Amira yang begitu berkelas dan berwibawa siang ini membuat beberapa penghuni apartemen yang ada di sana langsung mengenali posisinya sebagai nyonya besar yang sah, bukan wanita tertindas seperti yang diteriakkan Ibu Ratna.

​Melihat sosok Amira, Ibu Ratna langsung bangkit berdiri dengan lutut yang gemetar. Ia mengarahkan botol cairan pembersih lantai itu ke depan dadanya sendiri. "Jangan mendekat, Amira! Satu langkah kamu maju, aku akan tenggak cairan ini sampai habis! Biar seluruh dunia tahu kalau kamu adalah pembunuh ibu mertuamu sendiri!"

​Amira menghentikan langkahnya tepat tiga meter di depan Ibu Ratna. Jarak yang cukup aman, namun cukup dekat untuk membuat Ibu Ratna bisa melihat dengan jelas plester medis yang menutupi luka memar di pipi kanan Amira—luka akibat tamparan anaknya sendiri.

​Amira menatap wanita tua di depannya dengan tatapan yang sangat kosong, tanpa ada rasa takut, sedih, ataupun iba sedikit pun.

​"Minum saja, Bu," ucap Amira, nadanya begitu datar dan santai, seolah-olah ia sedang mempersilakan tamunya meminum secangkir teh hangat.

​Ibu Ratna seketika membeku. Kerumunan orang di lobi langsung menarik napas serentak, terkejut mendengarkan kalimat yang keluar dari mulut Amira.

​"K-kamu... kamu bilang apa?!" gagap Ibu Ratna, tangannya yang memegang botol mulai goyah.

​"Aku bilang, silakan diminum, Bu," Amira maju satu langkah, melipat kedua tangannya di depan dada dengan gaya mengintimidasi. "Ibu pikir aku akan menangis berlutut di depan Ibu dan memohon agar Ibu tidak bunuh diri? Ibu pikir aku akan menyerahkan kembali saham Snack Pratama dan mencabut laporan polisi Mas Aris hanya karena drama murahan ini?"

​Amira tersenyum sinis, sebuah senyuman yang sangat menusuk ego Ibu Ratna. "Silakan minum cairan itu sampai lambung Ibu hancur. Tapi biar aku ingatkan satu hal, Bu... di belakangku ini, kamera CCTV apartemen merekam seluruh kejadian ini secara utuh sejak satu jam lalu. Jika Ibu meminumnya, secara hukum itu adalah murni tindakan bunuh diri akibat depresi karena anak Ibu terjerat kasus korupsi dan KDRT. Tidak akan ada satu pun pasal hukum yang bisa menyentuhku."

​"Kamu... kamu benar-benar iblis, Amira! Kamu tega pada orang tua!" teriak Ibu Ratna, air matanya semakin deras mengalir, namun cengkeramannya pada botol racun itu mulai mengendur karena rasa takut yang sesungguhnya mulai menyerang mentalnya.

​"Aku belajar menjadi iblis dari Ibu dan Lista," desis Amira, suaranya merendah namun terdengar sangat tajam menembus telinga Ibu Ratna. "Selama tiga tahun aku merawat Ibu dengan penuh hormat, tapi apa balasan Ibu? Ibu memaki rahimku mandul. Ibu menaruh dokumen palsu untuk memfitnahku menguras uang Mas Aris. Dan puncaknya... Ibu mendukung anak Ibu meniduri sepupuku sendiri di atas ranjang pernikahanku!"

​Amira melirik ke arah petugas keamanan, lalu memberikan kode rahasia dengan jemarinya.

​"Sekarang, pilihan ada di tangan Ibu," lanjut Amira, matanya mengunci pandangan Ibu Ratna. "Mau minum cairan itu dan mati sebagai pecundang yang meninggalkan utang lima miliar rupiah di bank, atau taruh botol itu sekarang dan nikmati sisa masa tua Ibu di rumah kontrakan pinggir kota tanpa sepeser pun uang dari anakmu yang akan membusuk di penjara?"

​Mendengar kata “membuang sisa masa tua di kontrakan pinggir kota” dan menyadari bahwa Amira benar-benar tidak peduli lagi dengan ancaman kematiannya, pertahanan mental Ibu Ratna runtuh sepenuhnya. Botol plastik putih di tangannya terlepas, jatuh mencium lantai marmer dengan suara buntung yang keras.

​Wanita tua itu ambruk, berlutut di atas lantai sambil menangis tersedu-sedu, memegangi ujung sepatu blazer Amira dengan tangan yang bergetar. "Amira... maafkan Ibu, Nduk... Ibu khilaf... Tolong cabut laporan polisi untuk Aris... Kasihan Aris, dia anak tunggal Ibu... Tolong kasihanilah cucu yang ada di dalam perutmu, dia butuh ayahnya, Amira..."

​Amira menarik kakinya mundur dengan perlahan, menghindari sentuhan tangan Ibu Ratna seolah tangan itu adalah kotoran yang menjijikkan. Ia menatap ibu mertuanya yang bersimpuh di bawah kakinya dengan pandangan muak yang absolut.

​"Anak ini memang butuh seorang ayah, Bu Ratna," ujar Amira sambil mengusap perutnya secara terang-terangan di depan kerumunan lobi, membuat Ibu Ratna mendongak menatap perut menantunya dengan pandangan penuh penyesalan yang terlambat. "Tapi dia tidak butuh seorang ayah yang tangannya ringan memukul wanita, dan dia tidak butuh seorang nenek yang hatinya dipenuhi racun keserakan. Mulai hari ini... hak asuh dan garis keturunan anak ini murni milik Shinta. Nama Pratama sudah mati bagi kami."

​Amira membalikkan badan, kembali berjalan menuju lift eksekutif tanpa menoleh ke belakang lagi. Di belakangnya, petugas keamanan apartemen dengan sigap langsung meringkus Ibu Ratna yang sudah lemas tak berdaya untuk diserahkan ke dinas sosial dan pihak kepolisian.

Amira kembali ke dalam penthouse-nya dengan napas yang teratur, merasa satu duri besar di dalam hidupnya baru saja dicabut sampai ke akarnya. Namun, saat ia membuka tablet kerjanya untuk memeriksa laporan pembekuan aset kantor Snack Pratama siang itu, sebuah notifikasi sistem keamanan perbankan mendadak berbunyi tit... tit... tit... tanda bahaya. Seseorang dari dalam kantor pusat, menggunakan akun manajer administrasi cadangan milik Lista yang seharusnya sudah diblokir, baru saja berhasil mentransfer sisa aset likuid perusahaan sebesar dua miliar rupiah ke sebuah rekening pribadi di Batam, dekat perbatasan Singapura.

1
partini
semua orang kalau udah tersudut bilang nya khilaf
gendiz: ya kaaan kak 🤭
total 1 replies
partini
,👍👍👍👍
falea sezi
sejauh ini muter wae. lahh😕
gendiz: makasih ya sudah mau baca, semoga next bab enggak kerasa muter alurnya
total 1 replies
partini
busettt dari dari bab 1 Ampe yg ini Amira apes Thor, kata jadi Badas eh malah kaya gini
gendiz: makasih ya masukkan nya , semoga nanti next bab alurnya gak membingungkan lagi,🤭
total 3 replies
gendiz
bisa mereka dari segi cerita
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!