“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diamnya Rhea..
...****************...
Dua jam berlalu begitu saja. Dan kini jarum jam di dinding kelas sudah menunjuk angka sebelas tepat di saat Arga akhirnya menutup penjelasan materinya. Suaranya yang tenang dan berwibawa mengakhiri sesi pagi itu.
“Baik, cukup sampai di sini untuk hari ini,” ucapnya sambil menutup tutup spidol dan meletakkannya di atas meja. “Materi minggu depan saya harap sudah kalian pelajari terlebih dahulu agar diskusi berjalan lancar.”
Suasana kelas yang sejak tadi cukup hening perlahan mulai ramai kembali. Beberapa mahasiswa langsung meregangkan tubuhnya yang kaku karena duduk terlalu lama, sebagian lain mulai menutup laptop dan membereskan buku catatan sambil saling berbicara pelan membahas materi atau sekadar mengeluh karena pelajaran yang cukup padat.
Sementara itu, di bangku tengah, Rhea duduk diam.
Ia merapikan alat tulis dan bukunya dengan wajah yang sangat datar, nyaris tanpa ekspresi. Satu per satu barang itu ia masukkan ke dalam tasnya dengan gerakan cekatan, namun sepanjang waktu itu, ia sama sekali tidak menoleh sedikit pun ke arah depan kelas, ke arah meja dosen tempat Arga berdiri.
Tak lama kemudian, seluruh mahasiswa mulai bergerak keluar ruangan secara bergantian. Suara gesekan kursi, langkah kaki, dan obrolan memenuhi ruangan itu.
Arga sendiri ikut membereskan dokumen dan laptopnya, memasukkannya ke dalam tas kerja, sebelum akhirnya melangkah keluar dari depan kelas menuju lorong.
Namun langkah kakinya perlahan melambat saat ia melihat Rhea yang juga berjalan menuju pintu keluar di depannya. Tatapannya tertahan beberapa detik pada punggung gadis itu, pada cara gadis itu berjalan menjauh seolah tak ada sesuatu yang pernah terjadi di antara mereka.
“Rhe-....”
Belum sempat Arga menyelesaikan panggilannya, belum sempat suaranya keluar sepenuhnya, tiba-tiba terdengar suara lantang memanggil dari arah lorong luar.
“Rhea!”
Langkah kaki Rhea langsung berhenti tepat setelah ia melewati ambang pintu kelas. Gadis itu menoleh cepat ke arah sumber suara dan mendapati Dito berdiri tak jauh dari sana, berjalan santai ke arahnya sambil membawa beberapa map tebal di tangannya.
“Loh, Mas Dito?” Rhea tampak sedikit kaget namun wajahnya langsung berubah ramah, tersenyum kecil.
“Kita ke aula sekarang ya,” ucap Dito sambil berjalan mendekat hingga berdiri tepat di samping Rhea, seolah tak peduli akan kehadiran Arga yang ada di belakang sana.
“Kita mulai rapat persiapannya. Waktunya nggak banyak lagi, Rhe, jadi kita harus cepat.”
“Oh iya…” Rhea langsung mengangguk kecil, seolah ingat kembali akan tugasnya sebagai panitia. “Ya sudah ayo.”
Dan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Arga yang masih berdiri diam di belakangnya, tanpa melirik atau memberi kesempatan sedikit pun untuk berbicara, Rhea langsung berjalan begitu saja beriringan dengan Dito menyusuri lorong fakultas yang cukup luas itu.
Langkah mereka berjalan beriringan cukup dekat.
Sesekali Dito terlihat tersenyum dan berbicara sesuatu sambil menunjuk isi map di tangannya, dan Rhea menjawab dengan santai, bahkan sempat tertawa kecil mendengar penjelasan pria itu.
Sementara itu, Arga masih berdiri diam di depan pintu kelas. Ia tak beranjak. Tatapannya mengikuti punggung Rhea dan Dito yang perlahan menjauh, hingga kedua sosok itu tertutup oleh kerumunan mahasiswa lain.
Rahangnya mengeras samar, otot di rahangnya bergerak pelan menahan sesuatu yang tak ingin ia keluarkan.
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi tadi, sejak ia masuk ke kelas dan melihat tatapan Rhea yang tajam namun dingin itu, Arga benar-benar menyadari satu hal: gadis itu menghindarinya. Menghindar sekuat tenaga, memagari diri sendiri seolah Arga adalah sesuatu yang harus dijauhi.
Arga akhirnya mengembuskan napas panjang pelan, napas yang terdengar berat dan penuh kekesalan, sambil menatap tajam ke arah lorong yang kini mulai kembali ramai namun kosong dari sosok yang ingin ia temui.
Tak jauh dari sana, beberapa mahasiswa yang belum sempat pergi dan kebetulan melihat adegan itu langsung saling melirik kecil. Mereka yang tadinya berbisik-bisik tentang materi kuliah kini berganti topik dengan sorot mata penasaran.
“Wah…” bisik salah satu mahasiswa perempuan pelan sambil matanya melirik Arga sekilas. “Kayaknya ada cinta segitiga nih?”
“Hush! Pelan-pelan dong,” temannya langsung menyikut lengan gadis itu cepat, wajahnya tampak ketakutan.
“Nanti Pak Arga dengar, kita bisa bahaya sendiri. Lihat tuh mukanya kayak habis disambar petir gitu…”
“Eh! Iya… astaga, serem banget sih lihatnya,” sahut yang lain sambil buru-buru pergi menjauh, takut menjadi sasaran kemarahan dosen yang terkenal dingin itu.
Arga masih berdiri diam di tempatnya, tepat di ambang pintu kelas, bahkan lama setelah sosok Rhea dan Dito benar-benar menghilang di ujung lorong yang berbelok.
Suasana di sekitarnya perlahan kembali ramai oleh lalu lalang mahasiswa yang beranjak pulang atau bergerak menuju ruangan lain, suara obrolan dan langkah kaki memenuhi udara, namun pria itu seolah tidak mendengar apa pun.
Ia tetap tak bergerak sedikit pun, kaku seperti patung.
Tatapannya masih tertuju lurus ke depan, ke arah tempat di mana mereka berdua terakhir terlihat pergi. Rahangnya mengeras samar, otot di sana bergerak pelan menahan rasa sesal dan kekesalan yang bercampur aduk menjadi satu.
Hening di dalam kepalanya, meski bising di sekelilingnya.
Perlahan Arga mengembuskan napas panjang, berat dan terdengar lelah, lalu tangannya terangkat memijat pelipisnya sendiri pelan, seolah berusaha meredakan sakit kepala yang tiba-tiba datang.
“Ck…” desisnya pelan.
Kini ia benar-benar yakin, tidak ada lagi keraguan. Rhea sedang menghindarinya. Gadis itu sengaja menjauh, sengaja tidak mau menatap, tidak mau berbicara, bahkan tidak mau berada di dekatnya sedetik pun lebih lama dari yang diperlukan.
Dan anehnya, kesadaran itu justru membuat dadanya terasa semakin tidak nyaman, terasa sempit dan panas sejak tadi pagi.
Biasanya gadis itu akan banyak bicara padanya. Membantah ucapannya, mengomel jika disuruh melakukan sesuatu, atau sekadar bercanda dan tertawa seenaknya seolah di depannya bukanlah seorang dosen yang harus dihormati dan ditakuti.
Rhea selalu ada di dekatnya, berisik, hidup, dan selalu ada.
Namun hari ini? Rhea bahkan tidak mau menoleh ke arahnya sedikit pun. Seolah ia adalah udara, atau lebih buruk lagi...sesuatu yang ingin dijauhi.
Tatapan Arga perlahan turun ke lantai, menatap bayangan dirinya sendiri, sebelum akhirnya sudut bibirnya terangkat membentuk senyum hambar yang penuh ejekan pada diri sendiri.
“Bagus, Arga…” gumamnya pelan, suaranya rendah dan nyaris tak terdengar di antara hiruk-pikuk lorong. “Kamu memang pantas diperlakukan seperti itu.”
Tangannya bergerak lagi, kali ini mengusap wajahnya dengan kasar, menyisir rambut ke belakang dengan frustrasi.
Bayangan semalam kembali menyeruak masuk tanpa izin. Cara ia berbicara kacau. Kalimat-kalimat bodoh yang terucap karena campuran lelah dan alk0hol. Dan...ciu man singkat itu. Sentuhan bibir mereka yang terasa begitu nyata, begitu lembut, dan begitu mengacaukan segalanya.
Rahangnya kembali mengeras tipis.
“Memang bodoh…” umpatnya lagi, kali ini lebih dalam.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arga benar-benar merasa kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ia yang biasanya begitu tenang, begitu penuh perhitungan, dan selalu terlihat sempurna dalam setiap tindakan, kini justru berantakan hanya karena satu gadis.
Dan yang paling mengganggu, yang paling membuatnya kacau dan tak bisa tidur semalam...ia sama sekali tidak menyesali ciu man itu. Tidak sedikit pun.
Justru, satu-satunya hal yang ia sesali adalah kenyataan bahwa setelah itu, Rhea menjauh, dan ia tidak tahu cara mengembalikan segalanya seperti semula.