NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Perjalanan panjang yang membelah jalanan raya dan jalan masuk kota besar akhirnya sampai juga. Langit kota mulai berubah warna menjadi keemasan saat sore menjelang, cahaya matahari memantul indah di kaca-kaca gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Pemandangan ini dulu biasa saja bagi Ani, bahkan sering terasa menyesakkan karena penuh dengan kenangan pahit. Namun hari ini, semuanya tampak berbeda. Di mata Ani, kota ini bukan lagi tempat yang menyakitkan, melainkan ladang perjuangan baru yang terbentang luas.

Mobil Damar tidak berbelok ke arah kompleks perumahan tempat dulu ia tinggal bersama Dimas, melainkan masuk ke kawasan pusat kota yang lebih ramai, bersih, dan modern. Di sanalah berdiri sebuah gedung apartemen bertingkat tinggi dengan desain mewah namun sederhana, terlihat megah namun ramah. Damar memacu mobilnya masuk ke halaman gedung, lalu memarkirkannya di tempat khusus.

"Kita sudah sampai, Ani," ucap Damar sambil mematikan mesin, lalu menoleh ke arah sahabatnya itu dengan senyum ramah.

Ani turun dari mobil sambil menghela napas panjang, menatap gedung tinggi itu dengan rasa penasaran bercampur takjub. Ia mengikuti langkah Damar masuk ke lobi yang luas, bersih, dan berpenyejuk udara sejuk. Mereka berjalan menuju lift, dan beberapa saat kemudian pintu lift terbuka di lantai sepuluh.

Damar berjalan di depan, membuka pintu salah satu unit apartemen menggunakan kartu akses. Pintu itu terbuka lebar, dan Ani pun melangkah masuk, tertegun melihat pemandangan di dalamnya.

Ruangannya cukup luas, tertata rapi dengan perabotan yang bersih dan lengkap. Ruang tamu yang nyaman dengan sofa empuk, meja makan sederhana, dapur kecil yang rapi, hingga kamar tidur yang menghadap langsung ke jendela kaca besar. Dari balik jendela itu, pemandangan seluruh kota terhampar indah di bawah sana, lampu-lampu jalan mulai berkedip menyala satu per satu bagai bintang di bumi. Udara di dalam pun terasa sejuk dan nyaman, sangat kontras dengan suasana rumahnya di desa yang sederhana namun penuh debu jalanan.

"Bagaimana menurutmu? Nyaman atau tidak?" tanya Damar sambil meletakkan tas bawaannya di dekat pintu, lalu berbalik menghadap Ani yang masih diam memandangi setiap sudut ruangan.

Ani menoleh, matanya berbinar takjub namun juga penuh tanda tanya. "Damar... ini tempat yang sangat bagus. Sangat indah dan nyaman. Tapi... ini apartemen siapa? Kita berkunjung ke sini?"

Damar tersenyum kecil, lalu menggeleng pelan. Ia berjalan mendekat ke arah jendela, menatap pemandangan luar sejenak sebelum menjawab.

"Ini milikku, Ani. Salah satu dari beberapa unit yang aku punya. Sudah cukup lama kosong, tidak ada yang menempati. Kebetulan sekali kan? Aku berpikir, kalau kamu sewa tempat baru, repot dan mahal. Lagipula, aku ingin kamu tinggal di tempat yang aman, bersih, dan layak."

Damar berbalik badan, menatap Ani dengan tatapan serius namun tulus.

"Dan satu hal lagi... tempat ini lokasinya sangat strategis. Hanya butuh lima menit berjalan kaki, kamu sudah sampai di depan gerbang kantor kita. Jadi, kamu tidak perlu capek-capek macet-macetan di jalan, tidak perlu keluar biaya transportasi, dan waktu istirahatmu pun jadi lebih banyak. Aku serahkan tempat ini untukmu. Mulai hari ini, kamu yang menempatinya, sampai kapan pun kamu mau. Anggap saja rumahmu sendiri."

Jantung Ani berdebar kencang mendengar penuturan itu. Ia tidak menyangka bahwa kebaikan Damar meluas sampai sejauh ini. Ia datang ke sini hanya berniat bekerja, mencari nafkah, dan membuktikan diri, tapi Damar memberikan lebih dari itu—ia memberikan tempat berlindung yang aman dan nyaman di tengah hiruk-pikuk kota yang asing ini.

Perlahan, kaki Ani melangkah mendekat ke arah Damar. Rasa haru yang sedari tadi ia tahan akhirnya meluap juga. Air mata bahagia dan rasa syukur kembali menetes di pipinya, namun kali ini bukan air mata kesedihan.

"Damar... kenapa kamu sebaik ini sama aku?" tanya Ani lirih, suaranya bergetar menahan emosi. "Aku tidak punya apa-apa, aku cuma sahabat lamamu yang sedang jatuh dan terluka. Tapi kamu menolongku, memberiku pekerjaan, dan sekarang memberiku tempat tinggal yang seindah ini... Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Terima kasih... terima kasih banyak, Damar."

Ani menundukkan kepalanya dalam-dalam, tanda hormat dan terima kasih yang tak terhingga.

"Kalau saja dulu aku tidak kenal kamu, kalau saja kamu tidak sebaik ini... entah bagaimana nasibku sekarang. Mungkin aku akan terus dikasihani orang, atau berjuang sendirian sampai lelah dan putus asa. Kamu sudah seperti malaikat penolong buatku, Damar. Dulu kamu menerima Dimas karena aku minta, padahal kamu tahu dia tidak seberapa baik. Dan sekarang, kamu menolongku bangkit dari keterpurukan tanpa pernah menuntut balas apa pun... Maafkan aku ya, Damar, kalau dulu aku sering merepotkanmu."

Damar tersenyum lembut, senyum yang sama persis seperti senyum sahabat yang tulus dan setia sejak masa kuliah dulu. Ia menggeleng pelan, lalu mengusap pelan bahu Ani untuk menenangkannya.

"Hei, kenapa bicara begitu? Kita kan sahabat, Ani. Sejak hari pertama kita kenal, aku sudah anggap kamu seperti saudara kandungku sendiri. Bagi sahabat, mana ada hitung-hitungan jasa atau rugi?" jawab Damar lembut namun tegas.

"Dan soal Dimas... sudah lupakan saja. Itu masa lalu, dan aku sudah lama maafkan dirimu maupun dia. Aku tahu kamu tulus waktu itu, aku tahu kamu hanya ingin kebahagiaan. Salah itu bukan di kamu, tapi di dia yang tidak tahu menghargai apa yang dimilikinya."

Damar berhenti sejenak, lalu menatap Ani dengan pandangan yang penuh keyakinan.

"Dan percayalah, Ani. Aku melakukan semua ini bukan sekadar karena kasihan, bukan sekadar karena ingin menolong orang yang susah. Aku melakukan ini karena aku percaya padamu. Aku tahu kemampuanmu, aku tahu siapa kamu sebenarnya. Kamu wanita hebat, cerdas, jujur, dan pekerja keras. Aku yakin sekali, tidak lama lagi, kamu akan membuktikan kepada semua orang termasuk Dimas bahwa keputusanmu untuk bangkit adalah keputusan yang paling benar. Tempat ini, pekerjaan ini... semuanya hanyalah sarana agar kamu bisa menunjukkan kualitas aslimu yang sebenarnya."

Ani menyeka air matanya, lalu menatap Damar dengan pandangan yang penuh tekad dan rasa hormat yang luar biasa.

"Terima kasih, Damar... Sungguh, aku tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikanmu. Tapi janjiku padamu, aku akan bekerja sekeras tenagaku. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kamu berikan ini. Aku akan menjaga tempat ini, aku akan menjaga kepercayaanmu, dan aku akan membuktikan bahwa kamu tidak salah sudah menolongku."

"Baguslah kalau begitu," jawab Damar riang, suasana hati yang tadinya haru berubah menjadi lebih ringan dan bersemangat. "Sudah, jangan menangis lagi ya. Istirahatlah, beres-bereskan barang-barangmu. Besok pagi-pagi sekali kita mulai hari pertamamu bekerja. Aku sudah siapkan segala urusan administrasi di kantor, jadi kamu tinggal masuk dan beraksi saja."

Damar lalu berjalan menuju pintu, hendak berpamitan.

"Sudah malam, aku pulang dulu ya ke unitku di lantai bawah. Ingat, pintu ini selalu terkunci otomatis dari dalam. Di sini aman, ada satpam 24 jam. Kalau ada apa-apa, atau kamu butuh bantuan apa pun, telepon aku kapan saja, atau langsung saja ke bawah. Kita tetangga kanan-kiri sekarang, jadi jangan sungkan."

Ani mengangguk mantap, mengantar Damar sampai ke depan pintu.

"Iya, Damar. Terima kasih banyak sekali lagi, untuk segalanya. Semoga kebaikanmu dibalas berlipat ganda oleh Tuhan," ucap Ani tulus.

Setelah kepergian Damar, Ani menutup pintu dan menguncinya rapat. Ia berdiri diam di tengah ruangan yang tenang itu, membiarkan keheningan malam menyelimutinya. Ia berjalan perlahan menuju jendela besar, menatap ke luar ke arah kerlap-kerlip lampu kota yang indah.

Hatinya terasa begitu penuh, begitu damai, dan begitu kuat. Dulu, saat pertama kali datang ke kota ini bertahun-tahun lalu, ia datang dengan hati yang penuh harapan namun bergantung sepenuhnya pada orang lain. Ia merasa bahagia hanya karena ada Dimas di sisinya. Tapi sekarang, ia kembali lagi ke sini dengan perasaan yang jauh berbeda. Ia bahagia bukan karena ada orang lain, tapi karena ia menemukan dirinya sendiri. Ia aman bukan karena dilindungi suami, tapi karena dilindungi oleh harga dirinya sendiri, kasih sayang orang tua, dan kebaikan sahabat sejati.

Ani berjalan menuju tas kopernya, mulai mengeluarkan satu per satu barang miliknya dan menatanya di lemari. Di sini, di tempat baru ini, di rumah yang bersih dan nyaman ini, Ani tahu ia akan menulis lembaran baru kisah hidupnya. Lembaran yang tidak lagi berisi air mata, penghinaan, atau kepahitan, melainkan berisi kerja keras, kesuksesan, dan kebahagiaan yang ia bangun dengan tangannya sendiri.

Dan saat ia berbaring di kasur empuk itu, menatap langit-langit kamar yang bersih, Ani tersenyum lebar. Ia sudah siap. Siap menyongsong pagi esok hari, siap kembali bekerja, dan siap menunjukkan kepada dunia: Ani telah kembali, dan kali ini ia datang sebagai pemenang.

bersambung ,,,,

1
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
reza atmaja
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!