NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Hamil

Dibuang Saat Hamil

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Single Mom / Tamat
Popularitas:122.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Diana Veronika berniat memberi tahu kekasihnya tentang kehamilannya, berharap pria itu akan ikut bahagia.
Namun bukannya bertanggung jawab, Samuel justru meninggalkannya karena tak berani melawan orang tuanya dan memilih wanita dari perjodohan keluarga.
Hamil sendirian, Diana berusaha bangkit demi anaknya, hingga seorang CEO dingin perlahan hadir dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi tanpa jejak

Ciiiittt!

Mobil Samuel berhenti mendadak di depan kontrakan Diana. Ia langsung keluar dari mobil dengan tergesa-gesa. Ucapan mamanya yang mengatakan Diana berhenti bekerja terus terngiang di kepalanya, membuat hatinya tidak tenang.

Tok! Tok!

“Diana, buka pintunya.”

Tak ada sahutan dari dalam.

Tok! Tok!

Samuel kembali mengetuk pintu itu lebih keras.

“Diana! Buka pintunya!” ucapnya dengan nada meninggi, napasnya mulai tidak teratur.

Namun, tetap tak ada jawaban apa pun dari dalam.

Samuel menatap sekeliling. Suasana di area kontrakan itu begitu sunyi. Beberapa kontrakan di sekitar tempat Diana tinggal tampak kosong, membuat tempat itu terasa semakin sepi. Hanya Diana yang selama ini tinggal seorang diri di sana.

Samuel mengusap wajahnya kasar, mencoba menenangkan pikirannya yang mulai kacau.

“Samuel.”

Samuel menoleh cepat. Kartini—pemilik kontrakan itu—berjalan menghampirinya.

“Ibu Kartini,” lirih Samuel.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Kartini sambil menatapnya heran.

“Diana di mana, Bu?” tanya Samuel tanpa basa-basi.

“Dia sudah tidak kontrak di sini lagi,” jawab Kartini.

“Apa?” Samuel terkejut, matanya membulat tak percaya.

“Diana sudah nggak kontrak di sini lagi, Samuel,” ulang Kartini. “Sayang sekali. Padahal ibu sudah cocok dengannya. Ibu bahkan sudah menganggapnya seperti anak sendiri.”

Pikiran Samuel semakin kacau. Diana berhenti bekerja dan meninggalkan kontrakan ini secara tiba-tiba.

Rasa panik perlahan merayapi dadanya.

“Ke—ke mana dia pergi, Bu?” tanya Samuel dengan suara bergetar.

Kartini menghela napas pelan. “Ibu tidak tahu pasti. Semalam dia menghubungi ibu, katanya dia ingin pamit,” jawabnya. “Ibu tanya alasannya, tapi dia nggak menjawab. Dia hanya sesegukan sebelum mengakhiri panggilan.”

Samuel tertegun di tempatnya.

Jantungnya berdetak semakin cepat, seolah firasat buruk perlahan menghantuinya.

“Semalam?” ulang Samuel pelan, suaranya nyaris tak terdengar.

Kartini mengangguk. “Iya. Ibu ke sini hanya ingin mematikan lampu dan mengambil kunci kontrakan.”

Kartini berjalan mendekati pot bunga di dekat pintu. Dari sana, ia mengambil sebuah kunci yang disembunyikan Diana.

Samuel hanya menatap dengan tatapan kosong.

Kartini membuka pintu, masuk untuk mematikan lampu, lalu keluar kembali dan menutup pintu kontrakan itu.

“Diana benar-benar pergi. Semua barangnya sudah kosong,” ucap Kartini pelan.

Samuel menatap kosong ke dalam kontrakan yang kini gelap dan hampa. Tidak ada lagi barang Diana. Tidak ada suara langkahnya. Tidak ada sosok wanita itu.

Tanpa berkata apa pun, Samuel mundur perlahan. Wajahnya pucat, pikirannya kacau.

“Samuel—” panggil Kartini.

Namun, Samuel sudah berbalik. Ia berlari menuju mobilnya tanpa pamit sedikit pun.

Brak!

Pintu mobil tertutup keras.

Tangannya bergetar saat menyalakan mesin mobil. Napasnya memburu, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

“Diana… kamu pergi ke mana?” lirihnya frustasi.

Ciiittt!

Mobil itu melaju meninggalkan kontrakan itu. Samuel menggenggam setir erat.

Diana pergi. Itu berarti tidak akan ada lagi ancaman bagi pernikahannya. Bukankah itu yang seharusnya ia inginkan?

Lalu kenapa hatinya terasa begitu sakit?

Sementara itu, Kartini masih berdiri di depan pintu kontrakan itu. Pandangannya tertuju ke arah mobil Samuel yang semakin menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangan.

Ia menghela napas panjang, wajahnya dipenuhi rasa iba.

Kartini mengetahui apa yang terjadi antara Samuel dan Diana. Gadis itu telah menceritakan semuanya padanya sebelum pergi.

Tatapannya beralih ke pintu kontrakan yang kini kosong dan gelap.

“Diana, kamu orang yang baik. Semoga di sana kamu dan anakmu menemukan kebahagiaan.”

°°••°°

“Tante, kenapa Samuel tidak pamit denganku?”

Citra tampak bingung mencari keberadaan Samuel. Setelah selesai mengganti pakaian, ia sama sekali tidak menemukan pria itu di butik.

“Ada rapat mendadak, Cit. Sedari tadi ponselnya terus berdering. Beberapa klien terus menghubunginya,” jawab Iren berbohong.

Ia tidak ingin memberitahukan kebenaran yang sebenarnya. Bisa gawat jika Citra sampai membatalkan pernikahannya dengan Samuel.

Taruhan besar bagi perusahaannya terlalu berisiko untuk dipertaruhkan.

Citra mengangguk pelan meski masih merasa ada yang aneh.

“Begitu ya, Tante...” lirihnya.

Iren tersenyum tipis, berusaha terlihat tenang meski hatinya dipenuhi kecemasan. Ia takut jika kebohongannya terbongkar, semuanya akan menjadi kacau.

“Samuel pasti akan menghubungimu nanti. Kamu jangan berpikir macam-macam,” ucap Iren menenangkan.

Citra memaksakan senyum. “Iya, Tante.”

Meski begitu, perasaannya tetap tidak tenang. Sejak tadi, Samuel terlihat sangat gelisah sebelum pergi. Bahkan pria itu pergi tanpa mengatakan apa pun padanya.

Iren segera menepuk pelan tangan Citra, berusaha mengalihkan perhatian wanita itu dari rasa curiganya.

“Sudahlah, Cit. Samuel memang seperti itu kalau urusan pekerjaan sedang mendesak,” ucap Iren lembut.

Citra hanya tersenyum tipis, meski pikirannya masih dipenuhi tanda tanya.

Melihat itu, Iren kembali angkat bicara.

“Oh iya, Citra. Apa Daddymu sudah setuju dengan rencana kerja sama perusahaan Tante?” tanya Iren santai.

Citra sedikit terdiam, lalu mengangguk pelan. “Daddy bilang, beliau masih mempelajari proposalnya. Tapi, sepertinya Daddy cukup tertarik.”

Senyum Iren perlahan mengembang. Jawaban itu sedikit menenangkan hatinya.

“Syukurlah kalau begitu. Tante berharap kerja sama ini bisa membawa keuntungan besar bagi perusahaan kita.”

Citra tersenyum kecil. “Aku juga berharap begitu, Tante.”

Iren mengangguk pelan, tetapi pikirannya tetap tak tenang.

Di balik senyumnya, ia terus memikirkan Samuel.

Ia hanya berharap putranya tidak melakukan hal bodoh yang bisa menghancurkan pernikahan dan kerja sama bisnis yang sudah susah payah ia rencanakan.

1
Mega Arum
nice
Maria Magdalena
ternyata Bayu pny simpanan 😄😄😄
Moms Angel
jangan2 om2 nya itu papanya Samuel lg
Aman Riki
thor kapan Diana hamil kembar
Aman Riki
mertua dan menantu bejat 🤭
Iffanaya 😽
eh udh tamat aja 🥲
Piyah
lanjutkan
Nona Jmn: Sudah tamat kakak🙏
Novel baruku, sore ini terbit😊
total 1 replies
Dilla Fadilla
kabarnya Bayu sm gundiknya gimana Thor apa udah mampus😡
Piyah
critanya bagus
Nona Jmn: Terima kasih😍
total 1 replies
Piyah
rehan ikkut samuel aja kasian ganti2an
Piyah
lanjutkan ga pake lama
temuin samuel kasian
Nona Jmn: Sabar😍😂
total 1 replies
Iffanaya 😽
Semoga Reyhan gk berubah ke Niel ya setelah tahu Niel bkn ayah kandungnya 🥺Niel udh anggap Reyhan seperti anak sendiri
Piyah
Samuel apa kabar da kawin lg blm ya
Sapna Anah
s samsul🤣itu dulu anaknya ga d akui suruh d gugurkan giliran Uda lahir dan Uda gede ngaku laki laki ora dwe otak
Piyah
jngn bikin mslh sm Nil lg Samuel
WHATEA SALA
yang kecil bandel...yang tua gak tau diri,rasain dapat hadiah dari neil👍
Piyah
tp jngn diapa apain ya Samuel kasian kasih pelajaran aja jngn di bikin cacat
Prafti Handayani
Anakmu wedok Niel...😊😊😊
Eka
samuel salah lawan...
Prafti Handayani
hmm,, gag kapok juga.bntr lgi lok gag masuk jeruji ya msok rsj.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!