"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.
Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.
Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.
"Hey!"
"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.
"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 41
Akibat sedikit dorongan dari Anya, membuat jarak diantara mereka ada. Anya memanfaatkan hal itu untuk keluar kabur dari kondisi yang membuatnya sulit sekali bernafas.
Baru saja Anya membuka pintu ruangan kerja Bara, lagi-lagi suara dingin pria itu kembali membuatnya berhenti dan menoleh kebelakang.
"Tunggu! ..." kata Bara, setelah menatap langkah Anya yang mulai menjauh dari hadapannya membuka pintu.
"... terimakasih, untuk kopinya," sambungnya.
Anya sedikit tersenyum kecil. Mengangguk sekali sebelum benar-benar pergi keluar meninggalkan ruang kerja Bara.
Ceklek!
Suara pintu yang kembali di tutup Anya, ia bersandar dan membuang seluruh nafasnya yang sedari tadi berusaha Anya tahan. Ia merasa bingung dengan perasaannya yang sulit ia jelaskan sendiri.
"Ada apa denganku? ... kenapa aku seperti terhipnotis setiap kali melihat wajah datar Bara yang sangat dingin kayak kulkas."
Nafas Anya kembali normal, setelah beberapa kali ia coba untuk mengaturnya sendiri. Dan kini, Anya ingin segera kembali melanjutkan beberapa pekerjaannya yang lain. Bekerja sebagai asisten kebersihan di perusahaan besar yang bernama Ara Tech.
•••
Terlihat Anya sedang melewati lorong transparan yang berlapis kaca. Anya berjalan membawa ember kecil yang berisi air bercampur liquid untuk membersihkan lantai lengkap dengan alat pembersihnya.
Anya menuju sebuah gedung yang terhubung untuk membersihkan kamar mandi di dalam perusahaan.
"Gedung ini gede banget, wajar saja jika pekerja disini sangat banyak," ucap Anya seraya menyeka beberapa keringatnya yang menetes keluar saat sedang berjalan.
Setibanya Anya di depan toilet yang luas, ia melihat sebuah beberapa jejeran wastafel yang memanjang kebelakang, serta beberapa sekat pintu yang berada di belakangnya.
Anya juga melihat dua pekerja wanita sedang mencuci muka di depan wastafel yang baru saja ingin ia lewati. Anya masih merasa kagum melihat keluasan ruangan yang menjadi toilet di dalam perusahaan ini.
"Permisi~" ucap Anya menyapa kedua wanita itu ketika mata mereka saling bertemu. Anya ingin memulai membersihkan bagian dari paling ujung.
Namun siapa sangka, sikap ramahnya Anya berlalu begitu saja ketika salah satu dari wanita itu mengacuhkannya, sedangkan wanita yang satunya tersenyum kecil menyambut sapaan Anya.
"Eh, liat deh ... itu bukannya wanita yang tadi pagi berangkat bareng pak Bara, ya?" tanya wanita yang sebelumnya menjawab sapaan Anya.
Sedangkan teman disebelahnya, mengangkat wajah dan membasuhnya dengan air sebelum melihat kearah Anya.
"Iya. Paling-paling, dia mendekati pak Bara agar bisa diterima bekerja disini. Nggak sembarang orang bisa bekerja di perusahaan yang bagus ini," sahut temannya seraya menyeka sisa-sisa air yang masih berada di wajahnya.
"Ssst! Jangan bicara keras-keras, nanti dia denger nggak enak," timpal temannya berbisik, dengan nada suara yang pelan agar tidak terdengar oleh Anya.
Walau tidak berbicara langsung, samar-samar Anya yang berada jauh dari posisi mereka, bisa mendengar apa maksud obrolan itu. Mereka sedang membicarakan Anya yang masuk dengan mudah di perusahaan ini.
Dan hal ini tidak seberapa bagi Anya, karena dirinya sering mendapat perlakuan dari tidak menyenangkan serupa yang membuatnya kuat.
"Huh~" suara Anya saat membuang nafasnya pelan. Ia menjadi tambah sabar sekarang usai sering mendapat perlakuan tidak enak di keluarga Adiwijaya.
"Biarin aja. Emang itu faktanya, kenapa kita harus repot," tukas wanita yang berwajah sangat judes. Memandang Anya dengan sebelah mata.
"Ayo pergi."
"Tu-tunggu aku!"
Anya sama sekali tidak memperhatikan mereka, walau kenyataan itu menyakitkan bagi Anya, dirinya benar-benar tidak bermaksud mendekati Bara agar mendapat pekerjaan.
"Kalau begini ... apa yang harus aku bersihkan? Jika semua terlihat bersih seperti ini," gumam Anya pelan, setelah melihat deretan kamar mandi yang sudah bersih sejak awal.
"Baiklah, akan aku bersihkan sekali lagi agar harum!" sambung Anya segera membersihkan seluruh kamar mandi.
•••
Tak ...
Tak ...
Tak ...
Seorang pria yang sedang berjalan sambil berteleponan dengan klien, sibuk mengatur beberapa berkas yang cukup banyak agar tidak jatuh.
Dengan jas berwarna maroon dan rambut kuning yang terbelah tengah, menjadi ciri khas Kenan satu-satunya pria yang cukup tampan di perusahaan ini.
Kenan terlihat cukup sibuk dan ribet sendiri karena harus berkomunikasi sambil berjalan membawa berkas-berkasnya.
"Iyaa, pak ... tentu! Nanti akan saya usahakan agar semuanya berjalan dengan lancar, bapak tidak perlu merasa khawatir ..."
"Iyaa, pak ... siap!"
"Baik ... terimakasih~"
Tuut!
Pembicaraan Kenan berakhir dengan kondisi ia menyeimbangkan berkasnya yang hampir tumpah ke lantai. Sekarang, ia berada tepat di depan kamar mandi perusahaan.
Bersamaan dengan itu, Anya yang baru saja menyelesaikan tugasnya membersihkan kamar mandi, keluar dari dalam.
Ckelek! (suara pintu yang dibuka)
"Pak Kenan?" tanya Anya, masih membawa ember kecil dengan alat lainnya dan sedikit kaget saat keluar melihat Kenan yang berada di depannya.
Pandangan mereka bertemu, dengan Kenan yang berusaha kembali membenarkan posisi dirinya karena merasa tibet dengan bawannya.
"Eh, Anya ... maaf, yaa, ribet banget nih bawaannya. Jadi nggak fokus hampir mengotori lantainya lagi," ucap Kenan klarifikasi sendiri, malah meminta maaf kepada Anya.
"Hmm?" gumam Anya merasa bingung dengan perkataan Kenan yang tidak ia tahu maksudnya.
"Mau saya bantu, pak?" ucap Anya, menawari bantuan karena pekerjaan Anya juga baru saja telah selesai.
Kenan langsung menggeleng dengan cepat, ia tidak ingin merepotkan Anya di hari pertamanya bekerja seperti sekarang.
"Ah, tidak apa-apa Anya. Tidak usah! Ini bukan masalah besar ..." kata Kenan menolak bantuan dari Anya seraya masih merasa ribet sendiri padahal.
"Baiklah ..." balas Anya.
"Gimana perasaan kamu bekerja di perusahaan ini, apa ada hal yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Bara, memikirkan perasaan Anya selama masih bekerja di dalam perusahaan.
Anya terdiam sebentar. Walau sebenarnya ada hal yang sedari tadi mengusiknya. Tentang orang-orang yang selalu membicarakannya dengan Bara, tapi Anya merasa tidak apa-apa dan menghiraukannya.
"Baik pak. Saya merasa senang bisa bekerja disini."
"Ah, begitu ... baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Selamat sore~" ucap Kenan dengan ramah dan senyum khasnya membuat Anya kembali merasa lebih baik.
"Iyaa, pak. Terimakasih, selamat sore ..." balas Anya, ketika melihat Kenan lebih dulu pergi meninggalkannya karena masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Anya menatap punggung Kenan yang masih terlihat kesulitan saat membawa beberapa berkas yang cukup banyak. Lalu ia melihat kearah jam yang terpasang di dinding.
"Bukankah sekarang sudah hampir jam pulang, kenapa masih ada yang bekerja keras seperti pak Kenan?" tanya Anya dalam hati, berbicara melamun dengan posisi yang belum juga beranjak pergi dari depan kamar mandi.