Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 - Terkunci
Suasana kelas masih ribut bahkan setelah Geng Violet pergi. Marsya terus mengoceh sambil memegang pundak Maya penuh semangat.
“Serius deh, tadi lo keren banget!”
“Biasa aja,” jawab Maya santai.
“Biasa dari mana?! Itu Angel hampir meledak!”
Beberapa teman lain ikut mengangguk heboh.
“Gue kira tadi bakal jambak-jambakan.”
“Untung Axel datang.”
Nama itu membuat Maya melirik sekilas ke arah jendela.
Axel masih berdiri di sana sambil pura-pura ngobrol dengan anak OSIS lain. Tapi sesekali matanya melirik ke arah Maya. Begitu ketahuan, cowok itu langsung salah tingkah dan pura-pura sibuk membuka map.
Maya mendecakkan lidah pelan. “Cowok aneh.”
Marsya langsung nyengir jahil. “Tapi ganteng.”
“Terus?”
“Dan perhatian sama lo.”
“Terus?”
Marsya langsung manyun. “Ya ampun Maya, romantis dikit napa sih.”
“Gue alergi.”
“Bohong.”
Maya menghela napas malas lalu berdiri dari kursinya. “Gue ke toilet dulu ya.”
Marsya langsung mengangguk. “Cepet balik ya.”
Maya hanya melambaikan tangan seadanya lalu keluar kelas.
Lorong sekolah saat jam istirahat masih cukup ramai. Namun area toilet belakang relatif sepi. Langkah Maya santai saat masuk ke toilet perempuan.
Ceklek!
Dia masuk ke salah satu bilik lalu mengunci pintu. Baru beberapa detik berlalu, suara kunci dari luar terdengar pelan.
Mata Maya langsung terbuka. Dia menoleh perlahan ke arah pintu bilik. Lalu terdengar suara tawa tertahan dari luar.
“Hahaha…”
“Fix kekunci.”
“Itu biarin aja di situ.”
Maya langsung mengenali suara mereka. Geng Violet. Tatapannya perlahan berubah dingin.
Terdengar suara Angel dari luar dengan nada puas. “Harusnya dari tadi lo sadar posisi lo, Maya.”
Tawa mereka makin terdengar jelas. Maya masih diam. Kalau ini Maya asli, mungkin dia sudah panik sambil menangis sekarang. Namun sayangnya untuk mereka, yang ada di tubuh ini sekarang adalah Priska.
Maya malah menyandarkan tubuh santai ke dinding bilik. “Kalian serius pakai trik begini?” tanyanya datar.
Angel tertawa sinis. “Emang kenapa?”
“Kayak bocah TK!”
“Masih bisa bacot juga lo ya!”
Ziva ikut menyahut, “Biarin aja semalaman di sini.”
Beberapa anggota geng tertawa puas. Namun belum selesai sampai di situ. Suara ember diangkat terdengar dari atas bilik. Mata Maya perlahan menyipit.
Byuuurrr!
Satu ember penuh air kotor langsung diguyur dari atas. Air bercampur bau pel dan entah apa lagi mengguyur tubuh Maya sampai basah kuyup. Suasana toilet langsung dipenuhi tawa puas.
“HAHAHAHA!”
“Cocok banget!”
“Balik lagi jadi babu!”
Air menetes perlahan dari rambut Maya. Kepalanya tertunduk.
Angel awalnya masih tertawa. Namun perlahan senyumnya mulai menghilang. Karena entah kenapa hawa di dalam toilet mendadak terasa dingin.
Dua tangan Maya perlahan mengepal erat. Saking kuatnya sampai buku-buku jarinya memutih. Kepalanya perlahan terangkat. Tatapannya kosong. Tapi justru itu yang paling menyeramkan.
Ingatan Maya asli kembali bermunculan tanpa henti. Dikurung, dihina, disiksa, menangis sendirian, memohon supaya berhenti dan mereka terus tertawa.
Napas Maya mulai berat. Sesuatu dalam diri Priska ikut mendidih sekarang. Dia paling benci melihat orang lemah diinjak seperti ini.
BRAK!
Maya mendobrak pintu sekali. Dengan menggunakan tendangan tenaga maksimal.
Seluruh Geng Violet langsung tersentak.
“Hah?!”
BRAK!!
Dobrakannya kedua jauh lebih keras. Pintu bilik bergetar hebat.
“Sial…” Ziva mulai pucat.
Angel berusaha tetap sok tenang. “Santai aja! Kuncinya masih—”
BRAAAAKKK!!!
Dobrakkan ketiga terdengar seperti ledakan kecil.
Krek!
Suara besi patah terdengar jelas. Detik berikutnya, puntu bilik terbuka paksa. Angel dan yang lain langsung refleks mundur.
Maya keluar perlahan dari dalam. Basah kuyup. Rambut hitamnya menempel di wajah dan leher. Air menetes dari ujung seragamnya. Namun yang paling menyeramkan adalah matanya. Tatapan Maya sekarang benar-benar seperti orang kesetanan.
Sunyi, tak ada yang berani bicara. Salah satu anggota geng bahkan mulai gemetar.
“G-gila…”
Maya melangkah pelan mendekati mereka.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara langkah sepatunya menggema di toilet yang sempit.
Angel tanpa sadar ikut mundur. “A-apa lo?”
Maya berhenti tepat di depan mereka. Lalu tersenyum kecil. Senyum yang sama sekali tidak terasa hangat.
“Kalian tadi ketawa ya?”
Tak ada yang menjawab.
Maya mengangguk pelan sendiri. “Oke.”
Angel berusaha mengumpulkan nyali. “Jangan sok serem deh! Lo pikir kami takut?"
Maya menoleh cepat.
Tatapan tajam itu membuat Angel langsung membeku.
“Lo tahu nggak…” suara Maya pelan sekali. “Di dunia gue dulu…”
Dia melangkah makin dekat. “Orang kayak kalian biasanya nggak sempat ketawa lama.”
Deg!
Ziva langsung merinding hebat. Karena untuk sesaat, Maya terasa benar-benar seperti orang asing. Bukan saudara tirinya. Bukan gadis cupu yang biasa mereka bully. Tapi seperti predator.
Salah satu anggota geng panik. “Udah yuk pergi aja…”
Mereka mulai mundur ramai-ramai. Namun Maya tiba-tiba meraih ember bekas tadi.
Semua langsung membeku. Maya menatap ember itu beberapa detik.
Lalu…
Byur!
Dia melemparkan sisa air kotor ke arah mereka.
“AAAAH!”
“IIHHH!”
Jeritan langsung pecah. Seragam Angel dan dua anggota geng langsung basah.
Maya tersenyum tipis. “Nah,” katanya santai. “Sekarang adil.”
“MAYAAAA!” teriak Angel histeris.
Maya malah mendekat lagi.
Angel refleks mundur sampai punggungnya membentur wastafel.
“L-lo jangan macam-macam!”
“Macam-macam gimana?”
Maya menopang tangan di samping wastafel. Tatapannya turun tajam ke arah Angel. “Bukannya kalian suka main beginian?”
Angel mulai panik sungguhan sekarang. Karena aura Maya benar-benar mengerikan.
Ziva buru-buru maju. “Udah cukup!”
Maya langsung menoleh ke arahnya. Tatapan itu membuat Ziva langsung diam.
“Mau gantian?” tanya Maya pelan.
Wajah Ziva pucat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia takut pada Maya. Benar-benar takut. Saat suasana semakin tegang.
“EH EH EH!”
Suara panik terdengar dari luar toilet. Marsya muncul sambil ngos-ngosan. Di belakangnya ada Axel. Begitu melihat kondisi toilet, keduanya langsung membeku.
Seragam Maya basah kuyup. Angel dan gengnya juga kacau, dan hawa tegangnya terasa jelas banget.
“Astaga…” gumam Marsya.
Axel langsung melangkah cepat mendekati Maya.
“Maya!” Nada suaranya hati-hati.
Maya masih menatap Angel beberapa detik sebelum akhirnya mundur pelan. Tangannya dilepaskan dari wastafel.
Angel langsung bernapas lega. Axel memperhatikan Maya dari dekat. Air masih menetes dari rambut gadis itu.
“Mereka nyiram lo?” tanyanya pelan.
Maya mengangkat bahu santai. “Iya, kami main air.”
“Ini bukan main-main!"
Angel langsung menyela cepat, “Dia duluan yang—”
“Cukup!" Suara Axel mendadak dingin.
Semua langsung diam. Wajah cowok itu biasanya ramah. Tapi sekarang matanya tajam sekali.
“Kalian keluar!”
Angel menggertakkan gigi kesal. Namun dia tak berani melawan Axel terang-terangan.
“Yuk!” ketusnya akhirnya.
Geng Violet buru-buru keluar dari toilet. Namun sebelum pergi, Ziva sempat melirik Maya sekali lagi. Dia sadar, Maya benar-benar berubah. Bukan cuma lebih berani. Tapi seperti seseorang yang sudah tidak takut kehilangan apa pun lagi.
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔