NovelToon NovelToon
Om Duda Come To Me!

Om Duda Come To Me!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Duda
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?

​Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.

​Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Udara dingin Puncak malam itu terasa makin mencekam setelah Alexa melihat foto profil di ponsel preman itu. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang dari mesin motornya saat dipacu di lintasan lurus. Ia menatap Zyan yang sedang membersihkan noda darah di sudut bibirnya akibat perkelahian tadi.

"Om... lo harus liat ini," bisik Alexa, suaranya gemetar.

Zyan mengambil ponsel itu. Begitu melihat foto profil sang "Klien Utama", rahangnya mengeras sampai urat-urat di lehernya menonjol. "Nggak mungkin... Dia sudah bekerja dengan Papa selama dua puluh tahun. Dia yang menggendongku saat aku kecil."

Di layar ponsel itu, terpampang wajah Pak Gunawan, pengacara keluarga sekaligus tangan kanan almarhum Pak Arsalan yang selama ini menjadi penasihat paling dipercaya Zyan.

"Berarti dia yang selama ini main dua kaki, Om. Dia bareng Wijaya, tapi dia yang sebenernya megang kendali," Alexa menganalisis dengan cepat. "Dia pengen lo hancur secara mental dengan ngilangin gue, biar dia bisa nguasai seluruh aset yayasan Arsalan yang selama ini dia kelola."

Zyan mengepalkan tinju. Pengkhianatan dari musuh itu biasa, tapi pengkhianatan dari orang yang sudah dianggap keluarga itu rasanya seperti ditusuk belati berkarat tepat di jantung.

"Dermaga lama... dia menunggu di sana," ujar Zyan dingin. Matanya yang tadi penuh kekhawatiran kini berubah menjadi mata pemangsa. "Alexa, kamu pulang ke rumah Ayah. Biar aku dan tim keamanan yang ke sana."

"Enak aja!" Alexa langsung berdiri, menyambar kunci inggrisnya yang tadi sempat terjatuh. "Dia mau ngebunuh gue, Om! Gue nggak bakal tenang kalau nggak liat muka pengecutnya pas ketangkep. Lagian, dermaga itu banyak lorong sempit dan kontainer. Tim lo yang badannya gede-gede itu bakal gampang ketauan. Gue bisa ngerayap lewat jalur atas."

Zyan hendak memprotes, tapi ia melihat kilatan api di mata istrinya. Ia tahu, melarang Alexa saat ini sama saja dengan melarang angin bertiup. "Oke. Tapi satu syarat: jangan pernah lepas dari jangkauan komunikasi saya. Pakai earpiece ini."

Dua jam kemudian, mereka sampai di sebuah dermaga tua yang sudah tidak beroperasi di pinggiran Jakarta Utara. Baunya amis, dipenuhi karat, dan kabut tipis menyelimuti tumpukan kontainer yang terbengkalai.

Zyan masuk melalui gerbang utama dengan mobilnya, sengaja membuat suara mesin terdengar agar Pak Gunawan tahu "orang-orangnya" sudah datang. Sementara itu, Alexa sudah berada di atas tumpukan kontainer, bergerak lincah seperti kucing hitam di kegelapan.

Melalui *earpiece*, Alexa berbisik, "Om, gue udah di posisi. Di depan ada gudang nomor 7. Ada mobil sedan hitam di sana. Itu Pak Gunawan."

Zyan keluar dari mobilnya, berjalan dengan langkah tenang namun mengancam menuju gudang nomor 7. Di sana, Pak Gunawan berdiri membelakangi pintu, menatap laut dengan tenang sambil memegang koper perak.

"Sudah beres?" tanya Pak Gunawan tanpa menoleh, mengira yang datang adalah preman bayarannya.

"Belum, Paman. Masih ada satu masalah kecil yang harus diselesaikan," sahut Zyan dengan suara berat yang menggema di dalam gudang.

Pak Gunawan tersentak kaget. Ia berbalik dan wajahnya langsung memucat saat melihat Zyan berdiri di sana sendirian, tanpa pengawal, tapi dengan aura yang sangat mematikan.

"Zyan? Kenapa kamu ada di sini? Bukannya kamu sedang... mencari istrimu?" Pak Gunawan mencoba bersikap tenang, meski tangannya gemetar.

"Saya sudah menemukannya, Paman. Atau lebih tepatnya, dia yang menemukan Anda," Zyan berjalan mendekat. "Kenapa? Apa karena uang yayasan itu sudah anda habiskan untuk judi di Macau? Sampai anda harus bekerja sama dengan Wijaya dan mencoba membunuh Alexa?"

Pak Gunawan tertawa getir, topeng orang baiknya retak seketika. "Uang itu seharusnya milikku, Zyan! Aku yang bekerja keras membangun Arsalan Group dari nol bersama Papamu, sementara dia yang mendapatkan nama besar, dan kamu yang mendapatkan warisannya! Aku hanya mengambil apa yang menjadi hakku!"

"Dengan cara memfitnah Pak Surya dua puluh lima tahun lalu?" suara Zyan meninggi.

"Ya! Aku yang menyuruh Wijaya memotong kabel rem itu! Dan aku yang menghasut Papamu untuk mengambil asuransi agar perusahaan tidak bangkrut. Semuanya berjalan lancar sampai kamu menikahi bocah montir itu dan dia mulai mengorek-ngorek arsip lama!" Pak Gunawan mengeluarkan sebuah pistol kecil dari balik jasnya. "Sekarang, karena kamu sudah tahu semuanya, lebih baik kamu menyusul istrimu ke neraka!"

Saat Pak Gunawan hendak menarik pelatuk, tiba-tiba sebuah benda berat meluncur dari kegelapan di atas plafon.

KRETAK!

"ARGH!" tangan Pak Gunawan terhantam sebuah kunci pas raksasa yang dilempar dengan akurasi luar biasa. Pistolnya terpental jatuh ke lantai.

"Satu nol buat anak teknik, Pengecut!" teriak Alexa yang langsung melompat turun dari atas kontainer, mendarat tepat di atas tumpukan palet kayu.

Zyan tidak membuang kesempatan. Ia melesat maju dan melayangkan satu pukulan telak ke rahang Pak Gunawan. Pria tua itu jatuh tersungkur di lantai semen yang kotor.

"Ini buat Ayahku," ujar Alexa sambil menendang pistol itu menjauh.

"Dan ini buat istriku," tambah Zyan, ia mencengkeram kerah baju Pak Gunawan. "Kamu akan menghabiskan sisa hidupmu di tempat yang jauh lebih buruk daripada dermaga ini."

Tim polisi yang sudah dihubungi Zyan sejak di perjalanan langsung merangsek masuk ke dalam gudang. Pak Gunawan diborgol dan dibawa pergi, mengakhiri semua konspirasi yang telah menghantui keluarga Arsalan dan Surya selama dua dekade.

Setelah semua kekacauan itu selesai, Zyan dan Alexa berdiri di tepi dermaga, menatap matahari terbit yang mulai menyembul di ufuk timur. Warna langit yang berubah dari ungu menjadi jingga seolah melambangkan babak baru hidup mereka.

Zyan memeluk bahu Alexa, menariknya mendekat. "Semuanya sudah berakhir, Lex. Nama ayahmu sudah bersih, para pengkhianat sudah di penjara, dan... Mama sudah meneleponku tadi. Dia minta maaf."

Alexa menyandarkan kepalanya di dada Zyan. "Beneran? Mama minta maaf?"

"Iya. Setelah aku bilang kalau aku bakal lepas semua gelar Arsalan demi kamu, dia sadar kalau dia hampir kehilangan anaknya sendiri. Dia mau kita makan malam di rumah besok, tanpa Clarissa, tanpa drama saham. Hanya keluarga."

Alexa menghela napas lega. "Huft... akhirnya. Gue udah kangen banget tidur tenang tanpa mikirin ada yang mau nyabotase rem motor gue."

"Ngomong-ngomong soal motor," Zyan meraba saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kunci motor baru. "Hadiah buat detektif teknik kesayangan Saya. "

Alexa melihat logo di kunci itu. "Ini kan... Kawasaki Ninja H2?! Om! Ini motor paling kenceng di dunia! Lo gila?!"

"Gila karena kamu, iya," Zyan tertawa. "Tapi janji, jangan dipake buat balapan liar lagi. Pake buat keliling kota bareng suamimu ini saja."

"Dih, mulai deh gombalnya!" Alexa mencubit pinggang Zyan, bikin Zyan mengaduh kesakitan tapi tetep ketawa.

Tiba-tiba, Alexa teringat sesuatu. "Eh, Om! Tadi kan lo bilang lo mau masakin gue makan malem sebagai hukuman? Sekarang udah pagi, berarti utang lo nambah!"

"Iya, iya. Nanti siang kita belanja bahan makanan. Saya akan masak apa pun yang kamu mau," janji Zyan.

"Gue mau steak, tapi yang dagingnya nggak alot kayak sandal jepit ya!"

"Siap, Bos Alexa!"

Mereka berjalan kembali ke mobil, meninggalkan dermaga tua yang penuh kenangan pahit itu. Di dalam mobil, Alexa melihat Rio mengirim pesan singkat.

[06.00] Rio: Lex, gue baru dapet kabar Pak Gunawan ketangkep. Makasih ya udah kasih gue kesempatan kedua. Nyokap gue hari ini mulai operasi tahap dua. Gue janji bakal bayar semua kebaikan lo dan Zyan.

Alexa tersenyum tipis. Ternyata, memaafkan itu rasanya jauh lebih ringan daripada menyimpan dendam.

Sesampainya di rumah, Zyan benar-benar menepati janjinya. Dia memakai celemek berwarna pink (milik Bi Ijah) yang terlihat sangat kontras dengan wajah ganteng dan tatapan tajamnya. Di dapur, Alexa duduk di atas meja bar sambil mengunyah kerupuk, menonton "tontonan langka" yaitu seorang Direktur Arsalan yang sedang berantem dengan bawang putih.

"Om, bawangnya dikupas dulu, bukan langsung dicemplungin!" teriak Alexa sambil tertawa.

"Tadi di YouTube katanya langsung dimasukkan!" protes Zyan dengan wajah panik saat minyak di wajan mulai meletup-letup.

"Itu kalau bawangnya sudah diiris, Duda Sayang!"

Zyan berhenti sejenak, menoleh ke arah Alexa dengan tatapan penuh cinta. "Kamu tadi panggil aku apa?"

"Apa? Nggak ada panggilan apa-apa!" Alexa pura-pura sibuk makan kerupuk, pipinya merona merah.

Zyan berjalan mendekat, masih dengan celemek pink-nya, dan mengecup kening Alexa lama. "Terima kasih sudah bertahan, Alexa. Terima kasih sudah memberiku warna di hidup yang tadinya cuma hitam putih ini."

"Sama-sama, Om Duda. Udah sana lanjut masaknya, laper nih!"

Matahari makin tinggi, menyinari dapur mereka yang penuh dengan tawa dan aroma masakan yang—meski agak gosong dikit—terasa seperti hidangan paling mewah di dunia. Perjalanan mereka mungkin dimulai dari perjodohan yang rumit, tapi berakhir dengan cinta yang sekuat mesin turbo.

Bersambung.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!