NovelToon NovelToon
Terimakasih Cinta

Terimakasih Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / CEO Amnesia
Popularitas:798
Nilai: 5
Nama Author: Erny Su

"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.

Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.

Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.

"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Alex yang sudah tiba di dalam mobil bersama dengan Dian pun langsung berkata.

"Kenapa kamu begitu perhatian terhadap nya honey, aku tidak suka dengan itu"ucap Alex.

"Tuan apa salahnya bersikap ramah pada orang yang kita kenal, lagipula orang itu baik terhadap kita?"ucap Dian.

"Diandra dia mantan kekasih mu. Dan aku tidak ingin kamu kembali padanya"ucap Alex yang kini menahan pergerakan Dian yang tengah membuka koper milik Alex.

Dian pun terdiam sambil menatap lekat wajah tampan dibalik cahaya temaram tersebut.

"Saya tidak akan pernah melakukan itu kecuali jika bukan karena takdir"ucap Dian.

"Takdir mu adalah aku honey"ucap Alex.

"Jangan takabur tuan, kita tidak tahu kemana takdir akan membawa kita nanti, dan satu lagi tuan saya saat ini masih berstatus istri orang"ucap Dian.

"Kamu sudah janda honey, kamu janda ditinggal mati dan kita bisa menikah setelah masa idah mu habis"ucap Alex yang kini membuat Dian terdiam tanpa kata.

"Aku ganti baju dulu, sebelum aku selesai jangan coba-coba untuk pergi kesana"ujar Alex.

Dian pun langsung berpindah posisi, dia duduk di jok depan sementara Alex di belakang langsung ganti baju dengan stelan joger traning.

Seharusnya itu adalah pakaian untuk olahraga, tapi itu sangat cocok untuk di cuaca malam di alam terbuka, hingga saat Alex selesai dia menghampiri Dian dan langsung menyambar bibir Dian yang kini berusaha untuk melepaskan diri dari Alex.

"I Miss you honey"ucap Alex.

"Tuan apa-apaan ini?"ujar Dian yang kini mendorong dada bidang Alex.

"Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan honey, karena kamu adalah milikku, tidurlah sebelum acara mancing dimulai"ucap Alex yang kini keluar dari dalam mobil.

"Tuan,"ucap Diandra yang kini tidak diijinkan untuk keluar mobil oleh Alex yang tadi sempat merebahkan jok mobil yang ditumpangi oleh dian, agar Dian bisa istirahat.

Sementara Alex saat ini menghampiri para laki-laki yang tengah menikmati kopi dan rokok. Alex menyodorkan berapa bungkus rokok miliknya pada mereka yang kini terlihat berbinar karena rokok itu sungguh rokok berkelas yang harganya sangat mahal dengan kadar nikotin yang tertakar dengan jelas di setiap batang rokok tersebut.

"Wow, tuan untuk kali ini aku tidak akan menolak"ujar Ari sambil terkekeh pelan.

"Kau ini ada-ada saja Ari, oh iya besok aku ingin melamar Diandra." ucap Alex yang kini membuat semua orang terdiam sejenak.

"Tuan apa tidak sebaiknya tunggu sampai masa indahnya selesai"ucap Dito.

"Iya tuan," balas Tio

"Dian bilang selamanya dia akan mengabdikan diri untuk keluarga Afandi, seperti hari ini dia sudah keluar banyak uang untuk mengobati ibu mertuanya dan juga biaya hidup mereka berdua"ucap Ari.

"Itu tidak masalah, saya pun akan tetap mengijinkan Dian untuk merawat mereka, tapi dengan uang saya bukan hasil kerja keras nya"ucap Alex yang kini ikut bertanggungjawab atas kewajiban Dian sebagai menantu keluarga Afandi.

"Mungkin Tuhan mengambil nya karena tidak ingin lagi melihat nya menderita. Sejak lulus sekolah Afandi terus menjadi tukang punggung keluarga, tapi ibunya tidak pernah mengijinkan dia untuk bisa bersama dengan Diandra cinta sejatinya. Tapi saat dia sedang sekarat ibunya baru menyadari kesalahannya. Sungguh Fandi adalah anak yang berbakti, bahkan sampai dia pergi pun jasanya tidak pernah putus"ucap Ari yang kini bercucuran air mata.

Hingga akhirnya seluruh sahabat Afandi dan Gesya ikut menitikkan air mata karena rasa sakit atas kehilangan sahabat terbaik mereka.

"Saya berjanji akan membagikan ibunya agar Afandi bisa tenang dialam sana"ucap Alex yang kini menepuk-nepuk bahu ari pelan untuk memberikan kekuatan.

Sementara saat ini diantara sudah terlelap dalam tidurnya karena dia juga sudah sangat lelah, hingga saat Alex kembali ke mobil dan menyelimuti Dian dengan selimut yang sering dia gunakan saat bepergian jauh.

Alex sendiri sengaja tu membangunkan Dian saat mereka sedang bersiap-siap untuk memancing ikan tepat pukul satu dini hari.

Tanpa mereka ketahui bahwa Dian sudah memasang pancing khusus yang diikatkan di setiap ranting di tepian pohon dan bisa diperiksa di pagi hari.

Para laki-laki itu sibuk memancing ada banyak ikan yang mereka dapatkan meskipun dengan ukuran sedang dan kecil, sampai saat Diandra datang bersama dengan Gesya. Alex pun mendapatkan ikan yang cukup besar, meskipun hanya ukuran satu kilo tidak seperti yang dulu yang raksasa.

"Tuan anda juga dapat ikan"ucap Dian yang kini dilirik oleh Alex.

"Honey sudah bangun, kemarilah duduk disini"pinta Alex yang kini menarik ikan yang ia dapatkan.

Sudah ada lima ekor ikan berbeda-beda, ada ikan patin, ada hampala dan juga ikan mas dan lele berukuran jumbo yang kini ada di dalam wadah jerigen yang di bentuk seperti ember itu.

"Wow, anda cukup berbakat rupanya, tunggu disini, saya lihat teman-teman yang lainnya"ucap Dian yang kini membuat Alex menghentikan pergerakan nya dan menatap kearah Dian yang sudah pergi menyusuri semak-semak.

"Tenang saja tuan, dia tidak akan kenapa-kenapa, lihat ikan yang saya dapat"ucap Ari yang sejak tadi berada di sebelah Alex.

"Aish... itu ular Ri,"ujar Alex yang kini merinding dibuatnya saat melihat ikan sidat yang jumbo yang ari dapat.

"Ini bukan ular tuan, ini ikan terenak, dagingnya lebih jusi dari yang lainnya"ucap Ari yang kini membanting ikan tersebut keatas batu yang berserakan agar ikan sidat itu mati dan tidak kabur.

Diterangi cahaya bulan, mereka saling memanggil dan bercanda tawa sambil asik memancing ikan yang kini membuat mereka happy.

Tidak lama Diandra kembali menghampiri Alex dan Ari yang kini menatap tak percaya pada Dian yang membawa banyak ikan bermacam-macam yang masih terperangkap di kail.

Ada sepuluh kail pancing yang semuanya terisi ikan segar." Wow, Diandra kamu memang jagoan, tapi kapan kamu pasang kail pancing itu?"ucap Ari yang kini membantu Diandra melepaskan ikan-ikan itu dari mata pancing.

Sementara Alex masih menatap lekat kearah Dian yang kini terlihat begitu santai tanpa ekspresi bahagia.

"Aku pasang ini saat kita bersiap untuk masak makan malam. Ini salah satu cara untuk menambah penghasilan"ujar Dian yang kini dihampiri yang lainnya.

"Sial, kenapa gak bilang-bilang, tau gitu aku pasang juga"ucap Dito.

"Pasang sekarang pun belum terlambat, masih malam, besok pagi kita ambil"ucap Dian yang kini terlihat kedinginan.

"Honey kemarilah"ucap Alex yang kini memberikan jaket nya.

"Tidak usah tuan, sebentar lagi baju saya kering"ucap Dian yang kini mengambil pisau dari tasnya, dan mulai membersihkan ikan-ikan itu agar tidak busuk karena sebagian telah mati.

Dengan cekatan Dian membersihkan ikan-ikan hasil pancingan nya dan juga Alex, hingga semua dicuci bersih, setelah itu dia marinasi dengan garam dan bumbu marinasi lalu dia masukkan kedalam bok penyimpanan yang sempat dia bawa.

"Honey pergi tidur, biar aku saja yang mancing"ucap Alex.

"Kalau saya mau tidur, untuk apa saya datang kesini."ujar Dian yang kini duduk di sebelah Alex lalu memasang umpan di kail pancing yang berjumlah tiga itu.

...******...

Setelah pagi hari tiba semua orang kembali berkumpul untuk menikmati sarapan pagi berikut memamerkan hasil pancingan mereka. tapi Dian tidak melihat Reno dan kawan-kawan nya yang semalam menyusul mereka.

Tidak hanya itu tenda nya pun tidak ada disana, mengerti dengan tatapan Dian Ari pun langsung berkata."Reno pulang karena ayahnya menghubungi nya katanya anaknya sakit"ucap Ari.

"Hm..."lirih Dian.

"Jangan berpikir bahwa dia dibawa buaya"ucap Gesya.

"Hahaha, disini tidak ada binatang seperti itu. Bagaimana mau lanjut atau pulang"ucap Dito.

"Pulang saja, aku khawatir ibu kenapa-napa"ucap Dian.

"Baiklah, segera bereskan barang-barang nya. Setelah selesai sarapan pagi kita langsung pulang"ucap Dito.

"Aku belum dapat banyak ikan"ucap Tio dan Dion.

"Kau punya Empang, kenapa tidak pancing ikan disana saja"ucap Gesya yang kini membuat mereka semua terkekeh pelan.

"Honey berikan saja ikan kita pada mereka"ucap Alex.

" Tidak bisa, itu untuk ibu dan Afifah,"ucap Dian yang kini membuat Alex menggeleng pelan.

"Diandra, itu cukup untuk bekal satu minggu kerja"ucap ari.

"Ya, mungkin besok kita bisa kembali bekerja di ladang"ujar Dian.

"Tidak honey, Aline besok tiba di rumah, kamu cukup menjaga nya. Dan untuk kalian semua mulai besok kalian bisa bekerja di gudang padi yang baru, aku sudah siapkan semuanya, besok mulai pembangunan."ucap Alex yang kini disambut sorak gembira oleh mereka, kecuali Dian yang kini hanya menatap lekat wajah Alex.

"Ayo bereskan barang-barang nya, kita akan pulang bersama"ucap Alex yang kini bangkit dari duduknya dan mulai membantu mereka membereskan barang-barang milik mereka semua meskipun mereka sempat menolak karena merasa tidak enak hati.

"Diandra makasih ya, berkat kamu suamiku akhirnya mendapatkan pekerjaan tetap"ucap Gesya.

"Mbak harusnya berterimakasih kepada tuan Alex, saya bahkan tidak tau tentang ini"ucap Dian yang kini dirangkul oleh Alex.

"Mulai hari ini dia yang akan bertanggung jawab untuk semuanya. Gak apa-apa kan honey, aku hanya tidak ingin kamu mengeluh karena tidak bisa lagi bekerja. Sekarang kamu penanggung jawab dari seluruh gudang padi yang ada di empat desa di kota ini, dan mereka adalah asisten mu. Tapi sebelum itu selesaikan dulu pembangunan gudang padi yang baru "ucap Alex yang kini mengubah peraturan, jika selama ini yang dikirim ke gudang raksasa milik keluarga nya adalah berupa padi, maka sekarang sudah berbentuk beras, dan akan langsung di impor ke luar kota dan luar negeri.

"Oh my God, ibu bos,"ujar Tio.

"Aku sama-sama karyawan seperti kalian sobat, jangan lupa itu"ucap Dian.

"Sudah ayo bersiap"ucap Alex yang yang kini langsung menarik tangan Dian untuk mengikuti nya ke mobil.

Sementara semua ikan dan daging asap semalam di bawa dengan menggunakan mobil pick up yang kini kembali dikemudikan oleh Dito.

Waktu terasa lebih cepat saat mereka kembali sepanjang perjalanan pulang Alex yang menyetir sambil sesekali melirik kearah Dian yang kini terlihat lelah.

"Tidurlah honey, nanti setelah tiba di rumah aku bangunkan"ucap Alex.

"Tidak, sebentar lagi kita sampai, saya tidak ingin tidur dalam keadaan belum mandi seperti ini"ujar Dian.

"Honey aku akan tinggal di rumah mu, sampai beberapa hari kedepan Aline juga dalam perjalanan"ucap Alex.

"Lapor pak RT dulu, aku tidak mau ada salah faham"ucap Dian.

"Itu sudah kulakukan sejak kemarin"ucap Alex yang kini membuat Dian menghela nafas.

"Tolong jangan panggil saya seperti itu didepan ibu, saya tidak ingin ibu sedih"ujar Dian.

"Lagipula aku tidak akan menemuinya honey, biar saja"ujar Alex tidak mau kalah.

"Hm... bagaimana kalau ibu datang ke rumah, tuan lupa dia sangat suka dengan ikan hasil pancingan seperti itu"ujar Dian lagi.

"Honey apa itu sulit untuk mu, kita akan segera menikah dan kamu harus terbiasa dengan itu. Lagipula nanti sore aku akan melamar mu jadi bersiaplah"ucap Alex.

"Tuan,"ujar Dian lirih, dia tidak menyangka jika Alex benar-benar keras kepala.

"Honey hantaran untuk lamaran sudah dalam perjalanan, nanti setelah kita istirahat kamu bisa minta para tetangga untuk hadir"ucap Alex.

" Tidak tuan, kenapa anda tidak bilang terlebih dahulu pada saya, bagaimana dengan ibu dan Afifah, apa tuan tega menyakiti mereka?"ujar Dian.

" Honey please, mau sampai kapan kamu peduli dengan orang lain sementara kamu terus mengorbankan dirimu sendiri untuk mereka. Cukup! mulai sekarang kamu harus mulai memikirkan tentang kebahagiaan kita, tidak dengan orang lain, lagipula seumur hidup ibu mertua mu itu aku yang akan tanggung biaya hidup nya dan biaya pendidikan adik ipar mu hingga dia menikah nanti baru aku lepas tanggung jawab"ucap Alex yang kini membuat Dian menatap kearah Alex.

"Tapi tuan, itu tanggung jawab saya"ujar Dian.

"Kamu juga tanggung jawab ku, dan semua urusan yang menyangkut dirimu adalah urusan ku. Yang harus kamu lakukan saat ini adalah mempersiapkan diri untuk jadi istri ku dan ibu untuk anak-anak kita kelak "ucap Alex.

"Terserah saja, tapi sebelum lamaran saya ingin minta pendapat ibu, jika dia tidak setuju maka saya mundur"ucap Dian yang kini membuat Alex semakin mempercepat laju mobilnya.

"Tuan saya hanya ingin yang terbaik,"ucap Dian.

"Yang terbaik katamu, bahkan kamu tidak peduli dengan dirimu sendiri, apa itu yang terbaik yang kamu maksud honey, untuk urusan ibu mertua mu biar aku yang tangani "ujar Alex yang kini langsung menghentikan mobilnya di depan rumah ibu Afandi.

"Kak Dian sudah pulang, ibu baru saja selesai masak"ucap Afifah yang kini menatap tak suka pada Alex.

"Apa ibu sudah baikan, kenapa kamu biarkan ibu memasak, kakak kan sudah beri uang kemarin kenapa tidak beli saja dari warteg"ucap Dian yang kini terlihat sangat khawatir.

"Honey,

1
Wati Anja
semoga Dian dan Alek bisa bersatu❤❤❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!