Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.
Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.
Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Pagi itu, Aira terbangun di kamar kost barunya dengan perasaan yang masih asing. Tidak seperti rumah bibinya yang selalu tenang dan sunyi, suasana di lingkungan kost terasa hidup sejak subuh. Dari balik dinding tipis, terdengar suara panci beradu, kompor menyala, dan percakapan ringan para tetangga yang sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga mereka.
Aira menarik napas panjang. Entah mengapa, suasana itu justru memberinya semangat. Seolah-olah dunia di sekitarnya ikut mendorongnya untuk bangun dan memulai hari lebih awal.
Ia bangkit dari tempat tidur, merapikan selimut, lalu berjalan menuju dapur kecil di sudut kamar. Dengan gerakan yang sudah terbiasa, Aira mulai memasak. Ia menumis sayuran sederhana dan membuat telur dadar. Aroma masakan perlahan memenuhi ruangan, menciptakan rasa nyaman yang baru.
Setelah semuanya siap, Aira duduk dan menikmati sarapannya dengan tenang. Tidak ada gangguan, tidak ada tekanan. Hanya dirinya dan makanan yang ia buat sendiri. Untuk sesaat, ia merasa hidupnya mulai berada di jalur yang benar.
Selesai sarapan, Aira tidak langsung beristirahat. Ia menyiapkan bekal makan siang. Ia tahu, hari di kantor akan panjang dan melelahkan. Setidaknya, dengan membawa makanan sendiri, ia bisa sedikit menghemat dan menjaga dirinya tetap kuat.
Belum lama ia selesai membereskan semuanya, terdengar ketukan di pintu.
“Aira, sudah siap?” suara Ayunda terdengar dari luar.
Aira tersenyum kecil. Ia segera membuka pintu.
“Sudah. Kamu cepat sekali,” jawab Aira.
Ayunda menyandarkan tubuhnya di pintu sambil tersenyum santai. “Kalau tidak berangkat bareng, nanti kamu malah terlambat.”
Aira mengambil tasnya dan mengunci pintu. “Aku ikut saja. Tapi aku mau kasih uang bensin, ya.”
Ayunda langsung tertawa kecil. “Tidak usah. Tujuan kita sama.”
Aira menggeleng. “Tidak bisa. Aku tidak enak kalau terus menumpang.”
Ayunda menatapnya sejenak, lalu menghela napas. “Baiklah, baiklah. Kalau itu bikin kamu tenang, aku terima.”
Keduanya kemudian berjalan bersama menuju parkiran. Motor Ayunda sudah siap, dan tanpa banyak bicara lagi, mereka berangkat menuju perusahaan.
Perjalanan pagi itu terasa cukup lancar. Angin pagi menyapu wajah Aira, membuat pikirannya sedikit lebih ringan. Ia mencoba mengabaikan bayangan tentang masalah yang mungkin akan ia hadapi di kantor.
Namun begitu mereka sampai di area perusahaan, perasaan itu kembali muncul.
Aira turun dari motor dan berdiri di dekat pintu masuk, menunggu Ayunda yang sedang memarkir kendaraan. Ia menatap sekeliling dengan hati-hati, seolah-olah sedang menghindari sesuatu.
Tidak lama, Ayunda menghampirinya.
“Ayo masuk,” kata Ayunda.
Aira mengangguk, namun langkahnya terasa ragu.
Keduanya berjalan bersama memasuki gedung. Namun baru beberapa langkah, Aira langsung menghentikan langkahnya.
“Ayunda…” bisiknya pelan.
“Ada apa?”
Aira menoleh ke arah lorong depan. Wajahnya langsung berubah tegang.
“Itu Pandu.”
Ayunda langsung mengikuti arah pandang Aira. Wajahnya ikut mengeras.
Tanpa banyak bicara, Ayunda menarik tangan Aira. “Kita balik ke parkiran dulu.”
“Apa tidak berlebihan?”
“Lebih baik menghindar daripada ribut di pagi hari.”
Aira tidak membantah. Keduanya segera berbalik dan berjalan cepat kembali ke arah parkiran.
Sesampainya di sana, Aira menghela napas panjang.
“Aku tidak mungkin terus begini,” katanya pelan.
Ayunda menatapnya. “Untuk sekarang, kita cari cara aman dulu.”
Tiba-tiba, mereka melihat seseorang berjalan keluar dari area parkir.
“Itu Bima,” ujar Ayunda.
Aira langsung terdiam. Wajahnya berubah canggung.
Ayunda tanpa ragu menghampiri Bima.
“Pak Bima,” panggilnya.
Bima menghentikan langkah dan menatap mereka. “Ada apa?”
Ayunda langsung berbicara dengan serius. “Kami butuh bantuannya pak. Pak Pandu sedang di dalam, dan dia pasti akan mengganggu Aira.”
Bima menghela napas pelan. “Pandu bukan orang yang mudah dihadapi.”
“saya tahu. Tapi setidaknya kehadiran bapak bisa membuatnya berpikir dua kali.”
Bima menatap Aira sekilas. Tatapan itu singkat, namun penuh arti.
Aira menunduk, merasa tidak nyaman.
Akhirnya, Bima mengangguk. “Baik. Aku ikut.”
Aira sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Bima akan bersedia membantu.
Namun di balik itu, ada perasaan lain yang sulit ia jelaskan. Masa lalu mereka bukan sesuatu yang mudah dilupakan.
Tanpa banyak bicara, mereka bertiga berjalan kembali menuju dalam gedung.
Setiap langkah terasa berat bagi Aira. Ia berusaha menenangkan diri.
Sampai akhirnya mereka tiba di dekat lift.
Dan seperti yang sudah diduga, Pandu muncul.
“Pagi, Aira,” katanya dengan senyum yang terlalu percaya diri.
Aira langsung menegang.
Pandu melangkah mendekat. “Kamu makin cantik hari ini.”
Ayunda berdiri di samping Aira, mencoba menjaga jarak.
Bima juga ada di sana. Namun ia hanya diam.
Aira melirik Bima sekilas. Ia berharap sesuatu. Reaksi. Tindakan. Apa pun.
Namun Bima tidak bergerak.
Pandu tersenyum tipis. “Kenapa diam? Tidak senang dipuji?”
Aira menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha menahan diri.
“Sudah cukup, Pak,” katanya singkat.
Namun Pandu justru semakin mendekat.
“Kamu ini lucu. Jual mahal terus.”
Aira mengepalkan tangannya.
Bima tetap diam.
Saat itu juga, sesuatu dalam diri Aira akhirnya pecah.
“Cukup!” suara Aira meninggi.
Semua orang di sekitar mereka mulai memperhatikan.
Aira menatap Pandu dengan mata penuh emosi.
“Anda tidak tahu malu,” katanya tegas. “Hanya karena jabatan, Anda pikir bisa memperlakukan orang seenaknya?”
Pandu langsung terdiam sesaat, lalu wajahnya berubah.
“Apa?”
“Saya bukan wanita seperti yang Anda pikirkan. Saya tidak tertarik pada Anda, apalagi harta Anda.”
Suasana menjadi tegang.
Pandu tersenyum sinis.
“Kamu hanya pura-pura jual mahal,” katanya. “Kamu pikir aku tidak tahu?”
Aira menatapnya tajam.
“Saya tidak seperti itu.”
Pandu mendekat sedikit lagi.
“Kamu kebanyakan baca cerita. Pikir kalau jual mahal, nanti akan dikejar dan dicintai.”
Kata-kata itu menusuk.
Aira merasa darahnya mendidih.
“Berhenti,” katanya dingin.
Namun Pandu tidak berhenti.
“Kamu akan menyesal sudah menolak aku.”
Kalimat itu menjadi batas terakhir.
Aira berbalik tanpa berkata apa-apa lagi.
Ia berjalan cepat menjauh dari sana, menuju tangga darurat.
“Aira!” Ayunda langsung mengejarnya.
Bima tetap berdiri di tempat.
Ia hanya menatap punggung Aira yang semakin menjauh.
Beberapa karyawan yang berada di sekitar mulai berbisik-bisik. Mereka jelas mendengar apa yang terjadi.
Namun Pandu tidak peduli.
Wajahnya terlihat marah.
“Aku akan lihat sampai kapan dia bisa bertahan,” gumamnya.
Sementara itu, Aira sudah sampai di tangga darurat. Ia berjalan cepat menaiki anak tangga, mencoba menahan emosinya.
Ayunda akhirnya berhasil menyusul.
“Aira, tunggu.”
Aira berhenti. Namun ia tidak langsung menoleh.
“Dia keterlaluan,” katanya pelan.
Ayunda mengangguk. “Aku tahu.”
Aira akhirnya menoleh. Matanya sedikit berkaca-kaca.
“Dan Pak Bima…” suaranya melemah.
Ayunda terdiam.
“Aku tidak meminta dia membantu. Tapi dia sendiri yang bilang akan melindungi.”
Ayunda tidak langsung menjawab.
“Kita tidak bisa bergantung pada orang lain,” katanya akhirnya.
Aira mengangguk pelan.
Mereka melanjutkan langkah menuju lantai kantor finance.
Begitu sampai, Aira langsung menuju mejanya dan duduk.
Ia menatap kosong ke depan.
Pikirannya penuh.
Sakit hati. Marah. Kecewa.
Semuanya bercampur menjadi satu.
Ia tidak hanya terluka karena Pandu.
Namun juga karena Bima.
Orang yang dulu pernah dekat dengannya, kini memilih diam saat ia membutuhkan bantuan.
Aira menarik napas panjang dan mencoba menenangkan diri.
Hari baru saja dimulai.
Dan ia sudah merasa lelah.
Namun satu hal yang ia tahu pasti.
Ia tidak akan mundur.
Apa pun yang terjadi, ia akan menghadapi semuanya dengan caranya sendiri.