Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekal Dari Istri
Suasana perumahan sudah sangat sepi saat motor besar Zidan memasuki halaman rumah. Suara gerbang yang digeser pelan oleh Zidan seolah memecah kesunyian malam. Seperti dugaan mereka, lampu ruang tamu sudah dipadamkan, hanya menyisakan lampu taman dan lampu teras yang temaram, menandakan Papa dan Mama sudah terlelap di kamar mereka.
Shakira turun dari boncengan sambil memegangi perutnya yang terasa sangat penuh. "Duhh... kenyang banget, Mas. Kayaknya tadi aku kebanyakan makan pangsit gorengnya deh," keluh Shakira pelan sambil berjalan menuju pintu depan.
Zidan mengikuti dari belakang, kunci motor bergemerincing di tangannya. Ia menatap punggung istrinya yang terbalut kardigan tipis itu dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara gemas dan gairah yang mulai tersulut kembali sejak kejadian di kedai mie ayam tadi.
"Kenyang atau ngantuk?" tanya Zidan serak saat mereka sudah berada di dalam rumah yang gelap.
Zidan menutup pintu tanpa suara, lalu menguncinya dari dalam. Ia tidak langsung menyalakan lampu utama, hanya membiarkan cahaya remang dari koran luar masuk menembus jendela.
"Dua-duanya. Rasanya mau langsung rebahan," sahut Shakira. Ia berbalik hendak menuju tangga, namun langkahnya terhenti saat Zidan tiba-tiba menarik pinggangnya dari belakang, merapatkan tubuh mereka tanpa celah.
"Mas... kaget tahu," bisik Shakira. Jantungnya mulai berdegup tidak keruan saat merasakan tangan Zidan yang besar dan hangat masuk ke balik kardigannya, mengelus pinggangnya yang masih terasa sedikit linu namun sensitif.
"Tadi di depan Maya, kamu bilang berasa kayak ratu kan?" Zidan berbisik tepat di telinga Shakira, suaranya rendah dan dalam, membuat bulu kuduk Shakira meremang. "Sekarang, ratunya harus kasih upeti ke rajanya karena udah berhasil ngusir pengganggu."
Shakira tertawa kecil, meski napasnya mulai sedikit tidak beraturan. "Upeti apa? Kan tadi udah aku temenin makan mie ayam."
"Mie ayam itu cuma 'DP'-nya, Sayang. Pelunasannya... di atas," Zidan memutar tubuh Shakira agar menghadapnya. Dalam kegelapan, mata Zidan tampak berkilat tajam. "Kamu tahu nggak betapa susahnya aku nahan diri pas kamu ketawa-ketawa manis di kedai tadi? Aku pengen langsung bawa kamu pulang detik itu juga."
Shakira melingkarkan lengannya di leher Zidan, ia mulai berani memainkan kerah kaos suaminya. "Mas Zidan makin agresif ya sekarang. Efek sate kambing tadi sore masih ada?"
"Bukan efek sate, Ra. Ini efek kamu yang makin cantik tiap harinya," Zidan tidak menunggu lama lagi. Ia menunduk, melumat bibir Shakira dengan gairah yang lebih meledak-ledak daripada malam-malam sebelumnya.
Ciuman itu terasa panas, menuntut, dan penuh dengan dominasi seorang pria yang benar-benar memuja istrinya. Zidan mengangkat tubuh Shakira, mendudukkannya di atas meja konsol kayu di samping tangga. Kakinya yang jenjang reflek melingkar di pinggang Zidan, menarik pria itu semakin dekat.
"Mas... ke kamar... nanti Papa denger," desis Shakira di sela-sela ciuman mereka yang semakin intens.
"Papa nggak bakal denger kalau kamu nggak teriak, Ra," goda Zidan nakal. Tangannya kini mulai menjelajah lebih berani, membuka kancing kardigan Shakira satu per satu dengan jari-jarinya yang terampil.
Zidan menjauhkan wajahnya sejenak, menatap Shakira yang tampak sangat menggoda dengan napas terengah dan bibir yang sedikit bengkak. "Aku bener-bener nggak bisa berhenti kalau udah sama kamu. Kamu itu kayak mesin yang nggak pernah bikin aku bosen buat bongkar pasang."
"Kamu kira aku karburator?" protes Shakira manja, namun ia justru menarik Zidan kembali untuk mencium lehernya.
"Kamu lebih dari itu. Kamu itu jantungnya bengkel aku, Shakira," Zidan kembali menggendong Shakira, kali ini dengan langkah terburu-buru menuju kamar mereka di lantai atas.
Begitu pintu kamar tertutup dan terkunci, Zidan langsung merebahkan Shakira di atas ranjang. Ia melepas kaosnya dengan satu gerakan cepat, menampakkan otot tubuhnya yang liat dan berkeringat tipis—sebuah pemandangan yang selalu berhasil membuat Shakira kehilangan kata-kata.
Malam itu, "syukuran" babak selanjutnya benar-benar terjadi dengan intensitas yang lebih tinggi. Zidan seolah ingin membuktikan bahwa cintanya bukan hanya sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata yang sanggup membuat Shakira melupakan segala kepenatan dunianya.
"Mas... Mas Zidan..." rintih Shakira saat Zidan memberikan sentuhan-sentuhan yang belum pernah ia berikan sebelumnya.
"Iya, Sayang... aku di sini. Cuma buat kamu," bisik Zidan, suaranya terdengar seperti melodi paling indah bagi Shakira.
Zidan benar-benar menjadi mekanik yang andal malam itu—ia tahu persis di mana harus menekan, di mana harus membelai, dan di mana harus memberikan kejutan yang membuat Shakira berkali-kali mencapai puncak kebahagiaannya. Tidak ada lagi sisa linu di pinggang, yang ada hanyalah gelombang kenikmatan yang terus menghujam.
Setelah badai gairah itu mereda, mereka terbaring bersisian dengan napas yang masih tersengal. Zidan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang masih polos, lalu menarik Shakira ke dalam pelukannya.
"Mas..." bisik Shakira, wajahnya ia sembunyikan di dada bidang Zidan yang masih terasa hangat.
"Hm?"
"Besok... besok jangan telat jemput aku lagi ya. Aku nggak mau nunggu sendirian kayak orang ilang lagi," ujar Shakira lirih, ia mulai merasa kantuk yang luar biasa menyerangnya.
Zidan mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh kasih. "Janji, Sayang. Besok jam empat teng aku udah stand-by di depan gerbang. Nggak akan ada sate kambing, nggak ada traktir-traktir. Cuma ada kita."
Shakira tersenyum damai. Ia memejamkan mata, mendengarkan detak jantung Zidan yang kini menjadi detak jantungnya juga. Di dalam kamar yang kini benar-benar tenang, mereka berdua terlelap dalam pelukan yang paling hangat—sebuah penutup malam yang sempurna setelah seharian penuh dengan drama dan cinta.
***
Pagi itu, deru mesin motor Zidan membelah keramaian area parkir kampus. Seperti biasa, ia tidak pernah membiarkan Shakira berangkat sendiri. Setelah standar motor diturunkan, Shakira turun dengan gerakan anggun, merapikan rok plisketnya sejenak sebelum melepaskan helm dan menyerahkannya pada Zidan.
Namun, sebelum berbalik menuju gerbang fakultas, Shakira merogoh tas jinjingnya dan mengeluarkan sebuah kotak bekal berwarna mint yang terbungkus rapi dengan kain motif bunga-bunga.
"Mas... ini bekal kamu. Jangan lupa dimakan ya, jangan cuma ditaruh di meja mesin terus karatan kena oli," ujar Shakira sambil menyodorkan kotak itu ke pelukan Zidan.
Zidan menerima kotak hangat itu dengan dahi berkerut. Matanya mengerjap jenaka. "Ini apa, Sayang? Tumben banget hari ini bawain bekal ke bengkel? Biasanya kan kamu cuma pesenin aku ojek makanan kalau aku lupa makan siang."
"Eh, jangan dibuka sekarang!" cegah Shakira cepat saat tangan Zidan yang besar mulai gatal ingin menarik simpul kain pembungkusnya. "Buka nanti kalau kamu udah sampai di bengkel, pas jam istirahat. Pokoknya nurut."
"Loh? Aku penasaran, Ra. Baunya enak banget, kayak ada aroma cuka-cuka gitu," Zidan mendekatkan hidungnya ke kotak bekal itu, menghirup aromanya dalam-dalam.
"Ih, Mas! Nurut deh sekali-kali. Pokoknya jangan dibuka sebelum sampai bengkel. Aku masuk dulu ya, udah telat lima menit nih. Bye, Suami aku! Semangat kerjanya!"
Shakira memberikan lambaian tangan kecil yang manis, lalu setengah berlari menuju koridor kampus. Zidan hanya bisa terpaku di atas motornya, menatap punggung istrinya sampai menghilang di balik pintu kaca fakultas. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.
"Duh, makin hari makin pinter bikin penasaran aja bini gue," gumam Zidan.
Sepanjang perjalanan menuju bengkel, pikiran Zidan tidak lepas dari kotak bekal di dalam tas motornya. Sesampainya di Ardiansyah Motor, ia bahkan tidak langsung menyapa Bobby atau Indra yang sudah sibuk dengan pretelan knalpot. Zidan langsung melangkah menuju meja kerjanya yang berada di sudut ruangan, tempat ia biasanya mencatat pesanan suku cadang.
"Woi, Bos! Baru dateng udah melengos aja. Tuh, ada Ninja 250 nungguin ganti kampas rem," teriak Indra dari kejauhan.
"Bentar, Ndra! Gue ada urusan negara dulu!" sahut Zidan tanpa menoleh.
Zidan duduk di kursinya, menarik napas dalam, lalu perlahan membuka kain pembungkus kotak bekal itu. Begitu tutup plastik dibuka, matanya membelalak sempurna. Uap tipis yang membawa aroma gurih, asam, dan pedas langsung menyeruak memenuhi area meja kerjanya.
"Pempek...?" bisik Zidan tak percaya.
Di dalam kotak itu tersusun rapi beberapa potong Pempek Kapal Selam yang ukurannya cukup besar, beberapa Pempek Lenjer yang digoreng hingga garing keemasan, dan irisan timun segar di pojokannya. Ada wadah kecil terpisah berisi kuah cuko yang hitam kental, lengkap dengan aroma bawang putih dan ebi yang sangat tajam.
Ini adalah makanan favorit Zidan sepanjang masa. Makanan yang selalu ia cari setiap kali ia merasa lelah atau sedang ingin merayakan sesuatu. Dan Shakira, istrinya yang judes itu, ternyata diam-diam bangun lebih pagi hanya untuk menyiapkan hidangan ini dari nol.
Zidan hendak mengambil garpu, namun pandangannya tertuju pada selembar kertas sticky note berwarna kuning cerah yang tertempel di balik tutup kotak bekal tersebut. Ia mengambil kertas itu, dan jantungnya berdegup sedikit lebih kencang saat membaca tulisan tangan Shakira yang rapi.
"Semangat ya kerjanya, Mas Karatan sayang. Maaf ya kalau semalam aku banyak ngeluh pegel, padahal kamu juga pasti capek. >
Dimakan ya pempeknya, aku bikin sendiri subuh tadi. Cukonya sengaja aku bikin agak pedas biar kamu nggak ngantuk pas bongkar mesin.
I love you, My Mechanic. Pulang cepet ya, aku mau masak rendang lagi nanti malam buat 'bonus' kamu semalam.
— Istri Galakmu <3"
Zidan terdiam cukup lama menatap kertas kecil itu. Ada rasa haru yang mendadak menyerang dadanya. Ia teringat bagaimana semalam ia memijat pinggang Shakira, dan bagaimana paginya ia melihat Shakira masih tampak mengantuk namun tetap memaksakan diri bangun saat jam masih menunjukkan pukul empat subuh. Ternyata, ini alasan istrinya sibuk di dapur sedari pagi buta.
"Bos? Woi, Dan! Malah bengong depan kotak bekal," Bobby tiba-tiba muncul di sampingnya, kepalanya melongok ingin tahu. "Gila! Pempek Palembang? Bau cukonya mantap bener! Bagi dong!"
Zidan dengan sigap langsung menutup kotak bekal itu kembali, memeluknya posesif seperti anak kecil yang tidak mau berbagi mainan. "Nggak ada! Cari sendiri di pasar sana!"
"Pelit amat lo! Cuma sepotong juga," gerutu Bobby sambil mencibir.
"Ini buatan tangan istri gue, Bob. Berasnya aja dari butiran cinta, cukonya dari sari-sari kasih sayang. Nggak level kalau lo yang makan," ujar Zidan dengan nada sombong namun penuh kebanggaan.
"Halah, bucin lo kumat lagi!" Bobby tertawa sambil berlalu kembali ke pekerjaannya.
Zidan mengambil satu potong Pempek Lenjer, mencelupkannya ke dalam cuko yang kental, lalu menggigitnya. Teksturnya kenyal namun garing di luar, rasa ikannya sangat terasa, dan rasa cukonya... pas sekali di lidahnya. Sempurna.
"Enak banget, Ra..." gumam Zidan sendirian.
Sambil mengunyah, Zidan mengambil ponselnya dan memotret bekal tersebut bersama sticky note-nya. Ia mengirimkannya ke WhatsApp Shakira.
Zidan: > Bekalnya udah dibuka. Ini pempek paling enak yang pernah aku makan seumur hidup.
Makasih ya, Sayang. Makasih udah bangun subuh-subuh buat aku.
Kertas kuningnya nggak akan aku buang, mau aku laminating terus tempel di kening biar semua orang tau siapa pemilik aku.
Cukonya pedes, tapi tetep kalah pedes sama omongan kamu kalau lagi ngambek. Hehe.
Love you more, Nyonya Zidan. Aku usahain pulang jam 4 sore teng!
Tak butuh waktu lama, balasan masuk.
Shakira: > Ih, lebay banget pake dilaminating segala! Awas ya kalau nggak habis.
Fokus kerja, jangan liatin HP terus. Kalau bautnya ada yang lepas gara-gara kamu ngelamun, aku nggak mau tanggung jawab ya.
Ditunggu di rumah, Mas. Hati-hati.
Zidan meletakkan ponselnya dengan senyum yang tidak hilang-hilang. Ia kembali menyantap pempeknya dengan lahap, merasa energinya pulih seribu persen. Jika sebelumnya ia bekerja demi uang dan hobi, kini ia punya alasan yang jauh lebih kuat: untuk pulang ke pelukan wanita yang rela bangun subuh demi seporsi pempek penuh cinta.
"Ndra! Bob!" teriak Zidan tiba-tiba sambil berdiri dan mengelap bibirnya.
"Apaan lagi, Bos?" sahut Indra.
"Mesin Ninja tadi mana? Sini biar gue yang handle! Gue lagi on fire nih!" seru Zidan penuh semangat.
"Efek pempek sakti beneran ya," gumam Indra heran melihat bosnya yang mendadak super rajin.
Zidan hanya tertawa. Ia meraih kunci pasnya, namun kali ini ada semangat berbeda di setiap gerakannya. Di balik kemeja montirnya yang mulai kotor, ada hati yang sedang berbunga-bunga, menanti waktu menunjukkan pukul empat agar ia bisa segera kembali ke rumah dan memberikan "bonus" terima kasih yang lebih manis untuk istrinya tercinta.
tinggal daerah mano nyo Thor
di palembang jugo soalnyo