NovelToon NovelToon
Always His

Always His

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.

Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.

Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#12

Pagi itu, lantai teratas gedung Cavanaught Tower tampak lebih tegang dari biasanya. Bukan karena indeks saham yang anjlok atau kegagalan akuisisi, melainkan karena suasana hati sang pemilik takhta, Everest Cavanaught.

Everest duduk di kursi kebesarannya, menatap pemandangan kota di balik dinding kaca yang luas. Di sofa panjang ruang kerjanya, dua asisten kepercayaannya, Noah dan Ben, sedang terlibat perdebatan kecil yang konyol. Noah, terus-menerus mencecar Ben dengan pertanyaan yang sama sejak satu jam lalu.

"Ben, jujur padaku. Apa dia benar-benar secantik itu?" tanya Noah dengan mata berbinar penasaran.

Ben, yang masih teringat jelas aura Catherina di restoran waktu itu, menyesap kopinya dan menjawab dengan nada santai namun mematikan. "Noah, dengar ya. Aku sudah melihat deretan mantan pacarmu yang model papan atas itu, tapi tidak ada satu pun yang secantik Catherina. Maafkan kejujuranku, tapi dia benar-benar... berbeda."

"Oh, ayolah! Jangan dilebih-lebihkan," gerutu Noah.

"Aku tidak berlebihan," sahut Ben konyol. "Bahkan aku sudah berpesan pada resepsionis di bawah. Jika ada wanita dengan ciri-ciri 'Bidadari Kampus' datang, segera antar ke atas. Itu kata kuncinya."

Everest hanya terdiam, meski telinganya panas mendengar percakapan kedua asistennya. Jantungnya sebenarnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia sedang menunggu telepon dari resepsionis di lobi. Resepsionis itu sendiri sebenarnya bingung dengan instruksi Ben yang menyebutkan 'Bidadari Kampus', namun ia hanya bisa mengangguk patuh pada perintah atasan.

Di lantai dasar, wanita yang menjadi topik pembicaraan itu baru saja melangkah masuk. Catherina hadir dengan aura yang berbeda pagi ini. Jika semalam ia tampak layu sebagai Ny. Mettond, pagi ini aura 'Gadis Porselen' miliknya kembali muncul. Ia mengenakan terusan sederhana namun elegan, rambutnya dibiarkan tergerai menutupi bahunya yang ringkih.

Liam, bayi laki-laki berusia satu bulan itu, mulai merengek. Catherina tidak langsung menuju meja resepsionis. Ia memilih duduk di sudut ruang tunggu yang tenang, mengeluarkan botol susu, dan memberikan asupan pada putranya. Ia ingin memastikan Liam tertidur lelap sebelum ia menghadapi badai di lantai atas.

Setelah Liam tenang dan terlelap dalam gendongannya, Catherina berdiri. Ia melangkah ke meja resepsionis dengan keanggunan yang alami. Begitu resepsionis melihat wajah Catherina—wajah yang sehalus porselen mahal dengan mata yang menyimpan duka mendalam—sang petugas langsung teringat instruksi Ben.

"Nona Catherina? Silakan, Tuan Cavanaught sudah menunggu Anda," ujar resepsionis itu dengan sopan.

Kabar kedatangan Catherina langsung sampai ke ruang kerja Everest. Ben, yang memang sudah bersiap, segera turun menjemput ke depan lift. Saat pintu lift terbuka, Ben memberikan senyum sopan sementara Catherina hanya mengangguk kaku, mendekap Liam erat-erat.

Di dalam ruangan, Noah terdiam seribu bahasa saat pintu besar itu terbuka. Matanya membelalak. Gadis sempurna, bisiknya dalam hati. Noah kini paham kenapa Everest tidak pernah bisa melirik wanita lain selama bertahun-tahun.

Catherina melangkah masuk. Atmosfer ruangan itu seolah membeku. Everest berdiri dari kursinya, wajahnya dipasang sedingin mungkin, meski tangannya di balik saku celana mengepal kuat menahan keinginan untuk memeluk wanita itu.

Belum sempat Catherina mengucap sepatah kata pun, Everest melangkah maju. Matanya tertuju pada bayi di pelukan Catherina.

"Bagaimana cara menggendongnya?" tanya Everest tiba-tiba dengan suara baritonnya yang berat, berusaha berpura-pura dingin.

Catherina tertegun sejenak. "Seperti ini..." bisiknya parau. Ia perlahan memindahkan Liam ke lengan Everest. "Tangga tanganmu harus menyangga kepalanya, Everest."

Begitu kulit Liam bersentuhan dengan lengannya, Everest merasakan getaran aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia menatap wajah Liam yang sangat mirip dengannya. Putra ganteng Daddy sudah tidur, bisik Everest dalam hati dengan penuh kebanggaan. Kau sangat mirip dengan Daddy, Sayang. Syukurlah kau tidak mirip Mommy-mu. Nanti kau akan menghancurkan hati banyak wanita jika kau terlalu cantik seperti dia.

Everest menggendong Liam dengan luwes, seolah ia sudah sangat terbiasa. "Jangan khawatir, Cathe," ujarnya sambil menatap Liam, "Anak kita... maksudku, anakmu aman di tanganku. Aku sudah terbiasa menggendong Serline sejak dia kecil."

Catherina membeku mendengar nama itu. Serline?

Pikirannya everest saat itu berkecamuk. Ia ingat anjing mereka dulu, Duck, yang selalu mereka perebutkan namanya. Everest mengingat Duck sudah tiada dan sekarang ada Serline anak dari Duck . Namun, di telinga Catherina yang sedang penuh rasa bersalah, ia mengira Serline adalah nama putri Everest.

Jadi dia sudah punya putri? batin Catherina perih. Seberapa cantik istrinya? Siapa wanita beruntung itu?

Rasa bersalah itu memuncak. Catherina tidak tahan lagi. Di depan Everest yang sedang menggendong bayi mereka, Catherina perlahan menjatuhkan lututnya ke lantai. Ia berlutut di bawah kaki Everest.

"Maafkan aku, Everest..." ucapnya dengan suara pecah dan mata yang mulai memerah. "Aku salah di masa lalu. Aku begitu egois. Bisakah kau memaafkanku?"

"Aku juga ikut bahagia atas anakmu, Everest," lanjut Catherina sambil menunduk. "Anakmu perempuan yang cantik, pasti? Apa... apa dia secantik ibunya?"

Everest menatap wanitanya yang bersimpuh. Ada dorongan kuat untuk tertawa sekaligus menangis melihat kesalahpahaman ini. Ia memberi kode pada Noah dan Ben untuk keluar ruangan. Kedua asisten itu tahu benar siapa Serline—anak anjing jenis Pomeranian kecil yang manja, hasil keturunan Duck.

Everest menahan senyum misteriusnya. Ia menatap Catherina yang masih berlutut. "Tentu," jawabnya singkat. "Dia sangat cantik, persis seperti ibunya."

Hati Catherina seolah ditusuk ribuan jarum. "Aku bahagia mendengarnya. Semoga pernikahanmu selalu bahagia. Berapa... berapa usia anakmu?"

"Satu tahun dua bulan," jawab Everest tenang.

Catherina terdiam. Hitungan itu berarti Everest segera memiliki pengganti tak lama setelah mereka putus. Sementara dirinya masih berkelana dengan patah hati selama setahun sebelum akhirnya bertemu Adrian. Pernikahannya dengan Adrian bahkan belum genap sepuluh bulan.

"Apa istrimu wanita Eropa?" tanya Catherina lagi, suaranya semakin mengecil.

Everest menunduk, mencium pipi Liam yang sedang tidur, lalu menjawab dengan jujur namun ambigu. "Ya, berasal dari negara Eropa."

Mendengar itu, pertahanan Catherina runtuh sepenuhnya. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Ia merasa sangat tidak berdaya, lututnya terasa lemas luar biasa.

Everest tidak bisa lagi berpura-pura dingin melihat air mata itu. Ia meletakkan Liam dengan sangat hati-hati di sofa bayi yang memang sudah ia siapkan sejak tadi di ruangannya, lalu ia bergegas membantu Catherina berdiri. Ia menuntun wanita itu untuk duduk di sofa panjang.

"Apa yang terjadi padamu, Catherina?" tanya Everest, suaranya kini melunak, penuh dengan nada protektif yang dulu selalu dirindukan Catherina. "Kenapa kau datang padaku dalam keadaan hancur seperti ini?"

🌷🌷🌷

Happy Reading Dear😍

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!