Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!
Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.
Hingga pria itu kembali.
Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.
Melainkan rencana.
Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBM — BAB 04
JANJI MASALALU
Wanita dengan pakaian sederhana itu masih diam menatap sosok pria sialan yang datang tanpa dosa, lalu mengatakannya dengan enteng.
Aria mengangkat dagunya penuh keberanian. “Aku lebih baik membunuh anak ini daripada harus menerima semua itu dari pria bajingan seperti mu.” kata Aria yang membuat Lorenzo menatap lebih dingin.
“Jika kau berani melakukan itu, maka aku pastikan kau akan berduka untuk orang-orang terdekatmu.” ancam balik Lorenzo yang membuat Aria tersenyum miris.
“Okay... ” ia tersenyum sedih, “Setelah melecehkan ku, menggunakan kuasa dan menawariku fasilitas yang kau maksud, lalu aku harus apa? Menikah denganmu?”
Pria itu diam beberapa detik. Meski ucapan yang Aria ucapakan barusan hanyalah candaan belaka atas rasa sakit yang dia terima, Lorenzo dengan dinginnya dia menjawab.
“Tidak.”
Tentu Aria berkernyit heran.
“Tidak akan ada pernikahan diantara kita. Aku hanya akan membiayai semuanya, setelah anak itu lahir, aku akan memberimu uang dan kau boleh pergi.” jelas Lorenzo yang kali ini benar-benar membuat Aria tak habis pikir.
Wanita itu kembali mendekat, jarak yang sangat dekat sampai dia sedikit mendongak ketika mencoba menatap mata indah pria itu.
“Aku tidak menjual bayi, Tuan. Lebih baik aku membunuhnya daripada memberikan anak ini untuk besar bersama orang seperti mu.” ucap Aria yang benar-benar membuat emosi Lorenzo memuncak hingga rahang tegasnya mulai berdenyut.
“Kalau begitu bersiaplah untuk berdukacita, Nona Vance.”
Aria kembali berjalan mundur seraya tersenyum remeh. “Baiklah... Terus terang saja. Kenapa harus aku? Jika memang membutuhkan seorang anak, kenapa harus aku? Kau bisa menyewa ibu hamil, bukan merusak kehidupan orang lain.” Kesal Aria yang tak segan mendorong kasar dada Loren diakhir kalimatnya.
Namun tak sedikitpun pria itu terhuyung.
Aria benar-benar seperti wanita liar yang tak segan menyerang Loren.
Pria itu masih diam memperhatikannya, mata yang berkaca-kaca dan amarah yang menumpuk.
“Karena aku memilih yang terbaik.” balas pria itu yang artinya, Aria lebih baik dari wanita lain yang dia kenal. Entah itu kebohongan atau kebenaran, namun yang pasti, anak yang dikandung seharusnya bukan menjadi tanggungjawabnya.
Pria itu berjalan mendekat, sehingga Aria hanya diam menatap tajam.
“Pikirkan tawaranku. Aku tidak suka berbelit, jika kau ingin mengakhiri anak itu, maka kau juga akan berduka atas kepergian teman-teman mu. Karena aku tahu, keluargamu sudah tidak tersisa di dunia ini.” kata Loren yang semakin membuat Aria terkejut.
pria itu berjalan melewatinya, namun Aria masih tak terima dan kurang puas. Ia berbalik memanggilnya dengan ucapan kesal.
“Kau bilang tidak ingin menikah bukan, Tuan sialan!”
Langkah Loren terhenti, lalu dia berbalik dan kembali menatapnya. Aria tersenyum kecil dan sengaja.
“Aku tidak peduli meski kau membunuh temanku saat aku membunuh anak ini. Kau mungkin sudah menelusuri profilku, tapi kau tidak tahu bagaimana diriku.” ujar Aria yang membuat Loren sedikit menyipitkan mata.
“Aku ingin kau menikahi ku. Jika tidak mau, maka kau tidak akan bisa melihatnya di masa depan.” Ancam Aria tanpa takut dan salah satu wanita yang paling nekat.
Tentu, jiwa Lorenzo yang kejam mulai porak-poranda saat berhadapan dengan orang yang lebih gila darinya.
Aria berjalan perlahan mendekatinya, menatap lekat mata perak itu dan mengatakannya lagi. “Nikahi aku, itu baru keadilan dan tanggung jawab yang sebenarnya, Tuan de Santos.” tegas Aria yang terdengar pelan namun penuh penekanan disetiap kalimatnya.
Tentu, bukan tanpa alasan Aria memilih dinikahi. Dia akan membuat Lorenzo malu setiap harinya dengan sikapnya, dan akan terus membuat pria itu marah.
“Apa yang kau rencanakan?” tanya pria itu yang seolah dia sudah tahu maksud licik Aria.
“Sesuatu yang juga kau rencanakan.” balasnya, namun Loren yakin dia juga sudah salah berurusan dengan seorang wanita, begitu juga sebaliknya.
Aria langsung keluar dari tokonya dan berdiri di ambang pintu. Terlihat anak buah Lorenzo masih menunggu di sana.
Sambil menepuk satu tangan, Aria sedikit merentangkan kedua tangannya saat Lorenzo sendiri mengikutinya dari belakang.
“Okay semuanya... Kami sudah berunding, dan kalian sebagai anak buahnya mendapat kabar baik, karena aku dan bos kalian, akan menikah!” ucap Aria dengan penuh semangat namun lebih tepatnya seperti sebuah ejekan.
Lorenzo hanya diam, namun matanya menatap tajam ke Aria seolah dia benar-benar akan memangsa wanita itu.
...***...
“Di mana anak itu?” tegas seorang pria tua bernama Emilio yang baru saja tiba di mansion dan langsung menemui istrinya.
Melihat amarah mendadak, Monica langsung berdiri dari sofa. “Astaga.. Bawa ini pergi.” pintanya pelan sembari memberikan cangkir nya pada pelayan.
Melihat keberadaan istrinya, Emilio langsung menghampirinya. Pria dengan setelan jas abu-abu dan brewok berwarna hitam dan putih, kini menatap tajam Monica.
“Di mana anak itu, Monica? Bagaimana bisa dia melakukan hal bodoh seperti itu?” tegas Emilio.
“Emilio.. Tenangkan dirimu, kita tahu sendiri Matteo mencoba berubah, dia gabah terpengaruh alkohol saat teman-temannya mengajak. Dan sekarang dia sudah pergi ke perusahaan untuk mengurus semuanya.” jelas Monica yang mencoba menenangkan suaminya itu.
“Tidak semuanya, Monica. Dia hanya mengurus yang baik untuknya, lalu bagaimana dengan wanita itu? Seharusnya Lorenzo tidak bertanggungjawab atas semua kebodohan ini.”
“Oh ayolah, Emilio. Lorenzo sendiri yang berpegang teguh dan berjanji untuk menjaga keharmonisan de Santos. Jika dia akan menjadi pewaris mu, maka biarkan semuanya menjadi tanggungjawabnya.” ujar Monica yang membuat Emilio kesal sendiri.
Wanita itu berjalan menghampirinya dan tersenyum kecil. “Lagipula.... kau sendiri yang sudah menjeratnya dalam janji itu. Kita juga tidak ingin keburukan mu itu terbongkar oleh putramu kan?”
“Kau mengancam ku huh?”
“Tentu tidak. Aku hanya mengingatkan saja, bahwa sebaiknya kita berkerja sama. Berikan semua tanggung jawab de Santos pada Lorenzo, aku hanya ingin kedamaian untuk putraku.”
Emilio masih menatapnya tegas dan tajam. “Saat waktu itu tiba, maka jangan harap aku bisa menolong mu, Monica.”
“Aku juga.” balasnya sehingga Emilio melangkah pergi meninggalkan istrinya yang saat itu juga langsung kebingungan dan cemas serta takut yang luar biasa.
Ia juga memikirkan konsekuensinya. Lorenzo tidak akan terus patuh, karena janji itu hanya berlaku sampai 20 tahun saja. Dan sekarang masih sangat jauh.
Berada di ruangan pribadinya, Emilio langsung mengusap kasar kepalanya dan bertumpu di meja kerjanya seraya memejamkan mata.
(“Atas nama ibu dan de Santos. Aku berjanji akan mengabdi kepada ayahku, Emilio de Santos selama 20 tahun sebagai penebusan dosa atas pembunuhan yang kulakukan pada ibuku dan permintaan maaf ku untuk keluargaku.”)
Suara Lorenzo dikala remaja saat itu, kembali muncul diingatan Emilio. Tentu saja dia merasa bersalah, karena semua itu hanyalah rencana belaka untuk menjadikan putranya sendiri sebagai orang yang mengabdi hanya karena kebodohannya dulu.
Emilio memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam dan mencoba untuk tidak mengingat pembunuhan yang bahkan tidak dilakukan oleh Lorenzo.