Arkan Alesandro Knight adalah seorang King Mafia dari organisasi Black Eclipse yang memiliki reputasi mematikan, namun ia menyimpan satu rahasia konyol: ia menderita Mysophobia akut. Baginya, kuman lebih berbahaya daripada peluru. Hidupnya yang steril dan kaku berubah total ketika ia terjebak dalam sebuah perjodohan dengan gadis pilihan ayahnya, Evelyn Valentina Grant.
Evelyn tampil sebagai sosok "My Nerdy Wife"—gadis culun dengan kacamata tebal, daster bunga-bunga yang aneh, dan sifat ceroboh yang luar biasa. Namun, di balik penyamaran konyolnya, Evelyn sebenarnya adalah Queen EVG, seorang peretas kelas dunia dan pemimpin organisasi spionase yang sangat tangguh. Ia sengaja berakting bodoh untuk melindungi identitasnya sekaligus memata-matai Arkan.
penasaran dengan cerita mereka jangan lupa mampir yapp🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Limusin hitam itu membelah jalanan Zurich dengan kecepatan tinggi. Di dalamnya, keheningan terasa lebih mencekam daripada suara tembakan di gala tadi. Arkan duduk tegak, matanya terpaku pada jendela, namun pantulan bayangan Evelyn di kaca tidak lepas dari pengawasannya.
Begitu sampai di mansion, Arkan tidak membawa Evelyn ke kamar. Ia menarik pergelangan tangan Evelyn menuju lift rahasia yang turun ke lantai bawah tanah—area yang bahkan Lana pun dilarang masuk.
"T-tuan Arkan? Kita mau ke mana? Eve takut kegelapan, nanti ada hantu kuman yang gigit Eve!" cicit Evelyn, mencoba mempertahankan persona culunnya meski tangannya sudah siap untuk melakukan teknik pelepasan sendi jika Arkan bertindak kasar.
Ting!
Pintu lift terbuka, memperlihatkan sebuah ruangan serba putih dengan dinding kaca kedap suara. Di tengahnya hanya ada dua kursi ergonomis dan sebuah mesin yang dipenuhi kabel-kabel halus.
"Selamat datang di ruang investigasi pribadiku, Evelyn," ucap Arkan dingin. Ia melepaskan jasnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya ia gulung hingga siku. "Duduk. Kita akan melakukan tes kebohongan paling steril yang pernah ada."
"Tuan Arkan, ini apa? Eve bukan robot! Eve cuma mau bobo pakai daster!" Evelyn meronta kecil saat **Samuel** mulai memasangkan sensor di ujung jarinya.
Arkan duduk di hadapannya, menatapnya dengan mata elang. "Samuel, aktifkan sensornya. Jika dia berbohong, semprotkan cairan disinfektan rasa lemon ke wajahnya sebagai peringatan."
Samuel terkekeh. "Siap, Bos. Sensor aktif."
"Pertanyaan pertama," Arkan memajukan tubuhnya. "Siapa yang menembak dua orang bertopeng di gala tadi?"
Evelyn menelan ludah. Ia menggunakan teknik pernapasan EVG untuk memperlambat detak jantungnya agar tetap di angka 60 bpm. "P-penjahatnya terpeleset, Tuan! Eve kan sudah bilang!"
Bzzzt! Lampu merah menyala.
Srattt! Cairan lemon menyemprot wajah Evelyn.
"Aduh! Pedas! Tuan jahat!" jerit Evelyn (setengah akting, setengah beneran kesal).
"Jangan bohong. Sekali lagi. Siapa yang menembak mereka?" suara Arkan naik satu oktav.
"Mungkin... hantu pelindung keluarga Knight? Eve cuma merem dan berdoa tadi!" jawab Evelyn cepat.
Bzzzt! Srattt! Semprotan kedua mengenai kacamata tebalnya.
Tepat saat Arkan hendak menanyakan pertanyaan ketiga yang lebih krusial, suara dentuman keras terdengar dari pintu lift. Kenan terlempar masuk ke dalam ruangan, bukan karena dipukul, tapi karena didorong oleh sekelompok pria berjas hitam yang membawa nampan berisi... makanan panas.
"BERHENTI! JANGAN SAKITI ADIK KECILKU YANG IMUT DAN CULUN INI!"
Franco Adrian Grant melangkah masuk dengan kacamata hitam, diikuti oleh dua pengacara yang membawa koper besar. Franco langsung berdiri di antara Arkan dan Evelyn.
"Arkan! Kau menculik adikku ke laboratorium gila ini? Apa kau mau mengubahnya jadi sabun batangan?!" teriak Franco dramatis.
Arkan berdiri, wajahnya menggelap. "Franco, ini urusan rumah tanggaku. Istrimu... maksudku istriku ini, menyimpan rahasia besar tentang insiden penembakan tadi."
Franco tertawa meremehkan. Ia mengambil sebuah cilok dari nampan yang dibawa anak buahnya dan memakannya dengan santai. "Rahasia apa? Evelyn itu bahkan takut melihat kecoak mati! Dia pasti cuma refleks melempar sepatu hak tingginya dan kebetulan kena mata penjahatnya. Kau saja yang terlalu paranoid karena kebanyakan hirup uap alkohol."
"Dia berbohong pada mesin ini, Franco," tunjuk Arkan pada monitor.
Franco melirik monitor itu, lalu melirik Evelyn yang sedang mengusap air lemon di wajahnya. Franco segera memberi kode mata pada Evelyn.
"Mesinmu ini rusak! Lihat ini," Franco mencabut salah satu kabel sensor dari jari Evelyn dan menempelkannya ke dadanya sendiri. "Tanya padaku, apakah aku tampan?"
Arkan memutar bola matanya. "Apa kau tampan?"
"Sangat tampan, melebihi dewa Yunani," jawab Franco mantap.
Bzzzt! Srattt! Wajah Franco langsung basah kuyup oleh semprotan lemon.
Samuel dan Kenan menahan tawa sampai bahu mereka berguncang. Evelyn hampir saja tertawa lepas jika tidak ingat posisinya.
"Lihat! Mesinmu rusak! Dia bilang aku tidak tampan!" teriak Franco sambil mengelap wajahnya dengan sapu tangan sutra. "Sekarang, lepaskan adikku. Daddy Stefan sudah menunggu di rumah untuk makan malam keluarga. Jika kau tidak melepaskannya, aku akan menyuruh Daddy menarik seluruh investasi Grant Group dari proyek sterilisasi kotamu!"
Arkan mengepalkan tangannya. Ia tahu Franco hanya mencari alasan, tapi ia belum punya bukti fisik yang kuat bahwa Evelyn adalah Queen EVG.
"Kenan, lepaskan sensornya," perintah Arkan akhirnya.
Evelyn langsung melompat dan memeluk lengan Franco. "Abang! Tuan Arkan galak! Eve mau pulang ke rumah Daddy aja!"
Franco mengelus kepala Evelyn. "Tenang, Dek. Nanti Abang belikan pabrik kacamata yang baru. Ayo kita pergi."
Saat Evelyn berjalan melewati Arkan, Arkan menarik ujung gaun merah Evelyn. Ia berbisik sangat pelan, hanya untuk telinga Evelyn. "Kau bisa pergi dengan abangmu hari ini. Tapi ingat, aroma mesiu di tanganmu tidak akan hilang hanya dengan sekali mandi. Aku akan menemukan siapa kau sebenarnya, My Nerdy Wife."
Evelyn hanya menjulurkan lidahnya sedikit saat Arkan tidak melihat, lalu mengikuti Franco keluar.
Di dalam mobil Franco, suasana santai tadi langsung berubah. Franco mematikan musik dan menatap Evelyn lewat spion.
"Kau ceroboh, Eve. Arkan itu punya hidung anjing pelacak kuman. Kenapa kau menembak di depan matanya?"
Evelyn menyandarkan kepalanya ke jendela, melepas kacamata tebalnya, memperlihatkan mata yang sangat lelah namun tajam. "Sebastian hampir menembaknya, Bang. Aku tidak punya pilihan. Lagipula... rasanya aneh melihat pria higienis itu dalam bahaya."
Franco terkekeh. "Kau mulai jatuh cinta pada si Pangeran Disinfektan itu?"
"Jangan konyol. Aku cuma tidak mau investasiku mati sebelum aku sempat merampok brankas rahasianya," elak Evelyn, meski pipinya sedikit memanas.
"Ngomong-ngomong, Bang," lanjut Evelyn. "Cilok yang tadi... beneran steril?"
"Tentu saja tidak. Itu beli di pinggir jalan depan bandara. Arkan pasti akan mandi tujuh hari tujuh malam kalau tahu meja investigasinya kena kuah kacang kotor itu."
Keduanya tertawa terbahak-bahak di dalam mobil, sementara di mansion, Arkan sedang menatap layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV gala. Ia memperlambat rekaman saat Evelyn bergerak dalam kegelapan.
"Gerakan itu... itu bukan gerakan orang yang ketakutan," gumam Arkan. Ia mengambil botol semprotan disinfektannya, namun kali ini ia tidak menyemprot udara. Ia hanya menatap botol itu, teringat bagaimana Evelyn memeluk lehernya tadi.
"Samuel, periksa semua catatan penerbangan dari panti asuhan tempat Evelyn tinggal sepuluh tahun lalu. Aku ingin tahu siapa yang melatihnya menjadi 'hantu' secepat itu."
Arkan menarik napas dalam. Di ruang investigasi yang dingin itu, ia baru menyadari satu hal: ia tidak hanya ingin membongkar rahasia Evelyn, ia mulai terobsesi pada setiap kepingan puzzle yang bernama Evelyn Valentina Grant.