Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!
Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Uap hangat memenuhi ruangan kaca itu saat Damian mulai bergerak mendekat. Tangannya yang besar dan masih basah perlahan menyentuh kancing kemeja piyama Valerie satu per satu. Valerie hanya bisa berdiri tegak, meski ia tidak bisa menyembunyikan getaran halus di sekujur tubuhnya.
Satu per satu kancing terlepas, menyingkap kulit putihnya hingga bagian atas tubuhnya polos, hanya menyisakan bra renda yang membungkus dadanya.
"Lepaskan celanamu," perintah Damian rendah, suaranya hampir tenggelam oleh suara air shower.
Tanpa perlawanan, Valerie menuruti perintah itu.
Ia menanggalkan celana panjang piyamanya hingga kini tubuhnya hanya dibalut pakaian dalam tipis. Ia merasa sangat kecil di bawah tatapan Damian yang intens.
Pria itu memperhatikannya dari kepala hingga ujung kaki, seolah sedang meneliti setiap lekuk tubuh Valerie yang ramping namun berisi.
Damian tidak bisa menyangkal dalam hati; gadis ini memiliki proporsi tubuh yang sangat menggoda.
"B-biarkan aku memakai ini," gumam Valerie canggung, tangannya refleks menutupi bagian dadanya meski ia tahu itu sia-sia. "Meskipun kau sudah pernah melihat... bagian atasku, tapi mandi telanjang bulat bersamamu adalah hal yang terlalu memalukan."
Damian tidak membantah. "Baiklah, terserah kamu saja." jawabnya singkat.
Namun, perhatian Damian teralihkan. Matanya kembali terpaku pada pangkal paha Valerie, di mana tato kecil itu berada. Ia sengaja mengulurkan tangan, jemarinya nyaris menyentuh tinta permanen di kulit mulus itu.
"Tatomu bagus," puji Damian, suaranya terdengar lebih dalam. "Kapan kau membuatnya?" tanya Damian, sebuah pertanyaan jebakan untuk memastikan kebenaran yang baru saja ia temukan.
Valerie mendongak, menatap mata Damian dengan jujur. "Tato ini sudah ada sejak aku dilahirkan. Ayahku yang membuatnya," jawabnya polos tanpa tahu bahwa jawaban itu adalah kunci yang membuka kotak pandora masa lalunya.
Damian hanya mengangguk pelan, menyembunyikan gejolak emosi di balik wajah datarnya yang dingin. Jawaban itu sudah cukup. Keyakinannya kini bulat 100%; gadis di hadapannya ini memanglah putri Fedderick Blackwood yang ia cari selama satu dekade terakhir.
Damian tidak memberikan ruang bagi Valerie untuk menghindar. Dengan satu gerakan tegas, ia menarik tangan Valerie hingga gadis itu berdiri tepat di bawah kucuran air shower yang hangat.
Air mulai membasahi bra dan pakaian dalam tipis Valerie, membuatnya melekat ketat di kulitnya.
"Berbaliklah," perintah Damian dengan suara yang lebih dalam dari biasanya.
Valerie mengerjap, air membasahi wajahnya. "U-untuk apa?" tanyanya ragu.
"Untuk menyabunimu," jawab Damian pendek, tanpa bantahan.
Valerie terdiam. Ia merasa protesnya tidak akan berguna di hadapan pria sekeras Damian. Akhirnya, ia memutar tubuhnya, membelakangi dada bidang Damian.
Ia memejamkan mata saat merasakan tangan besar Damian yang sudah licin oleh busa sabun mulai menyentuh kulitnya.
Tangan itu mulai menjarah perlahan, dimulai dari tengkuk leher Valerie, turun ke bahunya, lalu memutar lembut di sepanjang punggungnya yang mulus hingga ke pangkal paha.
Valerie tidak bisa menyembunyikan getaran di tubuhnya; ia merasa panas-dingin secara bersamaan. Sentuhan Damian terasa begitu dominan namun anehnya memiliki sisi lembut yang membuat pertahanan Valerie perlahan meluruh.
Sementara itu, kondisi Damian tidak kalah kacau. Meskipun ia mencoba bersikap tenang, reaksi tubuhnya tidak bisa berbohong. "Amunisinya" sudah menegang sejak tadi, berdenyut menuntut pelepasan setiap kali jemarinya menyentuh kulit lembut Valerie.
"Brengsek", umpat Damian dalam hati. Napasnya mulai memburu, dan ia tahu jika ia meneruskan ini satu menit saja, ia akan benar-benar kehilangan kendali dan melanggar batas yang ia tetapkan sendiri.
Tiba-tiba, Damian menarik tangannya. "Teruskan mandimu sendiri. Aku sudah selesai," ucapnya ketus, suaranya terdengar serak dan tertahan.
Tanpa menunggu jawaban, Damian segera menyambar bathrobe hitamnya yang tergantung di dekat sana, melilitkannya ke tubuhnya yang basah, dan melangkah keluar dari kamar mandi dengan langkah terburu-buru.
Ia perlu menjauhkan diri dari Valerie secepat mungkin untuk meredakan gairahnya yang hampir meledak.
Valerie berdiri mematung di bawah kucuran air, membiarkan busa sabun di tubuhnya luruh terbawa air. Ia mengerutkan kening, menatap pintu kamar mandi yang baru saja ditutup dengan keras.
Ia merasa heran dan bingung dengan perubahan sikap Damian yang begitu mendadak—dari yang tadinya sangat mengintimidasi menjadi seolah-olah sedang melarikan diri darinya.
Di ruang makan yang luas dan mewah itu, suasana terasa begitu tenang. Damian sudah duduk di kursinya, jemarinya yang panjang menyesap cangkir kopi hitam dengan santai sementara matanya terfokus pada layar tablet yang menampilkan grafik bisnis.
Pria itu terlihat sangat karismatik dengan setelan jas mahalnya yang sempurna dan rambut yang tertata rapi.
Penampilan ini sangat berbanding terbalik dengan sosok erotis dan liar yang baru saja Valerie lihat di bawah guyuran shower tadi.
Valerie yang sudah mengenakan seragam kampusnya berjalan mendekat ke arah meja makan. Langkahnya terasa kaku dan canggung. Ia belum terbiasa dengan momen-momen intens bersama Damian yang selalu berhasil membuatnya "spot jantung".
Dalam hatinya, Valerie merutuki dirinya sendiri. Ia sangat membenci dominasi pria itu yang seolah-olah mengontrol setiap jengkal hidupnya, namun ada bagian kecil di lubuk hatinya yang anehnya mulai menikmati perhatian dan keberadaan Damian.
Perasaan kontradiktif itu membuatnya frustrasi dan bingung dengan jati dirinya sendiri.
Valerie menarik kursi kayu berukir itu dengan pelan. Di depannya sudah tersaji berbagai macam menu sarapan yang menggugah selera, mulai dari croissant hangat hingga buah-buahan segar.
Damian yang menyadari kehadiran Valerie akhirnya mengalihkan pandangan dari tabletnya. "Segera sarapan. Aku akan berangkat ke kantor sebentar lagi," ucapnya dengan nada memerintah yang khas.
Valerie menatap Damian ragu, mencoba mencari celah untuk sedikit kebebasan. "Apa... apa kita akan berangkat bersama lagi hari ini? Maksudku, aku bisa naik taksi ke kampus. Kau pasti sibuk."
Mendengar itu, Damian meletakkan cangkir kopinya dan bersandar di kursi. Ia menatap Valerie dengan tatapan tajam yang seolah mengunci pergerakan gadis itu. "Kau akan berangkat bersamaku setiap hari, Valerie. atau orang-orangku yang akan menjagamu," tegasnya tanpa ruang untuk negosiasi.
Valerie menghela napas panjang, bahunya merosot tanda menyerah. "Oh, baiklah," gumamnya pelan. Ia tidak ingin memancing perdebatan di pagi hari yang bisa berakhir dengan ancaman lain.
Valerie pun melanjutkan sarapannya dalam diam, meski pikirannya masih berkecamuk tentang bagaimana ia harus menghadapi Aiden di kampus, jika nanti ia ketahuan saat mobil mewah Damian menurunkannya tepat di depan gerbang.