NovelToon NovelToon
Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

​“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
​Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
​Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
​Tetap jadi musuh di kantor.
​Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
​Dilarang jatuh cinta!
​Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
​"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan Mencurigakan

Jingga adalah yang pertama bereaksi, meski gerakannya tampak kaku seperti robot kekurangan pelumas. Ia segera melepaskan rangkulannya dari bahu Luna. Wajahnya yang semula merah karena panas dan alergi udang, kini berubah pucat pasi.

"Tante... Tante Lastri sedang apa di sini?" suara Jingga keluar dengan nada bariton yang dipaksakan stabil, namun ada getaran panik di ujung kalimatnya.

Sinta menyambung dengan cepat, otaknya bekerja seperti mesin turbo yang dipaksa berputar maksimal. "Tante! Aduh, Tante Lastri! Benar-benar kejutan ya bisa bertemu di sini!" Sinta melangkah maju, melepaskan diri dari jangkauan Adrian dengan gerakan yang sedikit terlalu kasar hingga bosnya itu tampak terhuyung kecil.

Jeng Lastri mengernyitkan dahi. Ia menurunkan sedikit kacamata hitamnya, menatap Sinta dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu beralih ke Jingga. "Tante? Sejak kapan kamu manggil Mama dengan sebutan—"

"Tante Lastri ini calon nasabah prioritas saya, Mas Adrian!" potong Sinta dengan suara yang terlalu keras hingga beberapa karyawan di meja sebelah menoleh. Ia menoleh ke arah Adrian dengan senyum yang lebih mirip ringisan kesakitan. "Ingat kan yang pernah aku ceritakan? Beliau ini... eh, pemilik jaringan butik ternama yang sedang aku rayu untuk pindah buku tabungan ke bank kita."

Jingga segera menangkap umpan lambung Sinta. Ia melangkah mendekati ibunya, mencoba berdiri di posisi yang menghalangi pandangan Luna. "Dan Beliau juga tante jauh saya, Pak Adrian. Masih ada hubungan saudara dari pihak... sepupu ipar nenek buyut saya di Yogyakarta. Dunia memang sempit sekali ya, ternyata Tante Lastri juga calon nasabah potensial bagi Sinta."

Adrian memperhatikan interaksi itu dengan mata menyipit. Sebagai seorang manajer yang terbiasa membaca gerak-gerik bawahan, ia merasa ada sesuatu yang sangat tidak sinkron. "Tante jauh?" Adrian mengulangi kata itu dengan nada sangsi. "Tapi tadi Ibu ini bilang 'kok kalian barengan'. Memangnya Ibu tahu kalau Jingga dan Sinta bekerja di kantor yang sama?"

Keringat dingin mengalir di punggung Jingga. Ia bisa merasakan gatal-gatal di punggungnya akibat alergi udang tadi pagi makin menjadi-jadi karena stres. "Oh, itu... Tante Lastri memang tahu saya kerja di sini, dan Beliau pernah tidak sengaja melihat foto tim divisi kami di meja kerja saya. Makanya Beliau hafal wajah Sinta."

Luna, yang sejak tadi diam, akhirnya membuka suara. "Halo, Tante. Saya Luna," ia mengulurkan tangan dengan sopan, mencoba memberikan senyum termanisnya meski matanya memancarkan kebingungan. "Saya teman dekatnya Jingga. Tante cantik sekali hari ini, topinya sangat cocok."

Jeng Lastri, yang memang sangat gila pujian, sesaat lupa akan misinya untuk menginterogasi anak dan menantunya. Ia menjabat tangan Luna, matanya berbinar melihat gadis cantik di depannya. "Oh, halo Cantik. Teman dekatnya Jingga? Kok Jingga nggak pernah cerita punya teman semanis ini?"

Jingga berdeham keras, mencoba memutus percakapan itu sebelum Jeng Lastri keceplosan lebih jauh. "Iya, Ma—maksud saya, Tante, Luna memang teman kantor. Eh, bukan teman kantor, tapi teman... dekat."

"Oh, jadi ini pacarnya Jingga?" tanya Jeng Lastri dengan suara lantang, matanya melirik Sinta dengan tatapan menuntut penjelasan. Baginya, melihat menantunya dirangkul pria lain dan anaknya menggandeng wanita lain di tempat umum adalah sebuah penistaan terhadap institusi pernikahan.

"Bukan pacar, Tante. Kami sedang dalam tahap pendekatan," jawab Luna tersipu malu.

Sinta merasa dadanya sesak. Ia harus mengakhiri sandiwara berbahaya ini sebelum Adrian mengeluarkan pertanyaan yang lebih memojokkan. "Aduh, Tante Lastri, mumpung ketemu di sini, bagaimana kalau kita bicara sebentar di sana? Di dekat kafe itu. Ada program deposito bunga khusus yang mau aku tawarkan. Ini kesempatan langka lho, Tante!"

Sinta menyambar lengan Jeng Lastri, sedikit menyeretnya menjauh dari jangkauan telinga Adrian dan Luna. Jingga mengikuti dari belakang dengan langkah tergesa, setelah memberikan anggukan singkat yang kaku pada Adrian.

"Pak Adrian, Luna, maaf ya. Saya harus menemani tante saya ini sebentar. Takut Beliau tersesat di luasnya Kebun Raya ini kalau jalan sendirian," pamit Jingga.

Mereka bertiga berjalan menjauh ke arah barisan pohon kenari yang lebih sepi. Begitu merasa sudah cukup jauh dari kerumunan kantor, Sinta langsung melepas tangan ibu mertuanya dan bersandar pada batang pohon besar dengan lemas.

"Mama! Mama hampir saja membuat kami jantungan!" bisik Sinta dengan suara tertahan namun penuh penekanan.

Jeng Lastri berkacak pinggang, topi lebarnya bergoyang-goyang mengikuti gerakan kepalanya yang emosional. "Kalian ini yang kenapa! Apa-apaan tadi? Kenapa Mama dibilang tante jauh? Kenapa dibilang nasabah? Dan siapa pria ganteng yang merangkulmu tadi, Sinta? Dan kamu, Jingga! Siapa perempuan bergaun bunga-bunga yang genit itu?"

"Pelankan suaramu, Ma," perintah Jingga sambil mengawasi keadaan sekitar. "Ini acara kantor. Peraturannya wajib bawa pasangan. Kalau kami ketahuan sudah menikah, karier Sinta bisa terancam karena kebijakan nepotisme di divisi kami. Dan kalau Pak Adrian tahu saya suaminya Sinta, tamat sudah riwayat saya."

"Karier, karier, karier terus yang dipikirkan!" Jeng Lastri mengomel. "Lalu bagaimana dengan perasaan Mama melihat anak dan menantu Mama pelukan sama orang lain di depan mata sendiri? Mama tadi hampir saja teriak panggil kamu 'menantuku sayang' pas lihat kamu dirangkul pria itu, Sinta!"

Sinta memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Itu tuntutan peran, Ma. Pak Adrian itu atasan saya. Kami sedang... eh, memang sudah resmi berpacaran di mata orang kantor."

"APA?!" Jeng Lastri memekik, untungnya suaranya teredam oleh rombongan turis yang lewat. "Jadi kalian ini suami-istri atau pemain sinetron? Jingga, kamu diam saja istrimu dipacari orang lain?"

Jingga hanya bisa diam membisu, rahangnya mengeras. Kata-kata ibunya barusan menghantam bagian egonya yang paling sensitif. Sejujurnya, melihat Adrian menyeka keringat di pelipis Sinta tadi saja sudah membuat dadanya terasa panas, lebih panas dari alergi udang yang menyiksa. Namun, ia tidak punya hak untuk protes di depan publik.

"Mama mengerti tidak?" Jingga mencoba memberi pengertian. "Ini cuma sementara. Sampai kami menemukan waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya."

Jeng Lastri menggeleng-gelengkan kepala. "Mama tidak mengerti cara berpikir anak zaman sekarang. Tapi Mama beritahu ya, Jingga. Pria tadi—siapa namanya? Adrian?—cara dia menatap Sinta itu bukan tatapan bos ke anak buah. Itu tatapan pria yang ingin memiliki. Dan kamu, Sinta, hati-hati dengan perasaanmu sendiri. Jangan sampai sandiwara ini malah jadi kenyataan."

Sinta tertunduk, tidak berani menatap mata ibu mertuanya yang tajam. "Kami tahu batasannya, Ma."

"Tahu batasan apanya? Tadi itu kalau Mama tidak datang, mungkin kalian sudah foto pelukan di bawah pohon beringin itu, kan?" Jeng Lastri menghela napas panjang. "Mama ke sini karena mau kasih kejutan, tapi malah Mama yang dapat kejutan serangan jantung."

Sementara itu, di bawah pohon beringin yang tadinya menjadi lokasi foto, suasana berubah menjadi sangat dingin. Luna berdiri dengan tangan bersedekap, matanya terus menatap ke arah perginya Jingga dan Jeng Lastri.

"Mas Adrian," panggil Luna pelan.

"Ya?" Adrian menjawab singkat, ia sedang sibuk memutar-mutar ponsel di tangannya, tampak sangat terganggu.

"Apa Mas ngerasa ada yang aneh? Tadi Jingga bilang Tante itu tante jauh dari pihak sepupu ipar neneknya. Itu penjelasan yang terlalu spesifik untuk orang yang biasanya singkat kalau bicara."

Adrian menoleh ke arah Luna, menyadari bahwa ia bukan satu-satunya orang yang curiga. "Dan Sinta memanggilnya 'Tante' dengan intonasi yang terlalu... akrab. Bukan cara seorang pegawai bank menyapa calon nasabah kelas kakap. Biasanya Sinta akan sangat formal jika bicara soal pekerjaan."

Luna mengangguk setuju. "Terus, tadi Tante itu sempat mau bilang sesuatu soal 'biasanya juga'. Biasanya apa? Apa mereka sering ketemu tanpa sepengetahuan kita?"

Kecurigaan itu mulai tumbuh seperti jamur di musim hujan. Luna kembali teringat beberapa kejadian kecil di kantor. Bagaimana Jingga sering tahu apa yang Sinta makan untuk makan siang, atau bagaimana Sinta secara tidak sengaja membawa payung yang sangat mirip dengan milik Jingga minggu lalu.

"Mas Adrian," Luna berkata lagi, suaranya kini lebih rendah. "Aku merasa ada sesuatu yang mereka sembunyikan dari kita. Dan itu bukan cuma soal urusan nasabah atau keluarga jauh."

Adrian tidak menjawab, namun matanya yang tajam tetap terpaku pada titik di mana Sinta menghilang tadi. Sebagai pria yang ambisius, ia benci dibohongi. Dan sebagai pria yang sudah mulai menaruh hati pada Sinta, ia merasa ada sesuatu yang sangat mengganjal dalam dinamika antara bawahan paling berprestasinya itu dengan si dingin Jingga.

"Mungkin kita harus sedikit lebih memperhatikan mereka berdua setelah ini, Luna," ucap Adrian akhirnya. Suaranya terdengar dingin, seolah sedang merencanakan sesuatu di kepalanya.

Kembali ke tempat persembunyian mereka, Jingga dan Sinta akhirnya berhasil membujuk Jeng Lastri untuk segera pulang atau setidaknya bergabung dengan rombongan arisannya di sisi lain kebun raya.

"Ingat ya, Mama tidak mau lihat adegan mesra-mesraan lagi dengan orang asing itu! Kalau tidak, Mama sendiri yang akan bocorkan rahasia kalian ke grup WhatsApp keluarga!" ancam Jeng Lastri sebelum akhirnya pergi dengan langkah anggun yang dipaksakan.

Setelah Jeng Lastri menghilang dari pandangan, Sinta merosot duduk di akar pohon besar. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Gue nggak kuat, Jingga. Ini gila. Kita hampir saja ketahuan."

Jingga berdiri di depannya, menatap Sinta dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lu denger apa kata Mama tadi?"

Sinta mendongak. "Yang mana? Yang soal rahasia?"

"Bukan," Jingga memalingkan wajah, melihat ke arah kerumunan di kejauhan di mana Adrian dan Luna masih menunggu. "Soal cara Pak Adrian menatap lu. Mama benar. Dia nggak cuma sekadar 'akting' jadi pacar lu hari ini."

Sinta terdiam. Ia teringat bagaimana Adrian memperlakukannya seharian ini—begitu lembut, begitu perhatian. Dan ia juga teringat bagaimana ia merasa nyaman berada di dekat Adrian, sebuah kenyamanan yang berbeda dengan ketegangan konstan yang ia rasakan saat berada di dekat Jingga.

"Terus kenapa kalau dia nggak akting?" tanya Sinta balik, ada nada menantang di suaranya. "Bukankah itu yang kita mau? Biar semua orang percaya kalau gue pacarnya dia, dan lu pacarnya Luna? Dengan begitu rahasia kita aman."

Jingga mengepalkan tangannya di dalam saku celana. "Iya, lu benar. Itu yang kita mau."

Ia berbalik, berjalan meninggalkan Sinta tanpa kata-kata lagi. Namun dalam hatinya, Jingga merasakan sesuatu yang lebih menyakitkan daripada alergi udang mana pun. Ia merasa seperti seorang penonton yang dipaksa menyaksikan istrinya sendiri menjadi milik orang lain, dalam panggung sandiwara yang ia susun sendiri.

Sinta menatap punggung Jingga yang menjauh. Ia melihat betapa kakunya bahu pria itu, betapa tegas langkahnya namun terasa begitu kesepian. Ia tidak menyadari bahwa di balik pohon tidak jauh dari sana, sepasang mata milik Luna sedang memperhatikan interaksi singkat namun penuh ketegangan itu.

Luna melihat semuanya. Ia melihat bagaimana Jingga tampak begitu frustrasi, dan bagaimana Sinta tampak begitu terpukul setelah bicara berdua dengan Jingga. Dan yang paling penting, Luna melihat sebuah tatapan yang tidak seharusnya ada di antara dua rekan kerja yang mengaku tidak punya hubungan apa pun kecuali profesionalitas: sebuah tatapan yang penuh dengan kepemilikan yang terpendam.

Piknik di Kebun Raya Bogor hari itu memang memberikan udara segar, namun bagi Sinta dan Jingga, udara itu kini terasa sangat menyesakkan. Bom waktu yang mereka tanam sejak hari pertama pernikahan rahasia mereka kini mulai berdetak lebih cepat. Dan kemunculan Jeng Lastri hanyalah percikan api pertama yang akan membakar seluruh kebohongan yang telah mereka bangun dengan susah payah.

Sinta bangkit, merapikan dress-nya, dan mencoba memasang kembali topeng "Sinta si pacar Adrian" yang sempurna. Namun dalam hatinya, ia tahu bahwa setelah hari ini, semuanya tidak akan pernah sama lagi. Tatapan curiga Luna dan Adrian adalah awal dari keruntuhan benteng pertahanan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!