NovelToon NovelToon
Suami Untuk Shanum

Suami Untuk Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.

Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa! Menikah?

Mereka tahu betul betapa tertutupnya Abi, pria itu tidak pernah membawa teman kencan ke acara kampus, tidak pernah mengunggah kehidupan pribadi dan selalu menepis halus setiap upaya pendekatan. Tapi, mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja Pak Haris katakan, mereka yakin jika Abi belum memiliki kekasih.

Abi terdiam sejenak, ia melihat cincin perak yang melingkar di jarinya, simbol ikatannya dengan Shanum. Ingatan tentang wajah istrinya yang masih mengantuk saat merapikan dasinya tadi pagi mendadak melintas dan membuat sorot matanya yang tajam sedikit melunak, meski hanya sepersekian detik.

​"Oh, ini," ucap Abi pelan.

Abi tidak menarik tangannya atau mencoba menyembunyikannya. Sebaliknya, ia justru memutar sedikit cincin itu dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang tampak begitu posesif dan protektif.

"Saya baru saja melangsungkan pernikahan beberapa hari yang lalu, Pak Haris," jawab Abi tanpa ada keraguan sedikitpun.

​"Apa! Menikah?" seru Pak Haris heboh dan membuat beberapa staf administrasi di ambang pintu ikut menoleh.

"Diam-diam saja ya! Tidak ada undangan, tidak ada pengumuman di grup dosen. Wah, ini pelanggaran protokol pertemanan kita, Pak Abi!" lanjut Pak Haris.

"Saya memang menikah secara sederhana dan hanya dihadiri keluarga saja," ucap Abi.

"Jadi, Pak Abi yang izin beberapa waktu itu buat nikah?" tanya Pak Yazid rekan Dosen di fakultas teknik.

"Iya, Pak," jawab Abi.

Bu Yessi yang duduk tak jauh dari sana memberanikan diri bertanya, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Selamat, Pak Abi... kalau boleh tahu, istrinya orang mana ya? Rekan sejawat atau...?" tanya Bu Yessi.

​Abi menatap Bu Yessi dengan tatapan yang kembali dingin namun tetap sopan, ​"Bukan dari kalangan akademisi, Istri saya perempuan biasa yang sangat sederhana," jawab Abi singkat.

​"Pasti cantik sekali sampai bisa menaklukkan gunung es seperti Pak Abi," timpal Pak Haris sambil menepuk-nepuk bahu Abi.

​Abi hanya tersenyum tipis,senyum yang tidak sampai ke mata bagi orang lain, namun di dalam hatinya, ia merasa bangga. "Kecantikannya bukan untuk konsumsi publik, Pak Haris. Dia lebih suka di rumah," balas Abi telak, yang secara tidak langsung menutup peluang siapa pun untuk bertanya lebih detail.

Beberapa saat kemudian, rapat pun akhirnya berakhir, tepat saat azan Zuhur berkumandang dari masjid kampus. Kerumunan dosen mulai membubarkan diri, namun bisik-bisik mengenai status baru Abi masih terasa panas di udara koridor rektorat.

​Abi merapikan laptop dan buku agendanya ke dalam tas kulit hitamnya ia tidak menghiraukan tatapan penasaran dari rekan sejawatnya, termasuk Bu Yessi yang masih tampak mematung di sudut ruangan. Bagi Abi, pengakuan singkat tadi sudah lebih dari cukup, ia telah menunjukkan bendera kepemilikannya di depan publik kampus.

​"Pak Abi, tidak ikut makan siang bersama di kafetaria depan?" ajak Pak Haris sambil menyejajarkan langkah saat mereka keluar dari gedung.

"Hitung-hitung syukuran kecil, Bapak yang bayar karena baru melepas masa lajang," goda pria paruh baya itu lagi.

​Abi melirik jam tangan peraknya, pukul 12.15 dan ia tidak memiliki kelas untuk hari ini. Selain itu, sejak tadi ingatannya melayang pada sosok Shanum yang ia tinggalkan sedang terlelap di apartemen, ia membayangkan istrinya itu mungkin baru saja bangun atau mungkin sedang kebingungan mencari sesuatu di dapur.

​"Maaf, Pak Haris. Sepertinya tidak bisa," jawab Abi datar, namun kali ini ada semburat kehangatan yang tak biasa di matanya.

"Istri saya sedang di rumah sendirian, saya harus memastikan dia sudah makan siang," lanjut Abi. Pak Haris tergelak, tawanya menggema di selasar beton. "Wah, wah! Belum satu minggu, virus ingin cepat pulang sudah menyerang sistem pertahanan Pak Abi, luar biasa pengaruh Nyonya Abimana ini. Ya sudah, silakan pulang. Jangan sampai istrinya kelaparan, nanti Pak Abi yang repot!" ucap Pak Haris.

​Abi hanya mengangguk tipis sebagai salam perpisahan, ia mempercepat langkahnya menuju area parkir. Di dalam mobil Mercedes-Benz-nya yang dingin, ia segera meraih ponsel. Jemarinya dengan lincah membuka aplikasi pesan dan mencari kontak bernama Istriku yang baru ia simpan semalam.

Abi menatap layar ponselnya dengan kening berkerut, ikon lingkaran hijau yang biasanya muncul secara otomatis di samping kontak baru tidak berubah. Ia mencoba memuat ulang daftar kontaknya beberapa kali, namun hasilnya nihil.

"Apa Shanum salah masukin nomornya?" tanya Abi pelan.

Abi memeriksa kembali digit demi digit nomor yang diketik Shanum semalam dan semuanya tampak benar, Abi memutuskan untuk segera pulang dan ia harus bertanya pada Shanum.

Abi pun meletakkan ponselnya di phone holder dashboard dan mulai menjalankan mobil keluar dari area kampus, pikirannya melayang pada sosok istrinya yang sudah ia rindukan.

​Sementara itu, Shanum baru saja menyelesaikan salat Zuhur. Tubuhnya terasa jauh lebih segar setelah tidur pagi yang cukup lama, meski rasa pegal di pinggangnya masih sesekali menyapa, pengingat manis akan kejadian semalam.

Shanum berjalan menuju dapur, kali ini dengan langkah yang lebih percaya diri, ia membuka kulkas dan mengeluarkan bahan-bahan yang ia beli kemarin.

​"Mas Abi bilang kalau pulangnya siang... aku harus masak sesuatu yang segar," gumam Shanum.

​Shanum memilih untuk membuat sayur asem dengan bumbu yang medok, ditambah sambal terasi dan ikan asin jambal roti yang aromanya pasti akan menggugah selera. Dengan telaten, ia memotong kacang panjang, labu siam dan jagung manis.

Kali ini, ia tidak lagi takut dengan kompor induksi. Ia menekan tombol power tanpa ragu, mengatur suhunya dan tersenyum saat mendengar bunyi bip yang menandakan alat itu mulai bekerja. ​Saat ia sedang asyik mengulek sambal di cobek batu yang sengaja ia beli kemarin, suara pintu depan yang terbuka mengejutkannya.

​Shanum menoleh cepat dan sosok Abi muncul di ambang pintu, kemeja biru navy-nya sedikit kusut di bagian lengan yang digulung, namun wajahnya tampak jauh lebih rileks daripada saat ia berangkat tadi pagi.

​"Mas Abi? Sudah pulang?" tanya Shanum ceria, ia meletakkan ulekan dan segera menghampiri suaminya.

​Abi tidak langsung menjawab, ia tertegun di posisinya, ia dapat menghirup aroma terasi bakar dan asam jawa yang memenuhi udara apartemennya yang biasanya hanya berbau pengharum ruangan. Pemandangan Shanum dengan celemek bunga-bunga di atas gamisnya, wajah yang sedikit berkeringat namun cerah, membuat Abi senang.

​Shanum meraih tangan Abi, mencium punggung tangannya dengan takzim. Namun, sebelum ia sempat menarik tangannya, Abi justru menarik pinggang Shanum dan membawa tubuh mungil itu masuk ke dalam dekapannya yang hangat di ruang tengah.

​"Mas... Aku bau sambal, nanti baju Mas bau juga loh," protes Shanum lembut, meski ia membiarkan kepalanya bersandar di dada Abi.

"Saya tidak peduli," balas Abi serak.

Abi mengecup puncak kepala Shanum lama, "Kenapa kamu tidak punya WhatsApp? Saya tadi mau kirim pesan tapi nomor kamu tidak terdaftar," tanya Abi.

​Shanum mendongak, matanya mengerjap polos. "Apa itu... wasap, Mas? Ponselku cuma bisa buat SMS sama telepon aja, apa aku harus punya itu?" tanya Shanum.

.

.

.

Bersambung.....

1
Eva Tigan
Hukumannya enak kok..Shanum malah jadi pengen lebih itu..dan sebaiknya dilakukan di rumah saja😄
Asni Kenedy
ahhh ikut baperr
mamayasna
shanum ooo shanumm
Eva Tigan
Kasi ponsel baru buat istrinya Mas Abi..😄
Eva Tigan
Pak Dosen dan shanum sama sama baru buka segel.
pasti keduanya akan merasa kecanduan setelah merasakan nikmatnya Sorga Dunia😊
mamayasna
😍
Eva Tigan
mesra nya sepiring berdua..isi energi dulu nanti selesai makan dilanjutkan kegiatan romantis nya tadi 😊
mamayasna
😍😍
gemar baca
luar biasa alur ceritanya bagus, penokohan nya keren gak berlebihan, bahasa yang digunakan juga Bagus,keren pokok'e
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
mamayasna
😍😍😍
Valen Angelina
baper gak tuh🤭🤭😄😄
Valen Angelina
belajar terbuka sama suamimu ....jgn apa2 terpendam sndiri ya....
Eva Tigan
segera kasi makan itu istrinya Abi..kasihan seharian gak makan..padahal udah lebaran ini..istrinya malah puasa😊
diaul_5
love you thorrr😍
diaul_5
suka banget sama cerita author satu ini dan lebih suka lagi ttp up meskipun lebaran jan josss polll, soalnya novel yang lain g up lebaran😭😭😭
elaretaa: Terima kasih Kak🥰 Pas lebaran .asih ada draf buat up, nah habis lebaran ini belum ada draf buat up soalnya sibuk lebaran, jadi belum sempat nulis🙏🙏🙏🙏🤭
total 1 replies
dika edsel
hai assalamualaikum bestieeeee... selamat lebaran .minal'aidzin walfaidzin mohon maaf lahir batin ya...😊
elaretaa: Waalaikumsalam bestieeeee!!! selamat lebaran yaaaaaaaaa. Minal aidin wal faizin, semoga kita dipertemukan dengan Ramadan selanjutnya🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
mamayasna
semangat berkarya/Kiss/
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
dika edsel
/Heart/
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Valen Angelina
pasti tidak seindah itu pernikahan shanum kan thor...jgn kejam2 kasian dia...Uda ortua gtu masa dpat suami gtu lagi wkwkkwke🤭
mamayasna
lanjut kakaaaa
elaretaa: Siap Kakkk👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!