NovelToon NovelToon
Five Magic'S Girl

Five Magic'S Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Fantasi / Iblis
Popularitas:368
Nilai: 5
Nama Author: bsf10

5 perempuan dengan keturunan setengah Dewa Dewi yang sangat kuat dan darah mereka yang mengalir dengan kekuatan yang melumpuhkan dan petualangan yang akan mereka hadapi di negeri ajaib Euthopia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bsf10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Arsip Terlarang

Debu-debu hitam dari bayangan yang kalah masih melayang di udara Jembatan Cahaya, seperti salju yang terbakar. Vera berlutut, napasnya memburu, jemarinya mencengkeram gagang perisainya yang kini hanya tinggal separuh. Logam legendaris itu hancur, meninggalkan luka yang menganga di hati sang pelindung.

"Hah... hah... Azzura, kau gila," desis Vera. Ia mencoba berdiri, namun kakinya gemetar hebat.

Di sampingnya, Rachel menyandarkan punggung pada pilar kristal yang retak. Busurnya telah kehilangan cahaya pelangi, kembali menjadi kayu mati yang dingin.

"Luna, katakan padaku pintu itu masih bisa dibuka. Katakan padaku dia cuma sedang bersembunyi di balik dimensi."

Luna tidak menjawab. Ia berdiri mematung di titik hilangnya Azzura. Tangannya yang biasanya sedingin es kini tampak pucat pasi, gemetar tanpa henti. Di bawah kakinya, lantai kristal itu bersih—terlalu bersih. Tidak ada sisa keberadaan Azzura. Tidak ada sisa retakan.

"Itu menutupnya dari dalam," suara Luna parau, nyaris tak terdengar. "Dia memutus jembatan energinya sendiri agar kegelapan itu tidak ikut keluar."

Olivia merangkak mendekat, air mata membasahi wajahnya yang kotor oleh abu. "Tapi kita satu sistem, Luna! Jika dia memutus dirinya, bukankah itu berarti... dia tidak berniat untuk kembali?"

Hening yang menyakitkan menyelimuti mereka. Di kejauhan, menara Euthopia mulai bersinar kembali, menandakan sistem pertahanan kota telah pulih. Namun bagi mereka berempat, kemenangan itu terasa seperti kekalahan yang paling pahit.

Dibawah dimensi

Azzura memejamkan mata. Ia bisa merasakan resonansi keempat temannya di atas sana—ikatan yang masih tersisa meski sangat tipis.

Vera, Rachel, Olivia, Luna... maafkan aku.

Azzura membuka matanya, kilatan biru murni kembali menyala di pupilnya, namun kali ini bercampur dengan garis hitam tipis.

"Aku tidak akan membiarkanmu meruntuhkan rumah mereka," kata Azzura tegas. "Tapi aku juga tidak akan membiarkan kebohongan ini berlanjut."

Ia menusukkan tongkatnya ke jantung Sang Penenun—bukan untuk membunuh, melainkan untuk menyerapnya.

"Apa yang kau lakukan?!" sosok itu berteriak kaget. "Kau tidak bisa menampung kehampaan ini! Kau akan gila!"

"Aku tidak menampungnya sendiri," Azzura menggeram, rasa sakit luar biasa mulai menjalar ke seluruh sarafnya. "Aku adalah jembatan. Dan jembatan punya dua sisi!"

Di atas Jembatan Cahaya, Luna tiba-tiba tersentak. Ia merasakan sentakan energi yang sangat liar masuk ke dalam jiwanya.

"Semuanya, pegang tanganku!" teriak Luna. "Azzura... dia tidak menutup pintu! Dia sedang mencoba menarik kita semua masuk ke dalam dirinya!"

Vera, Rachel, dan Olivia segera menyambar tangan Luna. Kelima energi itu kembali terhubung, menembus batas dimensi.

BOOM!

Cahaya putih dan hitam meledak di tengah jembatan. Saat cahaya memudar, sesosok tubuh tergeletak di tengah-tengah mereka.

Azzura.

Ia kembali. Namun, rambutnya yang semula merah kini memiliki satu garis hitam pekat di tengahnya, dan matanya... sebelah biru, sebelah abu-abu.

"Azzura!" Olivia memeluknya erat, terisak lega.

Azzura mencoba tersenyum, meski tubuhnya terasa seperti baru dihantam badai kosmik. Ia menatap teman-temannya, lalu menatap ke arah menara megah Euthopia yang berdiri sombong di kejauhan.

"Kita selamat," bisik Azzura. "Tapi perang yang sebenarnya baru saja dimulai."

Vera melihat perisainya yang hancur, lalu menatap Azzura. "Apa yang terjadi di bawah sana?"

Azzura berdiri perlahan, dibantu oleh Luna. Ia menatap menara itu dengan pandangan yang tidak lagi sama.

"Kita telah melindungi sebuah kebohongan besar, Vera," kata Azzura dingin. "Dan mulai sekarang, kita akan mencari kebenarannya—bersama-sama."

Keputusan telah diambil. Cahaya putih yang menyilaukan di Jembatan Cahaya perlahan memudar, meninggalkan keheningan yang menyesakkan. Azzura berdiri di tengah rekan-rekannya, namun auranya tidak lagi murni biru safir. Ada semburat hitam yang berdenyut di ujung jubahnya—sebuah sisa dari kehampaan yang ia telan.

Vera mencoba menyentuh bahu Azzura, namun tangannya terhenti saat melihat mata kiri Azzura yang kini berwarna abu-abu mati.

"Azzura... kau tidak apa-apa?"

Azzura tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap ke arah Menara Mageia, pusat gravitasi sekaligus sumber kekuatan seluruh Olympus Baru yang menjulang angkuh di cakrawala.

"Kita harus masuk ke sana," bisik Azzura. Suaranya terdengar ganda, seolah ada bisikan lain yang mengikuti nadanya. "Ke dalam Arsip Terlarang di dasar menara. Semua jawaban yang kulihat di bawah sana... ada di sana."

​Malam itu, Euthopia merayakan "kemenangan" atas serangan Vanguard. Kembang api energi meledak di langit, namun di lorong-lorong belakang Menara Mageia, lima bayangan bergerak dalam diam.

​"Rachel, matikan sensor termal di gerbang barat," perintah Azzura lewat komunikasi batin.

​Rachel, yang kini menggunakan busur kecil pendek untuk jarak dekat, berada di atas atap. Jarinya memetik dawai cahaya tipis. Zap! Seketika, bola mata mekanis yang mengawasi gerbang meredup. "Berhasil. Kalian punya waktu tiga puluh detik sebelum sistem melakukan reboot."

Vera memimpin di depan, namun tanpa perisai besarnya, ia merasa telanjang. Ia hanya membawa belati pendek yang dibuat dari sisa patahan perisainya. "Aku tidak suka ini. Merayap seperti pencuri di rumah sendiri."

​"Ini bukan rumah kita lagi, Vera," Luna menyahut dingin. Ia berjalan paling belakang, meninggalkan jejak embun beku tipis yang segera ia hapus dengan lambaian tangan. "Ini adalah panggung sandiwara."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!