Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Kegelapan di Basement 7 bukan lagi sekadar ketiadaan cahaya. Ia adalah entitas yang hidup, sesuatu yang tebal, lembap, dan berbau seperti ribuan tahun sejarah yang membusuk di bawah fondasi kota. Di ruangan melingkar yang luas ini, hukum alam terasa bengkok. Langit-langit beton yang tinggi tampak berdenyut, dialiri oleh ribuan kabel serat optik yang terjalin dengan akar-akar kayu hitam, menyerupai jaringan saraf raksasa milik monster purba yang sedang tertidur.
Di pusat ruangan, di atas Sumur Kencana yang menganga seperti mulut raksasa, tubuh Hendrawan tergantung lemas. Namun, itu bukan lagi raga manusia. Kulitnya telah berubah menjadi lapisan kayu yang keras dan mengilat, sementara wajahnya hanya menyisakan satu mata emas yang memancarkan cahaya predator. Ribuan sulur kecil merambat keluar dari pori-porinya, terhubung langsung ke sistem server gedung, menjadikan setiap detak jantungnya sebagai perintah bagi seluruh Menara Kencana.
"Nirmala... kau merasa kedinginan?" suara Hendrawan menggema, bukan dari mulutnya, melainkan dari setiap sudut dinding beton. "Itu adalah rasa takutmu yang mencoba membeku. Kau membawa garam ke tempat yang hanya mengenal beton dan darah. Kau pikir kau bisa menang?"
Nirmala berdiri di tepi retakan lantai, tubuhnya memancarkan pendaran biru samudra yang dingin. Ia tidak lagi menggigil. Di dalam dadanya, Biji Purba berdenyut seirama dengan deburan ombak laut selatan yang hanya bisa ia dengar di dalam kepalanya. Kristal garam telah merambat naik dari leher hingga menutupi sebagian pipi kanannya, membuat wajahnya tampak seperti karya seni porselen yang retak.
"Aku tidak datang untuk menang Hendrawan." suara Nirmala terdengar berat, berlapis-lapis seperti suara ombak yang menghantam gua karang. "Aku datang untuk menagih janji yang kau curi dari bumi."
Hendrawan meraung. Dari kegelapan di atas, ribuan kabel serat optik yang ujungnya telah bermutasi menjadi taring kayu melesat turun seperti hujan anak panah. Arka dengan sigap melompat ke depan Nirmala. Mata hijau zamrudnya berpendar terang, menciptakan perisai dari energi spora yang tersisa di udara.
Clang! Clang!
Benturan antara kabel logam kayu dan perisai energi Arka menciptakan percikan api yang menyinari ruangan sesaat. "Aki! Baruna! Bawa Ibu ke belakang pilar!" teriak Arka, suaranya parau karena debu dan uap belerang.
Aki dan Baruna segera menarik Ibu Lastri menjauh, namun mereka segera tertahan. Lantai beton di bawah kaki mereka mendadak melunak, berubah menjadi lumpur hitam yang pekat yang mencoba menelan mereka. "Jangan lepaskan zikirmu, Aki!" seru Baruna sambil mengayunkan belati tulang ikannya, memotong sulur-sulur yang mencoba melilit kaki mereka.
Nirmala melangkah maju, melewati perlindungan Arka. Ia tidak menggunakan tangan untuk menangkis. Ia memejamkan mata, membiarkan raga manusianya sepenuhnya menyerah pada kekuatan laut.
"Darah samudra... bangkitlah." bisiknya.
Seketika, uap biru yang keluar dari kulit Nirmala memadat. Udara di Basement 7 yang tadinya panas dan menyesakkan mendadak turun hingga ke titik beku. Kristal garam yang rontok dari kulit Nirmala tidak jatuh ke lantai, melainkan melayang di udara, membentuk pusaran badai salju garam yang sangat tajam.
Setiap kabel atau akar yang mencoba mendekat seketika membeku menjadi putih, lalu pecah berkeping-keping sebelum sempat menyentuh Nirmala. Ia berjalan dengan tenang, layaknya penguasa laut yang membelah air.
Arka menatap punggung Nirmala dengan perasaan hancur. Ia melihat bagaimana jemari Nirmala perlahan-lahan kehilangan tekstur dagingnya, berubah menjadi kristal biru transparan yang keras.
"Nir! Berhenti! Jika kau terus menggunakan kekuatan itu, kau tidak akan bisa kembali!" Arka mencoba meraih tangan Nirmala, namun ia tersentak mundur. Dingin yang terpancar dari Nirmala bukan lagi sekadar suhu rendah, itu adalah dingin yang menghapus eksistensi hidup.
Nirmala menoleh sedikit. Matanya kini sudah tidak memiliki pupil. Hanya ada warna putih keperakan yang cemerlang, memantulkan bayangan Arka yang tampak sangat kecil dan rapuh.
"Nirmala..." Arka menyebut nama yang ia simpan dalam hati, mencoba memanggil jiwa gadis itu kembali. "Nirmala, lihat aku! Jangan biarkan laut menelanmu sepenuhnya!"
Nirmala tidak menjawab. Sebagian darinya masih mendengar suara Arka, namun suara itu tertutup oleh deru ombak yang menuntut pengorbanan. Di dalam benaknya, ia melihat wajah Penguasa Laut yang menunjuk ke arah jantung Hendrawan.
Hendrawan yang melihat kekuatannya dipatahkan oleh garam mulai panik. Ia memerintahkan seluruh sistem gedung untuk memompa cairan nutrisi merah dalam jumlah besar ke Basement 7. Dinding-dinding ruangan mulai mengeluarkan cairan tersebut, mencoba menenggelamkan mereka dalam kolam darah dan limbah.
"Kau pikir garammu cukup untuk menetralkan seluruh kota ini?" tawa Hendrawan pecah, terdengar gila.
Nirmala menatap pipa-pipa air raksasa yang melintas di langit-langit ruangan. Sebuah ide muncul dari insting purbanya. "Gedung ini adalah pohonmu, Hendrawan. Dan pohon tidak bisa hidup jika akarnya meminum garam."
Nirmala menghantamkan telapak tangannya ke lantai beton. Seketika, seluruh energi biru di tubuhnya mengalir masuk ke dalam struktur bangunan. Ia tidak menyerang Hendrawan secara langsung, melainkan menyerang "pembuluh darah" gedung itu.
Di atas sana, di lobi mewah dan kantor-kantor Menara Kencana, terjadi kekacauan. Air di seluruh keran, dispenser, dan sistem pemadam api tiba-tiba berubah menjadi air laut yang sangat pekat dan asin.
Akar-akar Sandiwayang yang bersembunyi di balik dinding-dinding mewah seketika berdesis, mengerut, dan meledak karena mengalami dehidrasi ekstrem akibat garam.
"Arrrggghhh!" Hendrawan menjerit kesakitan. Tubuh kayunya mulai retak. Karena ia menyatu dengan gedung, setiap inci kerusakan pada Menara Kencana dirasakan langsung oleh jiwanya. Garam Nirmala merambat lewat pipa, masuk ke dalam sistem saraf elektroniknya, dan mulai membakar akarnya dari dalam.
Ruangan Basement 7 mulai bergetar hebat. Sumur Kencana di tengah ruangan mendadak mengeluarkan suara gemuruh yang dahsyat. Air laut yang dingin dan jernih mulai meluap dari dalam sumur, seolah-olah ada pintu dimensi yang terbuka langsung ke dasar palung laut selatan.
Air itu naik dengan sangat cepat, menelan lumpur hitam dan limbah merah. Dalam hitungan detik, Basement 7 berubah menjadi kolam raksasa. Anehnya, air itu tidak membasahi pakaian Arka atau Aki, namun ia terasa sangat berat dan mematikan bagi Hendrawan.
Nirmala melayang di tengah ruangan, rambutnya yang putih melambai-lambai di dalam air seperti rumput laut. Ia mendekati raga Hendrawan yang kini sudah tidak berdaya, terikat oleh rantai-rantai air yang diciptakan Nirmala.
"Satu nyawa untuk satu kesembuhan..." suara Penguasa Laut menggema di telinga Nirmala. "Berikan dia pada laut, dan kutukanmu akan berakhir. Namun ingat, apa yang sudah menjadi milik samudra, tidak akan pernah bisa kembali ke daratan."
Nirmala menatap Hendrawan yang menatapnya dengan mata emas yang memudar. Di saat yang sama, ia melihat Arka yang berenang susah payah di air yang semakin tinggi, mencoba mencapainya.
"Nir! Jangan!" teriak Arka di bawah air, gelembung-gelembung udara keluar dari mulutnya.
Nirmala harus memilih. Jika ia menghancurkan Hendrawan sekarang, ia akan memenuhi kontraknya dan selamat, namun ledakan energinya akan meruntuhkan seluruh gedung ini dan menimbun Arka, Ibunya, dan Aki di bawah jutaan ton beton. Namun jika ia menahan kekuatannya, Hendrawan akan bangkit kembali dan laut akan mengambil nyawa Nirmala sebagai gantinya.
Nirmala meneteskan air mata terakhirnya. Air mata itu tidak berubah menjadi garam, melainkan tetap cair, jatuh dan menyatu dengan air laut di sekelilingnya.
"Maafkan aku Arka" bisik Nirmala dalam hati.
Nirmala tidak meledakkan energinya ke luar. Sebaliknya, ia menarik seluruh air laut di ruangan itu masuk ke dalam dirinya sendiri, menciptakan pusaran air raksasa yang menyedot raga Hendrawan masuk ke dalam Sumur Kencana. Ia memfokuskan seluruh daya hancurnya ke bawah, ke dasar sumur, untuk memastikan hanya Hendrawan yang hancur.
Akibatnya, raga Nirmala mulai retak hebat. Cahaya biru memancar dari retakan-retakan di kulitnya.
"NIRMALA!"
Arka berhasil menggapai tangan Nirmala tepat saat air mulai surut dengan cepat masuk ke dalam sumur. Namun, tangan yang ia genggam bukan lagi tangan manusia yang hangat. Tangan itu terasa seperti batu karang yang dingin dan tajam.
Basement 7 mendadak sunyi. Air menghilang secepat ia datang, meninggalkan ruangan yang kini bersih dari limbah, namun dipenuhi dengan endapan garam putih yang tebal seperti salju. Hendrawan telah lenyap, ditarik ke dalam palung abadi melalui sumur tersebut.
Nirmala jatuh berlutut di atas tumpukan garam. Setengah tubuhnya kini telah berubah menjadi kristal biru statis. Ia tidak bergerak. Nafasnya sangat lambat, dan setiap hembusan nafasnya mengeluarkan uap es.
Arka memeluk tubuh yang mulai membatu itu, menangis dalam diam di tengah kegelapan basement yang kini hanya diterangi oleh cahaya samar dari tubuh Nirmala.
"Kau berhasil, Nir..." bisik Arka parau. "Tapi... kau ada di mana?"
Di sudut ruangan, Aki dan yang lainnya hanya bisa terpaku. Mereka selamat, Menara Kencana telah dibersihkan, namun harga yang harus dibayar terasa terlalu mahal. Di atas mereka, fajar mulai menyingsing di Jakarta, namun bagi mereka di Basement 7, waktu seolah-olah telah berhenti selamanya.