NovelToon NovelToon
Pucuk Indah Harapan

Pucuk Indah Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Karir
Popularitas:878
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nara yang Mulai Ragu

Pagi itu, cahaya matahari yang menerobos celah gorden tidak hanya membawa kehangatan, tapi juga rasa cemas yang mendalam bagi Nara. Ia terbangun di atas ranjang besar milik Arga dengan posisi jantung yang masih berdegup tidak karuan. Ingatannya langsung melayang pada kejadian dini hari tadi—saat ia berakhir terduduk di lantai samping sofa, membiarkan tangannya digenggam oleh Arga yang tertidur pulas.

Nara melirik ke arah sofa. Kosong. Arga sudah bangun lebih dulu, seperti biasanya.

Ia segera duduk dan memijat pelipisnya. Kesepakatan di atas kertas yang mereka buat di kafe waktu itu kembali terbayang di benaknya. Poin Pertama: Tidak ada keterlibatan emosional.

"Sial," umpat Nara pelan. "Kenapa jadi serumit ini?"

Ia mulai ragu. Bukan ragu pada Arga, melainkan ragu pada dirinya sendiri. Nara yang selalu membanggakan logikanya, kini merasa benteng pertahanannya mulai retak. Kopi yang dibawakan Arga semalam, tatapan pria itu saat memberikan selimut, dan cara tangan Arga menggenggamnya... semuanya terasa terlalu nyata untuk sekadar disebut 'sandiwara demi orang tua'.

Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuyarkan lamunannya. Arga keluar dengan pakaian olahraga yang sudah basah oleh keringat. Ia tampak habis berlari di *treadmill* atau keliling kompleks.

"Sudah bangun?" tanya Arga datar, seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi. Ia mengambil botol air mineral di atas meja.

Nara menatapnya, mencoba mencari jejak kelembutan yang ia rasakan semalam. Tapi tidak ada. Arga kembali menjadi Arga yang kaku, yang robotik, yang prinsipil.

"Sudah," jawab Nara pendek. Ia bangkit dan merapikan sprei dengan gerakan cepat. "Revisi desain sudah aku kirim ke emailmu jam tiga pagi tadi. Kamu bisa periksa sebelum kita berangkat."

Arga berhenti minum, menatap punggung Nara sejenak. "Saya sudah membacanya tadi subuh."

Nara menoleh. "Lalu? Masih mau memaksakan konsep industrial yang dingin itu?"

Arga terdiam beberapa detik, meletakkan botol airnya dengan pelan. "Ada beberapa poin yang... masuk akal. Saya akan mempertimbangkannya saat rapat internal nanti."

Mendengar kata 'pertimbangkan' dari mulut seorang Arga Abimanyu adalah sebuah kemenangan besar, namun Nara tidak merasa menang. Ia justru merasa semakin bingung. Jika Arga mulai melunak pada desainnya, apakah itu berarti Arga juga mulai melunak padanya? Dan jika itu terjadi, bagaimana dengan kesepakatan mereka?

"Arga," panggil Nara saat pria itu hendak masuk kembali ke kamar mandi untuk mandi.

"Ya?"

"Tentang kesepakatan kita... kamu masih ingat poin tentang kehidupan pribadi, kan?"

Arga mengerutkan dahi, menatap Nara dengan tatapan menyelidik. "Tentu. Kenapa? Kamu mau berkencan dengan Rio?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Arga, dingin dan penuh sindiran. Nara tersentak. Rasa hangat yang sempat muncul tadi malam menguap begitu saja, digantikan oleh rasa kesal yang familier.

"Bukan urusanmu kalaupun iya, kan? Itu poin dalam kontrak kita," balas Nara sengit.

Arga mengepalkan tangannya di samping paha, rahangnya mengeras. "Benar. Itu bukan urusan saya. Begitu juga dengan apa yang saya lakukan. Pastikan saja kamu tidak membawa masalah pribadi ke dalam kantor saya."

Arga masuk ke kamar mandi dan menutup pintu dengan sedikit lebih keras dari biasanya.

Nara terduduk di tepi ranjang, meremas bantal. Keraguan itu kini berubah menjadi ketakutan. Ia takut jika ia mulai mengharapkan sesuatu yang lebih dari pria sekaku Arga, ia hanya akan berakhir dengan hati yang patah di atas kertas kontrak yang dingin.

"Aku harus tetap profesional," bisik Nara pada dirinya sendiri. "Ini hanya bisnis. Ini hanya sandiwara."

Namun, saat ia mencium sisa aroma kopi semalam yang masih tertinggal di sudut ruangan, Nara tahu bahwa hatinya tidak lagi bisa diajak bekerja sama semudah itu.

---

Nara menghela napas panjang, mencoba mengusir sisa-sisa kegelisahan yang menghimpit dadanya. Ia segera bangkit, berniat untuk segera mandi dan bersiap sebelum kecanggungan di kamar ini semakin mencekik. Namun, tepat saat ia baru saja menyentuh handle pintu kamar mandi cadangan di koridor luar, ponselnya di atas nakas bergetar hebat.

Nama "Ibu" berkedip di layar.

Nara menelan ludah sebelum mengangkatnya. "Halo, Bu? Pagi-pagi banget tumben telepon."

"Pagi, Sayang! Ibu sama Tante Sarah lagi di jalan ini, mau ke rumah kalian," suara Widya terdengar sangat bersemangat di seberang sana.

Jantung Nara seolah melompat ke tenggorokan. "Ke sini? Sekarang? Tapi Arga sama Nara mau berangkat kantor, Bu."

"Lho, justru itu. Ibu tadi habis belanja di pasar subuh, beli bahan-bahan segar buat masak di rumah kalian. Kasihan Bi Sumi kalau masak sendiri terus. Kami juga mau antar beberapa barang hiasan yang kemarin ketinggalan. Tenang saja, kalian berangkat kerja saja, Ibu sama Tante Sarah yang jaga rumah. Nanti malam kita makan malam bareng ya, Ibu mau menginap semalam di sana."

"Menginap?!" Nara memekik pelan, matanya langsung tertuju pada sofa di dalam kamar yang masih berantakan.

"Iya, kenapa sih? Masak Ibu nggak boleh menginap di rumah anak sendiri? Sudah ya, ini sudah dekat gerbang kompleks. Sampai ketemu!"

Klik. Sambungan terputus.

Nara berdiri mematung. Pikirannya berputar cepat. Jika Ibu dan Tante Sarah menginap, mereka pasti akan masuk ke kamar ini kapan saja. Sofa itu—sofa yang menjadi saksi bisu "kamar terpisah" mereka—tidak boleh terlihat seperti tempat tidur darurat.

"Arga! Arga, buka pintunya!" Nara menggedor pintu kamar mandi tempat Arga berada.

Pintu terbuka seketika, memperlihatkan Arga yang baru saja selesai memakai kemejanya, masih dengan kancing yang belum sempurna. "Ada apa lagi? Saya baru saja bilang tidak usah membahas soal Rio—"

"Ibu sama Tante Sarah ke sini sekarang. Dan mereka mau menginap," potong Nara dengan nada panik.

Wajah Arga yang tadinya keras langsung berubah tegang. Ia menoleh ke arah sofa, lalu ke arah ranjang besarnya. "Menginap? Kenapa mendadak?"

"Ibu mau masak besar dan... ya Tuhan, Arga, sofa itu! Kalau mereka lihat ada bantal dan selimut di sofa setiap pagi, mereka akan tahu kita nggak tidur bareng. Kita nggak punya waktu buat beresin ini setiap saat kalau mereka di sini."

Arga mengusap wajahnya kasar. Prinsip kakunya kini berbenturan dengan kenyataan yang lebih menakutkan: interogasi keluarga besar. "Singkirkan semua bantal dan selimut dari sofa itu sekarang. Masukkan ke lemari."

"Lalu?" tanya Nara, suaranya sedikit gemetar.

Arga menatap ranjangnya, lalu menatap Nara dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Nara bisa mencium aroma sabun yang segar dari tubuh suaminya.

"Mulai malam ini, tidak ada lagi sofa," ucap Arga, suaranya rendah dan dalam. "Kalau mereka menginap, itu artinya kita benar-benar harus berbagi satu ranjang. Tanpa pengecualian."

Nara merasa dunianya seakan berputar. Berbagi satu atap saja sudah membuatnya ragu, berbagi satu kamar membuatnya cemas, dan kini... berbagi satu ranjang?

"Arga, tapi—"

"Tidak ada tapi, Nara. Ini bagian dari sandiwara yang kamu setujui," Arga mengancingkan kemejanya dengan gerakan cepat, mencoba menyembunyikan kegugupan yang sebenarnya juga ia rasakan. "Cepat rapikan sofanya. Mereka sudah di depan."

Bel rumah berbunyi nyaring, tanda bahwa badai yang sebenarnya telah tiba. Nara hanya bisa terpaku, menyadari bahwa garis yang selama ini ia jaga dengan susah payah kini benar-benar telah kabur, menyeretnya ke dalam pusaran yang tidak lagi bisa ia kendalikan.

---

Nara bergerak secepat kilat. Ia menyambar bantal dan selimut dari sofa, lalu melemparnya ke dalam lemari besar Arga dan menutup pintunya dengan paksa tepat saat langkah kaki riuh terdengar dari arah tangga.

"Arga? Nara? Ibu masuk ya!" Suara Widya terdengar ceria, disusul daun pintu yang terbuka lebar.

Widya dan Tante Sarah muncul dengan wajah berseri-seri. Tante Sarah membawa vas bunga besar, sementara Widya memegang keranjang berisi rempah-rempah pasar. Mata mereka langsung tertuju pada ranjang besar di tengah ruangan yang kini tampak—setidaknya di mata mereka—seperti ranjang pengantin yang seharusnya.

"Aduh, anak-anak Ibu sudah rapi," Widya mendekat, menepuk bahu Arga lalu beralih mengelus pipi Nara. "Tadi Ibu takut ganggu, tapi karena sudah siang, Ibu pikir kalian sudah bangun."

"Kami baru mau berangkat, Bu," ujar Arga dengan suara yang diusahakan tetap stabil, meski tangannya kini berada di pinggang Nara—sebuah gestur protektif yang mendadak ia lakukan untuk meyakinkan ibunya.

Nara sempat menegang saat merasakan tangan Arga menyentuh pinggangnya, namun ia segera memaksakan senyum. "Iya, Bu. Hari ini ada rapat penting."

Tante Sarah meletakkan vas bunganya di atas nakas, tepat di samping tempat Nara meletakkan kacamata kerjanya semalam. "Ibu sama Tante sudah belanja banyak. Nanti sore kita masak rendang kesukaan Arga dan sup ayam jahe buat Nara. Biar kalian nggak lemas kerja terus."

"Nanti malam kita menginap di kamar tamu bawah ya," tambah Widya sambil memutar tubuh, matanya memindai seisi kamar. "Eh, Arga, itu kok sofanya kosong melompong? Biasanya kamu kan suka taruh tumpukan buku atau jas di situ."

Jantung Nara berdegup kencang. Ia melirik Arga melalui sudut matanya.

"Nara yang rapikan, Bu," sahut Arga cepat, suaranya terdengar sangat meyakinkan. "Katanya kamar harus bersih kalau mau istirahat tenang. Saya ikuti saja apa kata istri."

Widya tertawa renyah, tampak sangat puas mendengar jawaban itu. "Nah, begitu dong! Memang harus dengar kata istri kalau mau rumah tangganya adem. Ya sudah, kalian berangkat sana. Biar Ibu sama Tante yang urus dapur."

Setelah serangkaian basa-basi dan pelukan yang terasa seperti ujian ketahanan mental bagi Nara, kedua ibu itu akhirnya turun ke lantai bawah. Begitu pintu kamar tertutup, Nara langsung melepaskan diri dari dekapan tangan Arga. Ia bersandar di lemari, napasnya memburu.

"Hampir saja," bisik Nara.

Arga merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut. Ia menatap Nara yang tampak masih syok. "Kita tidak punya pilihan lain untuk malam ini. Kamu dengar sendiri, mereka akan di sini sampai besok."

Nara menatap ranjang itu dengan pandangan ngeri. "Arga, kita benar-benar akan... tidur di sana? Berdua?"

"Lantai ini dingin, Nara. Dan sofa itu akan terlihat mencurigakan kalau kita pindahkan lagi bantalnya setiap kali mereka lewat," Arga mengambil tas kerjanya, kembali ke mode bos yang dingin. "Anggap saja ini seperti menginap di hotel saat perjalanan bisnis. Hanya bedanya, kali ini kliennya adalah ibu kita sendiri."

Arga berjalan menuju pintu, namun ia berhenti sejenak dan menoleh. "Jangan sampai terlambat pulang sore ini. Kita harus terlihat seperti pasangan yang antusias menyambut tamu."

Nara hanya bisa mengangguk lemah. Saat Arga keluar, ia jatuh terduduk di tepi ranjang. Kasur itu terasa sangat empuk, namun baginya, itu terasa seperti perangkap yang siap menguji batas-batas keraguan yang baru saja ia rasakan.

Malam ini bukan lagi soal prinsip kaku atau revisi desain. Malam ini adalah tentang bagaimana ia akan berbagi ruang paling intim dengan pria yang mulai membuatnya bertanya-tanya: apakah sandiwara ini masih sekadar akting, atau justru kenyataan yang ia takuti?

---

Nara masih bergeming di posisi duduknya, menatap nanar ke arah pintu yang baru saja tertutup di belakang punggung Arga. Ucapan pria itu tentang "menginap di hotel saat perjalanan bisnis" terdengar sangat logis, namun hatinya menolak untuk setuju sesederhana itu. Di hotel, ada pilihan untuk memesan twin bed, tapi di sini, hanya ada satu hamparan seprai abu-abu gelap yang luas dan seolah siap menelan kewaspadaannya.

Ia bangkit dengan lunglai, menyambar tasnya, dan menuruni tangga. Di dapur, aroma bawang putih yang ditumis dan gelak tawa Widya serta Tante Sarah sudah memenuhi udara. Pemandangan itu begitu hangat, begitu kontras dengan kedinginan yang ia dan Arga bangun di lantai atas.

"Hati-hati di jalan ya, Sayang! Jangan pulang terlalu malam!" seru Widya sambil melambaikan sutil.

"Iya, Bu," sahut Nara pelan, mencoba menutupi kegelisahannya dengan senyum terbaik yang ia miliki.

Sepanjang perjalanan menuju kantor, Nara tidak bisa fokus. Pikirannya melompat-lompat antara revisi desain yang harus ia serahkan pada jam delapan pagi dan bayangan malam nanti. Saat ia tiba di lobi kantor, ia melihat Arga sudah berdiri di depan lift direksi, dikelilingi oleh para manajernya. Arga menoleh sejenak, tatapannya bertemu dengan mata Nara. Tidak ada kata, hanya anggukan tipis yang sangat formal, namun Nara tahu itu adalah kode: Ingat peranmu.

Di meja kerjanya, Nara menatap layar laptop. Folder desain yang ia kerjakan semalam dengan kopi pemberian Arga kini terbuka lebar. Ia mengklik "Send" ke alamat email Arga tepat pukul 07:59.

Satu menit kemudian, sebuah balasan masuk. Sangat singkat.

> Subject: Re: Revisi Desain Lobi & Executive Lounge

> Diterima. Kita bahas di jam makan siang secara privat di ruangan saya. Ada beberapa detail teknis yang perlu disesuaikan dengan "kebutuhan baru".

> A. Abimanyu

Nara mengernyit. 'Kebutuhan baru'? Apa yang dimaksud Arga? Apakah pria itu akhirnya setuju untuk melunakkan prinsip kakunya, atau justru ia sedang menyiapkan serangan balik lainnya?

Kegelisahan Nara mencapai puncaknya saat jam makan siang tiba. Ia berjalan menuju ruang CEO dengan langkah yang terasa berat. Saat asisten Arga, Bayu, mempersilakannya masuk, ia menemukan Arga sedang berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela besar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung tinggi Jakarta.

"Duduklah, Nara," ujar Arga tanpa berbalik.

Nara duduk di kursi di depan meja jati besar itu. "Apa yang kamu maksud dengan kebutuhan baru di email tadi?"

Arga berbalik, ia meletakkan sebuah map di atas meja. "Saya sudah melihat revisimu. Sentuhan 'hangat' yang kamu tambahkan... ternyata tidak seburuk yang saya pikirkan. Saya akan menyetujuinya dengan syarat kamu tetap menggunakan material industrial untuk struktur utamanya."

Nara menghela napas lega. "Itu kompromi yang adil."

"Tapi bukan itu alasan utama saya memintamu ke sini," Arga menatapnya dengan intensitas yang berbeda. Ia sedikit condong ke arah meja. "Ibu baru saja mengirim pesan. Beliau bilang akan menginap dua malam, bukan satu malam. Katanya, Tante Sarah ingin mengajari kita cara membuat resep keluarga yang butuh waktu lama."

Nara merasa bahunya merosot. "Dua malam? Arga, aku nggak tahu apa aku sanggup berakting sekamar selama itu."

"Kita tidak punya pilihan," Arga berdiri, berjalan memutari meja dan berhenti tepat di samping kursi Nara. "Tapi ada satu hal lagi. Karena mereka di sana, Bi Sumi diminta untuk membantu mereka di dapur, yang artinya... tidak ada yang akan menyiapkan sofa untuk kita sembunyi-sembunyi. Kita benar-benar harus terlihat seperti pasangan normal, bahkan saat pintu kamar sudah tertutup."

Arga meletakkan tangannya di sandaran kursi Nara, membuat Nara merasa terkurung oleh kehadiran suaminya. "Nara, mulai sore ini, hilangkan keraguanmu. Jika kita ragu, Ibu akan curiga. Dan jika Ibu curiga, rencana kita berakhir."

Nara mendongak, menatap mata hitam Arga yang biasanya dingin namun kini tampak sedikit gelisah—atau mungkin itu adalah refleksi dari kegelisahannya sendiri. Di ruangan yang luas ini, dengan AC yang mendesing pelan, Nara menyadari bahwa keraguannya kini bukan lagi soal desain atau prinsip, tapi soal bagaimana ia akan menjaga jarak hatinya saat jarak fisiknya dengan Arga kini telah dipangkas paksa oleh situasi.

1
Rayyan Fahlevy
semangat kak
Rayyan Fahlevy
Lanjut kak🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!