Artha Jayendra adalah seorang pemuda yang kini menjadi pengangguran setelah dikhianati oleh sahabat-sahabatnya sendiri dan bahkan oleh kekasihnya. Pengkhianatan itu menghancurkan hidupnya hingga membuatnya terpuruk dalam keputusasaan. Dalam kondisi depresi, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari sebuah jembatan. Namun sebelum ia melompat, cahaya terang tiba-tiba muncul di langit, dan sebuah menara raksasa misterius muncul di tengah kota. Bersamaan dengan itu, sebuah sistem aneh muncul di hadapannya. Alih-alih terkejut, Artha justru melihatnya sebagai kesempatan baru. Dengan tekad yang dingin, ia bersumpah dunia telah berubah dan dia akan menjadi lebih kuat dan membalas semua penghinaan, penindasan, dan pengkhianatan yang pernah ia terima. Dari sinilah perjalanan Artha Jayendra dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XVIII—ORC
Lantai dingin tempat Jay jatuh menelungkup terasa begitu kaku. Udara di sekitarnya mendadak berhenti bersirkulasi, seolah-olah ruang hampa tersebut sedang menahan napasnya sendiri. Gesekan tajam yang nyaris menyayat lehernya barusan meninggalkan sisa hembusan angin yang dingin. Sensasi ngeri yang merayapi tengkuknya bukanlah isapan jempol semata. Jika sedetik saja refleks tubuhnya terlambat, kepalanya pasti sudah menggelinding terpisah dari raga.
Jay tidak membiarkan rasa kejut mengambil alih kesadarannya. Menggunakan tumpuan telapak tangan, ia mendorong tanah agar tubuhnya ke samping untuk berguling dua kali di atas lantai datar yang tidak bertekstur tersebut. Gerakannya begitu cair, menyatu dengan insting murni yang mengalir deras di pembuluh darahnya.
Sringgg!
Sekali lagi, suara tipis dari benda pipih yang tajam nan tampak terasa berat membelah pada udara kosong, tepat di posisi tempat Jay berguling sesaat yang lalu. Serangan itu tidak menimbulkan suara hantaman keras pada lantai, tidak ada debu yang berhamburan, dan tidak ada raungan monster yang membahana. Semuanya bergerak dalam keheningan yang absolut dan terasa mematikan.
Jay memosisikan tubuhnya setengah berlutut, mencoba mengatur napasnya yang mulai terasa berat. Di tempat yang pekat ini, kedua matanya benar-benar tidak dapat diandalkan. Ia tidak dapat melihat apa-apa. Kegelapan di ruangan kuno tersebut seolah-olah memiliki kepadatannya sendiri, menelan habis partikel cahaya apa pun yang mencoba masuk.
“Asha,” panggil Jay dengan suara rendah yang tertahan.
“…Ya... Tuan,” jawab Asha. Suaranya masih terdengar agak terdistorsi dan terdengar jauh, seakan terhalang oleh dinding dimensi yang tebal.
“Bisa kau deteksi keberadaan dari si sialan ini? Di mana posisinya?” tanya Jay sembari menyipitkan mata, mencoba mencari distorsi udara sekecil apa pun di hadapannya.
Hening beberapa detik sebelum suara Asha kembali menginterupsi. “…Maaf, Tuan... Entitas ini tidak memiliki riwayat panas tubuh atau suara langkah konvensional... Ia membaur sempurna dengan keheningan ruang ini... Tetapi posisinya bergerak sangat cepat mengitari Anda...”.
Jay mendengkus tipis. “Membaur dengan keheningan, ya? Luar biasa sekali si sialan ini.”
Bukannya panik, senyuman tipis dan dingin justru terukir di sudut bibir Jay. Rasa takut yang seharusnya melumpuhkan mental pada manusia biasa, bagi Jay justru menjadi bahan bakar yang memacu adrenalinnya. Bukankah sejak awal ia adalah orang yang berniat menyudahi hidupnya sendiri? Kematian bukanlah sesuatu yang membuatnya gemetar ketakutan lagi. Keadaan terdesak seperti inilah yang justru membuatnya merasa benar-benar hidup.
Ia memejamkan matanya rapat-rapat. Dalam kegelapan mutlak, mencoba melihat dengan mata telanjang adalah kebodohan. Jay membiarkan indra lainnya mengambil alih sistem motorik tubuhnya. Ia mengaktifkan skill pasif Instinct Combat. Seketika itu juga, kepekaan indra peraba dan pendengarannya meningkat tajam. Bulu-bulu halus di lengannya meremang saat menangkap getaran udara sekecil apa pun di sekitarnya.
Di sisi lain, skill Phantom Reaction miliknya sudah berada di ambang batas siaga tertinggi. Saraf-sarafnya sudah siap meledakkan gerakan refleks otomatis kapan pun ancaman fisik mendekati area tubuh maupun vitalnya.
Angin tipis berdesir dari arah belakang, tepat di sudut buta sebelah kiri atas Jay. Sangat halus, hampir tidak terasa sama sekali. Tanpa membuka matanya, otot kaki Jay bereaksi mendahului logika berpikirnya. Ia memutar tumitnya ke kiri, menggeser tubuhnya tiga puluh derajat.
Wush!
Sebuah kapak pipih yang sangat besar melesat melewati pundak Jay, merobek udara hanya beberapa sentimeter dari kain bajunya. Menyadari serangannya meleset, sang penyerang tidak lantas mengamuk atau mengeluarkan erangan frustrasi. Ia justru menarik kembali senjatanya dengan kontrol otot yang luar biasa rapi dan begitu presisi.
Ctanggg!
Jay tidak membiarkan dirinya terus-menerus menjadi sasaran pasif. Sambil berputar, ia menghunuskan Goblin Kings Blade miliknya yang sebelumnyania dapat dari dungeon lantai 1 itu, ke arah sumber angin ayunan kapak barusan. Pedang putih pucat itu beradu dengan logam keras di tengah kegelapan, menciptakan percikan api jingga yang terang benderang dalam hitungan mikrodetik.
Dalam kilatan api singkat itulah, penglihatan Jay menangkap wujud musuhnya secara utuh.
Sosok itu sangat besar, tingginya jauh melampaui tinggi badan Jay. Kulitnya berwarna hijau lumut yang gelap dan sangat tebal. Berbeda dari monster-monster goblin yang pernah ia bantai sebelumnya, makhluk ini tidak memiliki perut buncit atau postur tubuh yang bungkuk menjijikkan. Makhluk ini adalah seekor Orc.
Tubuh sang Orc dipenuhi oleh otot-otot yang padat, kering, dan terlatih. Ia mengenakan sepotong zirah pelat baja kuno yang terawat dengan sangat rapi pada bagian dada dan bahunya. Tangannya yang kokoh menggenggam sebuah kapak bermata dua yang bilahnya sangat pipih.
Namun, hal yang paling membuat Jay waspada adalah matanya. Mata sang Orc tidak menyala dengan kemarahan buta yang haus darah. Sepasang pupil matanya justru memancarkan tatapan yang sangat dingin, fokus, dan tenang. Orc di hadapannya bukanlah monster liar yang mengandalkan amarah serampangan, melainkan seorang gladiator berdarah dingin yang sangat berpengalaman dalam seni membunuh.
Percikan api padam, dan ruangan kembali ditelan kegelapan pekat. Sang Orc kembali menghilang dari jangkauan sensorik konvensional Jay.
“Sialan, kau bergerak terlalu rapi untuk ukuran monster berbadan besar,” gumam Jay sembari mengatur napasnya kembali.
Orc tersebut tidak menjawab sama sekali. Ia tidak meraung untuk mengintimidasi mental Jay. Kesunyian yang ia ciptakan justru jauh lebih mengerikan daripada lengkingan monster mana pun, karena Jay tidak pernah tahu dari sudut mana kapak pipih itu akan memenggal kepalanya kembali.
Jay mengatupkan rahangnya. Beradaptasi dengan kegelapan mutlak ini memakan terlalu banyak fokus energinya. Jika ia terus bermain dalam aturan kegelapan sang Orc, cepat atau lambat stamina fisiknya akan terkuras habis. Jay memutuskan untuk meruntuhkan keunggulan area sang Orc secara paksa.
“Asha, siap-siap. Kita akan mengubah pemandangan yang begitu suram ini menjadi sedikit lebih hangat,” ujar Jay dengan seringai tipis yang kembali muncul.
“Dimengerti, Tuan...” jawab Asha.
Jay merentangkan telapak tangan kirinya ke arah langit-langit ruangan yang tak terlihat. Ia mengaktifkan skill barunya yang didapat dari perolehan job mage: Elemental Overlord.
“Elemental Overlord : Fire Element!" desis Jay pelan.
Bzzzt... BOOM!
Sebuah letupan api yang luar biasa besar meledak dari telapak tangan kiri Jay. Api tersebut tidak berwarna merah kejinggaan seperti api pada umumnya, melainkan berwarna biru safir yang sangat terang dan murni. Panas yang dihasilkan langsung membakar kelembapan udara dingin di dalam ruangan kuno itu, memancarkan gelombang cahaya yang menyilaukan ke segala penjuru.
Kini, ruangan yang tadinya pekat oleh kegelapan langsung benderang oleh pendaran cahaya biru. Seluruh sudut ruangan terekspos dengan sangat jelas. Dinding-dinding batu kuno yang halus dan lantai tanpa ujung tersebut kini terlihat nyata di bawah cahaya elemen api milik Jay.
Di bawah pancaran cahaya biru yang menyilaukan tersebut, wujud sang Orc petarung akhirnya benar-benar terungkap secara telanjang di depan mata Jay. Ia sedang berdiri diam sekitar empat meter di sisi kanan Jay, memegang kapak besarnya dengan kuda-kuda yang sangat rendah dan stabil.
Melihat sumber cahaya buatan yang mendadak menginterupsi areanya, mata sang Orc menyipit tajam. Namun, lagi-lagi ia tidak menunjukkan tanda-tanda kepanikan yang berlebihan. Ia hanya memutar kapak pipihnya satu kali, menyesuaikan diri dengan visual ruangan yang kini telah berganti warna terang.
“Kena kau, monster hijau legam sialan,” ucap Jay dengan nada bicara yang terdengar sangat merendahkan.
Sang Orc merespons ucapan Jay dengan tindakan nyata. Tanpa ancang-ancang yang membuang waktu, ia melesat maju ke depan. Kecepatannya sangat tidak masuk akal untuk ukuran makhluk berzirah berat. Dalam satu kedipan mata, ia sudah memangkas jarak empat meter di antara mereka. Kapak pipih bermata duanya diayunkan dari bawah ke atas, mengincar tubuh Jay secara diagonal.
WHOOSH!
*Angin tebasan kapak tersebut terdengar sangat tajam. Berkat peningkatan stat Agility* dan refleks otomatis dari Phantom Reaction, Jay mampu melompat mundur tepat waktu. Ujung kapak sang Orc hanya berhasil menyabet udara kosong tempat Jay berpijak sepersekian detik yang lalu.
“Terlalu lambat, dasar belalang sembah!” seru Jay sembari mendarat dengan mulus di atas lantai.
Sambil masih mempertahankan bola api biru di tangan kirinya sebagai penerangan statis, Jay menghunuskan kembali Goblin Kings Blade dengan tangan kanannya. Ia melesat balik menyerang sang Orc petarung. Gerakan Jay yang kini didukung oleh statistik tubuh level 11 terasa jauh lebih enteng, cepat, dan terarah dengan baik.
Jay mengayunkan pedang tulangnya dari arah kanan atas. Sang Orc bereaksi sangat taktis. Ia tidak menggunakan bilah kapaknya untuk menahan serangan Jay secara frontal, melainkan menggunakan tangkai gagang kapak bajanya untuk membelokkan arah ayunan pedang Jay ke samping luar.
Trakkk!
Pedang Jay tergelincir ke samping kiri bawah, membuat pertahanan dadanya sedikit terbuka lebar. Sang Orc yang sangat jeli melihat celah tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan emasnya. Tangan kirinya yang bebas langsung mengepal keras, meluncurkan sebuah pukulan jab lurus yang sangat cepat mengarah tepat ke arah ulu hati Jay.
*Di sinilah skill Instinct Combat* dan Phantom Reaction menunjukkan sinergi yang sempurna di dalam tubuh Jay.
Menyadari ia tidak akan sempat menarik kembali pedangnya untuk menangkis pukulan tersebut, otak Jay langsung memerintahkan tubuhnya untuk melakukan manuver menghindar yang ekstrem. Otot-otot punggungnya melengkung ke belakang dengan elastisitas yang luar biasa tinggi, membuat tinju sang Orc yang sekeras batu tersebut melesat lewat hanya beberapa milimeter di atas permukaan pakaian dada Jay.
Dari posisi melengkung ke belakang yang sangat tidak stabil tersebut, kaki kanan Jay dihentakkan keras ke lantai. Menggunakan kekuatan rotasi pinggulnya yang kini bernilai stat Strength 25, Jay memutar tubuhnya seperti gasing berwujud manusia.
Sringgg!
Ujung tajam Goblin Kings Blade Jay meluncur deras dalam lintasan horizontal menyapu ke arah leher Orc. Sang Orc dipaksa untuk menarik kepalanya ke belakang secara mendadak. Sabetan pedang Jay gagal memenggal kepalanya, tetapi ujung pedang tulang tersebut sukses menggores tipis pelindung zirah bahu kiri sang Orc, meninggalkan goresan putih yang memanjang dan merusak estetika pelat bajanya.
Melihat zirah bajunya tergores, untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai, mata sang Orc petarung memancarkan sedikit kilatan emosi ketertarikan yang nyata. Ia menghentikan serangannya sejenak, melangkah mundur tiga langkah ke belakang untuk mengatur ulang jarak tempuh dan ruang geraknya.
Jay menegakkan kembali posisi berdirinya. Bola api biru di tangan kirinya masih menyala dengan sangat stabil, menari-nari membakar oksigen di sekelilingnya dan terus memberikan visual penerangan yang sangat andal. Peluh keringat dingin mulai menetes di pelipis wajah Jay.
Pertarungan fisik barusan hanya memakan waktu tidak lebih dari lima belas detik, tetapi intensitas energi mental dan ketegangan otot yang dihabiskan setara dengan bertarung melawan puluhan goblin tingkat rendah secara bersamaan. Orc di hadapannya ini benar-benar monster dengan kaliber petarung yang sangat berbeda dari monster mana pun yang pernah ditemuinya di luar sana.
“Kau sungguh membuatku bersemangat, bajingan,” ucap Jay dengan napas yang mulai tersengal tipis.
Jay memutar pedang tulang di tangan kanannya satu kali, lalu mempererat genggamannya kembali pada gagang pedang. Di tangan kirinya, api biru safir mulai dipadatkan menjadi sebuah bola api kecil yang memancarkan daya hancur energi elemen murni yang sangat pekat.
Sang Orc petarung mengarahkan mata kapak pipihnya tepat ke arah dada Jay, menurunkan bahu kirinya sedikit lebih rendah. Keduanya saling bertatapan di bawah sinar benderang cahaya api biru safir yang magis. Kesunyian ruang hampa tersebut seolah-olah ditarik sangat kencang, siap meledak berkeping-keping kapan pun salah satu dari mereka menggerakkan ujung jari kakinya.
Dan tanpa peringatan apa pun yang keluar dari bibir mereka berdua, Jay melesat maju bersamaan dengan sang Orc yang menghambur ke depan menyerong. Dentingan logam dari kapak pipih dan pedang tulang kembali membelah keheningan ruangan kuno yang megah tersebut. Pertempuran yang sesungguhnya di kedalaman dungeon rahasia baru saja dimulai dengan sangat epik.