NovelToon NovelToon
RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Anak Genius
Popularitas:293
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 22

Maya mendengus, memutar-mutar cangkir kalengnya yang sudah mulai berkarat di tepiannya. Ia menatap mur kusam di jari Jek, lalu beralih ke pisang goreng yang bentuknya lebih mirip bongkahan lumpur daripada makanan mewah.

"Luar biasa," ejek Maya dengan nada datar yang menusuk. "Kaisar dunia digital, penghancur Jaringan Hijau, dan penyelamat umat manusia... bertunangan dengan sebuah mur bekas dari rongsokan AC tua. Kalau Sang Arsitek masih hidup, dia pasti mati lagi karena tertawa melihat selera 'bangsawan' kalian."

Jek melihat jarinya sendiri, lalu tertawa kecil. "Setidaknya mur ini punya fungsi nyata, Maya. Daripada berlian digital yang hanya tumpukan piksel."

"Oh, tentu," sahut Maya lagi, kali ini sambil mengangkat ubi kayu pemberian warga tadi. "Lihat perjamuan mewah ini! Ubi kayu rebus dan teh melati curah. Benar-benar perayaan kelas atas. Aku hampir merasa perlu memakai gaun pesta, tapi sayangnya gaun terakhirku sudah jadi kain pel di markas Ares."

Rara menyikut lengan Maya, meski ia sendiri tidak bisa menahan senyum. "Berhenti mengejek, Maya. Tidak semua orang butuh kemewahan hologram untuk merasa bahagia."

"Aku tidak mengejek, aku hanya mengobservasi fakta betapa miskinnya kita sekarang," Maya menggigit ubi kayunya dengan ekspresi dramatis. "Jek, kau dulu bisa memindahkan angka miliaran di layar hanya dengan jentikan jari. Sekarang? Kau bahkan tidak punya cukup koin untuk membeli korek api yang bagus. Kau adalah orang paling berkuasa di Jakarta yang tidak punya modal untuk sekadar membeli sandal jepit yang tidak putus."

Jek menyandarkan punggungnya ke dinding kayu yang berderit, menikmati ejekan itu seperti musik. "Itu benar. Aku secara resmi adalah pengangguran dengan aset nol rupiah, nol koin kripto, dan nol masa depan teknologi."

"Dan jangan lupa, rumahmu adalah gubuk yang kalau ada angin kencang sedikit saja, kita semua akan pindah ke alam baka tanpa perlu bantuan sistem," tambah Maya sambil menunjuk atap yang bocor di satu sudut.

"Tapi setidaknya," Jek menggenggam tangan Rara, memamerkan mur rongsokannya dengan bangga di depan wajah Maya, "aku punya manajer keuangan yang sangat hemat. Dia tidak butuh emas, hanya butuh baut yang pas."

Rara tertawa meledak, melempar kulit pisang ke arah Maya. "Makan ubi itu dan diamlah, Maya! Setidaknya kaisar miskin ini jauh lebih tampan daripada robot-robot perakmu yang kaku itu."

Di tengah gubuk yang reyot, di antara bau asap dan perabotan bekas yang menyedihkan, tawa mereka pecah—sebuah kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan algoritma apa pun. Mereka memang miskin secara materi, namun untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, mereka merasa kaya akan kehidupan.

Matahari pagi menembus celah-celah dinding bambu yang bolong, tepat mengenai wajah Jek. Ia mengerang, mencoba mencari tombol "Mute" untuk cahaya itu di sudut matanya, sebelum akhirnya tersadar bahwa ia bukan lagi sebuah perangkat keras.

"Bangun, Yang Mulia," suara Rara terdengar dari luar. "Waktunya menghadapi realita tanpa bantuan satelit."

Jek keluar dari gubuk dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Ia melihat Rara sedang berusaha menambal atap menggunakan potongan seng tua dan beberapa ikat ilalang. Sementara itu, Maya duduk di atas batu besar, menatap sebuah cangkul yang gagangnya sudah retak dengan ekspresi seolah benda itu adalah artefak kuno yang berbahaya.

"Ini masalah besar," gumam Maya tanpa menoleh.

"Apa? Ada sisa Jaringan Hijau yang aktif?" Jek langsung waspada.

"Bukan," Maya menunjuk cangkul itu. "Benda ini beratnya sekitar tiga kilogram, dan aku tidak tahu algoritma apa yang harus kugunakan untuk mengayunkannya tanpa membuat punggungku patah. Jek, kita benar-benar jatuh miskin ke level prasejarah. Kau tahu apa yang kita miliki untuk sarapan? Harapan. Dan sisa ubi kemarin yang sudah dingin."

Jek mengambil cangkul itu, menimbangnya di tangan. Terasa sangat berat dan tidak efisien. "Dulu aku bisa meruntuhkan bursa saham dalam tiga detik. Sekarang, aku butuh tiga jam hanya untuk membuat lubang tanam."

"Itu namanya kerja keras, Jek. Bukan data mining," Rara turun dari atap dengan lincah, debu menempel di pipinya. "Oh, lihat itu. Sepatumu."

Jek melihat ke bawah. Sepatu bot teknologinya yang dulu bisa menyesuaikan suhu dan tekanan kini sobek di bagian depan, membuat jempol kakinya mengintip malu-malu.

"Luar biasa," Maya tertawa sinis. "Kaisar tanpa mahkota, dan sekarang, Kaisar tanpa jempol yang tertutup. Benar-benar estetik kemiskinan yang paripurna. Jika warga kamp melihatmu sekarang, mereka tidak akan bersujud, mereka akan memberimu sedekah."

"Biarkan saja," jawab Jek sambil mulai mengayunkan cangkul ke tanah yang keras. Bugh. Cangkul itu membal mental, membuat tangannya kesemutan hebat. "Sial. Tanah ini lebih keras daripada enkripsi tingkat militer Ares."

"Butuh bantuan, Tuan 'Dulu Aku Hebat'?" Rara mengambil alih cangkul itu dengan satu gerakan mantap, lalu menghantamkannya ke tanah dengan teknik yang benar. Tanah itu terbelah dengan mudah.

Maya bertepuk tangan malas. "Lihat itu, Jek. Kau baru saja dikalahkan oleh seorang wanita dengan alat manual. Masa depanmu sebagai petani tampak sangat suram. Mungkin kau bisa melamar jadi orang-orangan sawah? Kau punya bakat untuk diam dan terlihat bingung."

Jek hanya bisa mengusap keringat di dahinya, meninggalkan bekas tanah yang membuat wajahnya makin terlihat berantakan. Ia melihat mur di jarinya, lalu melihat ke arah kota Jakarta yang kini hanya berupa hutan beton tanpa listrik.

"Setidaknya," Jek tersenyum lebar sambil memungut ubi dinginnya, "tidak ada yang akan mencoba meretas ubi ini dari tanganku."

"Tentu saja tidak," sahut Maya sambil bangkit. "Siapa yang mau mencuri harta karun semenyedihkan itu?"

Mereka tertawa bersama di bawah terik matahari yang mulai menyengat. Sebuah tawa yang jujur, di tengah kemiskinan yang nyata, namun di atas tanah yang akhirnya menjadi milik mereka sepenuhnya.

"Ingat," Rara berbisik sambil mengikatkan kain kusam di kepala Jek, menutupi sebagian kening dan bekas luka bakarnya. "Di depan orang-orang kamp, kau bukan Jek si 'Pusat Jaringan'. Kau hanya Jek, tukang bongkar mesin yang gagal dan sekarang mencoba peruntungan jadi kuli cangkul."

Jek mengangguk, menyesuaikan posisi kainnya. "Dan Maya?"

Maya, yang sedang sibuk mengoleskan lumpur ke jaket teknisnya agar terlihat seperti kain goni biasa, mendengus. "Aku? Aku hanya adik sepupumu yang pemalas dan bermulut tajam. Tenang saja, Jek. Dengan penampilanmu yang berantakan begini, bahkan ibumu pun tidak akan percaya kalau kau pernah hampir menjadi Tuhan digital."

Mereka berjalan menuju pasar barter di tengah kamp. Suasananya ramai dengan manusia yang berdebu, berteriak menawarkan barang-barang yang bagi dunia lama adalah sampah.

"Ayo, paku berkarat! Tukar dengan dua buah jeruk!" teriak seorang pria di sudut.

Seorang mantan komandan bawahan Ares lewat di samping mereka. Jek menundukkan kepala dalam-dalam, berpura-pura sibuk memperbaiki tali sandalnya yang putus. Jantungnya berdegup kencang. Jika identitasnya ketahuan—jika orang-orang tahu bahwa pria di depan mereka inilah yang bertanggung jawab atas "pembekuan" massal kemarin—mereka tidak akan meminta tanda tangan. Mereka akan menyiapkan tiang gantungan.

"Lihat itu," Maya berbisik, menyikut lambung Jek saat mereka melewati kerumunan yang sedang mengerumuni sebuah poster lusuh hasil lukisan tangan.

Poster itu bergambar sosok bayangan perak dengan mata tanpa pupil. Di bawahnya tertulis: WASPADA SETAN PERAK. JANGAN BIARKAN DIA KEMBALI.

"Setan Perak?" Jek berbisik, hampir tidak percaya. "Kemarin mereka bersujud padaku."

"Itu kemarin, saat mereka ketakutan," Maya menjawab dengan senyum miring. "Sekarang mereka bebas, dan manusia paling benci pada orang yang pernah membuat mereka terlihat lemah. Jadi, selamat, Jek. Kau sekarang adalah penjahat paling dicari yang bahkan tidak punya uang untuk membeli makan siang."

Rara menggenggam tangan Jek erat, menutupi mur rongsokan di jarinya agar tidak memantulkan cahaya. "Makanya, diam dan teruslah terlihat miskin. Itu perlindungan terbaikmu."

Tiba-tiba, seorang pemuda mendekati mereka, menatap Jek dengan penuh selidik. "Heh, kau. Aku sepertinya pernah melihatmu di dekat mercusuar kemarin malam."

Jek membeku. Maya sudah bersiap dengan sindiran pedasnya, tapi Rara lebih cepat.

"Oh, dia?" Rara tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat meyakinkan. "Tentu saja kau melihatnya. Dia yang menangis paling keras karena ketakutan saat lampu-lampu itu meledak. Dia bahkan sempat pingsan dan harus kupanggul pulang. Benar-benar memalukan, kan?"

Pemuda itu menatap Jek yang kini berpura-pura memasang wajah melas dan bodoh. "Pingsan? Hahaha! Payah sekali kau, kawan. Kupikir kau salah satu dari pengikut 'Setan' itu."

"Dia? Jadi pengikut?" Maya menimpali sambil memutar bola mata. "Menyalakan api unggun saja dia tidak becus. Dia hanya beban di gubuk kami."

Pemuda itu tertawa meremehkan dan berlalu pergi. Jek mengembuskan napas panjang setelah orang itu menjauh.

"Pingsan, Ra? Serius?" protes Jek pelan.

"Itu lebih baik daripada digantung sebagai mantan Kaisar," jawab Rara sambil nyengir. "Ayo, 'Kaisar Pingsan'. Kita punya ubi untuk ditukar dengan sabun."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!