NovelToon NovelToon
A Choice For Gaby

A Choice For Gaby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:935
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Daripada penasaran, yuk mampir ><

[Update Tergantung Mood]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Kegelapan dan Jeritan

Malam itu, suasana penthouse yang biasanya tenang dan berwibawa mendadak berubah menjadi arena perdebatan kecil. Di ruang tengah yang luas, Gaby sedang duduk bersila di atas karpet bulu, tangannya memegang erat remote TV sembari menatap tajam ke arah Emrys.

"Ayolah, Kak! Satu film saja. Ini film horor paling viral bulan ini, semua teman-temanku di Jakarta sudah menontonnya!" seru Gaby penuh paksa.

Emrys, yang baru saja menyesap teh chamomile-nya, menggeleng tegas. Ia masih mengenakan celana kain formal namun sudah menanggalkan kemejanya, menyisakan kaos hitam polos yang pas di tubuhnya. "Tidak, Gaby. Ini sudah jam sepuluh malam. Menonton film horor hanya akan membuatmu terjaga semalaman dan besok kau akan bangun dengan kantung mata hitam."

"Hanya dua jam, Kak! Aku janji setelah ini langsung tidur. Lagipula, masa Managing Director Kaito Group takut sama hantu fiksi?" goda Gaby, menaikkan sebelah alisnya dengan nada menantang.

Emrys menghela napas panjang. Kalimat terakhir Gaby adalah serangan telak bagi harga dirinya. Dengan gerakan perlahan, ia meletakkan cangkir tehnya di meja marmer dan duduk di sofa tepat di belakang Gaby.

"Matikan lampu sampingnya. Jika kau ingin menontonnya, tontonlah dengan benar," ujar Emrys dingin, meski ia sebenarnya menyerah pada keinginan sepupunya.

Lampu ruangan dipadamkan, menyisakan pendar cahaya dari layar televisi raksasa yang mulai menampilkan adegan lorong rumah sakit tua yang gelap. Suara musik latar yang mencekam mulai memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang membuat bulu kuduk berdiri.

Gaby, yang awalnya sangat bersemangat, kini mulai merapatkan posisinya ke sofa tempat Emrys duduk. Setiap kali ada suara pintu berderit di film, bahunya berjengit.

"Don't tell me you're scared already," bisik Emrys rendah, suaranya terdengar sangat tenang di tengah kegelapan. Ia menyandarkan punggungnya, tampak tidak terganggu sedikit pun oleh visual darah atau hantu di layar.

"Aku tidak takut! Aku hanya... dingin," kilat Gaby, meski ia langsung menarik selimut kasmir hingga menutupi setengah wajahnya.

Tiba-tiba, sebuah jumpscare muncul. Sosok pucat dengan mata hitam legam muncul tepat di depan kamera disertai dentuman suara yang memekakkan telinga.

"AAAAAAAA!" Gaby menjerit refleks dan langsung berbalik, membenamkan wajahnya di pangkuan Emrys. Ia mencengkeram lengan pria itu dengan sangat kuat, tubuhnya sedikit gemetar.

Emrys tertegun sejenak. Ia menatap kepala Gaby yang bersembunyi di pangkuannya, lalu tangannya bergerak ragu sebelum akhirnya mendarat lembut di punggung sepupunya itu. Ia mengusapnya perlahan, mencoba memberikan rasa tenang.

"Sudah kubilang, kau tidak akan kuat menontonnya," gumam Emrys, namun kali ini suaranya tidak terdengar mengejek. Ada nada lembut yang jarang ia tunjukkan.

Gaby tidak berani mendongak. "Sudah hilang hantunya?" suaranya teredam oleh kain kaos Emrys.

"Belum. Dia masih di sana, menatapmu dari balik layar," goda Emrys pelan, membuat Gaby semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Emrys.

Emrys terkekeh rendah, suara tawanya yang dalam terasa bergetar di dada yang sedang dipeluk Gaby. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, penthouse ini tidak terasa seperti bangunan dingin penuh kemewahan, melainkan sebuah rumah yang hangat.

"Kak, jangan dilepas ya... temani aku sampai filmnya habis," pinta Gaby dengan suara kecil yang manja.

Emrys menyandarkan kepalanya di kepala sofa, menatap layar TV yang masih menampilkan adegan mencekam, namun tangannya tetap tidak beranjak dari punggung Gaby. "Tidurlah jika kau takut. Aku tidak akan ke mana-mana."

Baru saja film mencapai puncaknya, sebuah dentingan nyaring seperti suara sendok yang jatuh ke lantai marmer, terdengar dari arah dapur terbuka di belakang mereka. Di tengah keheningan penthouse yang luas itu, suara tersebut menggema sangat tajam.

Gaby tersentak hebat, kepalanya langsung mendongak dari pangkuan Emrys dengan mata membelalak horor. "Kak... Kau dengar itu?" bisiknya dengan suara gemetar, cengkeramannya di lengan Emrys semakin erat hingga kuku-kukunya memutih.

Emrys mengernyitkan dahi. "It’s probably just the ice maker in the fridge, Gaby. Relax," jawabnya tenang, meski matanya tetap waspada menatap ke arah kegelapan dapur.

Kring!

Kali ini suara gesekan logam yang lebih panjang terdengar. Gaby menjerit tertahan dan langsung melompat ke atas sofa, meringkuk di belakang tubuh tegap Emrys seolah pria itu adalah perisai manusia paling kokoh di London.

"Hantunya keluar dari TV! Kak, periksa! Cepat periksa!" pinta Gaby dengan nada panik yang hampir menangis.

Emrys menghela napas, bangkit berdiri dengan gerakan malas namun waspada. Ia melangkah menuju dapur, menyalakan lampu sensor yang seketika menerangi ruangan dengan cahaya putih terang. Tidak ada apa-apa di sana, hanya sebuah sendok perak yang entah bagaimana terjatuh dari rak pengering.

"Lihat? Hanya sendok. Mungkin getaran dari mesin cuci piring," ujar Emrys sembari memungut sendok itu dan menunjukkannya pada Gaby dari kejauhan.

Gaby menggeleng kuat-kuat. Ia tidak percaya. Film tadi benar-benar telah merusak logikanya. "Tidak mau! Aku tidak mau tidur di kamarku sendiri! Kamarku terlalu jauh di ujung koridor, Kak! Pintunya besar dan gelap!"

Emrys kembali ke ruang tengah, mematikan televisi yang masih menampilkan kredit film. "So, what do you suggest then? Tidur di sofa ini semalaman?"

"Aku... aku mau tidur di kamarmu saja!" seru Gaby spontan. "Maksudku, di sofa kamarmu! Atau di lantai juga tidak apa-apa, yang penting aku bisa melihatmu. Aku tidak mau sendirian!"

Emrys terdiam, menatap sepupunya dengan tatapan datar yang sulit diartikan. "My room? Gaby, kau sudah bukan anak kecil lagi. Kau hampir jadi mahasiswi Oxford, demi Tuhan."

"Tapi aku takut! Kau yang bilang London itu berbahaya, kan? Bagaimana kalau hantunya hantu London?" Gaby turun dari sofa dan menarik-narik ujung kaos Emrys, memasang wajah paling memelas yang ia punya. "Tolonglah, Kak... hanya untuk malam ini. Besok aku janji akan jadi anak baik dan tidak akan memaksa menonton horor lagi."

Emrys menatap mata Gaby yang berkaca-kaca, lalu ia membuang muka sembari mengusap tengkuknya. Ia tahu jika ia menolak, Gaby mungkin akan terjaga semalaman di depan kamarnya seperti anak kucing yang terbuang.

"Fine. Only for tonight," putus Emrys akhirnya. "But you’re taking the chaise longue at the corner of my room. No jumping on the bed, you hear me?"

"Siap, Tuan Besar!" Gaby langsung bersorak kecil, ketakutannya menguap seketika dan berganti dengan rasa aman. Ia segera berlari menuju kamarnya untuk mengambil bantal dan guling favoritnya, meninggalkan Emrys yang masih berdiri di ruang tengah, merutuki dirinya sendiri karena terlalu mudah luluh pada permintaan konyol sepupunya itu.

Di Dalam Kamar Emrys

Kamar Emrys jauh lebih besar dan bernuansa maskulin dengan dominasi warna abu-abu gelap dan kayu hitam. Gaby dengan riang menata bantalnya di sofa panjang (chaise longue) di sudut ruangan, tepat di bawah jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota London.

"Selamat tidur, Kak Lemon!" goda Gaby saat ia sudah meringkuk di balik selimutnya.

Emrys, yang baru saja merebahkan diri di ranjang king size-nya, hanya mendengus pelan tanpa menoleh. "Shut up and go to sleep, Gaby. Before I change my mind and put you back in the hallway."

1
delta_core127
up lagi dong~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!