NovelToon NovelToon
Pedang Tanpa Langit: Melampaui Takdir Abadi

Pedang Tanpa Langit: Melampaui Takdir Abadi

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Marcel ( rxel )

Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
​Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20: Kebangkitan Sang Dewi

Langit di atas Kuil Matahari tidak lagi memancarkan cahaya suci yang hangat. Sebaliknya, ia terbelah oleh pusaran awan hitam yang memancarkan kilat ungu destruktif. Struktur megah pilar-pilar giok mulai retak, dan pulau melayang yang telah bertahan selama puluhan ribu tahun itu bergetar hebat, kehilangan stabilitasnya karena fondasi energinya—Sang Dewi Teratai—sedang ditarik paksa oleh kekuatan luar.

​Li Chen berdiri di tengah altar, jubah murid luarnya telah hancur, menyingkap zirah sisik hitam yang berdenyut dengan energi Iblis Bintang. Di tangan kanannya, ia mencengkeram leher Putra Mahkota Yang Tian yang sudah tak berdaya, dan di tangan kirinya, ia memegang Kunci Cahaya Murni yang masih berlumuran darah emas.

​"Kau... kau tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup..." rintih Yang Tian, wajahnya yang tampan kini membiru. "Para Dewa Agung... mereka sudah bangun..."

​Li Chen menatap Yang Tian dengan dingin. "Kalau begitu, biarkan mereka melihat bagaimana surga mereka runtuh."

​Li Chen menghempaskan Yang Tian ke lantai marmer hingga hancur, lalu ia menghantamkan Kunci Cahaya Murni itu ke segel pusat altar.

​DUARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR!

Ledakan energi putih yang menyilaukan meledak dari bawah altar, namun Li Chen tidak mundur. Ia menggunakan tubuhnya sebagai konduktor, menyerap sebagian ledakan itu untuk membuka paksa saluran menuju ruang bawah tanah terdalam.

​Ia melompat ke dalam lubang yang tercipta, jatuh melewati ribuan formasi pertahanan yang kini malfungsi. Di dasar sana, ia menemukan ibunya.

​Dewi Teratai, Li Xue'er, terikat pada pilar raksasa yang menembus jantung spiritualnya. Rantai-rantai cahaya itu berdenyut, mengisap esensi jiwanya setiap detik. Namun, saat Li Chen mendekat, pilar itu bereaksi. Ia mengeluarkan duri-duri cahaya yang mencoba menembus tubuh Li Chen.

​"Seni Penelan Bintang: Pemakan Cahaya!"

​Li Chen membuka mulutnya dan benar-benar menghisap duri-duri cahaya itu. Ia memegang rantai utama dengan tangan kosong, membiarkan kulitnya terbakar hingga ke tulang, lalu menyentakkan kekuatannya.

​KRAK!

​Rantai itu hancur. Tubuh ibunya jatuh ke pelukan Li Chen. Wanita itu begitu ringan, seolah-olah ia hanya terbuat dari kelopak bunga yang layu.

​"Ibu... aku di sini," bisik Li Chen, suaranya gemetar.

​Li Xue'er membuka matanya yang berwarna perak bening. Sebuah senyuman lemah muncul. "Chen'er... anakku... kau tumbuh... sangat kuat... tapi tempat ini... adalah jebakan..."

​Tiba-tiba, dari atas lubang, muncul tekanan yang begitu besar hingga lantai batu di sekitar mereka hancur menjadi debu. Tiga sosok tua dengan jubah emas yang memancarkan cahaya yang lebih terang dari matahari muncul. Mereka adalah Tiga Dewa Penjaga Langit, para ahli ranah Transformasi Dewa Puncak.

​"Mahluk rendah, kau telah mengganggu ketertiban alam!" salah satu dewa bersuara, getarannya menyebabkan telinga Li Chen mengeluarkan darah. "Kembalikan sumber energi kami dan matilah dalam kehampaan!"

​Tiga dewa itu menyerang serentak, menciptakan segitiga energi suci yang membakar segala sesuatu di dalamnya. Li Chen memeluk ibunya erat-erat, menggunakan punggung dan sayap hitamnya sebagai perisai.

​BOOM!

​Li Chen terlempar menabrak pilar penjara, tulang belakangnya retak. Namun, ia tidak melepaskan ibunya.

​"Li Chen! Gunakan esensi darahmu untuk memicu benih teratai di dalam dirinya!" teriak Kaisar Pedang. "Dia bukan tawanan biasa, dia adalah sumber kehidupan dunia ini! Jika dia bangun, dewa-dewa palsu ini bukan apa-apa!"

​Li Chen menggigit lidahnya sendiri dan memuntahkan darah esensi Iblis Bintang-nya ke bibir ibunya. Darah hitam kemerahan itu mengandung energi vitalitas yang ia kumpulkan dari ribuan musuh yang ia telan.

​Seketika, sebuah cahaya hijau zamrud meledak dari jantung Li Xue'er.

​Mekarnya Teratai Sembilan Surga

​Seluruh ruangan bawah tanah itu tiba-tiba dipenuhi oleh aroma harum bunga yang menenangkan. Luka-luka di tubuh Li Xue'er menutup dalam sekejap. Rambut putihnya berubah menjadi perak berkilauan, dan tanda teratai di dahinya bersinar dengan otoritas yang membuat tiga dewa di atas sana gemetar.

​Li Xue'er berdiri perlahan. Ia menatap ke arah tiga dewa itu, namun matanya tidak menunjukkan kemarahan, melainkan belas kasihan yang dingin.

​"Sepuluh tahun kalian memeras jiwaku untuk menopang ketidaksucian kalian," suara Li Xue'er lembut, namun bergema di seluruh Langit Atas. "Hari ini, Langit akan mengambil kembali apa yang dipinjamkan-Nya."

​Li Xue'er merentangkan tangannya. Sembilan kuntum bunga teratai raksasa muncul dari udara hampa, mengelilingi dirinya dan Li Chen.

​"Teknik Teratai Suci: Reinkarnasi Cahaya dan Kegelapan!"

​Energi suci dari Li Xue'er bergabung dengan energi Iblis Bintang milik Li Chen. Cahaya dan kegelapan, dua kekuatan yang seharusnya saling menghancurkan, kini berdansa harmonis di bawah kendali Sang Dewi.

​DHUARRRRRR!

​Segitiga energi para dewa hancur berkeping-keping. Tiga Dewa Penjaga terlempar keluar dari ruang bawah tanah, menabrak menara-menara tinggi di atas.

​Li Xue'er menatap anaknya. "Chen'er, pegang tanganku. Mari kita tunjukkan pada mereka mengapa klan kita disebut sebagai Penjaga Takdir."

​Li Chen bangkit, rasa sakit di tubuhnya menghilang seketika karena aliran energi ibunya. Mereka melesat keluar dari lubang, terbang tinggi ke langit di atas Kuil Matahari yang sedang runtuh.

​Di sana, ribuan tentara dewa telah menunggu. Namun, pemandangan di depan mereka sangat mengerikan. Li Chen di sisi kanan dengan sayap hitam raksasa dan pedang Takdir Sembilan Bintang, serta Li Xue'er di sisi kiri dengan mahkota teratai cahaya dan aura yang melampaui segala ranah yang dikenal manusia.

​"Serang!" teriak para jenderal dewa.

​Li Chen menyeringai. "Ibu, bolehkah aku 'makan' sedikit?"

​Li Xue'er tersenyum lembut. "Telanlah apa yang busuk, Chen'er. Bersihkan jalan menuju keadilan."

​Li Chen melesat seperti garis hitam yang membelah tentara dewa. Setiap tebasannya tidak hanya membunuh, tapi benar-benar menghapus keberadaan mereka. Sementara itu, Li Xue'er melambaikan tangannya, dan setiap kelopak bunga teratai yang jatuh dari langit berubah menjadi pedang cahaya yang mengejar musuh secara otomatis.

​Dalam waktu satu jam, Kuil Matahari yang megah telah menjadi lautan api dan reruntuhan. Pulau melayang itu mulai jatuh dengan kecepatan tinggi menuju lautan di dunia bawah.

​Perpisahan dan Janji Baru

​Di tengah kekacauan itu, Li Xue'er menatap ke arah cakrawala, di mana sebuah gerbang raksasa berwarna emas murni mulai terbuka.

​"Para Penguasa Sejati dari Langit Tertinggi akan segera datang," bisik Li Xue'er. "Chen'er, kau belum cukup kuat untuk melawan mereka semua sekarang. Kau harus kembali ke dunia bawah, satukan sisa-sisa klan kita, dan temukan Jantung Bintang yang terkubur di Benua Utara."

​"Aku tidak akan meninggalkan Ibu lagi!" bantah Li Chen.

​Li Xue'er membelai pipi Li Chen. "Aku tidak akan tertangkap lagi, anakku. Dengan kekuatanku yang sudah kembali, aku akan memimpin mereka menjauh darimu. Aku akan menjadi bayangan di Langit Atas yang akan menghantui mimpi mereka, sementara kau tumbuh menjadi Penguasa yang sebenarnya."

​Li Xue'er mencium dahi Li Chen. Seketika, sebuah segel pelindung membungkus Li Chen.

​"Pergilah! Temukan ayahmu... jiwanya mungkin belum sepenuhnya musnah!"

​Li Xue'er mendorong Li Chen ke arah lubang dimensi yang ia ciptakan. Li Chen mencoba menggapai tangan ibunya, namun ia tersedot masuk ke dalam pusaran ruang dan waktu.

​Hal terakhir yang Li Chen lihat sebelum gerbang tertutup adalah ibunya yang berdiri sendirian di tengah ribuan dewa yang mulai berdatangan, wajahnya tenang dan penuh kemenangan, sementara di belakangnya, Kuil Matahari meledak menjadi jutaan kepingan cahaya.

​Li Chen terbangun di tepi sebuah danau yang tenang di dunia bawah. Tubuhnya terasa berat, dan tingkat kultivasinya telah melonjak secara permanen ke ranah Jiwa Baru (Nascent Soul) Tahap Puncak, hampir menyentuh Transformasi Dewa.

​Ia mengepalkan tangannya. Di telapak tangannya, terdapat sebuah benih teratai kecil yang berkilauan—hadiah terakhir dari ibunya.

​"Langit Atas..." gumam Li Chen, suaranya sedingin es yang paling dalam. "Nikmatilah kemenangan singkat kalian. Karena saat aku kembali nanti, aku tidak hanya akan menelan kuil kalian, aku akan menelan seluruh takdir yang kalian agungkan."

​Li Chen berdiri, menatap ke arah utara, di mana badai salju abadi mulai terlihat. Perjalanannya baru saja memasuki babak yang paling berdarah.

1
Inyos Sape Sengga
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!