Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Mata Elang Yang Mengawasi
Pagi itu, kediaman Bramantyo terasa jauh lebih hangat. Aluna terbangun dengan perasaan senang karena semalam Bram tidak benar-benar marah meski ia terlambat.
Sifat manjanya pun kembali mekar. Ia memilih gaun terusan berwarna baby pink yang membuatnya tampak sangat muda dan menggemaskan.
Saat menuruni tangga, Aluna melihat Bram sedang duduk di meja makan, asyik dengan ponsel bisnisnya.
Aluna tidak duduk di kursinya sendiri. Ia justru menghampiri Bram dan dengan santai duduk di lengan kursi pria itu, menyandarkan tubuhnya pada bahu Bram.
"Daddy... soal Anwar," bisik Aluna sambil memainkan ujung rambut Bram yang rapi.
"Jangan suruh dia berdiri di depan pintu kelas ya? Aku jadi tidak punya teman karena mereka takut melihatnya."
Bram meletakkan ponselnya, beralih menatap Aluna. Matanya masih tajam, namun ada kilat kasih sayang yang dalam di sana.
"Dia hanya menjagamu, Aluna. Kau tahu dunia luar tidak seaman rumah ini."
Aluna mengerucutkan bibirnya, memberikan tatapan "anak kucing" yang selalu menjadi kelemahan Bram.
Ia melingkarkan lengannya di leher Bram, memberikan kecupan-kecupan kecil di pipi pria itu.
"Aku janji akan langsung pulang. Aku tidak akan mampir ke mana-mana. Tapi tolong, biarkan aku merasa seperti mahasiswa biasa, Daddy. Boleh ya?"
Bram menghela napas panjang. Kekerasannya seolah mencair setiap kali Aluna mengeluarkan jurus manjanya. Ia menarik pinggang Aluna dan memeluknya erat.
"Baiklah. Anwar hanya akan menunggumu di area parkir. Tapi dia akan tetap membuntutimu dari jarak jauh. Itu batas maksimal toleransiku, Aluna."
"Terima kasih, Daddy! Kau yang terbaik!" Aluna berseru senang, mencium bibir Bram sekilas sebelum melompat turun dari pangkuannya dengan riang.
Bram menatap Aluna dengan senyum tipis, namun di balik itu, ia tetap memberikan isyarat mata kepada Anwar yang berdiri di sudut ruangan.
Sebuah perintah bisu yang artinya: Jangan biarkan dia lepas dari pandanganmu sedikit pun.
____________________________________________
Kehidupan kampus Aluna hari itu terasa jauh lebih ringan. Sesuai janji Bram, Anwar tidak lagi berdiri kaku di depan pintu kelas.
Pria itu hanya terlihat sesekali di kejauhan, berjalan di antara kerumunan mahasiswa, atau duduk di bangku taman yang menghadap ke koridor kelas Aluna.
"Eh, Luna, sepertinya pengawalmu sudah mulai 'manusiawi' ya?" goda Sarah saat mereka berjalan menuju perpustakaan.
Aluna tertawa kecil, ia merasa menang karena rayuannya berhasil. "Daddy itu sebenarnya baik, hanya saja dia terlalu khawatir padaku. Maklum, aku kan satu-satunya yang dia punya."
Meskipun Anwar hanya menjadi "bayangan", kehadirannya tetap memberikan rasa aman yang aneh bagi Aluna.
Ia menikmati tatapan kagum—dan sedikit takut—dari mahasiswa lain yang menyadari bahwa Aluna bukan gadis sembarangan. Di mata Aluna, pengawasan ini bukan penjara, melainkan bukti betapa mahalnya nilai dirinya di mata Bram.
Saat sedang mencari buku di rak perpustakaan yang sepi, Rio kembali menghampirinya.
"Aluna, hey. Aku dengar kau sempat dicari Pak Anwar tadi," sapa Rio ramah.
Aluna tersenyum sopan. "Oh, dia hanya memastikan aku sudah makan siang. Daddy-ku memang seperti itu."
Rio tertawa kecil. "Beruntung sekali punya wali sepertinya. Tapi, apa kau tidak merasa terkekang? Kadang aku ingin mengajakmu minum kopi di luar kampus, tapi sepertinya penjagaanmu sangat ketat."
"Mungkin lain kali, Rio," jawab Aluna santai. Ia merasa bangga karena pria sepopuler Rio memberinya perhatian, namun ia juga tahu batas aman yang tidak boleh ia langgar demi menjaga kepercayaan Bram.
Di dalam mobil Bentley yang terparkir, Anwar tidak pernah benar-benar bersantai.
Di pangkuannya terdapat sebuah tablet yang terhubung dengan GPS di ponsel Aluna dan juga kamera kecil yang tersembunyi di kancing jasnya.
Ia mengambil beberapa foto Aluna yang sedang mengobrol dengan Rio dari kejauhan. Foto-foto itu langsung terkirim ke ponsel Bram.
Hanya dalam hitungan menit, ponsel Aluna bergetar di dalam tasnya.
Daddy: "Siapa pria yang bicara denganmu di perpustakaan? Tampaknya dia terlalu dekat denganmu, Sayang."
Aluna tersentak. Ia segera membalasnya dengan nada manja: "Hanya teman kelas, Daddy. Dia tanya soal buku referensi. Jangan cemburu ya? Aku kan cuma milik Daddy <3"
Bram yang sedang berada di tengah rapat direksi, menatap balasan pesan itu.
Amarahnya yang sempat tersulut melihat foto Rio seketika mereda karena kalimat terakhir Aluna.
Ia menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran, menyunggingkan senyum yang membuat para direkturnya bingung.
"Cepat pulang. Aku punya hadiah kecil untukmu malam ini," balas Bram.
____________________________________________
Sore itu, Aluna pulang tepat waktu, bahkan lebih awal sepuluh menit. Ia langsung menghambur ke ruang kerja Bram begitu sampai.
"Daddy! Aku pulang tepat waktu!" serunya sambil memeluk Bram dari belakang saat pria itu sedang memeriksa dokumen.
Bram berputar, menarik Aluna ke pangkuannya. Ia menghirup aroma parfum Aluna yang masih segar.
"Pintar. Karena kau patuh hari ini, Anwar bilang kau tidak melakukan hal-hal yang aneh."
"Tentu saja tidak. Aku kan anak penurut," ucap Aluna sambil mengelus rahang tegas Bram.
Bram mengecup leher Aluna dengan lembut, sebuah sentuhan yang masih terasa seperti kasih sayang ayah, namun perlahan-lahan mulai berubah menjadi lebih intens.
Aluna hanya tertawa geli, tidak menyadari bahwa pengawasan "longgar" hari ini adalah cara Bram untuk menguji sejauh mana Aluna akan jujur padanya.
"Hadiahnya mana, Daddy?" tagih Aluna manja.
"Hadiahnya akan aku berikan saat makan malam Aluna. Sekarang kembalilah ke kamar, jadikan dirimu cantik malam ini, sayang."
"Aye...aye captain." jawab Aluna dengan penuh semangat.
Malam itu berakhir dengan kehangatan, penuh tawa manja Aluna dan tatapan posesif Bram yang masih terselubung rapi.
Transisi menuju obsesi gelap itu masih berjalan perlahan, tertutup oleh kemanjaan Aluna yang merasa dunianya sudah sangat sempurna.