Jihan Fahira memergoki suaminya selingkuh dengan sahabatnya. saat dia kembali dari rumah sakit. Saat itu suami dan sahabatnya sedang melakukan hubungan yang tidak pantas di dalam sebuah villa.
Saat itu Jihan tewas di tangan suami dan sahabatnya sendiri. Namun keajaiban muncul dalam hidupnya. Dia di beri kesempatan kedua. Jihan kembali hidup ke enam tahun yang lalu.
Kesempatan kedua untuk membalas dendam dan mengubah kembali takdir tragis yang akan terjadi di masa depan.
Mampukah Jihan membalas dendam dan mengubah takdir tragis yang akan menimpanya ?
Follow Ig: Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Di kehidupan sebelumnya Jihan mengasingkan diri nya sendiri dari orang lain. Dia jarang berbicara dengan orang lain, dan hanya percaya apa yang di katakan oleh Regina dan Hendrick, termasuk Bu Reni.
"Benar sekali...! Kenapa sebelumnya aku tidak pernah berbicara dengannya, padahal Bu Reni sangat baik kepada semua orang tidak seperti pak Toni"
"Dulu aku sangat bodoh. Bisa-bisanya aku percaya dengan semua yang di katakan oleh Regina dan Hendrick, mereka adalah sampah yang harus aku buang dalam hidup ku".
Jihan kemudian mengikuti Bu Reni sampai di ruangan tempat karyawan berisitirahat. Dengan ragu-ragu Jihan memanggil nya.
"B-bu... Bu Reni...?" Panggil Jihan dengan suara sedikit pelan dan terputus-putus.
Bu Reni mendengar ada yang memanggil namanya, dan melihat Jihan berada tidak jauh di belakang dirinya.
"Bu Jihan! Kamu memanggil ku...?" Tanya Bu Reni, melihat kearah Jihan.
Jihan mengangguk dan perlahan berjalan menghampirinya. Wajahnya terus menunduk kebawah karena belum terbiasa berbicara dengan orang lain, selain Hendrick dan Regina.
Namun tanpa Jihan sadari dia berbicara dengan direktur Hans sebelumnya, dirinya tampak terlihat tidak canggung sama sekali saat bersama dengannya.
"Ada apa Bu Jihan...?" Ucap Bu Reni kembali bertanya.
Dirinya sedikit terheran-heran saat Jihan memanggil namanya. Karena baru pertama kalinya Bu Reni berbicara dengan Jihan selain di saat berkerja.
"Maaf Bu! Ini...!" Ucap Jihan wajahnya masih menunduk, dan tangannya menyerahkan proposal yang dia bawa.
Bu Reni mengambil nya dan bertanya apa yang Jihan serahkan kepada dirinya. "Apa ini Bu Jihan...?".
"Ini proposal saya Bu Reni! Harap Bu Reni mau melihat nya" ujar Jihan.
"Sudah kamu kasih kepada pak Toni, Bu Jihan...? Seharusnya kamu serahkan kepada nya bukan kepada ku" ucap Bu Reni, menurutnya seharusnya Jihan menyerahkan proposal itu kepada pak Toni sebagai atasan mereka.
"Sudah Bu tapi di tolak, namun menurut saya proposal ini sangat bagus... Mohon Bu Reni melihat nya." Ucap Jihan, dia melihat Regina yang menuju kearah nya.
"Tapi Bu Jihan-..." Belum selesai bicara, Jihan memotong perkataannya.
"Bu, tolong di lihat, maaf saya masih ada urusan, saya permisi Bu!" Ucap Jihan, segera kembali ke ruangannya.
Jihan terburu-buru keluar dari ruangan istirahat. Regina yang melihat Jihan pergi terburu-buru merasa heran kenapa dirinya lari terbirit-birit saat melihat dirinya.
"Ada apa dengan nya...? Kenapa berlari seperti itu...?" Gumam Regina, melihat Jihan yang berlari terbirit-birit.
Saat itu Regina melihat Bu Reni yang keluar dari ruangan istirahat, sambil membaca proposal milik Jihan. Bu Reni tampak serius membacanya dan tidak memperhatikan sekelilingnya.
Regina yang melihat Bu Reni, matanya tertuju kepada proposal yang dia pegang. Seketika Regina langsung tahu bahwa yang sedang di baca oleh Bu Reni adalah proposal milik Jihan.
"Jihan... Jadi kamu menyerahkan proposal itu kepada Bu Reni, namun sayang Jihan, proposal itu tetap akan menjadi milikku" ujar Regina dalam hati, sambil tersenyum licik penuh ambisi.
Jihan yang berlari terbirit-birit akhirnya sampai di mejanya. Dia berharap bahwa Bu Reni mau mempertimbangkan proposal miliknya kepada pak Toni.
Jihan menghela nafas panjang, lalu melenturkan kakinya. Sekarang dirinya hanya bisa berharap kepada Bu Reni, karena hanya Bu Reni yang bisa membantunya.
Di atas balkon perusahaan, Bu Reni membaca setiap isi dan detail proposal milik Jihan dengan program Makanan Berbasis Gizi (MBG).
Program itu menyiapkan asupan gizi seimbang dan bernutrisi untuk semua kalangan dan praktis untuk dibuat maupun anak-anak dan orang dewasa.
Setiap detailnya sangat bagus, mulai dari vitamin hingga zat besi ada dalam produk di dalam proposal yang dibuat oleh Jihan.
"Proposal ini sangat bagus... Tapi kenapa di tolak oleh pak Toni...?" Gumam Bu Reni.
Dirinya terheran-heran mengapa atasnya menolak proposal sebagus itu. Proposal itu berpotensi tinggi untuk mencapai kesuksesan dan meraup keuntungan yang besar bagi perusahaan.
Jihan yang tahu Bu Reni sedang berada di atas balkon perusahaan. Dirinya menghampiri Bu Reni.
Tak!
Tak...!
Terdengar suara langkah kaki Jihan dari belakang. Bu Reni membalikkan badannya dan melihat Jihan berjalan kearahnya.
"Bagaimana Bu Reni... Apa Bu Reni puas dengan proposal yang saya buat...?" Tanya Jihan, langkahnya semakin dekat dengan apa yang dia inginkan.
"Bu Jihan proposal mu sangat bagus... Aku yakin proposal ini akan sukses besar! Tapi kenapa pak Toni menolaknya...?" Ucap Bu Reni, bertanya apa alasan atasanya menolak proposal yang sangat bagus.
"Karena pak Toni tidak benar-benar berkerja... Dia hanya bermalas-malasan...!" Ujar Jihan.
Jihan memberi tahu apa yang sebenarnya di lakukan oleh atasannya itu. Dirinya hanya bermalas-malasan dan tidak benar-benar berkerja. Sementara mereka yang berkerja, lalu atasnya yang menyerahkan proposal itu atas namanya sendiri.
"Bu Jihan apa yang kamu katakan... Jangan bicara seperti itu, dia itu atasan kita...!" Ujar Bu Reni.
Namun Jihan memberikan tantangan kepada Bu Reni, untuk membuktikan bahwa atasannya benar-benar tidak pernah berkerja.
"Bu Reni... Bagaimana kalau apa yang saya katakan benar... Maukah Bu Reni bergabung dengan saya...?" Ujar Jihan memberikan tantangan kepada Bu Reni.
"Tapi Bu Jihan- " ucap Bu Reni. Namun Jihan kembali memotong perkataannya.
"Satu kali saja... Saya yakin, bahwa saya benar-benar mengatakan apa yang sebenarnya...?" Ujar Jihan, menatap wajah Bu Reni, berharap dia menyetujui permintaan nya.
Bu Reni yang melihat Jihan tampak serius dengan apa yang dia katakan. Bu Reni akhirnya mengangguk dan menyetujui permintaan dari Jihan.
"Baiklah Bu Jihan... Semoga saja perkataan mu benar!"; ucap Bu Reni. Menyetujui permintaan dari Jihan.
Inilah saatnya Jihan memberi pelajaran kepada atasannya yang telah merebut proposal miliknya bersama dengan Regina. Kali ini dia tidak akan membiarkan mereka berdua berhasil.
"Baiklah Bu Reni... Kita lihat nanti apa yang akan terjadi!"
Jihan tersenyum lebar sembari menatap kota yang luas di atas balkon perusahaan. Langkah pertamanya untuk membalas dendam di mulai dari sekarang...!
❅
❅
❅
𝐵ℯ𝓇𝓈𝒶𝓂𝒷𝓊𝓃ℊ...ღ