NovelToon NovelToon
Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur / Roh Supernatural
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.

Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.

Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Formasi Sudah Selesai

Sejak hari itu, goa terdalam berubah menjadi tempat yang memiliki dua wajah.

Di siang hari, ia tetap menjadi neraka kecil di perut gunung, gelap, pengap, dipenuhi dentang logam dan debu batu. Shou Wei dan Hui Song bekerja seperti budak lain. Mereka memecah batu, mengangkat bongkahan, dan menundukkan kepala setiap kali langkah bandit terdengar di lorong.

Namun saat malam turun dan dunia di luar lorong meredup, goa terdalam menjadi ruang rahasia.

Ruang tempat empat anak kecil mulai melawan takdir.

Batu roh yang disisihkan Bo De tidak pernah banyak. Kadang hanya dua butir kecil, kadang lima pecahan seukuran kuku. Chu Hua akan mengambilnya dari celah batu yang telah ditentukan, lalu menyelipkannya ke dalam baki makanan atau diikat dalam sobekan kain di balik pinggangnya. Dari tangan Chu Hua, batu-batu itu sampai ke goa terdalam, sedikit demi sedikit, begitu pelan hingga bahkan orang yang menghitung pun takkan sadar.

Shou Wei menyimpan semuanya di balik dinding palsu dekat tempat ditemukannya kitab.

Setelah lima hari, jumlahnya baru cukup untuk membentuk lingkar luar.

Setelah sembilan hari, mereka punya cukup untuk membuat empat titik arah.

Setelah dua belas hari, Shou Wei akhirnya berkata, “Malam ini kita mulai.”

Malam itu, angin dari celah gunung terasa lebih dingin. Chu Hua datang terlambat dari biasanya dengan alasan seorang bandit mabuk menarik bajunya dan menanyai kenapa ia terlalu lama di lorong atas. Bo De juga terlambat mengambil hasil galian karena goa tengah kedatangan tamu dari luar. Semua itu membuat ketegangan mereka semakin tajam.

Namun justru karena itulah, malam ketika semua orang lebih sibuk dari biasanya menjadi kesempatan terbaik.

Di bawah cahaya obor kecil yang mereka tutupi dengan lempengan batu agar tak menyebar terlalu jauh, Shou Wei membentangkan kitab kuno di lantai.

Hui Song duduk di kanan, Chu Hua di dekat pintu masuk, dan Bo De bersandar di dinding sambil melipat tangan, wajahnya tetap seperti orang yang siap kabur kapan saja bila keadaan menjadi buruk.

Shou Wei menunjuk gambar di kitab.

“Dengar baik-baik. Aku tidak akan mengulang dua kali.”

“Bilang saja,” kata Chu Hua pelan.

Shou Wei menelusuri garis-garis kuno itu dengan jari. “Formasi ini bernama Formasi Warisan Empat Roh. Bukan formasi menyerang, bukan formasi bertahan. Ini formasi penggabungan warisan darah.”

Bo De mengerutkan dahi. “Warisan darah? Maksudnya kita akan jadi ras binatang?”

Hui Song terkekeh kering. “Kalau bisa keluar dari tambang ini hidup-hidup, jadi binatang pun tak masalah.”

Shou Wei tetap fokus. “Di kitab, empat arah ini tertulis sebagai utara, selatan, timur, barat. Tapi yang lebih penting adalah nama-nama yang melekat pada tiap arah.”

Ia menunjuk titik utara terlebih dahulu.

“Xuanwu. Kura-kura hitam. Roh ketahanan, pertahanan, dan kekuatan tubuh.”

Jarinya berpindah ke selatan.

“Fenghuang. Burung api. Roh perubahan, kecepatan, dan letupan tenaga.”

Lalu ke barat.

“Qilin. Roh tanah, kekuatan, dan serangan.”

Terakhir, ke timur.

“Longwang... naga. Roh aliran, dominasi, dan perubahan tubuh.”

Bo De menatap garis-garis itu dengan sorot mata yang berbeda dari sebelumnya. Bukan lagi sekadar curiga, melainkan mulai mencoba mempercayai.

“Dan siapa di mana?” tanyanya.

Shou Wei tidak langsung menjawab. Ia memandang ketiganya lebih dulu, seperti sedang mencocokkan sesuatu di kepalanya.

“Hui Song di barat. Qilin.”

Pemuda itu mengangguk tanpa protes.

“Chu Hua di selatan. Fenghuang.”

Chu Hua sedikit mengangkat alis. “Karena aku perempuan?”

“Karena langkahmu ringan, tubuhmu cepat, dan emosimu paling panas meski kau menyembunyikannya,” jawab Shou Wei.

Chu Hua tak berkata lagi.

“Bo De di utara. Xuanwu.”

Bo De mendecak. “Kenapa aku bukan naga?”

“Karena kau paling sabar dalam menyimpan sesuatu, paling tahan, dan paling pandai menunggu waktu.”

Bo De hendak membalas, tetapi akhirnya diam.

Shou Wei lalu meletakkan telapak tangannya di titik timur.

“Aku di timur. Longwang.”

Hui Song menatapnya. “Karena kau yang menemukan kitab?”

“Karena kitab ini bereaksi paling kuat saat aku menyentuh bagian timur.” Shou Wei menatap gulungan itu. “Dan karena... entah kenapa, saat membaca bagian ini, aku bisa memahaminya lebih cepat daripada bagian lain.”

Keheningan singkat turun. Tak satu pun dari mereka benar-benar mengerti apakah itu kebetulan atau pertanda, tetapi tak ada pilihan lain. Mereka sudah terlalu jauh masuk ke dalam rencana ini.

“Malam ini kita belum mengaktifkannya,” kata Shou Wei. “Kita baru membangun dasar formasi. Kalau salah meletakkan satu batu saja, semua usaha kita bisa sia-sia.”

“Jadi apa tugasku?” tanya Hui Song.

“Kau dan Bo De memindahkan batu-batu besar sesuai urutan yang kubilang. Chu Hua berjaga di lorong. Kalau ada langkah siapa pun, beri isyarat dua ketukan.”

Chu Hua mengangguk singkat.

“Kalau ada bandit?” tanya Bo De.

“Padamkan obor, tutup kitab, dan duduk seperti orang bodoh yang kehabisan tenaga.”

“Bagus,” gumam Bo De. “Bagian terakhir itu mudah.”

Mereka mulai bekerja.

Shou Wei mengambil batu roh kecil pertama dan menanamnya ke celah lantai yang telah ia kikis sebelumnya. Batu itu berada tepat di bagian luar lingkaran utama. Lalu satu lagi. Lalu satu lagi. Ia menyusunnya seperti bintang-bintang kecil yang mengelilingi cincin tak kasatmata. Di antara titik-titik itu, Hui Song dan Bo De meletakkan bongkahan batu biasa yang telah dipahat kasar sebagai penyangga aliran tenaga.

“Lebih ke kiri,” kata Shou Wei.

Bo De menggeser batu sebesar kepala itu sedikit.

“Sedikit lagi.”

“Kalau sedikit lagi, jari kakiku hancur.”

“Berarti berhenti di situ.”

Hui Song menahan tawa pendek.

Malam semakin larut. Keringat bercampur debu memenuhi tubuh mereka, tetapi tak seorang pun mengeluh terlalu keras. Chu Hua sesekali menoleh ke dalam, memastikan susunan mereka tidak salah. Meskipun tidak memegang kitab, gadis itu punya mata paling tajam di antara mereka. Dua kali ia melihat garis yang ditarik Shou Wei sedikit miring, dan dua kali pula ia menyuruhnya mengulang.

“Kalau formasi ini meledak karena garismu jelek, aku akan bangkit dari kematian hanya untuk memukulmu,” katanya datar.

Shou Wei menatap garis itu, lalu menghapusnya dan menggambar ulang.

Menjelang tengah malam, lingkar luar akhirnya selesai.

Tidak besar—hanya cukup untuk menampung empat anak berdiri pada empat arah. Namun saat semua batu roh sudah tertanam pada tempatnya, goa terdalam terasa berbeda. Udara di sekitar lingkaran menjadi sedikit lebih dingin, dan api obor sesekali berkedip ke arah dalam seolah ditarik oleh sesuatu.

Bo De melihatnya lebih dulu. “Kalian lihat itu?”

Hui Song berdiri, menatap lingkaran batu di lantai. “Ia... bernapas?”

“Belum aktif,” kata Shou Wei. “Tapi aliran rohnya sudah mulai berkumpul.”

Untuk pertama kalinya, bahkan Bo De tak lagi tampak ingin mencemooh. Ia menatap lingkaran itu cukup lama, lalu duduk perlahan seolah takut menginjak garis yang salah.

Mereka baru hendak beristirahat ketika terdengar dua ketukan cepat dari lorong.

Tok. Tok.

Semua tubuh menegang.

Chu Hua berbalik dari pintu masuk, wajahnya pucat. “Ada orang.”

Tanpa menunggu perintah, Hui Song menendang pecahan batu ke atas sebagian garis formasi. Bo De menyambar sisa batu roh dan memasukkannya ke dalam keranjang kosong. Shou Wei menggulung kitab dengan satu gerakan cepat, lalu menyelipkannya ke celah dinding. Obor dikecilkan. Dalam sekejap, mereka semua duduk seperti baru selesai bekerja dan kehabisan tenaga.

Langkah kaki terdengar mendekat.

Bukan langkah bandit tua yang berat.

Ini lebih ringan.

Lebih teratur.

Jubah bergesek batu.

Jantung Shou Wei berdetak keras.

Sesosok bayangan muncul di mulut lorong, diterangi cahaya obor dari belakang. Seorang pemuda berjubah putih berdiri di sana. Usianya mungkin baru delapan belas atau sembilan belas tahun, wajahnya bersih, rambutnya diikat rapi, dan di dada kirinya ada lambang pedang putih.

Sekte Bulan Bintang.

Tidak ada satu pun dari empat anak itu bergerak.

Pemuda sekte itu menatap mereka dengan jijik tipis, lalu menoleh ke tumpukan hasil galian hari ini. “Hanya segini?”

Hui Song menunduk. “Urat di sisi kanan lebih keras, Tuan.”

Pemuda itu berjalan masuk dua langkah. Chu Hua menahan napas. Bo De menunduk lebih dalam, tetapi tangan anak itu sudah diam-diam menggenggam pecahan batu tajam.

Pemuda sekte itu memeriksa dinding, lantai, lalu batu-batu di sudut ruangan. Mata Shou Wei tak berkedip, tetapi seluruh tubuhnya bersiap jika gulungan di balik dinding sampai ditemukan.

“Tambang ini tidak boleh melambat,” kata pemuda sekte itu dingin. “Dalam dua hari, pengangkutan berikutnya datang. Kalau hasil tetap sedikit, satu dari kalian akan dipotong jarinya sebagai pelajaran.”

Ia lalu melirik Chu Hua. “Kenapa gadis kecil ini masih di sini?”

Chu Hua segera menjawab, “Saya tadi baru mengantar makanan, Tuan.”

Pemuda itu mendengus. “Kalau begitu pergi.”

Chu Hua membungkuk dan melangkah mundur. Namun saat ia lewat, pemuda itu tiba-tiba menarik dagunya dengan dua jari, memaksa wajah gadis itu terangkat.

“Kalau beberapa tahun lagi kau masih hidup,” katanya sambil tersenyum tipis, “barangkali wajahmu bisa berguna untuk hal lain.”

Mata Chu Hua berubah dingin seperti kaca.

Shou Wei merasa darahnya naik. Hui Song juga mengangkat sedikit kepala. Bahkan Bo De tampak nyaris bergerak.

Tapi Chu Hua lebih cepat menundukkan tatapannya.

“Terima kasih atas perhatian Tuan,” katanya tanpa nada.

Pemuda sekte itu melepaskannya sambil tertawa kecil, lalu berbalik pergi. Langkahnya menghilang sedikit demi sedikit ke lorong atas.

Keheningan turun beberapa lama setelah ia benar-benar hilang.

Orang pertama yang bicara adalah Bo De.

“Aku akan membunuhnya suatu hari nanti.”

Chu Hua menyentuh dagunya sendiri seolah hendak menghapus jejak sentuhan itu. “Masukkan dia ke daftar.”

Hui Song memukul dinding sekali dengan kepalan tangannya. “Sial.”

Shou Wei bangkit dan memeriksa kembali tempat kitab disembunyikan. Masih aman. Ia mengembuskan napas perlahan, lalu menatap lingkaran yang sebagian tertutup pecahan batu.

“Mereka mulai curiga,” katanya.

Bo De mendecak. “Bagus. Berarti kita harus bergerak lebih cepat.”

Chu Hua menatap lingkaran itu. “Berapa lama lagi sampai selesai?”

Shou Wei menghitung dalam kepala. Lingkar luar selesai. Empat titik arah hampir lengkap. Yang belum adalah garis penghubung inti dan inti pengorbanan darah.

“Tiga malam,” katanya akhirnya. “Kalau tidak ada gangguan.”

“Kalau ada?” tanya Hui Song.

Shou Wei menatap ketiganya satu per satu. Dalam cahaya obor redup, ia tampak lebih tenang dari usianya yang dua belas tahun.

“Kalau ada, kita tetap selesaikan.”

Tak seorang pun membantah.

Karena mereka semua tahu satu hal yang sama: waktu mereka hampir habis.

Tambang ini semakin sibuk. Sekte mulai lebih sering datang. Bandit makin kasar. Dan setelah malam ini, tidak ada lagi ruang untuk ragu. Formasi harus selesai sebelum tambang itu menelan mereka hidup-hidup.

Malam pun berlanjut.

Mereka membersihkan kembali garis yang tertutup, memeriksa titik-titik yang bergeser, lalu menutup semuanya dengan lapisan debu tipis sebelum beristirahat. Saat akhirnya semua duduk terdiam, napas mereka terdengar berat, tetapi di balik kelelahan itu ada sesuatu yang makin kuat.

Bukan hanya harapan.

Melainkan keputusan.

Shou Wei menatap kitab kuno yang kembali tersembunyi di balik dinding. Nama-nama empat roh itu terasa makin berat di kepalanya: Longwang, Fenghuang, Qilin, Xuanwu.

Ia tidak tahu siapa yang membuat formasi ini.

Ia tidak tahu mengapa kitab itu tersembunyi di tambang ini.

Ia juga tidak tahu apakah empat anak kecil seperti mereka layak menerima warisan roh suci.

Namun satu hal pasti.

Jika langit memang pernah meninggalkan jalan bagi mereka di tempat ini, maka ia akan mengambilnya.

Dengan darah.

Dengan rasa sakit.

Atau dengan nyawanya sendiri.

1
Muhammad Arsyad
ini...kapan saktinya...lama amat🤭🤭
Simon Semprul
nie cerita pendekar apa misterii si thor /Gosh/
Daryus Effendi
ada b.ingrisnya jadi gak enak bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!