Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Pengawasan
Pagi setelah malam Gala Tahunan Chevalier tidak membawa ketenangan bagi penghuni kediaman Ramiro. Sebaliknya, rumah itu terasa seperti wilayah pendudukan. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar di ruang tengah seolah gagal mengusir bayang-bayang kelam yang ditinggalkan oleh gaun merah semalam.
Leah duduk di meja makan, menatap cangkir kopinya yang sudah dingin. Di sudut ruangan, dua orang pria berseragam safari gelap berdiri dengan posisi istirahat di tempat. Mereka bukan orang-orang Zefan, apalagi anak buah Denzel. Mereka adalah "pengawal tambahan" yang dikirim Jeff Chevalier pagi-pagi buta dengan dalih memastikan keselamatan "calon pasangannya" setelah acara besar semalam.
"Ini berlebihan, Kak," bisik Leah saat Zefan masuk ke ruangan dengan wajah yang tampak sangat tertekan.
Zefan tidak berani menatap mata adiknya. Ia menuang kopi dengan tangan yang sedikit gemetar. "Jeff menelepon subuh tadi. Dia bilang, sebagai mitra utama Proyek Kuda Troya, dia bertanggung jawab penuh atas keamanan keluarga kita. Dia merasa pengamanan Denzel saja tidak cukup untuk menghadapi potensi ancaman dari kompetitornya."
Leah tertawa hambar. "Ancaman? Satu-satunya ancaman di sini adalah Jeff sendiri. Dia tidak sedang melindungiku, Kak. Dia sedang mengurungku."
Denzel masuk ke ruang makan beberapa saat kemudian. Langkah kakinya terhenti sejenak saat matanya berserobok dengan dua pengawal kiriman Jeff. Ada kilatan amarah yang sangat dingin di mata Denzel, sebuah insting teritorial yang terusik, namun ia berhasil menekannya dengan kedisipilinan baja. Ia berjalan menghampiri meja makan, meletakkan laporan jadwal harian di samping Zefan.
"Mobil sudah siap, Nona Leah," ucap Denzel formal. "Namun, Tuan Chevalier meminta agar mobil pengawalnya mengikuti kita dari belakang."
Leah mendongak, menatap Denzel dengan tatapan meminta tolong yang tersembunyi. Namun, Denzel tetap dengan wajah batunya. Pria itu kini adalah ahli dalam menyembunyikan badai di balik topeng profesionalisme.
Perjalanan menuju kampus terasa seperti iring-iringan narapidana kelas kakap. Di depan, Denzel mengemudi dengan tenang, sementara di belakang, sebuah SUV hitam milik Chevalier membuntuti dengan jarak yang sangat rapat, seolah-olah siap menyeruduk jika Denzel melakukan manuver yang tidak disukai.
Sesampainya di kampus, keadaan tidak menjadi lebih baik. Jeff sudah menunggu di depan gedung fakultas, bersandar pada mobil sport-nya yang mencolok. Begitu Leah turun, Jeff segera melangkah maju dan merangkul bahu Leah. Gerakannya begitu protektif, hampir posesif, memastikan setiap mahasiswa yang lewat tahu siapa pemilik wilayah ini.
"Bagaimana tidurmu, Sayang?" tanya Jeff sambil mengusap rambut Leah di depan umum.
Leah mencoba menghindar dengan halus, namun cengkeraman Jeff di bahunya mengencang. "Aku baik-baik saja, Jeff. Tapi pengawalmu membuatku sulit bernapas."
"Itu karena aku sangat mencintaimu, Leah. Dunia ini berbahaya bagi wanita sepertimu," jawab Jeff dengan senyum yang tidak pernah mencapai matanya. Ia melirik Denzel yang berdiri beberapa meter di belakang mereka. "Denzel, kau bisa beristirahat sekarang. Biarkan orang-orangku yang menjaga Leah di dalam gedung. Kau pergilah menemui Seraphina, kudengar dia mencarimu di perpustakaan."
Denzel mengepalkan tangannya di balik punggung. Ia menatap Leah, mencari tanda-tanda penolakan, namun Leah hanya bisa mengangguk pasrah. Leah tahu, jika Denzel membantah, Jeff akan mencari alasan untuk mempersulit Zefan di kantor.
"Baik, Tuan Chevalier," sahut Denzel rendah.
Sepanjang hari itu, Leah merasa seperti hewan di dalam kebun binatang. Ke mana pun ia pergi—ke kantin, ke perpustakaan, bahkan saat ia hanya duduk di lorong—dua pengawal Jeff selalu berdiri dalam jarak tiga meter darinya. Mereka tidak bicara, mereka hanya mengawasi. Dan yang lebih menyesakkan, Jeff sering kali muncul tiba-tiba di tengah jam istirahat, membawakan bunga atau sekadar menarik Leah menjauh dari teman-temannya saat ada pria lain yang mencoba mengajak Leah bicara tentang tugas kuliah.
"Dia hanya bertanya tentang statistik, Jeff!" protes Leah saat Jeff menariknya kasar menuju area taman yang lebih sepi setelah seorang mahasiswa pria mendekati mejanya.
"Aku tidak suka cara dia menatapmu, Leah," desis Jeff. Ia memojokkan Leah ke dinding pilar, menatapnya dengan intensitas yang menakutkan. "Ingat, kau adalah wajah dari kesepakatan keluarga kita sekarang. Jangan membuatku malu dengan bersikap terlalu ramah pada pria rendahan seperti itu."
Leah menatap mata Jeff dan menyadari sesuatu yang mengerikan: Jeff benar-benar percaya bahwa ia sedang memberikan perlindungan. Dalam logika Jeff yang terdistorsi, posesifitas adalah bentuk tertinggi dari perhatian. Ia mencoba mencari sisi baik dari semua ini—mungkin setidaknya dengan Jeff yang terus bersamanya, Denzel benar-benar bebas dari radar kecemburuan Jeff. Mungkin pengorbanannya ini memang memberikan ruang bagi Denzel untuk "hidup normal" bersama Seraphina.
Namun, perlindungan ini terasa seperti jeruji besi yang perlahan menyempit.
Dari kejauhan, di balik jendela lantai dua, Denzel mengamati interaksi itu. Ia tidak pergi menemui Seraphina seperti yang diperintahkan Jeff. Ia berdiri di sana, tersembunyi di balik bayangan tirai, memantau setiap pergerakan tangan Jeff pada Leah. Ia melihat ketakutan di mata Leah, ia melihat bagaimana Leah mencoba melepaskan diri namun gagal.
Denzel merasakan rasa sakit yang jauh lebih hebat daripada luka tembak mana pun yang pernah ia terima. Ia adalah pelindung Leah, namun ia dipaksa untuk menonton Leah disiksa secara emosional oleh pria yang memegang kendali atas nasib keluarganya.
"Tahan dirimu, Denzel," bisiknya pada diri sendiri. "Satu langkah salah, dan semuanya hancur."
Ia merogoh ponselnya saat bergetar. Sebuah pesan dari Seraphina: "Denzel, kau di mana? Aku di kantin sendirian. Pengawal Jeff membuatku takut untuk mendekati Leah."
Denzel menarik napas panjang. Ia harus kembali ke perannya. Ia harus menjadi kekasih Seraphina agar Jeff tetap tenang. Ia harus menjadi bagian dari latar belakang yang tidak mengancam.
Malam harinya, saat mereka akhirnya kembali ke rumah, Leah langsung lari ke kamarnya tanpa sepatah kata pun. Denzel berdiri di lobi, menatap lift yang membawa Leah ke atas. Ia ingin mengejarnya, ingin mengetuk pintunya dan mengatakan bahwa ia akan mencari jalan keluar, namun para pengawal Jeff masih berada di sana, berjaga di pintu masuk rumah utama.
Zefan keluar dari ruang kerjanya, melihat Denzel yang masih berdiri kaku. "Jeff baru saja mengirim pesan. Dia ingin Leah menemaninya ke luar kota akhir pekan depan untuk penandatanganan awal proyek."
Denzel menoleh dengan kilatan mata yang berbahaya. "Itu jebakan, Tuan Zefan."
"Aku tahu," jawab Zefan lemah. "Tapi dia bilang itu syarat mutlak agar dana pertama cair. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, Denzel."
Denzel tidak menjawab. Ia hanya berjalan menuju paviliunnya dengan langkah yang berat. Di bawah sinar bulan yang pucat, ia menyadari bahwa pengawasan Jeff Chevalier bukan lagi sekadar tentang keamanan. Ini adalah pengambilalihan jiwa. Jeff sedang mencoba menghapus identitas Leah dan menggantinya dengan sosok yang ia inginkan.
Dan Denzel Shaquille, sang bayangan pelindung, merasa dirinya perlahan-lahan memudar, tertelan oleh kemarahan yang kini mulai berubah menjadi sebuah rencana yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar sandiwara cinta.
Di dalam kamarnya, Leah meringkuk di atas tempat tidur, masih mengenakan pakaian kuliahnya. Ia menatap ke arah jendela, membayangkan Denzel ada di sana. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa perlindungan Jeff adalah harga yang pantas untuk kedamaian Zefan. Namun, setiap kali ia mengingat cengkeraman Jeff di bahunya, ia merasa bagian dari dirinya sedang mati.
Malam itu, di bawah pengawasan ketat mata-mata Jeff di luar rumah, dua hati yang terpisah hanya oleh jarak beberapa puluh meter sedang meratap dalam sunyi—menyadari bahwa badai yang sesungguhnya belum benar-benar dimulai.