NovelToon NovelToon
Tentang Dinginmu Dan Luka Yang Tak Bertepi

Tentang Dinginmu Dan Luka Yang Tak Bertepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Romantis / Selingkuh
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."

Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.

Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Klik.

Aku menekan tombol shutdown dengan tenaga ekstra, seolah-olah dengan mematikan komputer itu, aku juga mematikan seluruh memori memuakkan selama dua jam tadi. Layar menjadi hitam, memantulkan wajahku yang kaku. Di barisan depan, aku bisa melihat Guntur dan Fita mulai merapikan barang-barang mereka. Fita sesekali tertawa manja, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar sampai ke pojok belakang.

"Sepuluh jam yang melelahkan akhirnya selesai," sindir Alan sambil menyampirkan tas di satu bahu. Dia menatapku, seolah bisa membaca isi kepalaku yang sedang mendidih. "Muka lo udah kayak mau meledak, Fis. Tarik napas. Game yang sebenernya baru dimulai pas lo keluar dari pintu ini."

Aku berdiri tanpa kata, menyandang tas ranselku yang terasa berat. "Gue duluan, Lan. Ketemu di kafe nanti."

"Jangan telat. Gue benci orang yang nggak disiplin sama panggungnya sendiri," sahut Alan datar sebelum melangkah keluar lebih dulu dengan gaya cueknya yang khas.

Aku berjalan keluar laboratorium dengan kepala tegak. Di koridor, aku berpapasan dengan Kaila dan Alif. Kaila mencoba mencegatku, tangannya terulur seolah ingin menahan lenganku.

"Fis, lo mau ke mana? Kita mau makan bareng di depan, Guntur yang bayar—"

"Gue sibuk, Kai," potongku cepat tanpa menghentikan langkah. "Simpan aja traktiran Guntur buat ngerayain 'kebahagiaan' kalian yang lain."

Aku bisa merasakan tatapan Alif yang prihatin dan wajah Kaila yang kembali memerah karena kesal. Tapi aku tidak peduli. Aku terus berjalan menuruni tangga, melewati loker-loker yang penuh dengan tempelan stiker tim bola sekolah.

Begitu sampai di lobi bawah, udara segar akhirnya menyapa paru-paruku. Bebas. Rasanya seperti baru saja keluar dari penjara bawah tanah yang penuh asap. Aku merogoh saku rokku, merasakan tekstur tiket dari Radit yang sudah agak lecek dan kertas kecil dari laci meja tadi.

Tiba-tiba, sebuah motor sport hitam berhenti tepat di depanku. Pengendaranya membuka kaca helm full-face-nya, menampilkan seringai tipis yang provokatif. Radit.

"Lama banget lo. Gue kira lo pingsan di dalem kena AC kepagian," ejek Radit sambil menyodorkan sebuah helm cadangan ke arahku.

Aku menatap helm itu, lalu melirik ke arah pintu lobi. Di sana, Guntur baru saja keluar bersama rombongannya. Langkahnya terhenti saat melihatku berdiri di depan motor Radit. Matanya menatap tajam, rahangnya mengeras lebih parah dari sebelumnya. Fita yang ada di sampingnya tampak mengernyitkan dahi, seolah tidak percaya aku punya "kenalan" seperti Radit.

"Ayo, Fis. Keburu kick-off," ajak Radit lagi, kali ini suaranya sengaja dikeraskan.

Aku mengambil helm itu, memakainya dengan mantap, dan naik ke jok belakang motor Radit. Aku bisa merasakan tatapan seluruh orang di lobi tertuju pada kami. Guntur melangkah maju satu langkah, seolah ingin meneriakkan sesuatu, tapi aku sudah lebih dulu melingkarkan tanganku di pinggang Radit—sebuah gestur yang aku tahu akan menghancurkan ketenangan Guntur berkeping-keping.

"Jalan, Dit," perintahku dingin.

Motor menderu kencang, meninggalkan asap tipis dan sekumpulan orang yang masih mematung di depan sekolah. Aku tidak menoleh lagi.

Hari ini aku tidak akan menjadi penonton yang menangis di pojok lapangan. Aku akan datang sebagai gangguan yang tidak akan pernah mereka lupakan.

Angin kencang menerpa jaket seragamku saat motor Radit melaju membelah jalanan kota. Aku bisa merasakan tatapan orang-orang di sepanjang jalan, tapi pikiranku masih tertahan di lobi sekolah tadi—pada ekspresi Guntur yang tampak seolah dunianya baru saja diguncang.

Tiba-tiba, ponsel di saku rokku bergetar panjang. Aku merogohnya dengan satu tangan sementara tangan lainnya masih mencengkeram jaket Radit agar tidak limbung.

Satu pesan masuk. Dari Bintang.

“Fis, kamu sudah pulang? Aku baru selesai bereskan peralatan di Lab. Tadi aku cari kamu di kelas tapi sudah kosong. Kalau belum pulang, mau aku antar?”

Hatiku mencelos. Bintang masih di sana, di tempat yang baru saja kutinggalkan dengan penuh kemarahan. Dia menungguku, mengkhawatirkanku, sementara aku sedang melaju di atas motor cowok yang paling dihindari sekolah menuju tempat yang seharusnya tidak kudatangi.

Rasa bersalah menghantamku lebih keras dari terpaan angin sore ini. Bintang adalah satu-satunya orang yang tidak memberiku tatapan menghakimi, tapi dialah yang paling sering kubohongi hari ini.

"Siapa? Cowok lo?" teriak Radit dari balik helm, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin. Dia melirik sekilas dari kaca spion.

"Bukan urusan lo, Dit! Fokus aja nyetir!" balasku ketus. Aku segera mengetik balasan singkat dengan jari gemetar.

“Gue udah pulang duluan, Bin. Tadi bareng saudara. Sori nggak sempet kabari, gue buru-buru.”

Satu kebohongan lagi. Aku mematikan layar ponsel dan menyimpannya kembali dengan perasaan muak pada diriku sendiri.

"Kita sampai," ujar Radit sambil mengerem mendadak di depan gerbang stadion mini.

Suasana di sana sudah sangat ramai. Sorak-sorai penonton dan bunyi peluit terdengar hingga ke parkiran. Aku turun dari motor, melepas helm, dan mencoba merapikan rambutku yang berantakan. Radit turun dengan gaya sombongnya, ia sengaja berjalan di sampingku, bahkan merangkul bahuku sesaat sebelum aku sempat menghindar.

"Inget, Fis. Lo di sini buat bikin si Guntur itu sadar kalau dia bukan satu-satunya pemain di hidup lo," bisik Radit tepat di telingaku.

Aku menatap tribun penonton. Di sana, aku melihat Kaila, Alif, dan tentu saja... Fita. Mereka sudah duduk di barisan depan dengan atribut tim sekolah. Saat mataku dan Fita bertemu dari kejauhan, ia tampak membisikkan sesuatu pada teman di sebelahnya dengan wajah sinis.

Di tengah lapangan, tim Guntur sedang melakukan pemanasan. Saat Guntur menoleh ke arah pintu masuk dan melihatku berdiri di samping Radit, ia berhenti mendribel bola. Matanya menatapku tajam, penuh kilatan amarah yang tidak lagi bisa ia sembunyikan di balik topeng dinginnya.

1
Aidil Kenzie Zie
tor jangan bikin mutar-mutar lagi ceritanya
Aidil Kenzie Zie
mantapkan hatimu Fis
byyyycaaaa
labil banget kan...,dia semuanya di pikiran bukannya nyoba buka hati ,di deketin semua cowok dia welcome banget 😭🙏
Aidil Kenzie Zie
Afisa Afisa🤔🤔🤔
Rea
nah gitu fis, jangan cengeng, semangat meraih masdep, jodoh gak usah dipikirin nanti datang sendiri
byyyycaaaa: iya kan kak,sapa tahu jodohnya sama oppa'' Korea 🤭😭
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
semuanya berebut mau jadi pasangan Afisa
byyyycaaaa: nggak ada yang bisa gantiin posisi guntur 🤭
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
bisa jadi yang dikatakan Radit bener tentang Arkan Fis
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
bikin temen Afisa yang dulu nyesal termasuk fita. trus Afisa jdian sama bintang
byyyycaaaa: jadi pengacara hebat dulu ,soal jodoh mau kayak in hyuk🤣
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
kemana aja lo selama ini Gun jangan ganggu Afisa lagi
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
Aidil Kenzie Zie
Radit jangan bawa-bawa masa lalu lagi
Aidil Kenzie Zie
si Arkan gercep juga
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
kpn blikan sama bintang
byyyycaaaa: nunggu Bintang jadi dokter di jakarta, tapi si Arkan oke juga kak! 🤭
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si Guntur mulai muncul kemana aja dari maren?? nggak usah gangguin Afis lagi
Aidil Kenzie Zie
semangat Fis jangan sampai goyah hanya karena notif dari Kaila
Aidil Kenzie Zie
apa temannya si Guntur nggak ada bahas Afis lagi apa gimana
Rea
heran aku sama afisa, kayake tipe pemikir dan baperan, hidup dibuat santai jangan terlalu memikirkan sikap orang lain, bisa masuk RSJ nanti🤭
mbuh
skip
muak Ama afis🤣
byyyycaaaa: si afisa mau guntur 🤣🙏
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si Guntur cari penyakit sendiri dia nggak PD berdiri di samping Afisa
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
Aidil Kenzie Zie
kok si Fita bisa tau y🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
temannya kok pada ngrasa nggak punya salah sama sekali ke Afisa
main gabung aja orang lagi asik b2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!