sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN DARI MASA LALU DAN MEJA YANG TERLALU LEBAR
Pagi di kantor firma arsitek Arlan biasanya diawali dengan aroma biji kopi Arabika yang digiling segar dan suara mesin pencetak denah yang berdengung ritmis. Namun, pagi ini, atmosfernya terasa berbeda. Ada ketegangan yang merambat di sela-sela partisi ruangan. Di meja kerja Arlan, sebuah map kulit berwarna marun dengan logo emas "Anastasia Group" tergeletak seperti bom waktu yang siap meledak.
Arlan menatap map itu dengan rahang mengeras. Nama itu—Maura Anastasia—adalah bab dalam hidupnya yang ia pikir sudah ia bakar habis abunya.
"Pak Arlan? Beliau sudah menunggu di ruang rapat utama. Ingin kopi atau teh katanya?" suara sekretarisnya, sinta, memecah lamunan Arlan.
Arlan menarik napas panjang, merapikan jam tangannya. "Kopi hitam. Tanpa gula. Dan Sinta, tolong pastikan asisten desainer kita ikut masuk. Saya butuh saksi profesional di sana."
Di sisi lain kota, Kira sedang berada di butik kebaya, menatap detail payet pada busana pengantinnya. Ponselnya bergetar. Pesan dari Arlan.
Arlan: Ra, aku masuk rapat besar sekarang. Mungkin agak lama. Kliennya... Maura. Aku akan kabari setelah selesai.
Kira terdiam. Jemarinya yang tadi mengusap lembut kain brokat kini mencengkeramnya sedikit kuat. Maura. Nama itu adalah satu-satunya "hantu" dalam sejarah sebelas tahun mereka. Arlan pernah sangat hancur karena wanita itu saat mereka kuliah di London. Kira adalah orang yang memegang kepala Arlan saat pria itu mabuk karena patah hati, dan Kira jugalah yang mendengarkan sumpah serapah Arlan bahwa ia tidak akan pernah sudi melihat wajah Maura lagi.
"Mbak Kira? Ada yang kurang cocok dengan payetnya?" tanya si desainer butik.
Kira tersentak, mencoba tersenyum paksa.
"Eh, enggak kok. Bagus. Cuma... tiba-tiba kepalaku agak pusing. Boleh saya duduk sebentar?"
Di ruang rapat utama, Arlan membuka pintu dengan gerakan tegas. Di ujung meja oval yang panjang, seorang wanita duduk dengan kaki menyilang, mengenakan setelan jas putih tulang yang sangat elegan. Rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan anting berlian yang berkilau mahal.
"Lama tidak jumpa, Arlan Dirgantara," suara Maura terdengar seperti denting gelas kristal—dingin namun berkelas.
Arlan duduk di kursi seberang, membiarkan meja yang lebar itu menjadi pembatas yang aman. "Selamat pagi, Maura. Atau saya harus panggil Ibu Anastasia?"
Maura tertawa kecil, tawa yang dulu sempat membuat Arlan jatuh cinta setengah mati. "Jangan terlalu kaku, Lan. Kita bukan orang asing. Tapi kalau di depan stafmu, silakan panggil sesukamu."
"Mari kita langsung ke poinnya," potong Arlan, membuka map proyek di depannya. "Renovasi resort di Uluwatu. Kenapa harus firma saya? Ada banyak firma kelas dunia di Jakarta yang bisa menangani ini."
Maura memajukan tubuhnya, menatap Arlan dengan tatapan yang sulit diartikan. "Karena aku butuh seseorang yang mengerti arti 'jiwa' dalam sebuah bangunan. Dan aku tahu, arsitek terbaik yang punya jiwa dalam garis gambarnya hanyalah kamu. Lagipula, ini proyek keluarga. Ayahku yang meminta secara khusus."
"Ayahmu tahu siapa saya?" tanya Arlan sinis.
"Ayahku tahu kamu adalah orang yang dulu hampir menjadi menantunya kalau saja aku tidak sebodoh itu pergi ke Paris," bisik Maura, cukup pelan agar staf Arlan tidak mendengar.
Rahang Arlan mengetat. "Itu masa lalu, Maura. Sekarang, saya punya kehidupan sendiri. Saya akan menikah dua bulan lagi."
Maura tampak sedikit tersentak, namun ia segera menguasai diri. Ia tersenyum tipis, meski matanya tidak ikut tersenyum. "Oh ya? Dengan siapa? Gadis dari kalangan pengusaha juga? Atau... tunggu, jangan bilang dengan sahabat kecilmu itu? Siapa namanya... Kira?"
"Kiranara," koreksi Arlan tegas. "Dan ya, dia calon istri saya."
Maura menyandarkan punggungnya, memutar-mutar pulpen mahal di jarinya. "Menarik. Dari sahabat jadi kekasih. Sangat klise, tapi aku rasa itu aman buatmu, Lan. Kamu selalu suka sesuatu yang aman, kan? Sesuatu yang tidak akan meninggalkanmu secara tiba-tiba."
"Cukup, Maura. Kita bahas teknis proyek atau saya anggap rapat ini selesai," suara Arlan meninggi satu oktaf.
"Oke, oke. Jangan emosi begitu. Ini draf permintaanku. Aku ingin konsep 'Modern Nostalgia'. Aku ingin ada sentuhan masa lalu kita... maksudku, masa lalu arsitektur kolonial yang kita pelajari di London dulu, dipadukan dengan kemewahan masa kini."
Rapat itu berlangsung selama dua jam yang terasa seperti dua abad bagi Arlan. Setiap kali Arlan menjelaskan struktur, Maura akan menyelipkan komentar-komentar personal yang membuat suasana menjadi canggung.
Sore harinya, Arlan menjemput Kira di butik. Begitu Kira masuk ke dalam mobil, ia bisa mencium aroma parfum yang asing di baju Arlan—aroma bunga lili yang sangat kuat dan mahal.
"Gimana rapatnya?" tanya Kira, mencoba terdengar santai sambil memasang sabuk pengaman.
Arlan menghela napas, menyandarkan kepalanya di setir sejenak. "Melelahkan, Ra. Dia... dia nggak banyak berubah. Masih manipulatif dan suka menyerang secara verbal."
Kira menatap profil samping Arlan. "Dia cantik, ya? Pasti makin sukses sekarang."
Arlan menoleh, meraih tangan Kira dan menciumnya lama. "Ra, dengerin aku. Dia mau secantik atau sesukses apa pun, dia nggak ada apa-apanya dibanding kamu. Dia itu masa lalu yang berantakan. Kamu itu masa depan yang aku bangun dengan hati-hati."
"Tapi Lan, kamu bakal sering ketemu dia, kan? Proyek Bali itu nggak sebentar."
"Aku akan delegasikan sebagian besar tugas lapangan ke tim. Aku cuma pegang desain utama. Aku nggak akan biarkan dia punya celah buat masuk ke hidup kita lagi."
Tiba-tiba, ponsel Arlan yang tergeletak di dasbor bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor baru.
Nomor Baru: Arlan, aku lupa bilang. Malam ini ada makan malam penyambutan di hotelku jam 7. Ayahku juga ada di sana. Beliau ingin menyapamu. Jangan telat, ya.
Kira membaca pesan itu karena layar ponsel Arlan menyala terang. Ia terdiam.
"Dia undang kamu makan malam bareng Ayahnya?" tanya Kira, suaranya mulai bergetar.
Arlan menyambar ponselnya, merasa bodoh karena tidak segera mematikannya. "Aku nggak akan datang, Ra. Aku mau nemenin kamu makan nasi goreng langganan kita saja."
"Jangan, Lan," potong Kira. "Kalau kamu nggak datang, dia bakal makin merasa punya kendali atas kamu. Dia bakal mikir kamu takut ketemu dia. Kamu harus datang. Tunjukkan kalau kamu sudah benar-benar selesai sama dia."
Arlan menatap Kira dengan tidak percaya. "Kamu serius? Kamu izinin aku ketemu dia malam-malam begini?"
"Iya. Tapi dengan satu syarat," Kira menatap mata Arlan dengan berani. "Aku ikut."
Arlan tertegun sejenak, lalu sebuah senyuman bangga muncul di wajahnya. Inilah Kira yang ia cintai. Bukan wanita yang hanya menangis di pojokan, tapi wanita yang siap berdiri di sampingnya untuk menghadapi badai apa pun.
"Oke. Pakai gaun yang paling cantik yang kamu punya, Sayang. Kita tunjukkan pada Maura Anastasia bahwa Arlan Dirgantara sudah menemukan rumah yang sebenarnya."
Malam itu, di restoran hotel bintang lima yang mewah, Maura duduk bersama ayahnya, Pak Gunawan. Maura tampak sangat percaya diri, yakin bahwa Arlan akan datang sendirian dan ia bisa mulai menarik kembali benang-benang lama.
Namun, saat pintu restoran terbuka, langkah kaki yang tenang terdengar. Arlan masuk dengan setelan jas hitam yang sempurna, namun bukan itu yang membuat Maura terpaku hingga menjatuhkan sendok kecilnya.
Arlan datang sambil menggandeng erat seorang wanita yang mengenakan gaun sutra berwarna zamrud yang sangat elegan. Rambut wanita itu disanggul modern, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan sepasang anting yang sederhana namun tampak berkelas.
"Selamat malam, Pak Gunawan. Maura," sapa Arlan dengan suara yang mantap.
"Selamat malam," Kira menyambung dengan senyum paling manis namun penuh otoritas. "Saya Kira, tunangan Arlan. Senang sekali bisa bertemu dengan orang-orang yang pernah ada di masa sekolah Arlan dulu."
Wajah Maura memucat sesaat sebelum ia memaksakan sebuah senyum sinis. "Oh... Kira. Kamu datang juga. Silakan duduk. Meja ini memang sengaja aku pesan yang lebar agar cukup untuk... semua orang."
Makan malam itu menjadi ajang perang dingin yang paling sengit dalam hidup Kira. Maura terus-menerus mencoba membawa topik pembicaraan ke arah kenangan mereka di London, tentang kafe kecil tempat mereka sering belajar, atau tentang janji-janji masa muda yang pernah terucap.
"Ingat nggak, Lan? Dulu kamu bilang mau bangun rumah di atas bukit buat aku di Bali? Sekarang impian itu akhirnya terwujud lewat proyek resort ini," ucap Maura sambil menatap Arlan dengan tatapan menggoda.
Arlan tetap tenang, ia menyuapkan sepotong daging ke piring Kira sebelum menjawab. "Impian itu sudah lama kadaluwarsa, Mau. Desain yang sekarang aku buat bukan buat siapa-siapa, tapi murni profesionalisme kerja. Lagipula, sekarang selera desainku sudah berubah. Aku lebih suka bangunan yang punya fondasi kejujuran, bukan cuma kemewahan yang kosong."
Kira menimpali dengan tenang, "Iya, Maura. Arlan sering cerita, bangunan yang indah itu percuma kalau dalamnya keropos. Makanya, kami berdua sedang fokus bangun 'rumah' kami sendiri sekarang. Doakan ya, semoga lancar sampai hari H."
Pak Gunawan tertawa, memecah ketegangan. "Hahaha! Arlan, kamu memang sudah dewasa. Kamu beruntung punya pendamping yang cerdas seperti Nak Kira. Maura, kamu harus belajar banyak dari mereka soal konsistensi."
Maura hanya bisa menggertakkan gigi di balik senyum plastiknya. Ia menyadari satu hal: Kira bukan sekadar "sahabat" yang mudah disingkirkan. Kira adalah tembok beton yang melindungi hati Arlan.
Namun, saat makan malam hampir berakhir dan Arlan sedang pergi ke toilet, Maura mencondongkan tubuhnya ke arah Kira.
"Jangan terlalu bangga dulu, Kira," bisik Maura dengan suara berbisa. "Seorang pria mungkin mencintai kenyamanan yang kamu kasih, tapi dia nggak akan pernah bisa lupa sama gairah yang pernah aku kasih. Proyek ini baru dimulai. Kita lihat saja, siapa yang akan dia pilih saat dia harus lembur semalaman denganku di Bali nanti."
Kira menatap Maura tanpa rasa takut sedikit pun. Ia tersenyum tipis, sangat tipis hingga hampir terlihat meremehkan. "Maura, gairah itu seperti kembang api. Indah sebentar, lalu hilang jadi abu. Tapi kenyamanan? Itu seperti oksigen. Kamu nggak akan sadar betapa kamu butuh itu sampai kamu kehabisan napas. Dan Arlan... dia sudah terbiasa napas bersamaku selama sebelas tahun. Jadi, silakan coba, kalau kamu mau lihat dia makin benci sama kamu."
Arlan kembali ke meja, menyadari suasana yang sedikit berbeda namun ia tidak bertanya. Ia merangkul bahu Kira. "Ayo pulang, Ra. Kita masih harus bahas soal undangan.
Saat mereka berjalan keluar dari restoran, Arlan mengeratkan genggamannya. "Makasih ya sudah mau ikut tadi. Kamu hebat banget, Ra."
"Aku cuma nggak mau kehilangan rumahku, Lan," bisik Kira.
"Kamu nggak akan pernah kehilangan aku, Sayang. Maura itu cuma kopi pahit yang pernah aku minum. Sekarang, aku sudah punya kamu yang manisnya nggak habis-habis."
Di belakang mereka, Maura menatap kepergian mereka dengan tatapan yang penuh kebencian. ditutup dengan genderang perang yang baru saja ditabuh. Maura tidak akan menyerah dengan mudah, dan Bali akan menjadi medan pertempuran berikutnya yang jauh lebih berbahaya.