Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan dari ambang kegelapan
Laura duduk di tepi tempat tidur memeluk lututnya.ia terus menatap jam dinding tua di atas pintu lobi yang terlihat dari celah kamarnya.detik jam itu terdengar seperti detak jantung yang membesar.
Pak Bram terdengar melakukan patroli terakhir,langkah sepatunya berat dan berwibawa lalu suara pintu kamarnya terkunci rapat.
Suara burung hantu di luar berhenti mendadak.keheningan total menyelimuti penginapan,jenis keheningan yang membuat telinga berdenging.
Tepat saat jarum jam menunjuk ke angka dua belas dan satu,dengan gerakan yang sangat halus Laura mengenakan sepatu dan jaket tebalnya.ia tidak melewati pintu depan yang di jaga oleh pemilik penginapan.
Gadis itu membuka jendela kayu di kamarnya yang tidak terkunci rapat.angin malam yang buas,langsung menerpa wajahnya membawa aroma tanah dan sesuatu yang amis.ia melompat pelan ke atas rumput yang basah oleh embun.dengan tubuh yang merapat ke dinding penginapan,ia menghindari sorot lampu mercury yang terpasang di area parkir bus.
Langkah kaki Laura membawa dirinya menuju garis batas hutan.saat ia sampai di pita merah yang di pasang pak Bram,pita itu tampak bersinar redup di bawah cahaya bulan yang tertutup awan,seolah memperingatkannya untuk berbalik.
Tanpa ragu ia melangkahi pita merah yang terasa seperti menembus selaput tipis menuju dimensi lain.begitu kakinya menginjak tanah di area terlarang,kesunyian datang mengancam, seakan hutan ini sedang menahan napas untuk menerkam.suasana di sekitar pohon beringin tua berubah menjadi teater kengerian yang nyata.
Dari balik semak belukar yang hitam pekat,terdengar suara geraman rendah yang tidak menyerupai suara binatang apapun.suara itu berpindah-pindah dengan cepat,dari kiri ke kanan,lalu berbisik tepat di tengkuk Laura.
Sesekali terdengar suara tawa melengking yang sangat jauh,namun sangat menusuk di telinga,seperti suara tangisan bayi lalu berubah menjadi cekikan parau yang membuat bulu kuduk Laura berdiri tegak.semakin dalam ia melangkah,alam seolah bereaksi terhadap keberadaanya.
" jangan takut...jangan takut..." bisiknya berulang-ulang,namun suaranya sendiri terdengar asing di telinganya.
Angin pegunungan yang bertiup kencang tiba-tiba,menciptakan suara siulan panjang di celah pohon yang terdengar seperti jeritan minta tolong.di antara siulan itu,Laura seperti mendengar namanya di panggil berkali-kali.
" Lau-ra...Lau-ra..." bisikan itu terdengar tumpang tindih,seolah berasal dari ratusan mulut yang berbeda.
Laura berdiri mematung.jantungnya berdegup kencang,keringat dingin mengucur dari pelipisnya,bercampur embun yang menempel di wajahnya.
" Sadarlah Laura,jangan takut ini hanya imajinasimu," bisiknya pada diri sendiri.suaranya parau dan bergetar,hampir hilang di telan deru angin.
" pesan itu...pesan itu nyata.seseorang akan menemui ku di sini,aku harus tahu siapa dia?" tanyanya dalam hati,semakin gelisah.
" tapi,kenapa sepi sekali? Kenapa sosok itu belum tampak?" Laura menatap ke arah pohon beringin tua depannya.tak ada siapapun di sana.
" jika ini jebakan...jika Michael yang datang...apa yang harus ku lakukan?" rintihnya dalam hati.
Suasana hutan seakan membeku.kabut yang merayap di sela-sela akar beringin tua, tiba-tiba berhenti bergerak menggantung kaku di udara seperti kain kafan yang robek.
Suasana kian mencekam.
" Kraak...Kraak...!" suara ranting patah terdengar dari balik batang beringin yang lebar.
" siapa di sana...?" suara Laura pecah,bergetar hebat di antara dingin yang menusuk.
" tunjukan dirimu,jangan bersembunyi di balik kegelapan...!" teriaknya memberanikan diri,meskipun kedua kakinya bergetar di atas tanah karena ketakutan.
Tanah yang ia pijak bukan sekedar lantai hutan.di bawah rimbunnya akar beringin,berjejer kuburan-kuburan tua yang sudah berlumut dan retak.ia berada di tengah-tengah pemakaman kuno yang menyerupai Piramida,yang di sebut oleh masyarakat sekitarnya dengan "Waruga"
Suara ranting patah di bawah pijakan sepatunya terdengar seperti ledakan di tengah kesunyian yang mencekam. Laura berdiri mematung. Di hadapannya, deretan kotak batu tua dengan atap berbentuk segitiga menyembul dari balik kabut.
Ia pernah membaca tentang ini di buku sejarah sekolah—makam kuno para leluhur Minahasa. Namun, melihatnya langsung di jam satu malam, di tengah hutan yang seolah bernapas, adalah kengerian yang berbeda. Di dalam kotak-kotak batu itu, konon para leluhur disemayamkan dalam posisi meringkuk, seperti bayi di rahim ibu, menunggu untuk bangkit kembali.
Laura mencengkeram kepalanya, memejamkan mata erat-erat. Keringat dingin mengalir di punggungnya, membuat kaos yang di kenakannya menempel lembap.
"Ini hanya mimpi... Laura, bangun! Kau masih di tempat tidur penginapan," bisiknya pada diri sendiri. Suaranya pecah, bergetar hebat. "Oma... tolong aku. Kenapa aku di sini? Kenapa kaki ini tidak mau berbalik?"
Ia membuka mata, namun pemandangan tidak berubah. Waruga-waruga itu tetap di sana, membisu namun terasa mengawasi.
Napasnya memburu. Ia merasa seperti berada di antara dua alam. Antara sadar bahwa ia adalah seorang siswi SMP yang seharusnya sedang tidur, dan tak sadar bahwa ada kekuatan purba yang sedang menarik jiwanya keluar.
Di tengah ketakutan yang melumpuhkan, amarah mulai merayap naik. Rasa lelah karena terus-menerus merasa "aneh" dan "terkutuk" membuat Laura mengepalkan tangannya.
"Aku tidak takut pada kalian!" teriaknya lagi, kali ini lebih keras, menantang kegelapan hutan. "Jika kau tidak keluar, aku akan... aku akan..."
Tiba-tiba, hembusan angin kencang menerjang dari arah puncak gunung. Bunyi gesekan batu terdengar dari salah satu Waruga terdekat—suara tutup batu yang berat bergeser perlahan.
Burung-burung malam mendadak terbang serentak, menciptakan suara kepakan sayap yang memekakkan telinga.
Bau tanah basah berganti dengan aroma harum bunga melati yang sangat tajam, bercampur dengan bau karat logam yang menyengat—ciri khas kemunculan kekuatan Anak Setan Emas.
Di atas salah satu tutup Waruga, setitik cahaya merah muncul, bergerak pelan seperti kunang-kunang, namun cahaya itu memiliki aura yang sangat jahat.
"Cukup permainannya!" Laura melangkah maju, melewati pita merah yang sudah putus terinjak. "Tunjukkan dirimu sekarang, atau aku akan menghancurkan tempat ini dengan tanganku sendiri!"
Tepat saat kata-kata itu keluar, sebuah bayangan tinggi kurus mulai terbentuk di balik kabut, tepat di atas makam leluhur yang paling besar. Sosok itu tidak menapak tanah. Ia melayang rendah, dan saat ia mendongak, cahaya emas di tangan Laura memantul pada topeng kayu yang dikenakan sosok itu—topeng dengan ukiran wajah yang menangis darah emas.
Laura terperanjat. Jantungnya serasa berhenti berdetak, copot dari tempatnya. Kakinya lemas, memaksanya mundur selangkah hingga punggungnya menabrak batang pohon pinus yang kasar.
Di depan sana, melayang rendah di atas tanah kuburan, berdiri sesosok bayangan yang sangat berbeda dari imajinasinya tentang Michael atau Marco.
Ia mengenakan gaun putih panjang yang sudah sangat kusam. Warna putihnya telah berubah menjadi abu-abu kecokelatan, kotor oleh tanah dan noda-noda gelap yang tampak seperti darah kering yang sudah berusia ratusan tahun. Kainnya robek-robek di bagian bawah, menjuntai tertiup angin kencang yang tiba-tiba berembus kembali, mengeluarkan suara desau yang menyayat hati.
Ka-kau... Siapa kau?" suara Laura pecah, bergetar hebat, hampir hilang ditelan deru angin yang tiba-tiba mengamuk.
"Ini... ini cuma mimpi buruk, kan? Bangun, Laura! Ayo bangun!" teriaknya pada diri sendiri, air mata dingin mulai mengalir di pipinya, mengaburkan pandangannya.
"Pergi! Jangan mendekat! Aku tidak takut padamu!" rintihnya lagi, namun kakinya tidak bisa bergerak, seolah-olah tertanam di tanah kuburan ini.
Suasana di sekitar Waruga itu mendadak vakum, seolah oksigen diisap keluar dari udara. Laura jatuh bertelimpuh, kedua tangannya mencengkeram kepala karena rasa sakit yang menghujam tajam di pelipisnya. Bukan suara yang ia dengar dengan telinga, melainkan sebuah frekuensi kuno yang bergaung langsung di dalam tempurung kepalanya.
Suara itu berat, berlapis-lapis, dan membawa hawa dingin yang purba. Ia adalah suara seorang wanita.
dalam benak Laura, potongan-potongan penglihatan mulai bermunculan seperti kilatan petir. Ia melihat sosok wanita berbaju putih usang itu bukan sebagai hantu biasa, melainkan sebagai entitas yang menguasai tanah ini.
"Jangan gemetar, Benih Emas..." suara itu bergema, berwibawa namun menyimpan luka sedalam palung laut. "Kau berdiri di atas rahim tanah yang melahirkanku. Aku adalah penjaga yang kau cari, pemegang kunci sejarah yang sengaja dihapus oleh dunia luar."
Laura terengah-engah, matanya terbelalak menatap bayangan wanita itu yang kini perlahan melayang mendekat. Sesuatu di dalam ingatan genetik Laura berontak. Ia mulai memahami siapa sosok ini:
Dalam penglihatan itu, Laura melihat sejarah kelam yang menjadi akar perdukunan modern di daerah tersebut. Sosok wanita ini adalah seorang ibu yang, demi mempertahankan garis keturunan "darah murni" dan kekuatan gaib yang tak tertandingi, melakukan dosa paling tabu: menikahi putranya sendiri.
Ia bukan sekadar hantu yang tersesat, melainkan Roh Teritorial—sang penguasa wilayah yang mengikatkan jiwanya pada setiap jengkal tanah, akar pohon beringin, dan batu-batu Waruga di sana. Kekuatannya adalah pondasi dari semua praktik mistis yang kini berkembang.
"Siapa... siapa kau sebenarnya?" rintih Laura di antara kesadarannya yang mulai menipis. "Kenapa kau muncul di depanku? Apa hubungannya denganku?!"
Sosok itu berhenti tepat dua langkah di depan Laura. Bau bunga kamboja busuk menyengat indra penciuman Laura.
"Aku adalah awal, dan kau adalah akhir," suara itu kembali menyusup ke pikiran.
Laura sama sekali tak mengerti maksud dari kata-kata wanita itu.
Pergi... pergi dari kepalaku!" teriak Laura, namun ia menyadari bahwa ia tidak lagi memiliki kendali atas tubuhnya sendiri. Ia mulai berdiri, namun gerakannya kaku, seolah ada benang-benang gaib yang menarik anggota tubuhnya.
Wanita itu perlahan membuka kerudung usangnya. Di balik kain kusam itu, tidak ada wajah manusia. Hanya ada kegelapan yang dalam dengan dua titik cahaya emas yang menyala terang, persis seperti mata Laura saat ia kehilangan kendali.