Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.
Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.
Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Agus
Matahari baru saja memanjat pucuk-pucuk pohon kelapa, menyebarkan hawa gerah yang tidak biasa di Desa Karang Jati. Di Warung Pojok Mak Ipah, suasana sudah riuh. Aroma kopi tubruk dan singkong goreng mengepul, namun yang lebih panas dari uap kopi adalah kabar yang dibawa oleh Sugeng.
Sugeng datang dengan langkah membusung, mengenakan kemeja yang kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan dadanya yang memerah—bukan karena sinar matahari, tapi karena sisa-sisa "pertempuran" yang ia yakini sebagai tanda keperkasaan. Di sudut warung, Bambang dan Pak RT Hardo sudah menunggu dengan wajah penuh rasa ingin tahu yang tak tertahankan.
"Bagaimana, Geng? Tembus tidak?" tanya Bambang, matanya melotot tidak sabar.
Sugeng duduk dengan gaya angkuh, menyulut sebatang rokok kretek lalu mengembuskan asapnya perlahan ke udara. Ia sengaja membuat jeda dramatis agar kawan-kawannya semakin penasaran.
"Tembus? Bukan cuma tembus, Bang," Sugeng menyeringai, matanya menerawang membayangkan kejadian di lantai atas rumah gedong Ratri. "Ratri yang sekarang... dia bukan lagi wanita yang menangis seperti dua tahun lalu. Dia berubah jadi iblis betina yang haus. Sexy-nya... kulitnya itu, Bang, lebih halus dari sutra. Dan liarnya? Jangankan kamu, macan hutan pun mungkin kalah kalau melayani dia di ranjang."
Bambang menelan ludah dengan keras. Tanpa sadar, setetes air liur menggantung di sudut bibirnya sebelum ia buru-buru menyekanya dengan punggung tangan. Pikirannya langsung melayang, membayangkan lekuk tubuh Ratri yang kini kaya raya. Bayangan kotor itu menari-nari di kepalanya, membuat napasnya sedikit memburu.
Pak RT Hardo menyipitkan mata, mengisap rokoknya dalam-dalam. "Jadi, dia tidak curiga? Tidak ada tanda-tanda dendam?"
"Sama sekali tidak, Pak RT," jawab Sugeng yakin, meskipun ia merasakan kedutan aneh di area selangkangannya. "Dia malah bilang, laki-laki desa seperti kita punya 'kekuatan' yang tidak dimiliki orang kota. Sepertinya dia memang butuh penyaluran setelah lama ditinggal suaminya yang katanya sibuk di kota itu."
Pak RT Hardo manggut-manggut. Di dalam hatinya, api nafsu yang dulu sempat padam kini berkobar kembali. Ia membayangkan momen yang pas untuk mendatangi Desa Sukomaju. Sebagai orang nomor satu di Karang Jati, ia merasa memiliki hak istimewa untuk mencicipi kembali "buah" yang kini telah matang dan berbalut kemewahan itu.
Di tengah obrolan panas itu, sebuah motor besar menderu masuk ke halaman warung. Sosok pria berseragam hansip dengan rompi hijau yang sudah kusam turun dari motor. Dia adalah Agus.
Sudah hampir setahun Agus jarang terlihat di desa. Ia bekerja sebagai penjaga keamanan sekaligus orang kepercayaan Juragan Tono, seorang tuan tanah kaya raya di ujung perbatasan kota. Kepada istrinya yang malang di desa, Agus beralasan harus tinggal di mes juragan demi menghemat ongkos kirim uang belanja. Namun, rahasia umum bagi para lelaki di warung itu adalah: Agus tidak tinggal di mes.
Agus tinggal di rumah Surti, seorang janda muda yang berprofesi sebagai biduan panggung terkenal. Surti yang biasanya dikelilingi lelaki tua kaya, justru bertekuk lutut pada Agus. Konon, Surti tergila-gila karena "keperkasaan" Agus yang di luar nalar manusia biasa—sebuah rahasia yang selalu dibanggakan Agus di depan teman-temannya.
"Wah, sang jagoan pulang!" seru Bambang menyambut Agus yang baru duduk.
Agus melepas topinya, menyugar rambutnya yang berminyak. "Libur seminggu. Juragan lagi ke luar kota, jadi aku bisa pulang menengok 'peliharaan' di rumah," ucapnya sambil tertawa cabul.
Tanpa membuang waktu, Bambang dan Sugeng menceritakan ulang kisah "kemenangan" Sugeng di rumah Ratri. Mereka menggambarkan betapa mewahnya rumah itu dan betapa cantiknya Ratri sekarang. Mendengar itu, ego Agus sebagai lelaki yang merasa paling perkasa di antara mereka langsung terusik.
"Ratri si janda Bayu itu?" Agus mencibir, meski matanya berkilat penuh minat. "Dulu saja dia sudah enak, apalagi sekarang sudah jadi orang kaya. Pasti bumbunya lebih mahal."
"Hati-hati, Gus. Di sana dijaga satpam," sela Sugeng, ada nada cemburu yang mulai terselip di suaranya.
"Satpam? Halah, sesama penjaga itu ada bahasanya sendiri," Agus tertawa licik. Ia memutar otaknya yang licin. "Aku punya rencana. Juragan Tono sedang cari tanah luas untuk investasi gudang. Aku akan bilang kalau di Sukomaju ada orang kaya baru yang sedang cari tanah atau mau jual aset. Juragan pasti suruh aku yang jadi perantara untuk menawarkan tanah miliknya yang berbatasan dengan Sukomaju. Dengan alasan bisnis, aku bisa masuk ke rumah gedong itu tanpa dicurigai warga sekitar."
Sugeng terdiam. Ia melihat tawa licik di wajah Agus dan merasa ada sesuatu yang tidak rela di dadanya. Sejak menyentuh "Ratri" semalam—yang sebenarnya adalah Suanggi—jiwa Sugeng seolah telah terikat. Pengaruh susuk emas Ratri mulai bekerja lebih dalam; bukan hanya fisik, tapi juga mental.
Sugeng mulai merasa posesif. Ia merasa bahwa Ratri adalah miliknya seorang. Ia tidak sudi membayangkan Agus—yang selalu membanggakan keperkasannya itu—menyentuh kulit Ratri yang kemarin ia rasakan.
"Jangan gegabah, Gus. Nanti kalau ketahuan suaminya yang di kota, bisa repot," cegah Sugeng lagi, kali ini dengan nada yang lebih ketus.
Agus hanya melambaikan tangan, meremehkan. "Tenang saja, Geng. Aku ini ahlinya menyelinap di lubang yang sempit. Kamu sudah makan nangkanya, sekarang giliran aku yang menjilat getahnya."
Agus berdiri, berpamitan dengan penuh percaya diri untuk segera menemui Juragan Tono. Ia ingin rencana ini segera berjalan agar ia bisa segera membuktikan bahwa biduan sehebat Surti saja bisa bertekuk lutut, apalagi hanya seorang Ratri.
Sepeninggal Agus, Sugeng tetap duduk mematung. Rasa perih di selangkangannya tiba-tiba berdenyut lebih kencang, seolah-olah ada sesuatu yang bergerak di urat syarafnya dari dalam. Namun, yang lebih sakit adalah hatinya.
Tidak boleh... batin Sugeng. Tidak boleh ada yang menyentuh Ratri lagi. Dia hanya milikku. Kalau Agus sampai nekat, aku harus cari cara untuk melenyapkannya.
Pikiran gelap itu muncul begitu saja, murni dan pekat. Sugeng tidak menyadari bahwa itu adalah bagian dari ulahppp Suanggi—membuat para korbannya saling benci dan saling hancur sebelum akhirnya ajal menjemput.
Sementara itu, di lantai dua rumahnya di Sukomaju, Ratri berdiri di depan jendela besar, menatap ke arah Desa Karang Jati. Ia sedang memegang secangkir teh hangat, namun matanya menatap tajam seolah menembus jarak kilometer.
Suanggi di dalam tubuhnya menggeliat kecil, memberikan sinyal bahwa benih yang ditanamnya sedang tumbuh subur. Ratri bisa merasakan gejolak emosi di warung kopi itu—rasa haus Bambang, nafsu Pak RT, kesombongan Agus, dan kecemburuan gila Sugeng.
"Saling gigitlah, kalian anjing-anjing kecil," gumam Ratri dengan suara yang dingin.
Ia teringat kembali pada Bayu. Dulu, Bayu jugalah yang paling cemburu jika ada lelaki yang menatap Ratri terlalu lama. Namun, kecemburuan Bayu saat itu adalah kecemburuan yang didasari rasa tidak percaya diri, yang akhirnya berubah menjadi kebencian saat fitnah itu datang.
"Kamu memang pantas digilir mereka, Ratri! Lihat dirimu, kamu memang kelihatannya suka kan?!" Suara Bayu yang memaki sambil memukulinya di halaman rumah kembali terngiang.
Ratri meremas cangkir tehnya hingga retak sedikit. "Bayu... kamu pikir kamu paling suci saat mencampakkanku. Sekarang, lihatlah kawan-kawanmu. Mereka akan saling bunuh hanya demi bayangan semu yang kuberikan."
Ia memanggil Mbok Nah melalui bel di kamar. "Mbok, siapkan dupa melati di kamar belakang. Dan siapkan sedikit darah kambing jantan. "
Ratri tersenyum puas. Ia tahu Agus akan datang. Ia tahu kesombongan pria itu akan menjadi pintu masuk yang sempurna untuk Suanggi melahap organ dalamnya dari dalam. Satu per satu, pion-pion itu mulai bergerak sesuai dengan papan catur yang ia susun.
kirain istrinya yg di bacok
dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno