Nayra Agata Kennedy, ia merupakan putri bungsu dari Lukas Kennedy, Nayra memliki saudari kembar bernama Nayla (Nayla lahir 45 menit lebih dulu), lahir dengan membawa duka. Ibunya meninggal dunia karena pendarahan hebat setelah berjuang melahirkannya, membuat Nayra dibenci ayah dan ketiga kakak laki-lakinya selama 21 tahun. Hanya Nayla yang selalu peduli padanya.
Takdir berubah saat Nayra bertemu seorang miliarder tampan. Dipersunting olehnya, hidup Nayra berubah drastis, dari yang dulu diabaikan, kini ia dimanjakan layaknya putri raja oleh suaminya yang penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa idayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
anggota keluarga baru
"Kakak minta kalian jangan keluar dulu. Katanya ada sesuatu yang sangat penting yang ingin dia bicarakan," ucap Nick pelan, namun suaranya terdengar tegas dan penuh makna. Matanya menatap satu per satu wajah ketiga adiknya yang duduk berkumpul di ruang tengah yang kini terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya lampu ruang tamu yang remang-remang seolah turut memperkuat suasana misterius yang mulai menyelimuti mereka.
"Iya, dia juga kirim pesan singkat ke aku. Isinya sama, minta kita semua kumpul di sini dan jangan pergi ke mana-mana," sahut Nayla, suaranya sedikit bergetar. Dia melirik ke arah kembarannya, Nayra, dan kakak laki-lakinya, Nathan. Keduanya hanya mengangguk pelan, ekspresi wajah mereka bercampur antara penasaran dan sedikit cemas.
"Apa jangan-jangan... Kakak mau pergi ke luar negeri dalam waktu yang sangat lama?" Tebak Nathan tiba-tiba, memecah keheningan yang sempat tercipta. Matanya membelalak, seolah tak percaya dengan tebakannya sendiri.
"Sepertinya iya, Nath. Kakak kan kalau mau pergi jauh, pasti selalu pamitan dulu dan ngajak kita jalan-jalan untuk sekadar perpisahan. Tapi kali ini... caranya berbeda. Dia minta kita tunggu di sini dengan cara yang begitu serius," jawab Nick perlahan, alisnya terkerut dalam. Dia mencoba menganalisis situasi, namun hatinya tetap dipenuhi tanda tanya besar.
"Atau... apa perusahaan yang di luar negeri sedang bermasalah? Apa ada kesulitan besar yang sedang dia hadapi?" Tanya Nayla, suaranya semakin pelan. Dugaan-dugaan liar mulai bermunculan di kepalanya. Pasalnya, Nagara. kakak tertua mereka, sangat jarang meminta mereka berkumpul seperti ini kecuali untuk hal-hal yang benar-benar krusial. Nagara juga bilang kalau dia akan segera pulang untuk membicarakan sesuatu yang penting, sesuatu yang bisa mengubah jalan hidup mereka semua.
"Kau merasa tidak nyaman, Nay?" Tanya Nick tiba-tiba, perhatiannya beralih ke arah Nayra yang duduk diam di sudut sofa. Wajah adik bungsunya itu tampak pucat dan lesu, matanya menatap lantai dengan pandangan kosong seolah sedang memikirkan hal yang berat.
"Tidak, Kak. Aku baik-baik saja kok, cuma masih agak mual-mual dikit" jawab Nayra dengan suara lemah, namun ia berusaha mengulas senyum tipis untuk meyakinkan kakaknya. Meski begitu, senyum itu tidak sampai menyentuh sudut matanya yang tampak sendu.
"Jika kau merasa tidak nyaman atau butuh sesuatu, jangan ragu untuk katakan ke kami ya. Kami ada di sini untukmu," timpal Nathan dengan lembut, mendekatkan tubuhnya sedikit ke arah Nayra. Nayra hanya mengangguk cepat dengan senyum yang semakin tipis. Di sebelahnya, Nayla mengelus punggung sang adik dengan gerakan lembut, mencoba memberikan kekuatan tanpa kata-kata.
Tiba-tiba, suara salam terdengar dari arah pintu depan, membuat keempat bersaudara itu serentak menoleh.
"Assalamualaikum," ucap seseorang yang suara berat dan khasnya langsung mereka kenali sebagai Nagara.
"Walaikumsalam," jawab mereka serempak, tubuh mereka serentak berbalik menghadap sumber suara.
Namun, apa yang mereka lihat selanjutnya membuat mata keempat adik Nagara melebar sempurna, seolah tidak percaya dengan apa yang terhampar di depan mata mereka. Di samping Nagara, berdiri seorang gadis cantik yang tampak asing bagi mereka. Tangan kekar Nagara melingkar erat di pinggang ramping gadis itu, seolah menandakan ikatan yang sangat dekat. Gadis itu tampak tengah gugup, jari-jarinya yang lentik terus meremas ujung gaun yang dikenakannya, dan matanya menunduk takut-takut menyapu pandangan ke arah mereka.
"Apa... apa dia Kakak Ipar, Kak?!" Tanya Nayla dengan excited, tubuhnya gegas berdiri dari duduknya dengan antusiasme yang meledak-ledak. Matanya berbinar-binar, rasa penasaran dan kebahagiaan bercampur aduk di dalamnya.
"Kakak, ini serius kan? Benar-benar serius?" Tanya Nathan menyusul, matanya juga ikut berbinar cerah, tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
"Selamat, Bro! Akhirnya kau membawa gadis pilihan hatimu pulang ke rumah. Kami sudah menunggu momen ini sejak lama!" Ucap Nick dengan senyum mengembang lebar, wajahnya penuh sukacita. Dia menghampiri kakak tertuanya dan menepuk bahu Nagara dengan bangga.
"Hei, jangan berlebihan dong. Lihat deh, Kakak Ipar sampai ketakutan tuh. Tangannya meremas gaunnya sampai kusut begitu," seloroh Nayra dengan senyum tipis, meski matanya masih menyimpan sedikit keterkejutan. Dia memperhatikan gadis yang dirangkul Nagara itu yang tampak semakin gugup di bawah tatapan mereka.
"Kak, maaf ya kalau kami bikin Kakak takut. Kami berempat ini adik-adik Kak Naga. Jangan takut ya, kami baik kok," ucap Nayla dengan ramah, segera mendekati gadis itu untuk mencairkan suasana.
Gadis yang dibawa Naga itu bernama Valen. Wanita yang sudah ia pacari selama kurang lebih 9 tahun lamanya. Mereka menjalin hubungan manis namun penuh perjuangan saat Valen masih duduk di bangku kuliah semester awal, sedangkan Nagara baru saja memulai karirnya sebagai CEO di perusahaan keluarga yang besar dan menuntut banyak tanggung jawab.
"Kenalin, Sayang. Dia Nayla. Adikku sekaligus anak nomor empat," ucap Naga lembut, memperkenalkan Nayla yang sudah berdiri di depan Valen. Valen mengangkat wajahnya, menatap Nayla dengan senyum canggung namun tulus.
"Ini Nayra, adik bungsu sekaligus kembaran Nayla," tambah Nagara, matanya beralih menatap Nayra dengan lembut.
"Hai, Kakak Ipar!" Sapa Nayra ceria, segera meraih tangan Valen dengan lembut dan hangat, mencoba membuat calon kakak iparnya itu merasa lebih nyaman.
"Ayo duduk dulu, Kak. Jangan berdiri terus," ajak Nayla meraih lengan Valen yang satu lagi. Valen pun berjalan dengan patuh, digandeng oleh Nayra dan Nayla di sisinya menuju sofa ruang tamu.
"Aku Nathan, adik Kak Naga, sekaligus anak nomor tiga," seru Nathan dengan semangat, sempat merapikan rambutnya sedikit dengan gaya yang sedikit kaku namun lucu, membuat suasana menjadi lebih cair.
"Dan yupz, saya Nick. Adiknya Kak Nathan juga, dan anak nomor dua," ucap Nick dengan senyum jenaka, memainkan matanya sedikit ke arah calon kakak iparnya yang kini sudah duduk.
"Anak nomor dua?" Tanya Valen pelan, suaranya lembut dan terdengar manis. Dia baru saja mendudukkan pantatnya di sofa, masih terlihat sedikit canggung namun mulai merasa lebih tenang.
"Dia pacar Kakak, Valen. Kakak sudah sembilan tahun menjalin hubungan dengan dia," ucap Naga tiba-tiba, suaranya tegas namun penuh kelembutan. Kalimat itu membuat semua mata di ruangan itu saling tatap tak percaya, mulut mereka sedikit terbuka karena keterkejutan.
"Sembilan tahun? Kenapa baru dibawa pulang sekarang, Kak?!" Cicit Nayla, menatap Nagara dengan ekspresi kesal bercampur heran. Naga pun mendudukkan dirinya di sofa kosong di dekat Valen, diikuti oleh yang lainnya yang kembali mengambil tempat duduk masing-masing.
Naga menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang lain. "Nayra, bolehkah Kakak minta tolong panggilkan Bi Surti dan Pak Tarjo ke sini?" Tanyanya pelan namun memohon. Nayra pun gegas berdiri, tanpa banyak tanya ia segera berjalan keluar ruangan untuk memanggil kedua orang yang sudah mereka anggap seperti keluarga sendiri.
Meskipun status Bi Surti saat ini hanya sebagai pembantu rumah tangga, dan Pak Tarjo merupakan supir keluarga mereka, namun setelah kematian orang tua mereka, keduanya lah yang telah merawat dan membesarkan keempat bersaudara itu dengan penuh kasih sayang. Mereka sudah menganggap kedua pasangan itu seperti orang tua kandung mereka sendiri. Oleh karena itu, menurut Naga, berita sebesar ini, tentang Valen dan rencana masa depannya. kedua orang tua asuh itu berhak untuk mengetahuinya. Naga juga berniat untuk meminta izin dan restu mereka untuk menikahi Valen.
Tak lama kemudian, Nayra kembali masuk ke ruangan, diikuti oleh Bi Surti dan Pak Tarjo yang berjalan beriringan di belakangnya.
"Ada apa, Mas Nagara? Memanggil kami ada keperluan apa?" Tanya Bi Surti ramah, matanya menyapu pandang ke arah semua orang yang berkumpul, lalu berhenti sejenak saat melihat sosok Valen yang asing di sana.
"Bi Surti, Pak Tarjo..." panggil Valen lembut, menyela keheningan yang sempat tercipta. Valen kemudian berdiri dari duduknya dan menghampiri sepasang suami istri itu dengan langkah perlahan namun penuh hormat. Dia menyalami tangan keduanya dengan sopan, tak lupa mencium punggung tangan mereka dengan takzim, menunjukkan rasa hormat yang tinggi kepada orang yang lebih tua.
"Nona, tidak perlu sesopan itu, ah. Kami kan cuma pembantu dan supir," ucap Bi Surti sungkan, wajahnya memerah karena merasa tidak biasa diperlakukan semulia itu oleh orang asing yang terlihat begitu anggun. Valen hanya tersenyum manis mendengar ucapan itu, seolah tidak memedulikan status sosial mereka.
"Bi, Pak. Ada sesuatu yang sangat penting yang ingin saya sampaikan kepada kalian semua. Silakan duduklah bersama kami," ucap Naga kemudian, suaranya terdengar serius namun lembut. Dia menarik napas panjang sekali lagi, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang.
"Kakak mau menikah, ya?!" Tebak Nick tiba-tiba dengan nada yang sangat antusias, seolah sudah bisa menebak isi hati kakaknya. Naga hanya tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan.
"Dia Valen, kekasihku. Kami sudah menjalin hubungan selama sembilan tahun ini," ucap Nagara dengan tegas, setelah semua orang duduk dan memusatkan perhatiannya pada ucapannya. Suasana ruangan menjadi hening sejenak, seolah semua orang sedang mencerna informasi besar yang baru saja disampaikan.
"Kakak serius? Kenapa baru dikenalkan ke kami sekarang? Kenapa menyembunyikannya selama ini?" Tanya Nayla dengan dahi yang mengerut dalam, masih merasa sedikit kecewa karena baru sekarang mengetahui keberadaan Valen.
Naga menatap adik-adiknya dan kedua orang tua asuhnya dengan tatapan penuh makna. "Aku khawatir... kalian tidak menerima dia. Karena... dia yatim piatu," ucap Nagara pelan, suaranya terdengar berat. Di sebelahnya, Valen hanya menundukkan kepalanya, jemarinya kembali saling bertaut dengan gugup, seolah merasa bersalah atau takut akan penolakan.
Mendengar itu, Nathan langsung menyahut dengan sorot mata yang berbinar, "Kak, kita juga yatim piatu, kan? Kenapa kami tidak mau menerimanya? Kami tahu betul rasanya kehilangan orang tua, dan itu tidak membuat siapa pun menjadi kurang berharga."
"Jadi... kalian menerima Valen sebagai Kakak Ipar kalian? Menerima dia masuk ke dalam keluarga kita?" Tanya Naga ragu-ragu, matanya menyapu pandang ke wajah Nick, Nathan, Nayla, dan Nayra satu per satu. Keempat adiknya itu tampak mengangguk mantap tanpa keberatan sedikit pun, senyum hangat terukir di wajah mereka.
"Jika kalian sudah sama-sama suka dan yakin satu sama lain, perbedaan latar belakang atau status bukanlah masalah yang besar. Bapak yakin Mas Nagara sudah dewasa, sudah tahu mana yang baik dan buruk untuk masa depannya. Adik-adik Mas juga tidak keberatan menerima Nona Valen. Jadi, bapak dan Ibu Surti juga merestui kalian," ucap Pak Tarjo dengan bijak, suaranya yang tenang memberikan ketenangan bagi semua orang yang ada di ruangan itu.
"Setuju! Di keluarga kita enggak usah ada mandang status ya! Mau dia miskin atau yatim piatu, kalau kita merasa cocok gas aja deh, iya kan kak?" seru Nathan di angguki oleh yang lainnya
"Jangan budayakan peraturan dari almarhum kakek deh" tambah Nathan yang tampak begitu excited, karena Kakek mereka pernah berpesan keluarga mereka merupakan keluarga terhormat itulah kenapa mereka wajib memilih bibit, bebet dan bobot saat hendak menikah. Namun peraturan itu tidak lagi mereka patuhi, bukan karena tidak menghargai almarhum sang kakek, hanya saja bang mereka, siapa pun dan apapun latar belakang nya wajib di hargai dan di cintai.