Ini merupakan Novel Sekuel dari Melepas para Benalu,
Wina tak pernah menyangka kisah hidupnya yang tragis membuatnya akhirnya bisa bertemu dengan lelaki yang sangat kejam tapi sangat mencintai dan menyayangi dirinya yaitu Alexander
Alexander adalah seorang Mafia kelas kakap yang bahkan polisi juga sangat segan kepadanya.
Pertemuan tidak sengaja itu pun menjadikan Tuan Mafia yang terkenal kejam dan tidak berperasaan itu akhirnya memiliki tempat pulang dan orang yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Mata Wina Aditama membulat sempurna, dia terbangun diruangan yang dia tak kenal sama sekali.
"Ya Tuhan aku dimana? ". Cicitnya memegangi kepalanya yang berdenyut hebat.
Sekelebat bayangan yang terjadi sebelumnya tiba-tiba memenuhi isi kepalanya.
Dia teringat dirinya jatuh ke laut saat pesawat pribadi yang dia tumpangi bersama anak dan sahabatnya itu hampir terbakar dan mereka tidak punya pilihan lain selain melompat keluar untuk menyelamatkan diri.
"Kita harus melompat sekarang, kita tidak punya waktu lagi". Panik Leo saat pesawat mereka kebakaran mesin.
" Tapi ini laut Leo, bagaimana anak-anak bisa bertahan di laut lepas seperti ini?". Wina menatap sang anak dengan ketakutan.
Dia bisa berenang di laut lepas tapi bagaimana anak-anak nya bisa bertahan.
"Pakai pelampung dan pengaman saja dan ikat keduanya dengan tali agar tidak jauh darimu, nanti kita pikirkan saat di laut nanti, ingat kita harus cepat, kita akan mati kalau kita tidak terjun sekarang". Suara Leo meninggi karena panik.
Wina berada di pesawat bersama Leo, Ratna, dan juga Ben, mereka mengantar Wina ketempat baru untuk tinggal menetap disana sedangkan Winda berada ditempat aman dan tidak ikut bersama mereka karena sedang hamil muda dan sangat beresiko.
Wina tidak punya pilihan lain, dia memasangkan pelampung dan pengaman untuk kedua anaknya dan memakai kan tali darurat untuk mereka begitu juga dirinya, begitu juga dengan yang lainnya, mereka sengaja memakai tali agar tidak terlalu jauh saat mereka terjun nanti dan bisa saling menolong.
"Ayo, sekarang kita loncat bersama, satu, dua tiga". Teriak Ben sambil memegang salah satu anak Wina karena dia yang tidak memiliki pegangan sedangkan Leo memegang tangan Ratna.
Mereka semua melompat begitu pesawat itu hampir jatuh mengenai tanah.
"Nyonya sudah sadar? ". Tanya salah satu pelayan yang baru saja datang membawa pakaian ganti untuknya.
Wina tersentak kaget mendengar suara itu, dia menatap waspada perempuan parubayah berpakaian maid yang berada dihadapannya itu.
"Siapa kamu dan saya berada dimana? ".
Wina mengedarkan pandangannya keruangan yang kini dia tempati, dia jadi teringat anak dan juga para sahabatnya.
Perempuan parubayah itu tersenyum penuh hormat, dia berjalan mendekat dan membawa pakaian itu kehadapan Wina.
"Nyonya berada di kediaman Alexander Abraham, tuan menemukan anda dan keluarga anda di laut saat beliau sedang berlibur menggunakan kapal pesiar mini dan membawa anda kemari". Jawabnya dengan sopan.
Dia menyerahkan pakaian cantik itu kepada Wina sambil tersenyum penuh penghormatan.
"Silahkan diganti pakaiannya nyonya, keluarga anda berada dirumah sakit sedangkan anda berada dirumah karena pingsan sedangkan yang lainnya mengalami luka cukup serius". Ucapnya lagi memberitahu.
Mendengar itu Wina langsung menegakkan badannya, walau rasa pusing mendera kepalanya dengan sangat hebat, dia memaksakan dirinya untuk duduk dengan benar.
Melihat tuannya sedang kesakitan Maid parubayah bernama Bibi Mirna itu langsung sigap membantunya.
"Nyonya baik-baik saja? ". Tanyanya dengan penuh rasa khawatir.
Dia segera mengecek keadaan Wina yang tengah memegangi kepalanya itu.
"Saya baik-baik saja Bi, hanya kepala saya terasa sangat pusing sekali". Wina memegangi kepalanya dan meringis pelan.
"Jangan dipaksakan Nyonya, nyonya baru sadar dan kepala nyonya juga sedikit terbentur batu, itu sebabnya nyonya pusing seperti ini".
Dia membantu Wina untuk memperbaiki posisinya agar bisa lebih baik dan kepalanya tidak pusing.
"Makasih bi, terus bagaimana keadaan keluargaku bi? ". Tanyanya dengan wajah cemas.
Jantungnya berdegup kencang mendengar orang-orang yang dia sayangi berada dirumah sakit dalam keadaan kritis.
"Mereka masih dirawat nyonya, sedangkan kedua anak kembar yang terikat dengan nyonya mengalami koma, mereka mengalami kerusakan paru-paru karena terlalu lama dingin di laut dan juga ada beberapa benturan lainnya".
Mendengar itu tubuh Wina langsung merosot lemah, matanya kini mengembun dan siap mengeluarkan air mata. Kedua anaknya kini dalam keadaan koma dan dia tidak ada disana.
"Aku ingin kesana bi, aku ingin ketemu dengan anak-anak ku, aku tidak bisa diam seperti ini". Ucapnya dengan suara bergetar dan tangisnya pecah.
Ibu mana yang tidak akan hancur hatinya melihat kedua anaknya mengalami hal seperti ini.
"Jangan nyonya, nyonya belum sembuh betul, nanti nyonya pingsan jika memaksakan diri, mereka berada dirumah sakit keluarga Abraham, jadi nyonya tenang saja mereka aman". Cegahnya karena Wina berusaha bangkit sambil memegang kepalanya.
Langkahnya terhuyung tapi berusaha memaksakan diri untuk berjalan dan akhirnya dia hampir terjatuh tapi langsung ditangkap oleh seorang laki-laki.
"Tetaplah berada di tempatmu, jangan memaksakan keadaan jika tidak mau menambah masalah".
Suara bariton itu membuat suasana hening dan mencekam seketika, nadanya memang tidak keras tapi terasa sangat dingin dan datar.
Wina mengangkat wajahnya kemudian melihat lelaki yang memegangnya ini, lelaki tampan dan tinggi dan gagah itu kini menatapnya dengan sorot yang tidak bisa dia tebak.
"Tapi saya harus melihat anak dan juga sahabat-sahabat saya tuan". Cicit Wina berusaha menyeimbangkan dirinya.
Walau dia tidak mampu, kakinya terasa sangat kaku dan juga keras seperti mati rasa.
"Nanti setelah kamu baikan, setidaknya kepala dan kakimu bisa digunakan lebih dulu baru kamu bisa kesana". Ucapnya pelan.
Dia menuntun Wina kembali ke tempat tidur agar Wina bisa duduk dan tidak terlalu merasa pusing.
"Tapi saya harus bertemu dengan mereka tuan, mereka membutuhkan aku disana". Tangis Wina pecah.
Dia menunduk menyembunyikan wajahnya yang kini terisak dan menangis karena ketakutan memikirkan anak dan juga sahabatnya.
Lelaki tampan itu berjalan keruangan dan menyalahkan Televisi, dia menekan tombol dan menyalahkannya, Wina yang tadinya menunduk mengangkat wajahnya dan melihat apa yang dilakukan oleh lelaki itu.
Dia jelas mendengar jika lelaki itu berbicara dengan seorang dokter, itulah sebabnya dia tahu kalau ternyata dokter itu yang menangani keluarganya.
"Bagaimana perkembangannya, mereka sudah sadar? ". Tanya lelaki yang tidak dia ketahui namanya itu.
"Nona Ratna dan Tuan Leonardo sudah sadar tuan, tinggal tuan yang satunya dan juga anak kembar itu yang belum, saya akan perlihatkan mereka tuan". Ucapnya dengan hormat.
"Silahkan dokter, kebetulan Wina Aditama sudah sadar dan ingin melihat mereka". Ucapnya dengan penuh wibawa.
Televisi berukuran 50 inci itu kini dipenuhi gambar ruangan yang berbeda, disana Wina bisa melihat dengan jelas keadaan Sahabat dan juga anaknya.
"Anak-anak ku". Cicitnya dengan tangis
Dia bisa melihat keadaan Wira dan Tania yang tengah dipasangi selang bantu pada pernafasannya.
"Apa operasinya berjalan lancar? ". Tanya Lelaki itu lagi kepada dokter yang ada didalam televisi itu.
"Iya tuan, mereka sudah mendingan dan kita hanya menunggu mereka sadar saja". Jawabnya dengan sopan.
Wina berusaha berdiri dan ingin bangkit tapi dia kembali terhitung dna ditangkap oleh Maid parubayah itu.
"Dengarkan apa perkataan ku Wina Aditama". Ucapnya dengan dingin dan tatapannya tajam.