"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."
Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.
Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ganti Rugi atau Jadi Arwah?
Lokasi: Kantor "Diah Nation" yang Retak
Suasana mendadak hening. Hanya terdengar deru napas Kiara yang masih memburu dan bunyi detak jam dinding yang miring. Reyhan menatap nanar kursi kerjanya yang kini terbelah dua di lantai.
"Ren," bisik Reyhan dengan muka melas, tangannya gemetar meraba dompetnya yang tipis. "Gue rasa... biaya perbaikan kantor ini lebih besar dari bonus kasus Arthur kemarin. Masalah kursi ini... tenang, gue bakal cicil pakai honor kasus pertama kita di Season 2."
Rendy memunguti baut-baut kursi yang berceceran di lantai. "Iya, Pak. Maaf ya, kantor jadi berantakan. Ini semua gara-gara si Bapak Detektif yang kebanyakan gaya di depan klien. Gue bantu benerin pakai lem super deh, dijamin kuat... buat didudukin kucing tapi."
Kiara yang tadi penuh aura hitam mendadak terdiam. Rasa bersalah mulai muncul di wajahnya. "Maaf, Rey... aku cuma kesal. Tapi kalau kamu pingsan lagi di depan tamu, aku tidak janji meja itu akan tetap utuh."
Vanya, yang sejak tadi hanya bisa melongo melihat drama "domestik" di depannya, akhirnya angkat bicara. "E-eh... apa saya harus ikut mengganti ruginya? Saya ada uang sisa konser kemarin..."
"Tidak usah, Nona Vanya!" potong Reyhan cepat, mencoba kembali terlihat berwibawa meski kakinya masih lemas. "Sebagai pria yang bertanggung jawab, saya yang akan mengurus semua kerusakan inventaris ini!"
Misteri yang Kembali Mengetuk
Di tengah perdebatan ganti rugi itu, tiba-tiba pintu kantor yang sudah miring itu terbuka perlahan. Krieeeet...
Seorang kurir dengan seragam hitam legam masuk membawa sebuah kotak besar dengan pita emas yang berkilau. Di atasnya tertulis: "Untuk Detektif yang Sedang Kehilangan Tempat Duduknya."
Begitu kotak dibuka, isinya membuat mereka semua ternganga. Sebuah kursi kantor baru yang sangat mewah, berlapis kulit hitam dengan ukiran emas murni di setiap sisinya. Namun, saat Reyhan mengangkat bantalannya, sebuah catatan kecil jatuh ke lantai:
"Kursi baru untuk simfoni yang baru. Jangan biarkan asistenmu terlalu sering marah, atau musiknya akan berakhir lebih cepat sebelum lagu usai. - The Conductor"
Reyhan langsung terduduk di kursi itu dengan gaya sok bos. "Wah! Fans gue memang pengertian! Lihat, Ra! Belum juga kerja, sudah ada yang kirim fasilitas mewah!"
Namun, Kiara justru melangkah mundur. Wajahnya kembali pucat pasi. "Rey... jangan senang dulu. Itu bukan dari fans. Baunya... sama seperti di pabrik tua itu. Si Konduktor itu sedang mengawasi kita lewat barang ini."
Menu Diet "Maut"
Karena kondisi keuangan yang menipis akibat renovasi dadakan, hari itu mereka harus memulai misi dengan perut keroncongan.
Menu Diet Hari Pertama:
Sarapan: Udara segar (karena Rendy lupa membeli roti).
Makan Siang: Harapan (satu keping biskuit sisa yang ditemukan di kolong meja).
Makan Malam: Motivasi dari Kiara (yang isinya omelan).
"Lemas banget, Ra..." rintih Reyhan yang kini bersandar di tembok karena tidak berani lagi duduk di kursi emas itu lama-lama. "Mending gue pingsan beneran daripada harus diet begini. Nona Vanya, tolong kasih saya semangat... atau sepotong pizza juga boleh."
Vanya baru saja hendak mengeluarkan cokelat dari tasnya, namun Kiara dengan sigap menepisnya menggunakan penggaris kayu.
"Jangan!" tegur Kiara tegas. "Dia harus belajar disiplin. Kalau pikirannya cuma makanan, dia tidak akan bisa fokus menghadapi ancaman si Konduktor!"
Bisikan dari Kursi Emas
Di tengah drama kelaparan itu, tiba-tiba kursi emas tersebut berputar sendiri 180 derajat secara perlahan. Suara musik biola mendadak terdengar lagi—kali ini nadanya lebih berat, penuh dengan tekanan bas.
Reyhan mendadak duduk tegak, rasa laparnya menguap seketika. "Tunggu... kalian dengar tidak? Irama musiknya... ini bukan lagu biasa. Ada pola tertentu di sela-sela nada ini."
Kiara memajamkan mata, mencoba menangkap frekuensi gaib di ruangan itu. "Rey, ada pesan di sana. Si Konduktor mau kita datang ke Gedung Konser Nasional malam ini juga. Dia bilang... 'Pertunjukan pembukaan butuh korban pertama.'"
Rendy menelan ludah. "Korban pertama? Jangan-jangan itu maksudnya kita?! Pak, ayo siap-siap! Meski perut Bapak kosong, aksi Bapak nggak boleh kosong!"
Reyhan merapikan jasnya yang kini terasa agak longgar—entah karena diet instan atau karena rasa takut yang mulai menjalar. "Oke. Kita berangkat. Pingsan atau tidak, malam ini kita harus tahu siapa sebenarnya yang sedang memainkan tongkat konduktor itu!"