NovelToon NovelToon
" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Misteri
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: Gans March

Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kurikulum kegelapan, retaknya sang nurani

Dua bulan telah berlalu sejak malam mencekam di pegunungan itu. Laura kini duduk di sebuah kursi beludru hitam di sudut perpustakaan kecil rumah itu, yang selalu beraroma lilin lebah dan kertas tua. Seragam sekolahnya yang dulu menjadi identitasnya kini mungkin sudah lapuk atau dibakar; ia tak peduli lagi. Baginya, sekolah adalah tempat di mana ia harus berpura-pura, sedangkan di sini, ia adalah pusat gravitasi.

Di hadapannya, beberapa kitab tebal dengan sampul kulit hewan yang kasar tertata rapi. Salah satunya adalah Satanic Bible dengan simbol Baphomet yang menonjol di sampulnya.

Marco berdiri di belakangnya, kedua tangannya bertumpu pada sandaran kursi Laura, seperti pelindung sekaligus pengawas yang tak bergeming.

"Bacalah bait kelima, Laura," bisik Marco, suaranya halus namun menuntut. "Jangan hanya dengan matamu, tapi dengan darahmu."

Laura membuka halaman yang sudah ditandai. Jemarinya yang kini sering memancarkan pendar emas tipis menyentuh baris-baris kalimat yang menantang segala hal yang dulu diajarkan Oma kepadanya.

"'Hate your enemies with a whole heart, and if a man smite thee on one cheek, SMASH him on the other!'" suara Laura bergetar saat membacanya. "Ini... ini sangat berbeda dengan apa yang aku dengar di gereja dulu, Marco."

Marco tersenyum tipis, sebuah seringai yang kini terasa hangat bagi Laura. "Karena gereja mengajarkanmu untuk menjadi domba yang lemah, Laura. Kitab ini mengajarkanmu untuk menjadi serigala. Kau adalah pemegang kuasa atas dirimu sendiri. Tidak ada Tuhan, tidak ada Iblis yang lebih tinggi dari kehendakmu."

Di samping kitab itu, tergeletak sebuah manuskrip tulisan tangan yang berisi mantra-mantra pemanggil roh teritorial. Laura beralih ke sana, matanya menyisir simbol-simbol geometris yang rumit.

"Aku harus merapalkan ini saat Black Sabbath nanti?" tanya Laura sambil menunjuk sebuah mantra dalam bahasa Latin kuno yang bercampur dengan dialek lokal pegunungan.

"Ya," jawab seorang anggota Satanik senior yang duduk di seberang meja, seorang wanita anggun bernama Elena. "Itu bukan sekadar kata-kata. Itu adalah kunci untuk membuka pintu rumah bagi sang pembawa cahaya. Kau harus menghafal intonasinya. Getaran suaramu harus selaras dengan denyut jantung bayi yang akan kau asuh nanti."

Laura terdiam sejenak. Ia melihat sebuah ilustrasi di kitab penyihir (Grimoire) tentang cara memisahkan jiwa dari raga melalui perantara darah segar.

"Dunia luar menganggap ini jahat," gumam Laura, menatap pendar emas di ujung kukunya. "Mereka menganggapku hilang, mungkin menganggapku sudah mati di hutan itu. Tapi saat aku membaca kalimat-kalimat ini... aku merasa lebih 'hidup' daripada saat aku duduk di kelas matematika."

Laura menutup kitab Satanic Bible itu dengan bunyi dentuman yang berat. Ia menatap Marco melalui pantulan cermin di perpustakaan.

"Aku tidak akan kembali ke sekolah itu lagi, Marco. Mereka tidak akan pernah paham kenapa darahku emas. Mereka hanya akan mengurungku di rumah sakit jiwa atau membedahku sebagai aneh."

Marco mengangguk setuju. "Sekolahmu adalah penjara pikiran. Di sini, kau sedang belajar menjadi Tuhan bagi duniamu sendiri. Hafalkan mantra pemutus ikatan itu malam ini. Besok, saat kau masuk ke rumah itu sebagai pengasuh, kau harus sudah melupakan bahwa kau pernah menjadi seorang cucu yang manis."

Laura menghela napas panjang. Nurani kecilnya mencoba memunculkan wajah Oma, namun dengan cepat ia menekan bayangan itu dengan baris-baris mantra yang baru saja ia pelajari. Baginya, dunia nyata adalah mimpi buruk yang sudah berakhir, dan kegelapan ini adalah kenyataan yang paling jujur.

Ruangan perpustakaan itu remang-remang, hanya diterangi oleh perapian yang apinya berwarna biru kehijauan akibat serbuk mineral yang ditaburkan Elena. Laura duduk tegak, dagunya sedikit terangkat—sebuah gestur keangkuhan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Di pangkuannya, sebuah kitab kuno terbuka, namun matanya tidak menatap tulisan, melainkan menatap kosong ke arah kobaran api.Marco mendekat, membawa sebuah cawan perak berisi cairan kental berwarna gelap. Ia berlutut di samping kursi Laura, menatap gadis itu dengan pemujaan yang berbahaya.

"Kau terlihat lebih tenang hari ini, Laura. Tak ada lagi air mata untuk masa lalu?" tanya Marco lembut.

Laura menoleh perlahan. Sorot matanya yang dulu penuh ketakutan kini tampak sedalam sumur tua yang dingin. "Air mata adalah sisa-sisa kelemahan yang diajarkan Oma, Marco. Dia bilang Tuhan itu pengasih, tapi Tuhan itu membiarkan orang tuaku mati dan membiarkanku diburu seperti binatang di hutan itu."

Elena, sang mentor senior, melangkah keluar dari bayang-bayang rak buku, suaranya mengalun seperti bisa ular yang tenang.

"Tuhan yang kau sembah dulu hanya menginginkanmu menjadi kurban yang penurut, Sayang," ujar Elena sambil membelai rambut Laura. "Mereka menyebut pendar emasmu sebagai kutukan karena mereka takut pada kekuatan yang tidak bisa mereka kendalikan. Tapi di sini, di bawah bimbingan The Morning Star, kau adalah tuan atas takdirmu sendiri."

Laura menyentuh simbol pentagram terbalik yang kini ia gantungkan di lehernya. "Di kitab ini dikatakan bahwa kasih sayang adalah rantai. Benarkah begitu?"

"Benar," jawab Marco tegas. "Kasih sayang membuatmu berhutang pada orang lain. Oma mencintaimu agar kau menjadi apa yang dia inginkan. Teman-temanmu mencintaimu hanya selama kau terlihat normal. Itu bukan cinta, itu adalah kontrak perbudakan."

Laura terdiam sejenak, memproses logika bengkok yang terus-menerus dijejalkan ke kepalanya selama dua bulan terakhir.

"Lalu... bagaimana dengan bayi yang akan kujaga Minggu depan?" tanya Laura, suaranya datar tanpa emosi. "Dulu aku akan merasa sangat kasihan. Tapi sekarang... saat aku membaca mantra pembuka jalan bagi Sang pembawa cahaya, aku merasa bayi itu hanyalah sebuah wadah. Sebuah alat."

Elena tersenyum lebar, menunjukkan kepuasan yang mengerikan. "Itulah pencerahan, Laura. Kau mulai melihat dunia sebagaimana adanya: kumpulan energi yang siap dipanen oleh mereka yang berani. Jangan lihat bayi itu sebagai manusia. Lihatlah dia sebagai anak tangga menuju tahtamu."

Marco menyerahkan cawan perak itu kepada Laura. "Minumlah. Ini akan memperkuat frekuensi gelapmu sebelum kau berangkat penyamaran. Lupakan Laura yang menangis di bawah pohon beringin. Laura yang itu sudah mati dimakan hutan."

Laura menerima cawan itu tanpa ragu. Ia meminum isinya hingga habis, membiarkan rasa pahit dan panas menjalar ke seluruh kerongkongannya. Pendar emas di tangannya sesaat berubah menjadi jingga kemerahan yang pekat.

"Sekolah, Oma, dan ketakutan itu..." Laura berbisik, seolah sedang merapalkan mantra terakhir untuk dirinya sendiri. "Semua itu hanyalah debu. Aku siap untuk Black Sabbath."

Perubahan Laura terjadi begitu masif dan mengerikan, layaknya sebuah lukisan indah yang perlahan disiram tinta hitam hingga tak bersisa. Otaknya yang cerdas, yang dulu digunakan untuk menghafal ayat-ayat suci dan rumus matematika, kini menjadi spons yang menyerap doktrin kegelapan dengan kecepatan yang menakutkan para anggota Satanik itu sendiri.

Aku tidak pernah merasa secerdas ini," gumam Laura, suaranya kini lebih berat dan berwibawa. "Dulu, dunia terasa begitu sempit dan penuh larangan. Sekarang, aku melihat bahwa moralitas hanyalah pagar yang dibuat oleh orang lemah untuk membatasi orang kuat."

Marco melangkah mendekat, memberikan sebuah kitab kecil bersampul kulit hitam tanpa judul.

"Kau belajar lebih cepat dari yang kami duga, Laura. Kau tidak hanya membaca kata-katanya, kau menghidupkannya. Kau tidak merindukan Oma?"

Laura Tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata.

"Oma? Siapa itu? Sosok yang ingin mengurung kekuatanku dalam doa-doa kosong? Dia adalah bagian dari masa lalu yang menghambat evolusiku, Marco. Kasihan sekali dia, hidup dalam ketakutan akan 'setan' padahal dia sedang menahan seorang dewi."

Elena, sang mentor, memberikan sebuah tantangan terakhir sebelum penyamaran dimulai.

"Jika kau harus memilih antara nyawa bayi itu dan keberhasilan Black Sabbath, apa yang kau pilih?"

Tanpa ragu sedetik pun Laura langsung menjawab,

"Bayi itu hanyalah materi biologis. Black Sabbath adalah keabadian. Pertanyaanmu menghina kecerdasanku, Elena. Aku bukan lagi gadis cengeng yang tersesat di hutan waktu itu."

Laura kini telah sepenuhnya "tercuci". Ia bukan lagi korban yang diculik; ia adalah agen aktif dari organisasi tersebut.

Dulu,ia takut pada darah dan kekerasan.Sekarang,melihat darah sebagai alat komunikasi dengan kekuatan purba.

Dulu, ia sangat peduli pada perasaan orang lain.Tapi sekarang,Memandang manusia lain sebagai bidak catur yang bisa dikorbankan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!