Sinopsis Bab
Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda Kepemilikan
Lisa terbangun pelan di kamar tamu, tubuhnya hangat di bawah selimut tebal. Ia melirik jam dinding, pukul 07:12 pagi.
Ia bangun hati-hati. Kakinya masih sedikit sakit, tapi sudah bisa menahan beban.
Lisa buka kulkas, ambil telur, roti, dan sedikit sayur yang ada. Ingin membalas kebaikan Hunter.
Ia mulai memasak sambil bergoyang kecil, menyanyikan lagu pelan, pinggulnya bergerak ringan mengikuti irama.
Hunter terbangun karena bau masakan. Ia berjalan diam-diam ke pintu dapur dan bersandar di kusen.
Aneh, gumamnya dalam hati sambil memperhatikan Lisa yang bergoyang. Sekarang dia sama sekali nggak terlihat kayak dosen...
Lisa terlalu asyik, tidak sadar. Saat ambil piring dari rak atas sambil jinjit—
PRANG!
Piring jatuh. Lisa ikut jatuh ke lantai.
"Aww..." ringisnya sambil memegangi lutut. Ceroboh banget sih...
Hunter langsung maju dan membantu Lisa berdiri.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya sambil memegang lengan Lisa. "Atau... kamu lagi lapar?"
"M-maaf, Tuan..." ucap Lisa malu-malu sambil menunduk. "Aku... aku cuma mau masakin kamu. Sebagai terima kasih..."
Hunter menarik Lisa lebih dekat dan menyudutkannya di sisi meja. Tangannya mengelus pipi Lisa dengan lembut.
"Kamu mau masakin aku?" tanyanya pelan.
Jeda sebentar.
Manis banget, gumamnya dalam hati.
"A-aku cuma..." Lisa sangat malu, wajahnya merah padam. "Cuma mau bales kebaikan Tuan semalam..."
"Aku nggak minta balasan apa pun," ucap Hunter santai sambil mengusap pipi Lisa dengan ibu jarinya.
Ia condong lebih dekat, berbisik di telinga Lisa.
"Tapi... kalau kamu mau balas, aku terima."
Wajah Lisa semakin memerah hingga ke telinga. Hunter melihat itu, giginya bergerak menahan sesuatu.
Sialan, umpatnya dalam hati.
Dia nggak sadar betapa menggemaskan ekspresinya...
Hunter mendekatkan wajahnya dan mencuri ciuman di bibir Lisa, seketika tubuh wanita itu menegang, tidak tahu harus membalas atau tidak.
Hunter melepaskannya pelan.
"Kamu gemetar," ucapnya sambil menatap mata Lisa.
"Ketakutan?"
"A-aku..." Lisa tergagap, suaranya gugup. "Aku malu..."
Hunter tertawa rendah.
"Nggak masalah."
Ia condong lagi, berbisik di telinga Lisa.
"Aku suka kamu... dengan wajah kayak gini."
Hunter kembali mencium Lisa, tapi kali ini di lehernya. Lisa mendesah pelan, tanpa sadar kepalanya miring memberi ruang lebih banyak.
"Hunter..." panggilnya lirih.
Hunter terus menciumi leher Lisa dengan pelan, bibirnya menyusuri kulit putih wanita itu, namun tanpa sadar, tangannya menurunkan kedua lengan dress Lisa.
Lisa tersentak kecil dan langsung menahan tangan Hunter.
"Hunter..." bisiknya pelan, suaranya bergetar. "Aku... aku takut..."
Hunter langsung berhenti. Ia membenarkan kembali dress Lisa dengan hati-hati.
"Maaf," ucapnya tulus sambil mundur sedikit. "Aku terbawa suasana."
Ia mengusap pipi Lisa sekilas.
"Lanjut masak aja."
Lisa mengangguk pelan. "Tuan... balik ke kamar aja. Nanti kalau udah selesai, aku panggil."
Hunter keluar dari dapur dengan tenang.
Lisa berdiri diam sejenak, jari-jarinya menyentuh bibir yang baru saja diciumi Hunter.
Astaga... aku baru aja... ciuman, gumamnya tidak percaya. Lebih parahnya... Hunter udah...
Ia tak sanggup melanjutkan.
Tapi... sepertinya dia bukan pria jahat. Dia mau berhenti saat aku minta...
Ia kembali ke wajan, mengaduk telur. Kali ini senyumnya perlahan muncul di bibir.
Haerim dan Alexey kembali ke kampus seperti biasa, mengikuti pelajaran dengan tenang sampai bel berbunyi.
Yubin langsung berpaling ke Haerim yang duduk di sebelah.
"Haerim!" panggilnya sambil menarik lengan Haerim. "Kamu ke mana aja sih? Udah hampir seminggu nggak keliatan!"
Haerim, yang tidak mungkin bilang jujur, akhirnya berbohong.
"Aku... di apartemen aja."
Yubin menyipitkan mata, tidak percaya.
"Terus kenapa nggak masuk kelas?"
"Nggak enak badan," jawab Haerim santai sambil memasukkan buku ke tas.
"Beneran?" Yubin masih curiga. "Beneran cuma sakit? Nggak ke mana-mana?"
"BENER!" kesal Haerim sambil menatap Yubin tajam. "Emang kenapa sih?"
"Kamu tau nggak sih... kamu berubah semenjak deket sama Alexey," sindir Yubin sambil melipat tangan. "Jadi sering bolos gitu."
"Nggak ada urusannya sama Alexey!" Haerim tidak terima. "Aku beneran kurang sehat tau!"
Yubin menyikut Haerim sambil tertawa.
"Ayolah... ceritain dong!" pinta Yubin penuh harap. "Selama pacaran sama Alexey, kalian kemana aja? Pasti ada momen romantis kan?"
"Gila kamu!" dengus Haerim kesal. "Cari pacar sendiri sono kalau penasaran!"
Yubin cemberut. "Ih, sensi banget sih..."
Sementara itu, Alexey masuk ke ruang kerja Minsook tanpa ketuk pintu dan langsung duduk di sofa. Minsook buru-buru berdiri melihat kedatangannya.
"Kamu sudah jalankan perintahku?" tanya Alexey dingin.
"S-sudah, Tuan Liebert," jawab Minsook sambil mengangguk cepat. Sikap menjilatnya langsung keluar. "Saya sudah cari wanita yang tepat untuk tugas itu."
Alexey berdiri.
"Lakukan malam ini."
"Paham, Tuan," ucap Minsook sambil membungkuk. "Akan saya lakukan sesuai janji."
"Donasi untuk kampus sudah ditransfer," ucap Alexey sambil merapikan jasnya. "Sebagiannya, jadi milikmu."
Minsook menelan ludah, sangat paham berapa jumlah itu. Ia buru-buru membungkuk dalam.
"Terima kasih banyak, Tuan Liebert! Terima kasih!"
Alexey tidak jawab lagi. Langsung balik badan dan keluar ruangan.
Minsook tersenyum puas, meski masih ada sedikit kecurigaan tentang identitas Alexey.
Tidak mungkin kecurigaan Jinhwa soal Alexey itu putra Kim Seoyon benar, gumamnya sambil duduk kembali. Kalaupun benar, aku tidak akan keluarin dia dari kampus. Dia ladang uangku.
Di parkiran, Haerim bersandar di mobil Alexey sambil menatap jam tangannya dengan cemberut
lalu Junhwan lewat di depannya.
"Haerim," sapanya.
"Junhwan," balas Haerim singkat.
"Kamu nggak masuk beberapa hari terakhir... ada apa?" tanya Junhwan basa-basi.
"Nggak enak badan," jawab Haerim datar.
"Alexey udah bawa pengaruh buruk buat kamu," ucap Junhwan sambil melipat tangan.
"Itu nggak ada urusannya sama Alexey!" balas Haerim tajam. "Jadi berhenti jelek-jelekin dia!"
Junhwan tiba-tiba meraih kedua tangan Haerim dengan paksa.
"Aku cuma mau mastiin kamu baik-baik aja," ucapnya sambil menatap mata Haerim. "Sekarang kamu kayak orang yang beda..."
Haerim menarik tangannya kesal.
"Nggak perlu simpati sama aku! Aku bisa urus diri sendiri!"
Tapi Junhwan justru memeluk Haerim dengan paksa. Haerim memberontak, berusaha lepas.
"BAJINGAN! Lepas!" teriaknya sambil mendorong dada Junhwan.
"Kenapa kamu selalu ngusir aku?!" bentak Junhwan tanpa melepaskan pelukannya. "Aku yang lebih dulu kenal kamu! Bukan Alexey!"
Alexey yang baru keluar dari gedung langsung berlari cepat, menarik Junhwan dan membantingnya ke lantai—BRAK!
"BAJINGAN!" umpat Junhwan sambil bangkit. "Lagi-lagi kau ikut campur!"
"Dia kekasihku," ucap Alexey dingin.
Haerim merapikan pakaiannya dengan gaya jijik, lalu melangkah ke arah Junhwan.
"Aku peringatin kamu sekali lagi," ucapnya tajam. "Jangan ikut campur hubunganku sama Alexey."
Ia berbalik—lalu langsung mencium bibir Alexey dengan sengaja.
Alexey membalas sedikit kasar, seolah menahan sesuatu yang akan meledak.
Suatu saat... aku akan bunuh dia, gumam Junhwan dalam hati sambil menatap mereka dengan mata menyala.
Ia berdiri dengan marah dan cemburu, lalu masuk ke mobilnya dan pergi.
Sementara Haerim terus mengimbangi lumatan Alexey yang tidak lembut seperti biasanya.