Dilarang memplagiat karya!
"Dia memilih kakakku..." --Hawa--
"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--
Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.
Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25 Bertemu
Happy reading
Hari yang dinanti Hanum akhirnya tiba.
Pagi ini, di bawah naungan tenda putih yang melambangkan kesucian, Damar mematri janji yang tak mungkin ia cabut lagi.
"SAH."
Kata itu bergema, menggetarkan atmosfer pagi yang semula tenang.
Menghadirkan rasa haru yang menyentuh relung kalbu.
Mencipta rasa syukur sekaligus kebahagiaan yang tak kuasa terucap oleh lisan.
"Alhamdulillah..."
Satu bab baru telah tertulis dengan tinta doa, memaksa bab lama tertutup rapat--bahkan jika bisa, terkunci selamanya.
Damar telah memantapkan hati, memilih Hanum Salsabila Prameswari sebagai rumah untuk berdiam.
Ia sadar, ego mesti ditundukkan dan nama Hawa yang masih bertahta di dalam benak harus segera dihempas.
Bukan sekadar demi menjaga hati wanita yang kini sah menjadi istrinya, melainkan demi melindungi Hawa.
Langkah yang saat ini ditempuh terasa pahit. Namun baginya, itu adalah jalan keluar terbaik. Jika ia memaksakan diri untuk merengkuh cinta Hawa, maka bundanya tak akan segan menghancurkan gadis itu.
Maharani akan membeberkan pada dunia bahwa Hawa adalah pembawa sial; pemilik tanda lahir yang dianggap nista. Tak patut dicinta, apalagi dijadikan seorang istri.
Bahu Laweyan, mitos itu dipercaya oleh ibunda Damar dan kerabat Gistara. Mengotori hati, hingga melahirkan kebencian yang mendalam pada makhluk Tuhan yang tak pernah sekalipun mengusik hidup mereka.
Ironis.
Kolot.
Bertentangan dengan syariat yang mengajarkan kasih sayang pada sesama dan memuliakan seorang wanita.
Secara medis tanda lahir yang dimiliki Hawa hanya nevus yang disebabkan oleh faktor genetik atau kelainan pembuluh darah sejak lahir. Dan secara klinis, itu adalah kondisi kulit normal atau kelainan pigmen yang tidak berhubungan dengan nasib orang lain.
Hening merayap turun saat Damar dan Hanum saling menyematkan cincin di jari manis. Tanda pengikat yang akan mengingatkan mereka pada janji suci--sumpah setia hingga menua bersama.
Damar meraup udara dalam-dalam--membangun ketegaran yang nyaris runtuh.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menyentuh pucuk kepala Hanum, menghujaninya dengan doa-doa yang dituntunkan oleh penghulu; sebuah permohonan tulus agar ia mampu menjadi imam yang baik, meski sisi hatinya masih terasa berat untuk menerima takdir yang telah tertulis.
"Bantu aku untuk menjadi istri yang kamu inginkan. Bimbing aku untuk menjadi surga bagimu." Setetes kristal bening jatuh melintasi pipi saat Hanum membisikkan kalimat itu. Suaranya lirih, namun tertangkap jelas oleh indra pendengaran Damar.
Hati Damar tergetar. Titik-titik embun yang semula menganak di pelupuk mata kini luruh, seolah menghanyutkan kepingan lara yang sempat menghantam.
Ada cinta dan ketulusan yang terpancar jelas di manik indah Hanum, merayu hati untuk membalas.
"Bantu aku juga untuk menjadi suami yang pantas kamu cinta. Imam yang patut dijadikan sebagai nakhoda dan penunjuk jalan kita menuju cahaya-Nya." Suara Damar terdengar parau, namun tersirat kesungguhan dan ketulusan.
Hanum sekejap memejamkan mata, menyimpan rangkaian kata yang dituturkan Damar ke dalam memory, memahatnya di palung hati.
Lalu, ia mengulas senyum terindah yang disuguhkan untuk pria bergelar 'suami', Damar Aksara--lelaki yang dulu dianggapnya sebagai adik karena berusia sebaya dengan Hawa, lebih muda dua tahun darinya.
Tidak jauh dari mereka, Hawa duduk di sisi Ijah. Ia menitikkan air mata. Bukan karena sedih atau terluka, tapi karena luapan rasa bahagia.
Hawa percaya, Damar pasti sanggup menjadi suami sekaligus imam terbaik untuk Hanum. Ia juga yakin, mereka akan mampu meraih sakinah, mawaddah, warahmah--menggapai kebahagiaan yang bersemi indah dalam naungan rida-Nya.
Nama Damar benar-benar sudah terhapus dari hati, tergantikan satu nama yang selalu disebut dalam sujudnya di sepertiga malam--Rama.
Namun, sampai detik ini Hawa belum menyadari jika Rama adalah sosok sahabat yang dulu pernah mengikrarkan janji: suatu saat nanti dia akan kembali menjadi penjaga dan pelindung Hawa Salsabila Ramadhani, gadis kecil yang pernah memberinya topi bertuliskan huruf 'H & D', Hawa dan Dzaki--sebagai tanda persahabatan, sebelum ia terbang ke luar negeri bersama kedua orang tuanya.
"Syukur alhamdulillah, Damar terselamatkan, Mbak." Kalimat itu mengalir tanpa beban dari bibir Jihan, adik kandung Gistara. Ia berbisik di telinga ibunda Damar, namun suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar Hawa.
"Iya. Untungnya Damar menurut. Coba kalau tidak, pasti dia jadi tumbal pertama," sahut Maharani sembari menoleh sekilas ke arah Hawa, melayangkan tatapan mencemooh.
"Dulu, Mbak Gistara hampir meninggal gara-gara melahirkan anak pembawa sial itu," timpal Anjani, adik bungsu Gistara. Nada kebencian tak bisa diabaikan oleh Hawa yang sedari tadi memilih diam. Ia masih mencoba untuk bersabar, menahan emosi yang sebenarnya ingin diluapkan--demi menghormati acara sakral yang masih berlangsung.
Janu berdeham, sengaja mengalihkan atensi ketiga wanita yang membuat putri bungsunya merasa tak nyaman.
"Jaga lisan kalian! Kalau tidak, saya yang akan memaksanya bungkam." Kalimat itu jatuh pelan dari bibir Janu. Sikapnya terlihat tenang, namun pandangan matanya sarat akan ancaman yang tak main-main.
Seketika, obrolan mereka terhenti. Jihan dan Anjani beranjak pergi. Sementara Maharani sedikit menggeser posisi duduknya--menjauh dari Janu dan Hawa.
"Bi, temani aku sebentar," pinta Hawa pada Ijah.
Ijah mengangguk, mengindahkan permintaan sang nona.
Mereka beranjak, lantas berjalan beriringan menuju meja yang berada di sudut halaman, tempat paling aman untuk menjauh dari suara-suara sumbang yang mungkin akan terdengar lagi.
"Bi, sebenarnya... apa maksud ucapan mereka? Kenapa mereka selalu menyebutku pembawa sial? Dan kenapa, Tante Anjani bilang... Bunda hampir meninggal gara-gara aku?" Hawa menghujani Ijah dengan deretan kalimat tanya yang selama ini bercokol di hati. Berharap Ijah sudi memberi jawaban.
Ijah menarik napas panjang, mengusir sesak yang tiba-tiba hadir memenuhi rongga dada saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Hawa.
Seketika ingatannya berkelana jauh ke masa silam. Masa di mana sang nyonya koma selama beberapa hari setelah melahirkan Hawa--putri bungsunya.
Sungguh, Ijah merasa tak tega jika harus mengatakan yang sebenarnya pada Hawa. Karena menurutnya, saat ini bukanlah waktu yang tepat bagi nonanya untuk tahu. Ia takut, Hawa akan didekap rasa bersalah dan larut dalam kesedihan yang mendalam.
"Bi, tolong jawab! Kasih tahu aku!" desak Hawa. Suaranya merendah, namun tersirat tuntutan yang tak bisa diabaikan oleh Ijah.
Ijah sesaat terdiam. Berpikir, menimbang.
"Sebenarnya, mereka berkata seperti itu karena--"
Sebelum Ijah sempat melanjutkan ucapannya, terdengar sapaan salam. Mengalihkan atensi yang semula saling mengunci.
"Wa'alaikumsalam...," jawab Ijah dan Hawa hampir bersamaan.
"Tuan Arya, Nyonya Almira?" Sepasang mata Ijah berbinar terang saat mendapati dua orang yang kini berdiri tepat di hadapannya. Ia buru-buru beranjak, disusul oleh Hawa yang nampak bingung dengan sikap Ijah yang terkesan excited menyambut dua tamu itu.
Arya menangkupkan kedua telapak tangan di dada sembari memperlihatkan seutas senyum sebagai wujud penghormatan yang tulus. Lalu Almira, tanpa segan menjabat tangan Ijah dan memeluknya singkat.
"Ini... Hawa kan, Bi?" tanya Almira. Matanya berpendar indah saat menatap pahatan cantik yang sering diceritakan oleh putranya.
"Iya, Nyonya. Ini.. Non Hawa, teman kecilnya Den Dzaki."
"Masyaallah, cantik sekali," puji Almira sembari merengkuh tubuh Hawa dan memeluknya erat.
Hawa sesaat bergeming--menelaah apa yang sedang tersuguh di hadapannya, sebelum akhirnya mengangkat kedua tangannya yang menjuntai untuk membalas peluk.
Sejenak, ia memejamkan mata. Meresapi kehangatan yang diberikan oleh Almira lewat sentuhan kasihnya.
Hawa seperti pulang ke rumah yang dulu pernah ia singgahi. Rumah yang selalu membuatnya merasa nyaman, aman, dan betah untuk tinggal.
🍁🍁🍁
Bersambung
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
upps..belum apa² dah komen