NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami

​Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
​Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.

​Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: PUING-PUING KEMENANGAN

Kemenangan di ruang sidang pagi itu tidak membawa sorak-sorai. Sebaliknya, ia meninggalkan keheningan yang menyesakkan, seperti debu yang mengendap setelah ledakan besar. Elina diseret keluar oleh petugas keamanan sambil terus meneriakkan makian yang tak lagi didengar siapapun, sementara Victoria Arkananta melangkah pergi dengan punggung yang tampak lebih bungkuk dari biasanya—seorang ratu yang baru saja kehilangan mahkotanya di tangan putra kandungnya sendiri.

Arlan dan Arumi berdiri di koridor pengadilan yang sepi. Arumi masih menggenggam folder yang berbau asap itu, jemarinya hitam karena jelaga yang menempel. Tubuhnya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena pelepasan ketegangan yang sudah menumpuk berbulan-bulan.

"Ini sudah berakhir, Arumi," bisik Arlan. Ia menarik Arumi ke dalam pelukannya, tidak peduli pada noda hitam yang kini berpindah ke jas mahalnya. "Leon adalah milikmu. Secara hukum, secara biologis, dan secara hati."

Arumi menyembunyikan wajahnya di dada Arlan, terisak pelan. "Tapi dengan harga apa, Arlan? Kau menghancurkan ibumu sendiri. Kau menghancurkan Arkananta Group di depan publik."

Arlan menjauhkan sedikit tubuh Arumi, menangkup wajahnya dengan tangan yang stabil. "Arkananta Group hanyalah sekumpulan gedung dan angka-angka. Jika fondasinya dibangun di atas penderitaanmu dan kebohongan tentang putraku, maka gedung itu memang pantas runtuh. Aku bisa membangunnya kembali, Arumi. Tapi aku tidak bisa membangun kembali waktu yang hilang jika Leon diambil darimu."

Sore harinya, mereka kembali ke vila di Bogor. Namun, kejutan belum berakhir. Raka sudah menunggu di ruang tamu dengan tumpukan dokumen legal yang baru saja dikirim oleh dewan direksi perusahaan.

"Tuan, Nyonya Victoria telah secara resmi menandatangani surat pengunduran diri dari posisi Ketua Dewan Komisaris karena alasan kesehatan. Namun, sebagai gantinya, dewan direksi menuntut Anda untuk mengklarifikasi skandal ini atau mereka akan melakukan voting untuk mencopot Anda dari posisi CEO besok pagi," lapor Raka dengan nada serius.

Arlan duduk di sofa, menatap keluar jendela ke arah lembah yang mulai berkabut. Ia kemudian melirik Arumi yang sedang menyusui Leon di kursi goyang pojok ruangan. Pemandangan itu begitu damai, begitu kontras dengan kekacauan yang terjadi di Jakarta.

"Raka, siapkan surat pengunduran diriku," ucap Arlan tiba-tiba.

Arumi tersentak hingga Leon sedikit terkejut dalam tidurnya. "Arlan? Apa yang kau katakan? Itu perusahaan keluargamu! Kau membangunnya dengan darah dan keringatmu selama sepuluh tahun terakhir!"

Arlan berdiri dan berjalan mendekati Arumi. Ia berlutut di samping kursi goyang itu, menatap Leon yang kini sudah kembali tenang. "Selama sepuluh tahun itu, aku hidup sebagai mesin, Arumi. Aku melakukan segalanya untuk menyenangkan Ibu, untuk menjaga nama Arkananta tetap di puncak. Tapi lihat apa yang terjadi? Ibu mencoba membunuh cucunya sendiri demi sebuah citra. Aku tidak ingin Leon tumbuh di lingkungan yang beracun itu."

"Tapi kau akan kehilangan segalanya," bisik Arumi cemas.

"Tidak, aku tidak kehilangan segalanya. Aku punya kau, aku punya Leon, dan aku punya otakku," Arlan tersenyum percaya diri. "Aku sudah memindahkan aset pribadiku ke sebuah perusahaan baru yang kubangun secara rahasia dua tahun lalu—A&A Venture. Kita akan mulai dari sana. Tanpa bayang-bayang Ibu, tanpa aturan kaku keluarga Arkananta."

Malam itu, setelah Leon tertidur pulas di boks bayinya, Arlan mengajak Arumi duduk di tepi kolam renang air hangat di belakang vila. Langit Bogor sedang cerah, menampakkan jutaan bintang yang selama ini tertutup polusi Jakarta.

"Arumi, ada satu hal yang harus aku beritahu padamu," Arlan memulai, suaranya terdengar ragu. "Tentang ibumu."

Jantung Arumi berdegup kencang. "Ibu? Apa terjadi sesuatu padanya di rumah sakit?"

"Tidak, dia stabil. Tapi, saat aku menelusuri latar belakang donor sel telurmu sepuluh tahun lalu, aku menemukan sesuatu yang sengaja disembunyikan oleh pihak klinik atas perintah ayahku dulu."

Arlan menyerahkan sebuah amplop tua yang warnanya sudah menguning. Arumi membukanya dengan tangan bergetar. Di dalamnya ada foto ibunya saat masih muda, berdiri di depan gedung kantor lama Arkananta Healthcare.

"Ibumu dulu adalah kepala perawat di klinik itu, Arumi. Dia bukan sekadar pasien yang butuh bantuan. Dia adalah saksi kunci malapraktik yang dilakukan oleh ayahku untuk menutupi kematian seorang pasien VIP. Ayahku memberinya uang dalam jumlah besar untuk bungkam, namun ibumu menolak. Itulah sebabnya karirnya hancur, dan kecelakaan yang membuatnya koma... itu bukan kecelakaan biasa."

Arumi menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mengalir deras. "Jadi... selama ini aku bekerja untuk orang-orang yang menghancurkan hidup ibuku?"

"Itulah sebabnya aku ingin keluar dari sana, Arumi," Arlan menggenggam tangan Arumi erat. "Aku tidak ingin mewarisi dosa ayahku. Aku ingin menebusnya. Dengan melindungimu, dengan mencintaimu, aku mencoba memperbaiki apa yang telah dirusak oleh keluargaku."

Arumi menatap Arlan. Rasa benci sempat muncul sejenak, namun saat ia melihat ketulusan di mata pria itu, rasa benci itu luntur. Arlan juga korban dari sistem keluarganya yang kejam.

"Kita berdua adalah korban mereka, Arlan," bisik Arumi. "Dan Leon adalah cara Tuhan untuk menyatukan potongan-potongan yang hancur itu."

Keesokan paginya, Arlan benar-benar mengirimkan surat pengunduran dirinya. Berita itu meledak seperti bom atom di dunia bisnis.

CEO paling sukses di Asia Tenggara mengundurkan diri dan melepaskan seluruh hak warisnya demi seorang wanita yang dulunya hanya "ibu susu" rahasia.

Mereka pindah dari vila itu menuju sebuah rumah bergaya skandinavia yang asri di pinggiran kota yang tenang. Tidak ada lagi pengawal bersafari hitam di setiap sudut, hanya ada beberapa tim keamanan tersembunyi yang diperintahkan Raka.

Arumi mulai merasa hidup kembali. Ia mendaftarkan diri untuk melanjutkan kuliah kedokterannya yang sempat terputus. Arlan, dengan semangat barunya, mulai mengerjakan proyek teknologi medis di kantor barunya yang sederhana namun penuh inovasi.

Suatu sore, Arumi menemukan Arlan sedang menggendong Leon di taman belakang. Arlan sedang mengajari Leon menyentuh kelopak bunga mawar. Pria yang dulunya tidak tahu cara memegang bayi itu kini tampak begitu luwes.

"Kau tahu, Arlan," Arumi menghampiri mereka.

"Kadang aku masih merasa ini semua mimpi. Dari seorang gadis yang tidak punya uang sepeser pun untuk bayar rumah sakit, menjadi wanita di sampingmu."

Arlan membalikkan tubuhnya, merangkul pinggang Arumi dengan satu tangan sementara tangan lainnya tetap menggendong Leon. "Ini bukan mimpi, Arumi. Ini adalah hidup yang seharusnya kita miliki sejak sepuluh tahun lalu jika takdir tidak begitu berbelit."

Arlan merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Di dalamnya bukan lagi berlian biru yang mencolok milik keluarga Arkananta, melainkan sebuah cincin emas polos dengan ukiran nama mereka bertiga di bagian dalam.

"Aku tidak ingin kau memakai cincin itu sebagai bagian dari kontrak atau sandiwara," ucap Arlan serius. "Maukah kau memakainya sebagai tanda bahwa kau adalah rumahku? Maukah kau menikah denganku, Arumi? Tanpa paksaan, tanpa bayang-bayang Arkananta."

Arumi menatap Leon, lalu menatap Arlan. Ia tersenyum, senyum paling bahagia yang pernah ia miliki. "Ya. Aku mau."

1
Ariany Sudjana
wah mimpi apa penjual rujak di pasar ketemu dengan pembeli yang sangat mengutamakan higienis 😂😂
Liza Syamsu
keren, alur cerita jelas, arlan CEO yg karakter nya pemimpin sejati
Liza Syamsu
ini seperti membaca trailer film action, bagus thor semangat walaupun yg like bisa dihitung pakai jari
Liza Syamsu
bagus banget ini karakter arlan ayo like yg sdh baca
Liza Syamsu
kenapa Victoria ingin menghancurkan leon dan arlan,apa arlan bukan anak kandung Victoria
Liza Syamsu
jangan sampai thor biar terbukti dulu leon anak arumi nanti baru konflik, bukannya brm sdh diamankan oleh arlan kno bisa dgn siska lagi
Nur Janah
haddeehhhhh...Siska dan Bram lg
Liza Syamsu
sumpah ini cerita nya bagus kenapa yg like sedikit, came on kawan jika sdh baca dilike dong
Ariany Sudjana
setuju dengan Dante, saat situasi tidak menentu, kita tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan, waspada terus Arumi
awesome moment
jgn tll baik hati. waspada tu perlu. bohing adalah akar smua masalah
Nur Janah
kan udah pake keamanan militer paling canggih Thor kok si Bram masih bisa tau
Nur Janah
buktikan PD Arlan Arumi bahwa bram penghianat
Nur Janah
ada bau" penghianat nih
Nur Janah
kyknya seru ceritanya Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!