Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya di Balik Mesiu
Pagi itu, pegunungan tidak lagi terasa mencekam bagi Rebecca. Sinar matahari yang menembus celah-celah pohon pinus memberikan kilau emas pada lapangan latihan Valkyrie. Untuk pertama kalinya, Rebecca tidak lagi mengenakan piyama sutra atau kemeja kebesaran milik Maximilian. Ia mengenakan seragam taktis resmi agen: celana kargo hitam yang pas di kaki, sepatu bot militer, dan kaos dry-fit abu-abu ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang ramping namun bugar.
Rambut panjangnya dikuncir kuda dengan rapi, memperlihatkan leher jenjang dan garis rahang yang tegas. Saat ia melangkah ke tengah lapangan bersama Vargo, seluruh aktivitas di sana seolah berhenti sejenak. Para agen pria yang biasanya hanya fokus pada target dan debu, kini menoleh. Rebecca terlihat bersinar di bawah sinar matahari pagi; ia tidak lagi tampak seperti korban yang malang, melainkan seperti berlian yang baru saja dibersihkan dari lumpur.
Vargo, yang wajahnya masih dibalut beberapa plester, memulai latihan dengan teknik dasar pertahanan diri. "Fokus pada titik tumpu, Nona Rebecca. Kekuatan Anda ada pada kecepatan, bukan pada massa otot," instruksi Vargo dengan nada yang jauh lebih hormat dari sebelumnya.
Yang mengejutkan Vargo adalah kecepatan belajar Rebecca. Setiap gerakan yang dicontohkan, setiap teknik mengunci pergelangan tangan, hingga cara membidik senjata, diserap oleh Rebecca dengan luar biasa cepat. Otaknya bekerja seperti spons, dan koordinasi tubuhnya jauh lebih baik dari dugaan semua orang.
"Luar biasa," gumam Vargo saat Rebecca berhasil menjatuhkan pisau latihan dari tangannya dalam sekali gerak. "Anda punya bakat alami, Nona."
Melihat perubahan penampilan dan semangat Rebecca, para agen lain mulai mendekat saat jam istirahat. Ada seorang agen muda bernama Liam, yang usianya mungkin hanya terpaut satu tahun dari Rebecca, tampak terkesima. Ia mendekati Rebecca dengan wajah sedikit merona.
"Semangat, Nona Rebecca! Latihan hari pertama memang berat, tapi Anda melakukannya dengan hebat," bisik Liam sambil memberikan semangat.
Tidak hanya Liam, beberapa agen lain mulai menunjukkan perhatian kecil secara diam-diam. Seorang agen senior yang dikenal kaku tiba-tiba meletakkan handuk kecil bersih di atas meja di dekat Rebecca untuk melap keringatnya. Agen lain lagi memberikan botol air minum mineral dingin sambil memberikan anggukan hormat yang ramah. Rebecca, dengan sifat aslinya yang lembut, menerima semua itu dengan senyuman ramah dan ucapan terima kasih yang tulus.
Pemandangan ini menjadi duri di mata Erica. Sang primadona Valkyrie itu berdiri tidak jauh dari sana, mencengkeram botol minumnya hingga remuk. Selama bertahun-tahun, dialah satu-satunya pusat perhatian di markas ini. Dialah wanita paling cantik sekaligus paling mematikan. Namun sekarang, dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, seorang gadis "lemah" telah menggeser posisinya. Erica merasa tersingkirkan, bukan hanya karena kemampuan, tapi karena keramahan Rebecca yang merebut hati para pria yang biasanya tunduk di bawah kakinya.
Erica melangkah maju dengan langkah angkuh, membelah kerumunan agen yang mengelilingi Rebecca.
"Cukup dramanya," suara Erica tajam seperti sembilu. Ia menatap Rebecca dengan mata penuh kebencian. "Hanya karena kau bisa memegang pistol dan tersenyum pada semua orang, bukan berarti kau pantas berada di sini, Sinclair."
Rebecca berdiri, menyeka keringat di dahinya dengan handuk pemberian agen tadi. "Aku hanya mencoba belajar, Erica."
"Belajar saja tidak cukup. Di sini, yang lemah hanya akan menghalangi jalan yang kuat," Erica melempar sarung tinjunya ke depan kaki Rebecca. "Ayo kita buktikan. Aku menantangmu adu kemampuan bela diri dasar. Siapa pun yang jatuh atau menyerah lebih dulu, harus lari keliling lapangan ini sebanyak dua puluh kali. Berani?"
Vargo langsung melangkah di antara mereka, wajahnya tegang. "Erica, jangan macam-macam. Tuan Maximilian memerintahkanku untuk melatihnya, bukan untuk menyiksanya. Dia baru berlatih satu pagi!"
"Minggir, Vargo! Ini bagian dari pengembangan latihan. Jika dia tidak bisa menghadapi tekanan dari rekannya sendiri, bagaimana dia bisa menghadapi Valenti?" Erica mengeyel, matanya terus menatap rendah ke arah Rebecca.
Para agen pria saling berpandangan, suasana menjadi sangat canggung. Mereka tahu Erica jauh lebih kuat, namun mereka juga ingin melihat keberanian Rebecca.
"Aku terima," ucap Rebecca tiba-tiba. Suaranya tenang, tanpa nada menantang, namun penuh keyakinan.
Vargo ketar-ketir. "Nona, Anda tidak perlu melakukan ini ...."
"Tidak apa-apa, Vargo. Erica benar, aku perlu tahu sejauh mana batas kemampuanku," sahut Rebecca.
Di balkon lantai dua yang menghadap langsung ke lapangan, sebuah bayangan hitam berdiri diam. Maximilian berdiri di sana, bersandar pada pagar balkon dengan gaya yang sangat santai. Tangannya memegang gelas kristal berisi alkohol murni, sementara di bibirnya terselip cerutu mahal yang asapnya mengepul ke udara.
Ia telah melihat segalanya. Ia melihat bagaimana Rebecca dipuji, bagaimana dia menerima perhatian dari agen-agen mudanya, dan bagaimana rahang Max mengeras saat melihat para pria itu mendekati miliknya. Namun, ia tidak menginterupsi. Ia justru tertarik melihat bagaimana Rebecca akan menangani Erica.
"Mari kita lihat seberapa keras kau ingin bertahan, Sinclair," gumam Maximilian pelan sebelum menyesap alkoholnya.
Erica dan Rebecca masuk ke tengah lingkaran latihan. Erica mengambil posisi bertarung yang sempurna, sementara Rebecca masih terlihat sedikit canggung namun waspada.
"Dua puluh putaran lapangan, Sinclair. Siapkan paru-parumu!" seru Erica sebelum menerjang maju.
Erica melayangkan tendangan samping yang cepat. Rebecca berhasil menghindar, namun ujung sepatu Erica sempat mengenai pinggulnya, membuatnya terhuyung. Erica tidak memberi napas, ia meluncurkan pukulan jab bertubi-tubi. Rebecca mengingat kata-kata Vargo: fokus pada titik tumpu, gunakan kecepatanmu.
Rebecca menunduk, menghindari pukulan Erica, dan dengan gerakan yang mengejutkan, ia menangkap lengan Erica lalu memutar tubuhnya seperti yang diajarkan Vargo.
Bugh!
Erica terkejut saat punggungnya menghantam matras. Memang tidak sakit, tapi harga dirinya hancur berkeping-keping saat melihat para agen pria bersorak pelan untuk Rebecca.
"Kau beruntung!" teriak Erica murka. Ia bangkit dengan lebih agresif. Kali ini, ia menggunakan kekuatan penuhnya. Ia menyapu kaki Rebecca hingga gadis itu jatuh tersungkur. Erica langsung menindihnya, mencoba mengunci leher Rebecca.
Rebecca megap-megap, namun ia tidak menyerah. Di sela-sela pergulatan itu, ia sempat mendongak ke balkon. Ia melihat Maximilian sedang menatapnya. Tatapan Max tidak memberi belas kasihan, tapi justru seolah menantangnya untuk membuktikan diri.
Dengan sisa tenaga, Rebecca menggunakan siku kakinya untuk mendorong pinggang Erica, menciptakan ruang kecil untuknya berbalik. Ia tidak membalas memukul, melainkan menggunakan teknik kuncian tangan yang baru saja ia pelajari dari Vargo pagi tadi.
Krek!
"Ah!" Erica memekik saat sendi tangannya ditekan pada titik saraf yang tepat. Posisi berbalik, kini Rebecca yang berada di atas, menekan lengan Erica ke matras.
"Sudah cukup, Erica?" tanya Rebecca terengah-engah.
Erica terengah-engah, wajahnya merah padam antara lelah dan malu. Ia mencoba meronta, namun Rebecca menahannya dengan seluruh berat badannya yang meskipun ringan, namun efektif karena posisi yang benar.
"Lepaskan!" bentak Erica.
Vargo segera menengahi. "Selesai! Rebecca pemenangnya dalam poin teknis pertahanan diri!"
Erica berdiri dengan kasar, mengibaskan debu dari seragamnya. Ia melihat ke sekeliling, pada agen-agen yang kini menatapnya dengan pandangan yang berbeda. Kekuasaan absolutnya sebagai primadona baru saja digoyahkan oleh seorang gadis yang baru belajar sehari.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Erica berjalan menuju pinggir lapangan dan mulai berlari keliling lapangan. Satu putaran, dua putaran ... dia harus melakukan dua puluh putaran sesuai taruhannya.
Rebecca berdiri dengan napas memburu, tubuhnya gemetar karena adrenalin. Liam mendekatinya dan memberikan botol air minum baru. "Itu hebat sekali, Nona Rebecca!"
Namun, perhatian Rebecca teralih saat ia merasakan aura yang sangat kuat dari atas. Ia mendongak. Maximilian masih di sana. Ia meletakkan gelasnya, mematikan cerutunya di asbak perak, lalu memberikan satu anggukan kecil yang sangat tipis pada Rebecca sebelum berbalik masuk ke dalam kamarnya.
Hanya sebuah anggukan, tapi bagi Rebecca, itu lebih berarti daripada seribu tepuk tangan para agen.
"Om ... aku tidak akan mengecewakanmu," bisik Rebecca dalam hati. Ia menyadari satu hal: di tempat ini, kelembutan adalah pelengkap, tapi kekuatan adalah kunci untuk tetap berada di samping sang Raja Mafia.
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣