NovelToon NovelToon
Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ali Rayyan

Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.

Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.

Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelas Pertama di Masa Karantina Akademik

Pagi datang dengan suasana yang berbeda.

Biasanya pada jam seperti ini, halaman sekolah sudah dipenuhi suara langkah kaki siswa, percakapan di koridor, dan derit pintu kelas yang dibuka.

Namun pagi itu… semuanya sunyi.

Bangunan sekolah berdiri kosong.

Lapangan basket yang biasanya ramai kini hanya diterpa angin pagi.

Tidak ada latihan.

Tidak ada teriakan sorak.

Satu-satunya kegiatan belajar hari itu terjadi… melalui layar.

--

Di kamar tidurnya, Douma duduk di kursi meja belajar.

Sinar matahari pagi masuk melalui jendela, menerangi sebagian ruangan.

Komputer tabletnya sudah menyala.

Layar menampilkan aplikasi konferensi pendidikan yang digunakan sekolah untuk sistem belajar daring.

Nama ruang kelas muncul di bagian atas layar:

Room Meeting — Class I-A (Pria)

Di bawahnya, satu per satu wajah siswa mulai muncul dalam kotak-kotak kecil.

Beberapa kamera menampilkan wajah yang masih setengah mengantuk.

Beberapa hanya menampilkan langit-langit kamar.

Ada juga yang kameranya mati sepenuhnya.

Douma sendiri duduk dengan posisi santai.

Seragam sekolahnya tetap rapi, meskipun hanya bagian atas yang terlihat oleh kamera.

Bagian bawahnya… hanya celana santai rumah.

Ia bersandar di kursi sambil menopang dagunya dengan tangan.

Notifikasi chat kelas terus muncul.

“WOI SUARA KEDENGERAN?”

“AKU MASIH BELUM TAU CARA NYALAIN MIC.”

“INI BISA DIGANTI BACKGROUND NYA GAK?”

“Aku masih di kasur bro.”

Seseorang menulis lagi.

“Yang penting hadir dulu. Belajar urusan nanti.”

Beberapa emotikon tertawa muncul.

Douma hanya melirik sekilas.

Lalu kembali menatap layar dengan ekspresi datar.

Beberapa menit kemudian, suara notifikasi terdengar.

Guru masuk ke ruang kelas daring.

Seorang wanita paruh baya muncul di layar utama.

Rambutnya disanggul rapi.

Ia mengenakan blazer guru berwarna gelap.

Di belakangnya terlihat ruang kerja kecil di rumahnya.

“Selamat pagi, anak-anak.”

Beberapa siswa menjawab serempak.

“Pagi bu…”

Sebagian menjawab dengan suara jelas.

Sebagian lagi terdengar seperti baru bangun tidur.

Guru itu tersenyum tipis.

“Saya harap kalian semua dalam keadaan sehat.”

Ia berhenti sejenak.

Lalu nada suaranya menjadi sedikit lebih formal.

“Sebelum kita memulai pelajaran, saya ingin menyampaikan pesan dari pihak aliansi sekolah.”

Beberapa siswa mulai memperhatikan.

Beberapa yang tadinya hampir tertidur pun sedikit menegakkan badan.

Guru itu melanjutkan.

“Seperti yang kalian ketahui, wabah yang sedang terjadi menyebar dengan sangat cepat. Karena itu, pihak sekolah bersama otoritas pendidikan memutuskan untuk menghentikan sementara kegiatan belajar tatap muka.”

Ia menghela napas pelan.

“Kami memahami bahwa perubahan ini terjadi secara tiba-tiba. Oleh karena itu, pihak sekolah menyampaikan permintaan maaf atas ketidaknyamanan yang mungkin kalian rasakan.”

Di layar, beberapa siswa saling pandang.

Guru itu menambahkan dengan nada lebih lembut.

“Kebijakan pembelajaran daring ini dilakukan semata-mata untuk keamanan dan kenyamanan kita semua.”

“Isolasi sementara ini diharapkan dapat membantu menekan penyebaran wabah.”

Ia tersenyum lagi.

“Kami berharap kalian bisa bekerja sama dengan baik selama masa pembelajaran jarak jauh ini.”

Beberapa detik hening.

Lalu tiba-tiba salah satu siswa mengangkat tangan virtual.

Namanya muncul di layar.

Shin.

“Bu guru!”

Guru itu mengangguk.

“Ya, Shin?”

Shin tersenyum lebar.

“Tidak apa-apa, Bu!”

Guru itu tampak sedikit bingung.

Shin melanjutkan dengan suara bersemangat.

“Kami siap ikut berperang melawan zombie!”

Selama dua detik… kelas hening.

Lalu—

tawa pecah di mana-mana.

“HAHAHAHA!”

“Zombie apaan!”

Seseorang berkata.

“Heh, ini bukan wabah zombie!”

Siswa lain menyahut.

“Kebanyakan nonton drama!”

“Film horor lagi!”

Shin mengangkat bahu dengan santai.

“Siapa tau kan. Kalau tiba-tiba pasien bangun lagi…”

“WOI!”

Guru itu menahan senyum sambil menggeleng.

“Ini bukan film.”

“Dan jelas bukan wabah zombie.”

Beberapa siswa masih tertawa kecil.

Suasana kelas yang tadinya kaku perlahan menjadi lebih santai.

Douma yang sedari tadi diam juga sedikit mengangkat alis.

Ia bergumam pelan.

“…yang benar saja.”

Namun sudut bibirnya tampak bergerak sedikit.

--

Pelajaran akhirnya dimulai.

Guru mulai menjelaskan materi melalui layar presentasi.

Beberapa grafik muncul.

Beberapa rumus.

Beberapa konsep teori.

Namun tidak semua siswa benar-benar fokus.

Salah satu siswa terlihat sedang makan roti di depan kamera.

Yang lain terlihat memainkan ponsel di bawah meja.

Ada juga yang kameranya mati, dan entah sedang apa di balik layar.

Guru tiba-tiba berkata.

“Baiklah, kita coba sedikit pertanyaan.”

Beberapa siswa langsung menegakkan badan.

Yang lain terlihat panik membuka buku.

Guru itu membaca dari slide.

“Jika sebuah sistem memiliki tiga variabel yang saling mempengaruhi dalam siklus tertutup, bagaimana cara kita menentukan titik stabilnya?”

Beberapa siswa saling pandang.

Sunyi.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Guru itu tersenyum kecil.

“Siapa yang ingin mencoba?”

Beberapa detik berlalu.

Lalu sebuah suara menjawab.

Tenang.

Cepat.

Tanpa ragu.

“Dengan mencari keseimbangan fungsi diferensialnya, lalu memeriksa nilai eigen dari matriks Jacobian di titik tersebut.”

Seluruh kelas menoleh.

Douma.

Ia masih duduk dengan posisi santai.

Satu tangan menopang dagu.

Matanya bahkan tidak benar-benar melihat layar presentasi.

Guru itu terdiam beberapa detik.

“…benar.”

Beberapa siswa langsung berseru.

“EH?!”

“SERIOUS?”

Salah satu siswa berkata.

“Dia bahkan kelihatan tidak memperhatikan!”

Shin mendekatkan wajahnya ke kamera.

“Douma! Kau dari tadi kelihatan seperti sedang melamun!”

Douma menjawab singkat.

“Aku mendengarkan.”

Guru itu masih tampak sedikit tercengang.

“Baiklah… mari kita lanjut.”

Namun beberapa menit kemudian, ia kembali memberi pertanyaan.

“Jika kita mengubah satu variabel utama dalam sistem itu, apa yang akan terjadi pada kestabilannya?”

Douma menjawab lagi.

“Bergantung pada tanda nilai eigen baru. Jika berubah menjadi positif, sistem akan menjadi tidak stabil.”

Guru itu berkedip.

“Benar… lagi.”

Kelas kembali gaduh.

“INI CURANG!”

“Dia bahkan tidak membuka buku!”

“Douma, kau sebenarnya membaca pikiran guru ya?”

Douma hanya mengangkat bahu sedikit.

Ia bahkan tidak terlihat bangga.

Bagi dirinya, pertanyaan itu terlalu sederhana untuk dipikirkan lama.

--

Pelajaran berlangsung hampir satu jam.

Dan pola itu terus terjadi.

Douma terlihat santai.

Kadang bahkan menatap ke luar jendela.

Namun setiap kali guru memberi pertanyaan…

Ia selalu menjawab dengan tepat.

Tanpa jeda.

Tanpa berpikir.

Pada akhirnya guru itu tertawa kecil.

“Sepertinya saya harus berhati-hati memberi pertanyaan jika Amatsuki Douma ada di kelas.”

Beberapa siswa tertawa.

Shin berkata dengan nada dramatis.

“Dia ini monster akademik!”

Rei menyahut.

“Kalau wabah zombie benar-benar terjadi, Douma pasti bisa menemukan vaksin dalam lima menit.”

Douma menoleh sedikit.

“…aku tidak tertarik membuat vaksin.”

Shin langsung menimpali.

“Lihat kan!”

“Dia bahkan menolak jadi penyelamat dunia!”

Kelas kembali tertawa.

--

Bel berbunyi di sistem aplikasi.

Pertanda kelas pertama selesai.

Guru menutup sesi dengan pesan singkat.

“Terima kasih atas kerja sama kalian hari ini.”

“Jaga kesehatan.”

“Dan tetap belajar dengan baik selama masa pembelajaran daring ini.”

Layar guru menghilang.

Namun ruang meeting belum langsung ditutup.

Beberapa siswa masih bercakap-cakap.

Shin bersandar di kursinya.

“Douma.”

“Ya?”

“Kau benar-benar tidak belajar tadi?”

Douma menjawab datar.

“Aku hanya mendengar.”

Rei tertawa.

“Kalau begitu, kami juga akan mencoba metode belajar Douma.”

Shin bertanya.

“Metodenya apa?”

Rei menjawab dengan wajah serius.

“Melamun… tapi tetap jenius.”

Beberapa siswa kembali tertawa.

Douma hanya mematikan mikrofonnya.

Ia menatap layar sebentar.

Lalu menutup aplikasi kelas.

Ruangannya kembali sunyi.

Ia bersandar di kursinya.

Masa pandemi baru saja dimulai.

Sekolah berubah.

Dunia luar kacau.

Namun entah kenapa…

bagi Douma, kelas daring barusan terasa seperti hiburan kecil di tengah kekacauan yang lebih besar.

Dan tanpa disadari oleh siapa pun—

di balik sikap santainya itu, pikirannya masih memikirkan sesuatu yang jauh lebih serius.

Rumah sakit.

Energi gelap.

Dan percakapan yang ia dengar malam sebelumnya.

Namun untuk saat ini…

Douma hanya menghela napas ringan.

“Baiklah.”

Ia bergumam pelan.

“Kelas pertama selesai.”

Hari masih panjang.

Dan dunia masih menyimpan banyak rahasia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!