NovelToon NovelToon
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin / Trauma masa lalu / Romantis / Slice of Life
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.

Dihina. Ditolak. Dilupakan.

Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.

Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.

Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.

Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?

Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:

Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.

Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Mata Penuh Kecurigaan

"Siman? Lagi ngapain jongkok di jalan begini?"

Suara itu membuat Siman tersentak kaget. Kantung goni yang hampir penuh nyaris terjatuh dari tangannya. Ia mendongak, matanya bertemu dengan Murni yang berdiri tak jauh darinya, dengan wajah yang berkerut keheranan. Gadis itu mengenakan seragam kerja warung kopi yang sudah pudar warnanya, pertanda baru pulang shift malam.

"Eh, Murni! Aku… aku lagi..." Siman panik, bingung bagaimana harus menjelaskan.

"Lagak kamu kayak tukang cari koin di sungai. Mana pakai akik begitu? Ini hari apa coba? Jangan aneh-aneh, Man," celetuk Murni sambil mendekat, sorot matanya yang selalu hangat kini sedikit geli.

"Ini... bukan. Tadi, tadi aku nemu ini." Siman dengan kikuk menyodorkan kantung goni berisi koin itu. Raut Murni berubah penasaran, tangannya lantas mengintip isi di dalamnya. "Banyak sekali koinnya, kan? Aku kaget juga. Tapi sepi banget jalannya."

Murni terdiam. Jemarinya sibuk membalik-balik uang receh, matanya membesar saat menyadari jumlahnya yang tidak sedikit. Senyumnya melebar. "Ya ampun, Siman! Ini… banyak sekali! Kamu serius nemuin ini di sini?"

"Serius! Aku tadi mau ke terminal. Lewat jalan ini, terus nemu di situ," Siman menunjuk batu besar. Wajahnya terlihat pucat karena masih diliputi kebingungan.

"Ya, ampun! Kebetulan sekali!" Murni tertawa lepas, sebuah tawa renyah yang sedikit melegakan hati Siman. "Uang segini mah, bisa buat beli beras seminggu lebih, Man. Udah, buat kamu saja ini! Pasti rezeki nomplok. Mungkin kemarin ada yang kejatuhan di sini. Jarang banget ada orang yang lewat."

"Tapi..." Siman bimbang, matanya melirik akik di jari manisnya. Akik itu terasa sedikit hangat sekarang. "Masa iya kebetulan gini, Mur?"

"Lha, terus kamu mau mikir apa lagi? Ini ya kebetulan toh," Murni menunjuk kantung koin di tangan Siman, "kamu pas lewat, orangnya kebetulan jatohin di sini, pas banget lagi, udah gelap pasti malam tadi, mana kelihatan?"

Siman mengerutkan kening. Apa benar sebatas kebetulan? Tapi denjutan akik ini… Murni bahkan tidak menyadarinya.

"Apa... apa kamu nemuin barang-barang lain?" tanya Siman, mencoba mencari alasan lain dari 'kebetulan' ini. Kalau dia menemukan ponsel atau dompet berisi kartu identitas, mungkin bisa dibilang dia akan mencari pemiliknya. Tapi ini? Koin.

"Ya, nggak lah, Man. Mana ada! Sudah, bawa pulang aja. Lumayan lho buat nambah-nambahin makan," ujar Murni, nadanya meyakinkan. "Udah, yuk, pulang! Nanti kamu kerja apa kalau uangnya udah sebanyak ini?"

"Ya, tetap kerja lah, Mur! Emangnya kamu kira uang segini bisa buat hidup seumur hidup?" Siman mendengus, mencoba terlihat biasa saja, seolah penemuan uang ini tidak begitu aneh. "Tapi aku… aku harus tetap kerja juga. Mungkin nanti aku coba tanya Pak Haji lagi buat angkat beras. Gimana menurutmu?"

"Kalau uang segini buat anak-anak SMA sih, banyak banget ya. Bisa buat beli pulsa sebulan, Man!" Murni masih terheran-heran, takjub pada kantung koin itu. Lalu ia kembali melirik Siman. "Itu, kenapa jarimu tiba-tiba pakai cincin begitu, Siman?"

Siman tersentak. Pertanyaan itu, yang seharusnya sudah muncul sejak awal. Dia baru saja sadar.

"Ah, ini... ini..." Siman gugup. Ia tidak tahu bagaimana harus menceritakan soal nenek misterius yang tiba-tiba raib tanpa jejak itu kepada Murni. Murni bisa mengira dia sudah gila.

"Ini nemu?" Murni tertawa kecil. "Kok kayak baru dari batu begitu? Mahal nggak sih?"

Siman ragu. Bagaimana kalau dia ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?

"Tuh kan. Murni ngira itu juga kebetulan, Siman." Hatinya sedikit bergejolak. Dia mencengkeram erat kantung goni itu.

Dia tak berani menjawab.

"Mana ada, Murni." Siman menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia berusaha berpikir rasional. "Sudah lama itu. Ini… warisan dari nenekku." Itu bohong, jelas bukan. Ini bohong yang sangat halus. Lagipula, dia mana tahu warisan. "Kata ibu, jangan dilepas," sambungnya. Dia mulai melirik Murni, dia menelan ludah. Wajahnya memucat, dia merasakan sebuah firasat aneh.

"Wah, hebat dong! Baru tahu aku kalau Siman punya nenek punya warisan seindah ini!" sahut Murni riang. "Emang nenekmu siapa? Aku belum pernah tahu?"

Jantung Siman berdegup kencang, kali ini bukan karena takut nenek itu tahu. Bukan karena kecemasan nenek itu mengetahui kisah koin dan cincin, tapi lebih kepada perasaan Murni.

“Si Siman udah bisa bohong ya sekarang…” gumamnya pelan. Suara Siman bahkan tak bisa ia pahami. Ia tahu Murni akan sedih mendengar dia berbohong.

"Tapi... cincinmu ini kan baru, Siman. Baru kali ini aku lihat kamu pakai!" Murni tiba-tiba menyahut dengan intonasi meninggi. Matanya yang bulat kini menatap lurus ke arah mata Siman, seolah menuntut sebuah penjelasan jujur.

Darah Siman seolah berdesir dingin saat Murni menusuknya dengan pandangan. Mata itu, yang biasanya dipenuhi kehangatan dan rasa peduli, kini menyiratkan tanda tanya besar, bahkan sedikit kecurigaan. Akik biru laut di jari manisnya, yang tadinya terasa hangat, tiba-tiba memanas, seperti reaksi cermin terhadap kegugupan Siman yang semakin menjadi-jadi.

"I-itu... itu, Murni..." Siman terbata, otaknya berputar kencang mencari alasan lain yang masuk akal, yang tak akan menimbulkan kerutan di dahi Murni. "Sebenarnya... itu kado dari Bapak. Semalam waktu kamu sudah pulang."

Murni mengangkat sebelah alisnya. "Kado? Kok nggak bilang? Lagian aneh banget Bapak kamu beliin cincin begini. Biasanya Bapak ngasih makan ke kucing-kucing liar doang kalau pulang bawa makanan sisa. Ngapain beli cincin? Uangnya dari mana?" Nada suaranya sedikit melunak, namun matanya tetap waspada, mencoba membaca kebohongan dari wajah Siman yang kini benar-benar memucat.

“Bapak nemu, Murni,” Siman kembali berbohong, memejamkan mata dalam hati, tak sanggup menahan rasa bersalahnya pada Murni. “Kan kata Bapak, aku itu harus selalu pake warisan. Kalau nggak ada, aku nggak dapat kerja. Aku sih nggak percaya.” Siman melanjutkan aktingnya, memelankan suaranya, memegang erat cincin akik biru laut itu. Murni membuang pandangan ke arah kantung goni yang terisi penuh koin. Wajahnya tiba-tiba cemberut. Sebuah tatapan nanar kini datang dari Siman.

"Oh, ya sudah kalau kado." Murni akhirnya menyerah. Ada sedikit rasa kecewa di raut wajahnya, mungkin karena Siman yang biasanya jujur, kini terdengar aneh dan begitu gelagapan. "Pasti kamu belum minum jamu kuat makanya masih lemes gitu jawabnya." Murni tertawa garing. Tawa yang biasanya renyah itu, entah mengapa terdengar hambar pagi ini. "Yang penting kamu senang. Akikmu itu bagus banget, Siman."

Senyum yang Siman paksa sunggingkan tak sampai ke matanya. "Iya. Hehehe." Siman hanya bisa merutuk dirinya sendiri karena telah berbohong. Terlebih lagi, Murni terlihat murung. Dia menyayangi Murni seperti adiknya sendiri. Siman mengerti, tak seharusnya Murni mendengar dirinya bohong untuk hal seaneh ini. "Aku antar pulang saja ya, Mur? Biar nanti aku juga cepat-cepat bergegas kerja. Sudah jam segini."

***

1
Roynaldi Ananda
gak jadi nerusin bacanya kurang sip kelihatannya
Roynaldi Ananda
kok seperti pemaksaan alur cerita ini thor? gak wajib murni menanyakan soal cincin itu kecuali mc nya bawa motor atau mobil baru bisa ditanyakan dari mana asalnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!