Su Ran terbangun ketika mendengar suara melengking keras dan tangan kasar yang mengguncangnya..
Heh~ Apakah ini layanan Apartemennya, kenapa begitu kasar pijatannya?
Lalu, kenapa kedap suaranya sangat jelek?
Begitu sadar, ia ternyata masuk kesebuah era dinasti Ping yang tidak tercatat dibuku sejarah manapun.
Hee.. ingin menantangku soal bertani? dan menjual barang?
Jangan panggil aku Su 'si marketer andalan' jika tidak bisa mendapat untung apapun!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubun ntib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Su Ran pulang dengan hati yang riang. 1 hari ini saja ia hampir mengantongi 300.000. tetapi Su Ran sama sekali tidak terburu – buru untuk mengumpulkan 1 jutanya.
Selain tidak ingin menarik perhatian orang dan menyebabkan ada yang iri, ia juga harus mencurahkan waktunya untuk ‘Bertanam’ di dunia luar daripada di ruang ajaibnya.
Belum lagi, Su Ran juga harus memastikan jika cabai di ladang para bibi tumbuh dengan baik. Ini adalah proyek pertamanya di zaman ini, ia tidak akan membiarkan adanya kesalahan sekecil apapun.
Nanti, jika halaman yang ia pesan kepada paman Jiang sudah didapatkan, ia akan menambah jumlah penjualannya.
Su Ran, begitu sampai dirumah ia langsung makan sejenak. Kali ini ia memasak garang asem ayam. Entah sudah berapa hari ia ngiler ketika membayangkan menu ini ketika menemukan bibit belimbing wuluh di ruang ajaibnya.
Zaman ini belum mengenal belimbing wuluh, mereka terbiasa menggunakan tomat hijau untuk menciptakan rasa asam alami. Sementara untuk asam sendiri juga belum ditemukan.
Sambil menumis bumbu, bayangan asem – asem ikan pedas, lalu ayam pedas belimbing wuluh, sambal belimbing wuluh. Hmmmmm sluurrpp, tidak terasa air liurnya ingin menetes begitu saja.
Setelah hampir satu jam, Su Ran sudah berhadapan dengan 1 piring nasi putih hangat dihiasi bawang merah goreng dan juga semangkuk besar garang asem yang menggoda.
Su Ran makan dengan begitu nikmat, sejenak lupa dengan masalah apapun yang ada di benaknya. Sebenarnya, ia terus saja memikirkan apa yang akan ia lakukan jika suatu saat bertemu dengan keluarganya.
Setengah jam berlalu seiring dengan kosongnya piring dan mangkuk Su Ran. Ia sedikit menyender pada kursi sambil menggosok perutnya yang sedikit menggembung.
“ Nikmat sekali, aku akan membungkus sisanya untuk kubawa ke bibi kepala desa,” gumamnya.
Tak ingin menunda urusan yang berakhir dengan kambuhnya penyakit lama ( Alias lupa / Pikun), Su Ran segera mengemasi rantang yang berisi garang asem yang sengaja ia pisahkan untuk keluarga kepala desa.
( Nanti kalau aku bilang sisa langsung diprotes, ngasih orang kok sisa nyenyenyenye -_-)
Su Ran bergegas lewat jalanan yang lebih cepat. Ia mendapati jika bibi kepala desa sedang menjahitkan baju untuk kakak Fen Dao.
“ Bibi, aku datang berkunjung,” teriak Su Ran begitu memasuki halaman rumah. Bibi kepala desa mendongakkan wajahnya dan tersenyum lucu melihat Su Ran masuk begitu saja. Memang ia sudah pernah bilang untuk tidak terlalu kaku jika ingin main ke rumahnya.
“ Ada apa? Kamu tidak sibuk survei semua ladang – ladang Cabai?” cibir menggoda Bibi kepala desa. Ia sangat terkejut melihat begitu antusiasnya gadis muda ini saat melihat dan mengawasi sendiri penanaman cabai di setiap ladang.
“ Huh, bibi menggodaku lagi,” cemberut Su Ran tetapi langsung tersenyum lepas.
“ Ha Ha Ha, bibi hanya bercanda. Apakah ada sesuatu hal yang penting? Perlukah bibi memanggil paman tetua mu dari kandang sapi?” tanya bibi kepala desa setelah mempersilahkan Su Ran duduk.
“ Tidak, aku bukan ingin bertemu dengan paman. Apakah saudara Dao ada?”
“ Oh iya bibi. Ini adalah menu yang aku masak. Cobalah,” ucap Su Ran sambil menyerahkan rantang makanan.
“ Kakakmu Dao sedang menyiram cabe di belakang rumah. Oh, apalagi ini? kenapa kamu selalu membawa makanan tiap kesini?” meskipun begitu, bibi kepala desa tetap menerima rantang pemberian Su Ran. Karena ia tahu, anak ini sangat keras kepala dan hanya berniat baik.
“ Cobalah dengan paman tetua, aku mendapatkan sayurnya dari restoran sedap makan saat kemarin membicarakan soal kontrak,” Su Ran kembali berbohong dengan mata terbuka.
Mau bagaimana lagi, ia hanya bisa berbohong seperti ini. ruang ajaibnya tidak akan ia beritahukan kepada orang lain, kecuali dalam keadaan hidup dan mati.
“ Baiklah, baiklah. Ada apa? Kamu ingin bertemu dengan kakak Dao-mu?” tanya bibi kepala desa.
“ Ehm, sebenarnya bukan hanya saudara Dao, aku ingin berbicara kepada para kakak dari keluarga Ma, Chen, Dan juga Wu,” aku Su Ran.
Bibi kepala jelas penasaran. Ia segera menyimpan rantang makanan bertepatan dengan pulangnya kepala desa dari ladang dan masuknya Fen Dao yang selesai dengan kegiatan menyiramnya.
“ Kebetulan sekali kalian sudah pulang. Ada Su Ran di depan. Dao’er, Su Ran bilang ada sesuatu yang ingin dibicarakan kepadamu. Juga kepada Rui’er. Gui’er, dan juga Si’er,” ucap bibi kepala desa dalam satu tarikan nafas.
Pasangan ayah dan anak tersebut saling berpandangan dan mengendikkan bahu ketika tidak bisa menebak apa maksud kedatangan Su Ran.
Su Ran berhenti mengamati berbagai tanaman sayur di halaman milik kepala desa ketika tiga orang keluar dari pintu.
Su Ran tersenyum menyapa kepala desa. Kini semuanya sudah duduk lesehan diatas tikar anyam, menanti ucapan keluar dari Su Ran.
“ Saudara Dao, aku dengar jika saudara pernah bekerja menjadi akuntan kecil di toko beras desa tetangga?” tanya Su Ran. Fen Dao mengangguk setuju.
“ Ya, sayangnya pemiliknya terlilit hutang karena putranya kecanduan berjudi hingga harus menutup usaha tersebut,” Fen Dao menggelengkan kepalanya sedikit menyayangkan pekerjaan yang bagus ini. meski hanya digaji 1500, tetapi itu juga uang. Ia bisa merasakan bagaimana manisnya mendapatkan uang hasil dari jerih payah sendiri.
“ Saudara Dao, jika aku mengatakan ada sebuah restoran yang membutuhkan kasir sekaligus akuntan, apakah kau akan tertarik?” ucap Su Ran tanpa berbasa – basi tetapi membuat ketiga orang tersebut melotot kaget.
Ini .. ini adalah pekerjaan di restoran, yang kecilnya saja pasti akan mengumpulkan uang hingga 2000!
“ Ap.. Apakah kau sedang tidak bercanda atau membohongiku? Saudari Ran, jangan menggodaku,” Fen Dao tidak berani mempercayai tawaran Su Ran.
Bukan apa, dirinya sedikit pesimis akan ada yang menawari posisi tersebut. Apalagi ini adalah restoran sementara dirinya belum pernah bekerja di kota.
( NB : istilah restoran di zaman ini merujuk pada warung makan yang sudah mewah ya. Belum bisa dijangkau oleh pengetahuan orang desa, jadi Fen Dao sedikit tidak yakin)
“ Aku tidak sedang bercanda. Bahkan bukan hanya kasir, restoran ini juga sedang mencari asisten di dapur dan juga pelayan yang kuat,”
“ Aku ingin merekomendasikan saudara Dao, Chen Rui, saudara Si, dan juga saudara Gui untuk masuk kesana,” angguk Su Ran dengan percaya diri.
Masih terperangah dengan berita tadi, kini ketiganya semakin terkejut lagi ketika mendengar Su Ran bukan hanya akan memasukkan Fen Dao seorang ke Restoran.
“ Bibi, bibi ingat kan jika cabai kita nantinya akan diminta oleh sebuah restoran di kota? Juga restoran yang sama dengan yang memesan sambal kemasan kita?” Su Ran beralih bertanya kepada bibi kepala desa. Bibi kepala desa mengangguk dan sedikit bingung apa ada hubungannya.
“ Restoran tersebut yang membutuhkan banyak staff..”