Halo semuanya...
Ini karya novel pertamaku.
Isekai biasanya tertabrak mobil atau truk sedangkan aku cuma ketiduran. Aku Lisa Aspasa harus mengalami isekai. Aku terbangun dalam sebuah novel dimana tubuh inilah tokoh villiannya. Seorang villian dipastikan akan berakhir kematian. Kematian yang mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Akankah aku bisa menghindari takdir kematian?
Akankah aku mendapatkan kebahagiaan?
Pada pertengahan perjalan jiwa pemilik asli tubuh ini datang.. apa yang ia inginkan? akankah dia mau membantuku atau sebaliknya?
Berlahan tapi pasti sesuatu yang tidak terungkap dalam novel mulai muncul kepermukaan...
Apakah itu?
Penasaran... langsung baca saja
27 Oktober 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Miring Petagon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
WARNING TYPO BERTEBARAN
***
Melisa POV
Sinar mentari memasukki sebuah ruangan serba pink. Sinarnya menerpa seorang gadis yang duduk didepan cermin. Mata hitamnya menyiratkan haus darah tertutup lensa kontak. Tangannya sibuk menyisir rambut hitam panjangnya. Bibirnya yang tipis terbuka “ Sudah jam segini Lisa masih sibuk tidur dialam bawah sadar.”
Tangan Melisa meletakkan sisir diatas meja rias. Melisa berdiri mengambil jaket dilemari. Matanya melirik jam yang menujukkan pukul 06.50. Melisa berjalan turun kebawah yang disambut sebuah note dari ayah tercinta yang mengatakan bahwa ayahnya tidak bisa mengantarnya kesekolah.
Melisa mengambil sandwich yang berada dimeja. Melisa mencari keberadaan bibi Surti yang sibuk menyirami kebun.
“ Bi aku berangkat dulu” pamitku kepada bibi Surti.
“ Hati-hati non” balas bibi Surti sambil mengarahkan selang ke tanaman.
Melisa melangkah memasukki garasi. Melisa mengamati satu persatu kendaraan yang terpakir rapi. Melisa menatap datar mendapati garasinya penuh dengan mobil tidak ada satupun motor yang terparkir.
“ Hari ini aku harus membeli motor” kata Melisa sambil berpikir.
Melisa mengambil kunci yang terpasang disebuah kotak kaca yang terkunci. Melisa membuka kunci dengan cara memindai wajah. Melisa mengambil sebuah kunci yang tidak memiliki gantung. Melisa masuk kedalam mobil lamborghini berwarna merah.
Melisa mengendari mobil merahnya dengan kecepatan tinggi. Melisa menancap gas saat ada pengendara yang mendahuluinya. Hasrat untuk menggalahkan begitu besar berbanding terbalik dengan lisa yang tidur nyenyak dialam bawah sadar.
Melisa masuk kedalam area sekolah mengendarai mobil merah yang mencolok. Mobil merahnya berjalan ketempat parkir membuat ribuan mata memandang kearahnya.
“ Gerah” kata Melisa mengambil tali rambut. Melisa mengingkat rambut asal sampai leher jenjangnya terekspos.
Melisa keluar dari mobil merahnya dengan gaya cuek. Mulutnya mengunyah permet karet. Seragam yang dipakai Melisa berantakan dengan dasi yang longgar. Melisa menyangkutkan satu tali tas pada bahu kanannya, sedangkan tali tas lainnya dibiarkan bergelantungan.
Penampilan Melisa berbeda saat berangkat dan sekarang. Hal ini karena Melisa takut Lisa terbangun saat Melisa berbuat masalah. Melisa takut akan amarah Lisa yang mampu meluluh ratakan alam bawah sadar.
Melisa masuk kedalam gedung menuju toiled. Melisa masuk kedalam toilet untuk memperbaiki penampilannya. Melisa melepaskan ikat rambut membiarkan rambut hitamnya menggerai. Melisa menambahkan jepit kecil berwarna hitam berbentuk tengkorak kecil. Melisa menaruh ikat rambut kedalam saku sekaligus merapikan seragam.
Teliga Melisa menangkap suara minta tolong. Melisa yang penasaran mengikuti asal suaranya. Suaranya berasal dari balik bilik dengan berlahan membuka bilik. Dari dalam bilik terdapat Olivia yang sedang kesakitan. Rambutnya berantakan dengan tangan tersangkut dirambutnya.
“ Kenapa?” tanya Melisa angkuh.
“ Tolong bantu aku melepaskan jepit rambut ini” kata Olivia memelas.
Hati kecil Melisa tidak tega membantu melepaskan Olivia tanpa ada niat buruk. Melisa pelan-pelan menarik japit merah Olivia hingga lepas. Akhirnya japitnya terlepas.
“ Terimakasih” kata Olivia yang tersenyum manis.
“ Pakailah barang yang nyaman” saran Melisa sambil melangkah keluar toilet.
Tanpa Melisa sadari sebuah senyum jahat muncul dibibir Olivia. Aku yang mengamati dari alam bawah sadar hanya menghelan nafas. Aku membelai bulu Toto yang berwarna putih kebiruan. Toto merupakan roh rubah ekor sembilan yang tidak segaja kubangkitkan. Pada saat aku menghancurkan alam bawah sadar berserta segel Toto.
“ Alam bawah sadar berjuta kejutan yang tidak masuk akal” kataku menatap mata Toto yang semerah darah.
Aku melirik Olivia yang yang berbincang dengan kak Karan. Aku mencium bau harum Toto “ Melisa sudah masuk jebakan” kataku lirih.
Melisa masuk kekelas untuk mengikuti ujian. Dalam kelas sudah ada bu Tian yang menjadi pengawas ujian. Bu Tia terkenal guru killer yang mengampu sebagai guru BK.
Melisa duduk dibangkunya untuk mengerjakan soal yang disusul Olivia yang baru datang. Satu jam waktu ujian telah berlalu. Bu Tia mulai berdiri untuk mengamati murid yang berbuat curang.
Bu Tia berhenti dibangku Olivia mengambil lembar jawaban Olivia. Semua anak memperhatikan mereka berdua. Bu tia memandang Olivia dengan tajam.
“ Olivia apa yang sedang kamu lakukan?” tanya bu Tia marah.
Wajah Olivia pucat basi bibir kecilnya bergetar. Air matanya berlahan keluar dari kelopak mata. Jarinya bergetar ketakutan. Bu Tia mengintimidasi Olivia yang gemetar ketakutan bagaikan kelinci kecil berhadapan singa.
“ Siapa yang kamu beri contekan?” tanya bu Tia marah.
Mata Olivia bergerak tidak tahu arah. Bibir Olivia tertutup rapat dengan keringat dingin mengalir dipelupuk.
“ Olivia kalau kamu tetap bungkam maka saya cabut beasiswamu” ancam bu Tia.
“ Me..Melisa” kata Olivia lirih dengan bibir bergetar.
Semua pasang mata mengarah kearah Melisa. Mata Melisa membelalak lebar dengan mulut sedikit terbuka. Melisa menahan nafas mendengar pernyataan Olivia. Melisa memandang tajam kearah Olivia yang menangis.
“ Saya tidak meminta contekan padanya” kata Melisa membela diri.
Mata bu Tia mengamati kami berdua. Olivia menunjukan ekpresi tertekan dan Melisa berekpresi kaget. Bu Tia berjalan kemeja Melisa untuk mengambil lembar jawaban. Bu Tia menganalisis kedua jawaban yang berada ditanganya.
“ Jawaban kalian sama semua jadi apa kalian tidak mau mengaku?” kata Bu Tia dengan nada marah.
Olivia keluar dari tempat duduknya. Kemudian Olivia bersujud dengan telapak tangan menyatu. Air mata Olivia mengalir deras dikedua pipinya.
“ Maaf... maafkan aku Melisa... seharusnya hal ini tidak boleh ketahuan... aku mohon hiks aku mohon jangan sakiti nenekku” kata Olivia dengan suara parau.
Melisa ingin menyengkal yang dihalangi oleh Lisa. Melisa memejamkan mata bergantian denganku. Aku membuka mata menatap datar kearah Olivia.
“ Aku tidak mengenal nenekmu” kataku santai.
Perkataanku membuat Olivia gelagapan. Aku ingin tahu sejauh mana jebakan yang dibuat Olivia.
“ Maaf bu menyela... saya bersaksi dan memiliki bukti bahwa Olivia tidak bersalah. Dia melakukan ini karena diancam oleh Melisa” kata kak Karan yang menjelaskan kejadiannya. Bu Tia mendengarkan kak Karan sebagai saksi dengan seksama. Aku melirik melalui ekor mataku. Olivia tersenyum kecil dengan mata memandang remeh kearahku.
Dugaanku benar bahwa Olivia memiliki hubungan dengan geng BS ‘pantas buktinya susah’. Aku melirik kedua tokoh utama yang tengelam dalam pikiran masing-masing.
“ Mana buktinya” tanya bu Tia kepada kak Karan.
Kak Karan mengeluarkan ponsel dari sakunya. Kak karan mengotak atik ponselnya hingga keluar sebuah foto. Foto yang berisi Melisa yang seolah menjabak rambut Olivia. Seluruh murid dan bu Tia terkejut dengan bukti yang diberikan oleh kak Karan.
“ Ini bu buktinya yang saya ambil saat tidak sengaja mendengar kegaduan dari dalam toilet cewek. Saya melihat Melisa sedang menjabak Olivia” kata kak Karan menjelaskan.
“ Bu itu hanya foto yang bisa diedit seharusnya ada bukti berupa vidio untuk memperjelas peristiwa sebenarnya” kataku meremehkan bukti yang dimiliki kak Karan.
Perkataanku membuat olivia dan kak karan gelagapan. Mereka saling memandang satu sama lain untuk meminta bantuan. Kelas mulai gaduh membicarakan kevalitan bukti yang dimiliki kak karan.
“ DIAM” teriak bu Tia yang membuat seluruh siswa dikelas terdiam. Bu Tia memandangku dengan tatapan tajam sekaligus menghina.
“ Melisa ikut ibu ke kantor bk dan yang lainnya lanjutkan ujian kalian” kata bu Tia tegas.
Bu Tia keluar dari kelas menuju kantornya. Aku mengikuti bu Tia dari belakang memasang ekpresi datar. Aku melihat senyum kemenangan yang tercetak tipis dibibir Olivia. Aku sudah memprediksi hasilnya akan seperti ini. Bu Tia salah satu guru yang sangat dekat dengan Olivia. Maka sudah dipastikan bu Tia akan mempercayainya dibandingkan Melisa.
Aku masuk kedalam ruangan bimbingan konseling. Bu Tia sudah duduk di kursi kebesarannya dengan wajah angkuh. Bu Tia memintaku duduk dengan gerakan matanya.
“ Langsung saja Melisa mengakulah bahwa kamu yang menyuruh Olivia” kata bu Tia mengitimidasi.
“ Kalau saya tidak mau bagaimana?” kataku membalas ucapan bu Tia dengan ekspresi datar.
Bu Tia tersenyum kesal menatapku. Bu Tia menegakkan duduknya menunjukkan bahwa sekarang bu Tia yang berkuasa. Aku memandang bu Tia dengan tatapan meremehkan yang semakin membuat bu Tia marah.
“ Melisa kamu harus sadar bahwa perilakumu sudah sangat buruk dibandingkan Olivia yang memiliki segudang prestasi dan kebaikan” ucap bu Tia menghina.
“ Bu Tia harus sadar bahwa anda seorang guru yang tidak boleh membeda-bedakan muridnya” kataku seolah menasehati bu Tia.
Bu Tia yang mendengar perkataanku langsung marah seketika. Bu Tia merasa dihina oleh muridnya sendiri. Merasa harga dirinya jatuh lantas membuat bu Tia memelototiku.
“ Dasar tidak tahu etika... Melisa kamu diskors selama tiga hari mulai hari ini karena perilakumu..” kata bu Tia menghina.
“ Baik bu terimakasi dan saya permisi undur diri” pamitku memotong perkataan bu Tia. Bu Tia memandangku marah yang aku abaikan. Aku segera berdiri meninggalkan bu Tia. Aku memengang gagang pintu untuk membuka pintu.
“ Dasar murid tidak tahu rasa hormat” gerutu bu Tia yang terdengar jelas ditelingaku.
“ Seorang yang tidak menghormati orang lain tidak pantas untuk dihormati” kataku menoleh bu Tia.
Aku meninggalkan bu Tia yang sedang mengamuk. Aku langsung keluar kantor dengan mengubah ekpresi menjadi sedih yang natural. Aku melirik Alex yang sedang sembunyi dibalik tembok.
Aku berjalan menuju taman belakang sekolah. Aku menyeringai membiarkan Alex mengikutiku. Aku telah tiba di taman belakang dengan air mata mengalir deras dipipiku. Aku menangis terisak memengangi dadaku yang sesak.
Aku berhenti saat sebuah tangan besar memegang pundakku. Aku menoleh mendapati Alex yang menatapku iba. Aku segera menghapus tangisku berganti wajah galak.
“ Mengapa kau kesini? Kalau mau menghinaku... pergilah!” ucapku mengusir Alex.
Aku menatap tajam Alex yang tidak diperdulikan Alex. Berlahan Alex mendekati diriku.
“Tadi pagi aku melihatmu datang dengan penampilan berantakan. Aku berpikir kau memiliki masalah makanya aku datang kesini untuk membantumu” kata Alex lembut.
“ Tidak perlu” tolakku.
Aku melirik Alex sedang mencari kata yang pas untuk mengitrogasiku mengenai masalah tadi. Alex mencoba berkomunikasi denganku yang terlihat seperti beruang betina yang agresif.
“ Katamu tadi kau membantu Olivia kalau boleh tahu bantuan seperti apa?” tanya Alex yang menunjukan ekspresi
penasaran.
Sebuah ide jail masuk kedalam otakku. Aku mengambil jepit rambut hitam tengkorak yang berada dirambutku. Aku mendekati Alex membuat Alex refleks menjauh.
“ Apa yang kau lakukan” tanya Alex binggung dengan perilakuku.
“ Akan aku beritahu apa yang terjadi antara aku dan cewek miskin itu” kataku sambil memasang jepit rambut warna hitam bergambar tengkorak dirambut Alex. Aku melihat hasilnya terpana dengan penampilan Alex yang terlihat cantik.
“ Kau sangat cantik” pujiku kepada Alex yang berhasil membuat pipinya merah.
“ Kau menjahiliku” kata Alex kesal dengan tangan kanan yang berusaha melepaskan jepit rambutku. Akhirnya tangan kanannya tersangkut dirambutnya bersama jepitanku.
Aku mengulurkan tanganku berlahan membebaskan tangan kanan dan jepit rambut. Aku melirik Alex yang awalnya kesakitan berubah menjadi benggong. Alex seperti mengamati setiap inci wajahku. Aku segera menyelesaikan dengan cepat agar tidak diperhatikan lama-lama. Hal ini membuatku merasa risih.
“ Terimakasih” guman Alex setelah tangannya terbebas dari rambutnya.
“ Itulah terjadi” kataku membalas Alex.
Alex menatapku tidak percaya yang kubalas tatapan keseriusan. Mataku menatap sepasang mata yang memandang kami dengan tatapan membunuh. Mata yang penuh kecemburuan terpancar dari seorang Elgartara.
Aku menundukan kepalaku ketanah. Kaki kananku bergerak tak beraturan.
“ Tidak ada yang mempercayaiku” gumanku lirih yang masih bisa terdengar Alex.
Aku mengeluarkan air mata saat Alex menarik kedua lenganku memaksa diriku untuk menatapnya. Aku menatapnya dengan penuh kerapuhan yang membuat Alex terkejut.
Alex segera memelukku erat didadanya. Aku memberontak yang tidak dilepaskan Alex. Alex membisikan sebuah kata yang membuatku menangis dipelukannya.
“ Menangislah saat kau ingin menangis” bisik Alex lembut.
Aku membenamkan wajahku didada bidang Alex. Mataku terpejam menuju alam bawah sadar untuk menemui Melisa. Aku melihat Melisa duduk dibawah pohon besar dengan wajah murung.
“ Jangan murung aku sudah mengatasinya... terlebih dua ikan masuk perangkap” kataku santai.
“ Apa maksudmu?” tanya Melisa tidak paham dengan perkataanku.
“ Rasa goyah dihati Alex dan kecemburuan Elgartara” kataku sambil duduk di samping Melisa.
“ Apa yang kau rencanakan?” tanya Melisa penasaran dengan isi otakku.
“ Tidak banyak hanya membuat Olivia kehilangan semuanya. Dimulai dari orang yang selalu ada untuknya yaitu Alex kemudian orang yang dicintainya yaitu Elgartara” kataku santai.
“ Dasar licik” kata Melisa yang berjalan meninggalkanku.
Aku membiarkan Melisa untuk membuat kekacauan sedangkan aku akan menonton dengan Toto.
Melisa membuka mata berlahan mendorong Alex menjauh. Melisa memanyunkan bibirnya kesal. Aku tertawa melihat Melisa ketemu musuh bebuyutannya.
“ Tinggalkan aku sendiri” kata Melisa dengan tangan yang mengusap air mata.
“ Baiklah” kata Alex pergi yang tidak ditanggapi oleh Melisa.
Aku melihat Elgartara sudah pergi dari tempat persembunyian. Aku menangkap rasa penasaran dari mata Alex. Aku tersenyum memandang wajah Toto yang menatapku bertanya.
“ Ini pasti seru” kataku sambil mencium Toto.
Melisa mengelung tinggi rambutnya hingga terlihat leher jenjangnya. Melisa melonggarkan dasi yang dikenakan. Tangan Melisa melepaskan satu kancing atas seragamnya.
Melisa berjalan kekelas dengan ribuan bisikan memenuhi gendang telinga. Melisa masuk kekelas untuk mengambil tasnya yang tergeletak dibangku. Melisa melihat Olivia yang dikerubungi murid lain. Mereka mengeluarkan sindiran yang tidak ditanggapi oleh Melisa. Hal itu membuat Olivia kesal karena tidak bisa mempermalukan Melisa lagi.