Judul: White Dream With You
Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Simpul Baru Tanpa Beban
Senin sore itu, Surabaya tidak lagi terasa mencekam. Bias cahaya keemasan dari matahari yang mulai terbenam jatuh menyapu koridor SMK Pamasta, memberikan warna hangat pada dinding-dinding beton yang biasanya tampak dingin dan angkuh.
Suasana sekolah sudah jauh lebih sepi; sebagian besar siswa telah pulang ke rumah masing-masing, menyisakan keheningan yang damai, sebuah kemewahan yang selama satu semester ini terasa mustahil bagi kami.
Aku berjalan pelan di samping Vema menuju gerbang sekolah. Langkah kami seirama, tanpa terburu-buru. Sesekali, angin sore meniup helai-helai rambut wolfcut pendeknya, memperlihatkan raut wajahnya yang kini jauh lebih tenang, meskipun jejak kelelahan masih tampak jelas di bawah kelopak matanya.
"Terima kasih sudah menungguku hari ini, Dra," ucap Vema pelan. Suaranya lembut, mengalir tenang mengikuti semilir angin.
Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum tipis. "Sama-sama, Vem. Aku rasa, berjalan pulang bersamamu adalah bagian terbaik dari hari ini."
Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa pretensi. Selama berbulan-bulan, setiap kata yang keluar dari mulutku selalu berkaitan dengan strategi, kecurigaan, atau angka-angka yang memusingkan. Berbicara tentang hal-hal sederhana seperti perasaan terasa seperti menghirup udara segar setelah sekian lama terjebak di dalam ruangan yang kedap udara.
Vema tidak segera menjawab. Ia menunduk, menatap ujung sepatunya yang melangkah secara bergantian di atas trotoar. Namun, aku bisa melihat rona merah samar yang muncul di pipinya.
Keheningan di antara kami saat ini tidak lagi terasa canggung atau menakutkan; itu adalah keheningan yang penuh dengan pengertian.
Namun, di balik ketenangan itu, aku menyadari ada sesuatu yang masih membebani pikirannya. Tatapan mata Vema seringkali mendadak kosong saat ia menatap kejauhan, seolah-olah pikirannya ditarik kembali ke sebuah ruang gelap yang tidak bisa kujangkau.
"Bagaimana keadaan Ibu hari ini?" tanyaku dengan hati-hati. Aku tahu, meskipun Pak Haryo telah tiada dan Tas Induk telah dihancurkan, luka yang ditinggalkan pada mental Ibu Vema tidak akan sembuh dalam semalam.
Vema menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat dengan beban yang belum juga tuntas. "Secara fisik, Ibu membaik. Beliau sudah mau makan dan tidak lagi duduk mematung di depan mesin jahit tua itu sepanjang hari. Tapi..." Vema menggantungkan kalimatnya, matanya mulai berkaca-kaca.
"Tapi?" desakku lembut.
"Ibu masih sering terbangun di tengah malam, Dra. Beliau akan menjerit ketakutan, mencari-cari benang yang sudah tidak ada. Kadang, beliau menatap tanganku dengan tatapan ngeri, seolah-olah mengharapkan benang merah itu muncul kembali untuk mengikat kami berdua dalam penderitaan. Beliau merasa sangat bersalah... beliau merasa telah menghancurkan masa mudaku."
Aku berhenti melangkah, membuat Vema turut berhenti. Di bawah lampu jalan yang mulai menyala satu per satu, aku memberanikan diri untuk menggenggam jemarinya. Tangannya terasa dingin dan sedikit gemetar.
"Vem, dengarkan aku," kataku sambil menatap matanya dalam-dalam. "Apa yang terjadi di masa lalu bukanlah kesalahan Ibu sepenuhnya. Beliau adalah korban, sama seperti kita semua. Dan Ibu membutuhkan waktu untuk menyadari bahwa kegelapan itu sudah benar-benar berakhir. Kamu tidak harus memikul beban rasa bersalah itu sendirian."
Vema menatapku, dan setetes air mata jatuh membasahi pipinya. "Aku hanya ingin Ibu melihatku sebagai anak perempuannya lagi, Dra. Bukan sebagai pengingat akan dosa-dosa yang terpaksa beliau lakukan. Kadang aku merasa, selama Ibu belum benar-benar pulih, aku tidak berhak untuk merasa bahagia."
Hati seolah teriris mendengar kalimat itu. Aku mengerti perasaan Vema; sebuah dilema antara keinginan untuk memulai hidup baru dan tanggung jawab moral terhadap satu-satunya orang tua yang tersisa.
"Kebahagiaanmu bukan pengkhianatan terhadap Ibu, Vem," balasku dengan nada yang tegas namun penuh kasih. "Justru dengan melihatmu bahagia, melihatmu memiliki teman, dan melihatmu menjalani hidup yang normal, itulah yang akan membantu Ibu untuk pulih. Kamu adalah bukti bahwa kutukan itu telah gagal menghancurkan kita."
Vema terdiam sejenak, membiarkan kata-kataku meresap ke dalam hatinya. Perlahan, ia membalas genggaman tanganku. Kehangatan mulai menjalar di antara kami, sebuah ikatan yang kini murni berdasarkan rasa percaya dan kasih sayang, bukan lagi karena paksaan mistis dari benang merah.
Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah Vema yang terletak di sebuah gang yang kini terasa lebih terang daripada biasanya. Sepanjang jalan, kami membicarakan hal-hal ringan—tentang rencana ujian mendadak yang akan datang, tentang Bagas yang berniat membuka warung cilok yang lebih besar, dan tentang Nadin yang baru saja memenangkan kompetisi pemrograman tingkat nasional.
Saat sampai di depan pagar rumahnya, Vema berhenti dan berbalik menghadapku. Cahaya rembulan menyinari wajahnya, memberikan kesan mistis yang jauh lebih indah daripada sebelumnya.
"Terima kasih sudah membawaku kembali ke dunia yang nyata, Sarendra," ucapnya dengan tulus.
Aku tersenyum, merasakan kehangatan yang menjalar di dadaku. "Kita saling membawa kembali, Vem. Aku pun tidak akan berada di sini jika bukan karena keberanianmu."
Vema mendekat, dan untuk sesaat, aku merasakan aroma harum rambutnya yang tertiup angin—aroma yang mengingatkanku pada bunga melati yang mekar di tengah badai. Ia mengecup pipiku dengan sangat cepat, sebuah tindakan spontan yang membuat jantungku berdegup kencang secara tidak beraturan.
"Sampai jumpa besok di sekolah, Dra," bisiknya sebelum bergegas masuk ke dalam rumah.
Aku berdiri mematung di depan pagar untuk beberapa saat, menyentuh pipiku yang masih terasa hangat. Di dalam rumah itu, aku bisa melihat bayangan Ibu Vema yang sedang duduk di kursi ruang tamu, tampak tenang meskipun masih ada keraguan di wajahnya. Aku tahu, jalan menuju pemulihan total bagi mereka masih panjang dan terjal. Akan ada malam-malam penuh air mata dan hari-hari penuh ketakutan yang tersisa.
Namun, saat aku berjalan pulang menuju rumahku sendiri, aku tidak lagi merasa takut. Aku menatap langit malam Surabaya yang kini tampak jernih tanpa awan hitam yang menggantung. Keberadaan Riko yang telah tiada memang meninggalkan lubang di hati kami, namun kenangan tentangnya menjadi api yang menjaga semangat kami untuk terus hidup dengan jujur.
Malam itu, aku tidur dengan perasaan damai. Tidak ada lagi mimpi tentang benang hitam atau jarum jahit yang menusuk. Yang ada hanyalah bayangan senyum Vema dan harapan tentang hari esok yang jauh lebih cerah. Kami telah melewati badai yang paling besar, dan meskipun sisa-sisa bayangan masih mengekor di belakang, kami kini berjalan menuju arah cahaya yang sebenarnya.
Hari-hari sebagai siswa SMK Pamasta kini benar-benar telah berubah. Tidak ada lagi rahasia yang terkubur di bawah ubin laboratorium. Yang ada hanyalah kejujuran, persahabatan, dan masa depan yang akhirnya bisa kami bentuk dengan tangan kami sendiri.
...****************...
Selasa sore, langit Surabaya kembali diselimuti mendung tebal yang menggantung rendah, seolah-olah awan tersebut membawa beban air yang tak sanggup lagi ditahan. Tak lama kemudian, hujan turun dengan derasnya, menciptakan tirai air yang membatasi pandangan mata dan meredam kebisingan kota. Di dalam perpustakaan SMK Pamasta yang sunyi, aroma buku tua berpadu dengan wangi tanah basah yang masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka.
Aku duduk di sebuah meja pojok, mencoba fokus pada buku sejarah di hadapanku, namun pikiranku terus melayang pada sosok gadis yang duduk tepat di depanku. Vema sedang menopang dagu, matanya menatap kosong ke arah rintik hujan yang menghantam kaca jendela. Ia tampak begitu tenggelam dalam pikirannya sendiri, hingga ia tidak menyadari bahwa aku sudah memperhatikannya selama beberapa menit.
"Vem," panggilku pelan, takut memecah kesunyian yang ada.
Vema tersentak sedikit, lalu menoleh ke arahku. Ia memaksakan sebuah senyum tipis yang tidak sampai ke matanya. "Ah, maaf, Dra. Aku melamun lagi ya?"
Aku menutup bukuku dan menggeser dudukku sedikit lebih dekat. "Kamu tidak perlu meminta maaf untuk sesuatu yang tidak bisa kamu kendalikan. Apa yang sedang kamu pikirkan? Apakah tentang Ibu lagi?"
Vema mengangguk perlahan. Ia merapikan helai rambut pendeknya yang sedikit basah karena percikan air hujan tadi. "Pagi tadi, sebelum berangkat sekolah, aku melihat Ibu duduk di lantai ruang tamu. Beliau tidak sedang menjahit, tapi tangannya gemetar hebat seolah-olah sedang mencari sesuatu yang hilang di udara. Saat aku menyentuh bahunya, beliau menatapku dengan tatapan yang sangat asing. Beliau bertanya, 'Vema, apakah tas itu sudah selesai?'"
Aku merasakan kepedihan yang mendalam di dadaku. Ingatan Ibu Vema mungkin telah kembali, namun trauma yang mengakar selama sepuluh tahun tidak bisa dihapus hanya dengan menghancurkan sebuah benda mistis. Luka itu telah menjadi bagian dari identitasnya.
"Aku takut, Dra," lanjut Vema dengan suara yang nyaris berbisik. "Aku takut jika suatu saat nanti, Ibu benar-benar kehilangan kewarasannya karena rasa bersalah itu. Beliau terus mengingat wajah-wajah orang yang pernah memesan tas itu, termasuk... wajah ayahmu."
Mendengar penyebutan tentang Ayah, aku terdiam sejenak. Hubunganku dengan Ayah pun belum sepenuhnya membaik. Meskipun kami tinggal di rumah yang sama, ada dinding kaca besar yang kini memisahkan kami. Kami bicara seperlunya, namun rasa canggung dan kekecewaan masih terasa sangat nyata setiap kali kami bertukar pandang.
"Vem, kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi," kataku sambil meraih tangannya yang diletakkan di atas meja. "Ayahku telah mengakui kesalahannya, dan dia pun sekarang hidup dalam bayang-bayang penyesalan. Tapi kita yang ada di sini sekarang adalah bukti bahwa rantai itu bisa diputus. Ibu butuh waktu, dan yang paling penting, beliau butuh kamu yang kuat."
Vema menggenggam tanganku erat, seolah-olah aku adalah satu-satunya pegangannya agar tidak hanyut dalam badai emosi. "Kadang aku merasa sangat lelah, Dra. Di sekolah aku mencoba bersikap seolah semuanya baik-baik saja di depan Nadin. Tapi saat pulang ke rumah, suasana sunyi itu seakan mencekikku."
"Maka dari itu, biarkan aku ikut pulang bersamamu sore ini," ucapku tanpa ragu. "Aku ingin bertemu dengan Ibu. Mungkin kehadiran orang lain di rumah itu bisa membantu memecah kesunyian yang kamu rasakan."
Vema sempat ragu, namun akhirnya ia mengangguk setuju.
Setelah hujan sedikit mereda, kami berjalan keluar dari gerbang sekolah. Udara terasa lembap dan dingin, namun hangatnya jemari Vema yang sesekali bersentuhan dengan tanganku memberikan kenyamanan tersendiri. Kami tidak banyak bicara sepanjang perjalanan; kami membiarkan suara genangan air yang terinjak sepatu menjadi musik pengiring langkah kami.
Saat kami sampai di rumah Vema, suasana memang terasa sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi aura mistis yang mencekam, namun rumah itu terasa hampa. Di ruang tamu yang remang, Ibu Vema duduk di kursi goyang tua dekat jendela. Wajahnya tampak sangat pucat, dengan garis-garis halus yang menceritakan penderitaan panjangnya.
"Ibu, Vema pulang," ucap Vema lembut.
Wanita itu menoleh perlahan. Matanya yang sayu beralih dariku ke Vema, lalu kembali ke arahku. Ada kilatan pengenalan yang muncul di sana, namun segera diikuti oleh rasa takut yang terpancar jelas.
"Kamu... anak Pak Darmawan, kan?" suara Ibu Vema bergetar, serak dan penuh beban.
Aku melangkah maju dan membungkuk hormat. "Iya, Bu. Nama saya Sarendra. Teman sekolah Vema."
Ibu Vema menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar. Air mata mulai mengalir di pipinya yang tirus. "Wajahmu... sangat mirip dengan ayahmu saat dia pertama kali datang ke sini sepuluh tahun lalu. Dia datang dengan wajah penuh keputusasaan, meminta bantuan yang seharusnya tidak pernah kuberikan."
"Ibu, jangan mulai lagi," Vema menghampiri ibunya dan memeluk bahunya dari belakang.
"Tidak, Vema. Anak ini harus tahu," Ibu Vema terisak. "Setiap kali aku melihatnya, aku teringat betapa lemahnya aku saat itu. Aku mengizinkan diriku menjadi alat bagi Pak Haryo hanya karena aku takut kehilanganmu dan ayahmu. Dan sekarang, aku melihat anak dari orang yang memulainya, justru menjadi orang yang menyelamatkanmu. Sungguh sebuah ironi yang menyakitkan."
Aku berdiri mematung, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut wanita yang telah banyak berkorban itu. Aku menyadari bahwa keberadaanku di rumah ini adalah pedang bermata dua; aku adalah pelindung Vema, namun aku juga adalah pengingat hidup akan tragedi paling kelam dalam hidup ibunya.
"Bu," aku memulai dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Saya tidak bisa meminta maaf atas apa yang dilakukan ayah saya, karena itu bukan otoritas saya. Namun, saya di sini bukan sebagai bayangan masa lalu. Saya di sini sebagai teman yang ingin memastikan bahwa Vema dan Ibu memiliki masa depan yang lebih baik. Saya ingin membantu Ibu melepaskan benang-benang itu dari pikiran Ibu."
Ibu Vema menatapku lama, mencari kebohongan di mataku. Namun yang ia temukan hanyalah kejujuran yang tulus. Perlahan, isak tangisnya mereda. Ia meraih tangan Vema dan mengelusnya dengan penuh kasih sayang.
"Vema sangat beruntung memilikimu, Sarendra," bisiknya lemah. "Tapi tolong, berjanjilah padaku satu hal. Jangan pernah biarkan dunia ini mengubahmu menjadi orang yang haus akan jalan pintas, seperti ayahmu dan Pak Haryo. Tetaplah menjadi orang yang jujur, meskipun kejujuran itu terasa sangat menyakitkan."
"Saya berjanji, Bu," jawabku mantap.
Sore itu berakhir dengan kami duduk bersama di teras kecil rumah Vema, menikmati teh hangat yang diseduh oleh Vema. Meskipun Ibu Vema akhirnya masuk ke kamar untuk beristirahat, suasana rumah tersebut terasa sedikit lebih ringan. Beban yang selama ini dipendam sendirian oleh Vema seolah telah terbagi.
Kami duduk berdampingan di kursi kayu panjang, menatap sisa-sisa hujan yang menetes dari atap genting.
"Terima kasih sudah datang, Dra," kata Vema sambil menyandarkan kepalanya di bahuku. "Aku merasa lebih tenang sekarang. Melihat Ibu bisa bicara denganmu... itu memberikan harapan bagiku."
Aku merangkul bahunya, menariknya lebih dekat.
"Kita akan melewati ini bersama-sama, Vem. Meskipun jalannya tidak akan selalu mudah, setidaknya kita tidak lagi berjalan dalam kegelapan yang dirancang orang lain."
Vema menengadah, menatapku dengan mata jernihnya. Di bawah cahaya lampu teras yang temaram, aku melihat sebuah keberanian yang baru di wajahnya. Ia bukan lagi gadis penyendiri yang takut pada bayangannya sendiri. Ia adalah Vema yang kuat, yang siap menghadapi dunianya.
"Dra, apakah kamu menyesal?" tanya Vema tiba-tiba.
"Menyesal tentang apa?"
"Tentang segala hal yang terjadi. Tentang rahasia keluarga kita, tentang kehilangan Riko, dan tentang fakta bahwa hidup kita tidak akan pernah sesederhana remaja lainnya."
Aku terdiam sejenak, merenungkan pertanyaannya. Jika aku bisa memutar waktu, apakah aku ingin semua ini tidak pernah terjadi? Mungkin ya, demi kita semua. Namun, jika semua ini tidak terjadi, aku mungkin tidak akan pernah benar-benar mengenal Vema. Aku akan tetap menjadi Sarendra yang kaku, yang hanya peduli pada kesempurnaan di atas kertas.
"Aku senang mengenalmu vem" jawabku jujur. "Tapi aku tidak menyesali pertemuan kita, Vem. Kamu adalah hal terbaik yang muncul dari reruntuhan rencana Pak Haryo. Jika ini adalah harga yang harus kubayar untuk mengenalmu, maka aku akan membayarnya berulang kali."
Vema tersenyum, kali ini sebuah senyum yang benar-benar tulus dan hangat. Ia memejamkan matanya, menikmati keheningan sore yang kini terasa begitu bersahabat.
Malam mulai turun menyelimuti Surabaya. Di kejauhan, lampu-lampu kota mulai berpijar, menandakan kehidupan yang terus berjalan. Di teras rumah sederhana itu, dua remaja yang telah mematahkan kutukan sepuluh tahun duduk bersama, menyadari bahwa kemenangan yang sesungguhnya bukanlah saat kejahatan dikalahkan, melainkan saat mereka mampu memaafkan masa lalu dan melangkah maju dengan tangan yang saling menggenggam.
ada apa dgn vema
lanjuuut...