Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Bianca Cemburu
Suasana seketika berubah tegang. Bianca menelan ludah; jujur saja, aura Vivianne "Aline" Dubois benar-benar kuat. Perempuan itu, ibu kandungnya, memiliki tatapan mata yang mematikan.
"Kau akan menyukainya, Lizbet," kata-kata Brandon tadi kembali terngiang. Yang benar saja, batinnya skeptis.
"Dia temanku, Bu. Kenalkan, namanya Elizabeth Morgan, panggil saja Lizbet."
"Morgan? Nama itu terasa tidak asing..." ucap Vivianne. Matanya menelisik gadis di hadapannya, yang tampak sangat mirip dengan dirinya saat masih muda, Vivianne menggelengkan kepala samar sebagai upaya denial 'Hanya perasaanku, saja.' batinnya dalam hati.
"Selamat sore, Nyonya Dubois. Senang berjumpa dengan Anda." Bianca mengulas senyum tipis, menatap ibu kandungnya dengan mata kepalanya sendiri.
"Brandon, sudah berapa kali Ibu katakan? Jangan mengajak temanmu ke ruangan pengap ini. Ayo, Lizbet, kita ke ruang tengah saja," ucap Vivianne sambil menggiring lembut Bianca untuk mengalihkan perhatiannya.
"Aku... hanya ingin berteman dengan Camile, Nyonya."
"Lizbet benar, Bu. Camile butuh teman, dia kesepian."
Vivianne mempersilakan Bianca duduk di ruangan mewah bergaya Victorian tanpa mau membalas argument anak tiri dan teman barunya.
"Ibu tahu tidak? Di antara semua temanku, hanya Lizbet yang direspons dengan cepat. Bahkan Camile sama sekali tidak agresif."
"Kita mengobrol sambil minum teh saja." Vivianne mengabaikan perkataan Brandon soal Camille. "Oh ya, aku merasa sepertinya pernah melihatmu sebelumnya, Lizbeth."
Tiba-tiba seperti ini? Jujur Bianca kelabakan, karena melihat di foto yang ditunjukkan tak mirip. Di pikirannya hanya 'Aline Cantik' Lora hanya menjabarkan mereka punya garis rahang tegas dan sama-sama ambisius.
"Ibu yakin berkata begitu? Malah menurutku, Lizbet sangat mirip dengan Ibu saat masih muda."
Bianca dan Aline saling pandang, seolah menguji perkataan Brandon dalam hati masing-masing. "Benarkah?"
Brandon tertawa. "Karena itulah aku langsung mengajak Lizbet berkenalan dengan Camile."
"Sejak kapan kalian saling kenal?" tanya Vivianne. Tepat saat itu, seorang pelayan datang dan tertegun melihat Bianca.
"Astaga, Nyonya Vivianne... Maaf, Nona ini benar-benar mirip dengan Anda."
Aline tak menjawab, dia hanya menatap santai pada pelayan itu. Namun tatapan majikannya, mampu membuat pelayan itu ngeri dan segera menaruh cangkir keramik Maroco berisi teh yang masih mengepul
"Silakan diminum, Lizbet," ucap Brandon, mencairkan kebekuan di antara ibu dan teman barunya itu.
"Bagaimana, Bu? Temanku cantik, bukan?" Brandon butuh validasi tentang kemiripan Lizbet dengan ibu tirinya.
"Sangat cantik, Brandon. Kecantikan yang sangat familier, hingga membuatku merasa sedang berkaca pada masa lalu,"Vivianne menghela nafas, seolah tiba-tiba dadanya sesak. "Hanya saja, tatapan matanya seolah menyimpan teka-teki yang sulit untuk ditebak."
Sambil meletakkan cangkir itu, sudut bibir Bianca sedikit terangkat. Sepertinya dia harus segera pergi; kemunculannya yang tiba-tiba ini sudah cukup untuk memberikan terapi syok ringan pada ibunya.
"Teka-teki? Hmm... sama seperti yang saya pikirkan tentang Anda, Nyonya Vivianne Aline Dubois," ujar Bianca, sengaja menyertakan nama tengah yang ingin dikubur wanita itu seperti kata Brandon. "Maaf, hari sudah malam. Saya harus pulang, permisi."
Bianca melirik sekilas air muka ibunya yang terkejut, meski segera bisa dikuasai kembali.
"Aku akan mengantarkanmu sampai depan, Lizbet." Bianca mengangguk setuju.
"Terima kasih, Brandon."
"Bolehkah aku meminta nomor ponselmu? Aku benar-benar ingin mengabarimu tentang perkembangan Camile setelah pertemuan ini. Sepertinya, kehadiranmu membawa perubahan besar untuknya dan juga... bagiku. Aku ingin kita segera bertemu lagi."
"Tentu, Brandon. Aku tidak keberatan. Mana ponselmu?"
"Ini, Lizbet." Saat Bianca mengetikkan nomor telepon di ponsel tersebut, Brandon diam-diam mengamati kecantikan Bianca yang terpoles riasan tipis. Benar-benar mirip dengan ibu tirinya.
Aline hanyalah ibu tiri, namun kasih sayang wanita itu seolah ibu kandung sendiri. Itulah alasan Brandon begitu menyayanginya. Tanpa Brandon sadari, Bianca menyimpan kebencian padanya karena merasa iri atas limpahan kasih sayang tersebut, wajahnya mengeras saat mengetikkan nomor dan Lora menyadari mimik kesal Bianca.
"Oh ya, kau tinggal di mana? Bolehkah kapan-kapan aku berkunjung, Lizbet?"
"Aku tinggal di Residence de la Tour, Brandon. Datanglah jika kau punya waktu luang, tapi pastikan kau membawa kabar baik tentang Camile."
"Wow, itu apartemen modern minimalis yang menghadap langsung ke arah Eiffel!" seru Brandon takjub. Baginya bukan rahasia lagi bahwa hunian dengan pemandangan menara itu memiliki harga selangit, apalagi setelah melihat Bianca datang mengendarai Lykan Hypersport miliknya.
"Kau lihat itu, Bianca? Brandon mendapatkan semua kasih sayang yang seharusnya menjadi milikmu," ejek Lora, "Dia hidup dalam kehangatan, sementara kau hanya punya aku dalam kegelapan. Betapa malangnya dirimu."
Bianca mencengkeram kemudi, matanya menatap tajam jalanan Paris yang temaram.
"Aku tidak butuh belas kasihanmu, Lora. Tapi kau benar," Bianca tak lagi berusaha menutupi kecemburuannya. "Melihat Aline mengelus kepalanya tadi membuatku ingin menghancurkan segalanya. Aku membencinya karena dia mendapatkan versi Aline yang tidak pernah kuterima. Aku tidak munafik."
"Baiklah, hati-hati di jalan. Istirahatkan dirimu... besok Simon akan menemuimu."
"Aku sudah tahu. Dia menghubungiku lewat surel karena nomornya sudah aku blokir."
...****************...
...Hai readers, menurutmu.. Bianca wajar gasi kalau benci sama Brandon yang dianggap mengambil alih cinta ibunya?...
...Secara kan dia anak tiri ibunya, tapi yang namanya hati iri.. Bianca kan motherless dari usia 2 tahun....
...Konflik batin nih, nulis ini.......